Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Disc 2 Chapter 6

Disc 2 chapter 6: Human!
Terdapat milyaran kehidupan di dalam diri manusia. Berani sekali kau menyebut dirimu kesepian!

Disc 2 Chapter 6: The Answer is..
Kau bertanya apa yang diinginkan seseorang yang bersembunyi dibalik kesepian? Mereka hanya ingin ditemukan.

Disc 2 Chapter 6: evolution!
Perjuangan adalah bentuk pemaksaan terhadap diri sendiri. Kau harus cukup egois dengan rasa lelahmu

Disc 2 Chapter 6: Weak!
Kamu lemah karena kamu tidak menyadari bahwa kamu kuat.
Kamu merasa gagal karena kamu tidak tau bahwa kamu bisa berhasil

Disc 2 Chapter 6: No future
Kamu tidak akan bisa menjangkau masa depan. Sekali pun jaraknya hanya 1 detik dari saat ini

Disc 2 Chapter 6: I am the Symtomp and You are the Cure.
Loneliness is dangerous. It's addicting. Once you see how peacefull it is, you don't want to deal with people

Disc 2 Chapter 6: Retlina
Orang yang lain
Nama yang lain
Perkenalan yang lain
Dan mimpi yang lain
Aku mulai lelah dengan harapan ini

Disc 2 Chapter 6: Jawaban
Senyum yang kulihat di wajahmu menyiratkan kebahagiaan dan kesedihan yang berdampingan, pertemuan dan perpisahan yang bergandengan, serta mimpi dan kenyataan yang bersebrangan. Ah.. Rasanya aku akan merindukanmu lebih lama lagi.

Disc 2 chapter 6: Dasar Manusia!
Kamu lemah,
Kamu kalah,
Tapi kamu adalah manusia.
Kamu kuat
Kamu  hebat.
Tapi kamu hanyalah manusia..

Senin, 16 Maret 2015

Simpul-simpul Seni

Simpul-simpul Seni
Karya Aditya Arya D.

Untukmu duhai dunia...
Dengarlah nada-nada sumbang dengan melodi tanpa suara.
Mengalun lembut aku dalam simpul-simpul seni bahagia.
Ingin rasanya kubagi berlembar-lembar padamu tawa juga cerita.
Hanya untuk menghapus telaga sedihmu,
Hanya untuk memenuhi sekeping anganku.

Kau tau..
Saat cerat-cerat kuas bergerak abstrak.
Bak mahluk halus yang merasuk.
Menuntun tanganku mencipta sekanvas karya.
Dengan tinta-tinta kehidupan akan ku ubah dunia.

Tapi kamu masih tak percaya.
Semua jejakku  kau anggap sandiwara.
Padahal dirimulah yang sedang memainkan drama.
Di dunia yang sementara, sirnalah semua!

Kini retak separuh topengku.
Jatuh menelungkup menutup hatiku.

Hingga kenangan..
Tinggal kenangan..
Hanyalah kenangan...

Tapi aku..
Akulah sang pemburu kenangan!
Mencoba merangkai bingkai fana kehidupan.
Mengais canda, tawa, dan cinta yang kau remehkan.
Memungut kelopak tangis, derita, dan perjuangan.
Memberinya abadi, untuk kau  rindukan nanti.

Dan Aku.. Meski hanya aku..
Akan ku rangkum kisah hidupmu
dalam hitam dalam putih.
Menenggelamkannya dalam hingar bingar warna imaji.
Agar kau terangkul menjadi lirik lagu indah suara kita.
Hingga kau menjadi untaian penyambung simpul seni bahagia..


Kamis, 26 Desember 2013

Love Letter: Analogi

Hai kamu,
Bagaimana kabarmu?
Ah mungkin aku tidak perlu bertanya. Cukup do'a yang selalu aku lantunkan dengan harapan agar kamu baik-baik saja. Jika kamu menanyakan keadaanku, pun aku akan bilang aku baik-baik saja. 

Sebelumnya maaf kalau aku mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan pesan rindu. Tidak masalah kalau kamu tidak mau menerima. Kamu bisa mengacuhkan atau membuang surat ini dan semua selesai. Ya, bagimu.
Rindu ini akan tetap menguap ke udara di sekitarmu. Tak perlu kamu mengenakan masker, ia tidak akan meracuni. Tapi tidak masalah pula jika kamu terlanjur menganggapnya polusi. 
aku tetap akan menyampaikan surat ini.

Kamu ingat saat-saat indah ketika dunia serasa milik berdua? Aku tidak. Karena kita memang tidak pernah berdua. Kita tidak pernah saling memiliki. Tapi aku ingat sebait puisi pagi yang kau buat tentang kita sebagai pemanis dari kopi pahit yang kita pesan di emperan jalan.

Kamu bilang,

"Kita adalah dua yang menyatu.
Kita-lah pondasi yang mencengkram langit.
Kita adalah tawa yang membanjiri tangis.
Kita menjadi karang yang menghantam ombak.
Kita si pemimpi dengan sejuta  ambisi,"

Indah. Tapi sayang ia tidak merubah rasa pahit kopi yang kuminum pagi itu. Hanya bisa membuatku tercengang hingga cangkirku yang tadinya panas kini terasa hangat.

Aku ingat bagaimana sorot matamu menggeledah duniaku saat itu.
Membuatku sesak. Tapi sayang, belum bisa membuatku lupa caranya bernapas. Kalau tidak, aku pasti sudah mati saat ini.

Semenjak saat itu entah bagaimana ada tanaman liar yang tumbuh di dalam hati. Aku tidak tau itu tumbuhan apa, jadi aku namakan saja ia "Cinta".

Aku tidak pernah memberinya pupuk, tapi ia tumbuh subur dalam wadah bernama "hati". Apa kamu yang diam-diam merawatnya? Aku tidak tau. Dan aku tidak peduli. Ia hanya tanaman liar yang mungkin kelak tak aku inginkan.

Lagi pula aku tidak mengerti bentuknya. Akarnya kuat batangnya kokoh tapi tidak berdaun. Ia juga tidak bercabang. Tidak memiliki buah atau pun bunga. Menjulang tinggi hingga aku tidak bisa melihat pucuknya.
Aku tetap membiarkannya.

Kamu tau? Terkadang aku ingin memanjat tanaman liar itu. Ingin kulihat apa yang ada di puncak pohon cinta ini. Sangat ingin. Entah bagaimana aku rasa aku tau apa yang menungguku di atas sana.

Tunggu, bukan apa melainkan siapa. Ya, kamu. Orang yang tanpa sengaja menanamkan benih tanaman bernama "Cinta".

Seiring waktu, aku tekadkan diriku untuk memanjat pohon itu. Kamu pasti tau aku takut ketinggian. Tapi aku yakinkan diriku untuk melihat bahwa kamu-lah yang ada di puncaknya.

Sulit, tak ada sulur yang bisa aku raih. Tak ada ranting yang bisa aku pijak. Ah, masabodo! Aku tetap akan merayap ke puncak.  Demi menjawab rasa penasaranku.

Penuh peluh berbalut luka di tubuhku ketika hampir ku gapai puncaknya. Hanya sesaat ingin kembali kulihat jejak pendakian yang telah kutempuh di dasar pohon ini.

Kamu tau apa yang aku dapati di bawah sana? Itu kamu. Berdiri menyeringai menatapku dengan segenggam kapak di tangan.

Sekali lagi kau buat aku tercengang. Tanpa ampun kamu ayunkan kapak itu. Tanpa menungguku turun kamu tebang pohon itu. Biarkan aku jatuh bersama "Cinta" yang dulu kau tanam.

Sakit? Tentu saja. Jatuh dari ketinggian pasti sakit. Sakit sekali.
Tapi aku tidak dendam padamu. Aku juga tidak benci. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kalau saja aku tidak punya wadah bernama "Hati", ini pasti tidak akan terjadi. Dengan begitu kamu tidak bisa menanamkan apapun padaku. Tidak akan aku kenal tanaman liar yang kusebut "Cinta". Tidak perlu aku bersusah payah merangkak dan jatuh dari puncaknya.

Tapi semua telah terjadi. Aku tidak peduli. Lupakan saja. Aku memaafkanmu. Sungguh, sepenuh hati aku memaafkanmu.

Oiya, aku lupa bilang. Aku juga menanamkan tanaman di dalam hatimu. Tenang saja, ini bukan tanaman liar. Ia memiliki akar yang kuat, batang yang besar, ranting yang bercabang, memiliki daun, buah, dan bunga yang indah.

Sayang kamu tidak bisa menyentuhnya. Ia berduri, seluruh tubuhnya memiliki racun. Aromanya harum semerbak tapi kamu bakal mati bila menghirupnya.
Aku menyebutnya "Penyesalan".

Tidak sepertimu, aku tidak akan menebangnya. Akan aku biarkan terus tumbuh menjadi pohon yang cantik di hatimu. Terus berbuah manis, berbunga indah. Hingga ia menjadi taman bunga "Penyesalan" yang indah. Kamu akan menjadi satu-satunya kumbang di sana. Indah, bukan? Bak surga pribadi. Kamu pasti senang.

Kamu tidak perlu berterimakasih padaku, aku melakukannya dengan senang hati. Sungguh, sepenuh hati. Aku harap kamu bahagia selamanya.

Baiklah,
Hanya ini yang ingin aku sampaikan dalam suratku kali ini. Maaf bila terlampau panjang dan membuatmu jenuh. Mungkin harusnya kamu buang surat ini begitu tau namaku tertera sebagai pengirimnya. Agar kamu tidak perlu tau analogi Cinta. 

Sesuatu yang membuatku jatuh dan memberimu penyesalan.

Sesuatu yang sanggup menyatukan aku dan kamu menjadi kita, serta memisahkan kita menjadi aku dan kamu.

Suatu tumbuhan langka yang menjulang tinggi tanpa cabang dan tertanam dalam hati yang rapuh.

Sesuatu yang sanggup memerangkap dua semesta di satu langit. Dan sanggup merobek potret diri kita yang utuh menjadi serpihan dalam bingkai yang berbeda.

Mungkin kamu tidak mengerti itu  sekarang. Tidak apa. Sungguh. Aku paham jika memang begitu.

sudah dulu ya..
aku menunggu balasan surat darimu. 

Salam rindu,

------

Rabu, 07 Agustus 2013

Lonely Winter: Tears 2

Gelap. Pandanganku hitam pekat. Tubuhku terbujur kaku di pinggir jalan. Diam mati rasa. Aku berada di ambang batas kesadaran. Apa aku akan hidup kembali? Atau aku akan tertidur untuk selamanya?
Aku dengar langkah kaki orang-orang. Samar-samar aku dapat melihat mereka mendekat. Mereka memanggilku di sela-sela dengung yang masih mengganggu telinga.
"Kamu gapapa?" Tanya salah seorang yang mendatangiku.
Aku tidak menjawabnya. Dadaku terlalu sesak untuk bicara saat ini.

Aku lihat keadaan sekitar. Orang-orang berkerumun di depan mobil sedan yang menghantamku. Apa mereka meminta tanggung jawab dari sang pengemudi? Tidak. Kulihat ada jasad yang terbaring di depan sedan itu. Jasad seorang perempuan yang sangat aku kenal.

Senin, 29 Juli 2013

Lonely Winter: Tears

Beberapa minggu berlalu. Aku mulai sibuk dengan urusanku di sekolah. Ulangan harian, tugas, dan persiapan ujian menjagaku tetap sibuk di rumah. Dan Cleva? Aku masih berkomunikasi dengannya. Tentu saja melalui dunia maya.
Sejak pertemuan terakhir kami, aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan Cleva. Aku coba menolak kehadirannya dalam keseharianku. Karena... entahlah. Aku tidak tau kenapa. Aku rasa aku hanya harus menjauh darinya.
Namun seiring berjalannya waktu aku justru semakin sering berkomunikasi dengan Cleva.
Awalnya aku berusaha tak acuh setiap kami chatting di situs jejaring sosial, tapi Cleva seolah tetap memaksaku meladeninya. Membuatku ingin menjawab pertanyaan-pertanyaannya.  Sesekali aku menganggap dia pengganggu. Dia menghilangkan semangatku untuk belajar. Menggantinya dengan keinginan untuk selalu bicara dengannya. Dia pikir dia siapa? bagiku dia hanya pengganggu.

Jumat, 28 Desember 2012

Purnama, Sendiri..


Biarlah tirai senja merah tersibak demi hadirnya panggung malam.
Karena aku tak peduli
Pada bintang sendu yang takluk oleh angkuhnya purnama.

Biarkan saja jeritan malam merobek cinta dari hati kita yang merintih.
Jangan takut karena rindumu akan segera tersampaikan.

Acuhkan saja gelak tawa dua insan yang selalu menyiksamu dalam dengki.
Karena aku tau kau tak pernah sanggup mengusik sejuta mimpi.

Kini semua kisah pilu yang terukir pada bintang sanggup menggetarkan setiap pemilik hati. Tapi kenapa tidak dengan jaring rapuh sang laba-laba? Kini hanya dera yang dibuatnya.

Hingga duri-duri mawar merah yang berselimut embun mencoba melindungi janji cinta putih kita.
Lalu kenapa kau biarkan terserak semua kelopaknya?

Aku tau kau menangisi keindahanmu saat kudengar gemuruh duka yang berharap kau bukanlah dewa.
Karena kau lelah mendengar 1001 kisah sandiwara cinta manusia.

Lalu untuk apa kau bohong?
Untuk apa kau bertahan?
Kau terus mengisi kekosongan dengan bisikan diam.
Terbalut luka mengisi peran sajak-sajak malam.

akan ku biarkan
untuk sesaat fajar singgah membasuh perihmu.
Karena aku tau dalam sejenak semua akan terulang mengoyak lukamu.

kau akan tetap begitu, tetap tertebas oleh waktu.
Kau terus begini, hingga panggung malam terhenti.

Wahai purnama, sendiri...

Aku, Warna dan Dunia

''Perlahan''
Pilar-pilar istana emas mulai runtuh. Ribuan bunga es yang bermekaran perlahan layu dan tercabik-cabik

''Ku lihat''
Jejak-jejak angin akan menapak pada hujan. Putih akan berlari, kemudian menghilang.

''Masih saja''
Orang itu berdiri menatap langit. Membiarkan butiran-butiran air menusuk tubuhnya. Dan menunggu petir menghujam bumi.

''Andai''
kita menilai orang lain buruk, apa kita pantas menghina mereka?

''Saat''
Tirai hujan abu-abu dunia tersingkap.
Dan semua berubah menjadi kaca perak.

''Tercipta''
Dari abu, api dinyalakan.
cahaya dari bayangan akan muncul.
Dan yang tak bermahkota akan menjadi raja.


''Dengarlah''
Aku berbohong, kau berbohong. Kau tidak perlu menyuruhku bercermin. Karena cermin pun berbohong.

''Sekarang''
Aku tergeletak di sini menunggumu.
Hingga seluruh dedaunan yang gugur ini menutupi mayatku.

''Tak perduli''
Meski hanya di dalam mimpi, aku dapat mendengar suaramu.
Meski hanya di dalam mimpi, aku akan mencarimu.
Meski aku harus mati di tengah padang es ini.

''Sudahlah''
semua cipratan darah ini hanyalah noda.
semua luka ini hanyalah masa lalu.
Semua ditelan waktu. Ntah sampai kapan..

''Kenyataan''
Keinginan egois untuk berdamailah yang menciptakan perang. Dan kebencian akan terlahir untuk melindungi cinta.

''Karena kita''
Langit memerah perih.
Merintih sakit karena ulah kita.
Siapa yang menghantam dia?

''Tua''
Mereka bilang kita hanya bisa saling bicara di akhir nanti. Tidak, nyatanya kita hanya menunggu mati.

''Akhirnya''
Kita telah melangkah jauh, tapi tidak pernah sejauh sang waktu. Kita melangkah cepat, Tapi tak pernah secepat sang waktu. Kita coba menghabiskan waktu tanpa sadar kita dihabisi oleh sang waktu.

''Jatuh''
Biru tertutup putih. Putih tersapu hitam. Hitam akan terjatuh, mengalir, dan terkubur.

''Dahulu''
Anak-anak riang berlarian. Bersenang-senang dengan apa yang kita sebut bencana. Dalam benak ku sibuk bertanya. Apa dulu aku seperti mereka?

''Tetap''
Meski ia tak bergerak, aku tetap menatapnya.
Meski ia terhenti, aku tetap menatapnya.
Kini ia tak lagi berputar. Dan aku tetap menatapnya.

''Seperti''
Besi-besi ini mengurung hati.
Rantai-rantai ini mengikat hati.
Seluruh pedang yang kau genggam ini, terhunus kepada hati.

''Kenapa''
Masih saja ku tulis namamu pada embun yang terhapus hujan. Pada pasir yang tersapu ombak. Pada rindu yang terbunuh waktu.

Selasa, 23 Oktober 2012

"Bukan Jarak Pembunuhnya. Tapi Kita lah Pelakunya."

blogs, ini salah satu puisi atau kata-kata yang menurut gue keren banget. rasanya bener-bener dari hati pembuatnya. okay then, enjoy :)


sumber: Shitlicious.com.

  "Bukan Jarak Pembunuhnya. Tapi Kita lah Pelakunya."
karya @shitlicious
 
"Dari kamu aku belajar tentang keberanian..
Bersamamu aku berani membuat keputusan..
Karena kamu aku bisa mengalahkan keangkuhan..
Dan demi kamu juga aku berani melakukan pengorbanan..

Aku ingat hal-hal bodoh yang pernah ku lakukan dulu..
Mengendap-endap di toko emas buat beli cincin tanpa sepengetahuan kamu..
Sampe ibu-ibu penjaga toko meneriakiku..
Tapi itu semua tertebus oleh sebuah tangisan haru..

Aku ingat saat pertama aku memelukmu..
Sengaja lama-lama aku ciumi pundakmu..
Seakan-akan aku bisa menghirup aroma bebanmu di situ..
Saat itu lah aku merasa menjadi pria berguna bagimu..

Tapi aku sadar, hidup ini mungkin terlalu panjang untuk cerita cinta kita..
Aku sadar, masa lalu biarlah menjadi nostalgia..
Aku hargai keputusanmu untuk menutup bab terakhir cerita kita..
Aku yakin, ini memang saatnya kamu membiarkanku sendiri menghadapi dunia..
Karena hanya kamu yang bisa benar-benar mengenaliku apa adanya..

Awalnya, aku mengira jarak lah yang patut disalahkan..
Tapi sekarang aku mengerti, kita lah yang layak dipertanyakan..
Mungkinkah cinta ini hanya sekedar selingan?
Atau cinta ini layak dibawa hingga akhir kehidupan?

Aku percaya jarak tak pernah salah..
Aku percaya jarak tak mampu membuat cinta musnah..
Aku percaya jarak tak pernah jahat..
Aku percaya jarak justru mendidik kita jadi pasangan yang hebat..

Tapi tampaknya kini kau menyerah..
Dan aku pun tak bisa melawan atau menebar amarah..
Karena kisah ini berawal dengan pertemuan yang indah..
Aku tak ingin semuanya diakhiri dengan rasa gelisah..

Aku ikhlas melepaskanmu..
Akan ku ceritakan kisah kita kepada anak-cucuku..
Agar mereka tau, aku pernah menghidupi kisah cinta sehebat itu..
Agar mereka sadar, cinta itu tak hanya sekedar "aku mencintaimu"..

Selamat tinggal cinta..
Terima kasih untuk pelajarannya..
Aku tak pernah berfikir ini semua sia-sia..
Justru kisah ini membuatku semakin dewasa..
Untuk menyikapi ceritaku di bab berikutnya..

Sampai jumpa di hari yang lebih mulia..
Mungkin saat ini kita adalah dua tokoh utama di dalam film yang berbeda.."

Rabu, 26 September 2012

Sayap - sayap patah

Di sini.. Akhirnya aku di sini..
Kembali ku hadapkan wajahku menengadah..
Berlari lelah dengan segala langkah goyah..
Jejak-jejak ku membekas merah di tanah..
Berpijak penuh peluh, penuh darah..
Di sinilah aku..
Berdiri teguh di kaki langit..
Menahan segala sakit dan berusaha untuk bangkit..
Mencoba membentangkan sayap-sayap patah ku..
Berharap ia dapat membawa ku terbang bersamamu..
Menembus awan menjangkau purnama..
Membawa angan berpadu mega..
Bermimpi kita akan bertemu disana..
Berpadu bahagia dalam luasnya angkasa..
Tapi apalah daya..
Semua percuma..
Ini hanyalah sayap-sayap patah!
Tiada lagi warna putih nan indah..
Sayap-sayap ku kini berukir merah darah..
------------------------------------------------
Wahai engkau yang telah berdiri di ujung sana..
Di sinilah kami menyertaimu dengan do'a..
Janganlah engkau sedih pun gundah..
Karena esok kan kau lihat fajar merekah..
Wahai engkau yang telah berdiri di ujung sana..
Janganlah engkau takut pun ragu..
Janganlah engkau gelisah dengan takdirmu..
Karena esok engkau akan terbang menyusuri langit biru..
Wahai engkau yang telah berdiri di ujung sana..
bentangkanlah sayap-sayap rapuh itu..
sekali pun ia tak akan menjangkau langit..
kehadirannya membuat kami bangkit..
Wahai engkau pemilik sayap-sayap patah..
Di ujung sana impianmu menunggu..
Tiadalah hari tanpa ia bermimpi tentangmu..
Terbanglah! wahai engkau pemilik sayap-sayap patah..
Walau aku tidak akan pernah menjadi sepertimu..
Setidaknya aku akan menjadi sayap-sayapmu..
------------------------------------------------

Kamis, 26 Juli 2012

You, Me. and Dandelion's dance 10

You tiba di rumahnya. Cerita Alfi di kampus tadi masih mempengaruhi pikiran You. Keadaan Me yang sedang dirawat saja sudah cukup membuat You khawatir. Ditambah lagi cerita dari Alfi yang sulit You percaya. Ia terbaring di kasurnya. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa. Menit demi menit berlalu. You mengambil gambar yang Me buat saat di padang dandelion. Sebuah gambar bunga yang tertiup angin. Dipandanginya gambar itu cukup lama. You mengingat kembali kejadian di tempat itu. Saat Me pingsan dan dibawa ke Rumah sakit, ketika dokter mengatakan ada pendarahan di otak Me, hingga saat Me tersadar sebentar. You menghubungkan apa yang sedang Me alami dengan cerita dari Alfi. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya hingga ia tertidur. ______________________________________________________________________________ Drrrt! Drrrt! Handphone You bergetar. ''Ngg... Sudah jam 10?'' You mengambil handphonenya. 1 text message. ''Me...!?'' You terkejut membaca nama pengirim yang tertera di layar handphonenya. ''Temui aku, Di tempat kita melihat bintang jatuh'' isi pesan itu. You bergegas keluar rumahnya menuju halaman belakang. Tempat ia melihat bintang jatuh bersama Me 2 tahun lalu. ______________________________________________________________________________ Dari balik pepohonan terlihat seseorang sedang duduk, ''..... Me?'' sapa You ragu. Seseorang dengan jaket itu menoleh. ''Hai You..'' ia tersenyum. ''Me!'' You segera memeluk Me erat. Kembali air matanya mengalir. ''Me.. Bukannya kamu lagi dirawat?'' ''Iya tapi udah selesai'' ''Kamu gapapa? Kamu udah sembuh?'' ''...... Iya....'' ''Me... Syukurlah kamu gapapa. Tadi Alfi cerita tentang kamu.'' ''Alfi..? Begitu ya..'' ''Aku nggak ingin percaya cerita dia.'' Me terdiam cukup lama. Keheningan mulai menyelip diantara mereka. Bersama hewan-hewan malam bersahut-sahutan. ''Me, Kamu lagi banyak pikiran?'' tanya You yang sejak tadi memperhatikan Me. ''Ah nggak juga.'' ''Bohong.'' ''Benar kok.'' ''Me, aku kenal kamu. Kamu bukan orang yang pintar berbohong.'' ''Hahaha begitu ya?'' ''Jadi...?'' Me tak langsung menjawab. Ia terlihat ragu. ''You, aku harus pergi.'' ''Pergi? Kemana, Me?'' ''.......'' ''Boleh aku ikut?'' ''Jangan. Kamu nggak boleh ikut.'' ''Kenapa nggak boleh?'' ''Aku nggak ingin kamu ikut.'' ''....... Apa aku bisa nyusul kamu?'' ''Ya, bisa.'' ''Gimana aku bisa nyusul kamu kalau kamu nggak ngasih tau aku kemana kamu pergi?'' ''Kamu akan tau...'' ''Kapan aku bisa nyusul kamu, Me?'' ''Entahlah..'' You menatap langit malam ini. Cahaya terang bulan sabit menyinari ditemani gemerlap bintang di langit malam. ''Kamu masih suka melihat bintang jatuh?'' tanya Me. ''Masih. Tapi malam ini tak satu pun aku lihat.'' ''You, lihatlah di sebrang sana.'' Me menunjuk pepohonan lebat. Tampak cahaya hijau kekuningan berkerlap-kerlip terbang di sekitarnya. ''Itu.. Kunang-kunang..?'' You terlihat kagum. ''Bagus banget, Me. Aku sering disini tapi nggak pernah melihat kunang-kunang.'' ''Kamu tau? Kunang-kunang melambangkan perpisahan.'' Deg! Ekspresi You mendadak berubah. ''You... Aneh ya, kita ngerasain puncak rasa sayang saat kita kehilangan.'' ''Maksud kamu?'' ''Kita akan merasa betapa pentingnya apa yang kita punya saat kita kehilangan mereka.'' ''Iya. Mungkin semua orang merasa begitu, Me. Karena itu kita harus bersyukur.'' jawabnya. ''Tentang keluargaku.. Aku kepikiran. Apa kita akan pergi saat orang-orang sudah cukup kuat untuk hidup tanpa kita?'' ''Kenapa kamu berpikir begitu, Me?'' ''Karna perpisahan juga merupakan cobaan dari Tuhan. Tuhan nggak akan ngasih cobaan melebihi kemampuan hamba-hambanya. Menurutku, kita hidup di dunia ini dengan berperan untuk membantu orang lain. Hingga saat orang itu cukup kuat untuk hidup tanpa kita.'' jelas Me. You kembali terdiam. ''Suatu saat, aku juga akan pergi dari kamu. Saat itu terjadi, apa kamu akan sedih?'' ''....... Tentu saja!'' tubuh You gemetar. Dia mulai menyadari kearah mana pembicaraan ini akan berlalu. ''Me... Seandainya dengan kehilangan kamu berarti aku cukup kuat untuk tanpa kamu, aku nggak ingin menjadi kuat..'' tambahnya. Me tersenyum mendengarnya. ''Terimakasih. Tapi kamu nggak perlu begitu.'' ''Tapi..'' ''Jangan menangis, tenanglah.'' Me mengusap airmata di pipi You. Malam semakin larut. Cahaya kunang-kunang semakin banyak terlihat beterbangan diantara pepohonan. Angin malam berhembus perlahan menemani suara arus sungai yang terdengar di kejauhan. ''Me, disini dingin.'' ''Ini, pakai jaketku.'' ''Nggak usah. Kamu kan baru sembuh.'' ''Nggak apa-apa kok. Nih.'' Me memberikan jaketnya. ''You..'' ''Ya?'' ''Maaf. Aku udah membuat kamu sedih. Aku membuat kamu menangis.'' ''Tapi seseorang yang bisa ngebuat kita sedih adalah seseorang yang juga bisa ngebuat kita tertawa.'' '' ... . Setelah ini aku akan pergi lagi.'' ''Iya. Aku ngerti. Jangan khawatir, karna kita berada di bawah langit yang sama, iya kan?'' Me tertunduk. ''Aku harap begitu..'' ''Hm? Kamu kenapa?'' ''You, aku ingin kamu dengar ini baik-baik.'' Me menatap You. ''Apa?'' ''Kamu akan melewati banyak rintangan dalam hidup ini. Kamu akan ketemu banyak orang. Ingatlah, siapa pun yang kamu temui, mereka punya peran dalam hidup kamu. Pasti ada alasan kenapa jalan hidup mereka bersimpangan dengan jalan hidup kamu. Jangan pernah mengeluh bila dimanfaatkan orang lain. Karna suatu saat kita juga akan menerima manfaat dari mereka.'' ''Maksud kamu apa..?'' ''You.. Jangan pernah menganggap kamu sendirian. Karena kamu nggak sendirian. Kamu punya teman yang berharga. Sekali pun suatu saat mereka berubah, jangan kamu jauhi mereka. Terima mereka bersama perubahan dalam diri mereka.'' You terdiam mendengar apa yang Me sampaikan. ''You.. Hidup ini bukan tentang kisah sedih. Bukan perlombaan mencari siapa yang paling sedih hidupnya. Hidup ini tentang bagaimana kita bersyukur dalam bahagia dan sedih. Tentang bagaimana kita bangkit dari kesedihan.'' Me memeluk You begitu erat. ''You.. Aku ingin bantu kamu mencapai cita-citamu.. Aku ingin melihat bintang jatuh lagi sama kamu.. Aku ingin menggambar lagi untuk kamu.. Aku ingin kamu tersenyum.. Walau aku bukan lagi alasannya.. Aku ingin kamu bahagia.. Walau saat itu aku sudah nggak ada lagi buat kamu..'' ''............'' You tercengang mendengarnya. Kembali tubuh You bergetar. Matanya terasa panas menahan tangis. ''You... Terimakasih. Ini... Yang terakhir... Aku sayang kamu.'' Rembulan semakin tinggi melewati titik peraduannya. Bintang-bintang terlihat lebih terang dari malam lainnya. Ditambah cahaya kunang-kunang di kegelapan malam. Satu malam perpisahan. You tertidur dalam pelukan Me. ______________________________________________________________________________ Matahari pagi menembus jendela kamar You. Menyinari wajahnya yang perlahan terjaga. ''Ngg..... Ini.. Di kamar?'' You memperhatikan sekitarnya. Barang-barang You terlihat berada di tempatnya. Begitu pula gambar dandelion dari Me. Masih tergeletak di kasur. ''..... Ohiya! Bukannya aku tertidur di luar semalam? Eh tunggu deh..'' You memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Jaket Me masih dipakainya. You segera mengambil handphone, membuktikan bahwa sms dari Me semalam memang benar. Belum sempat ia mengecek, You dibuat terkejut. Belasan missed call tertera di layar. ''RS Panama.'' Tak berapa lama kemudian, handphone You kembali berbunyi. Telpon dari Rumah sakit itu. ''Halo?'' ''Halo? Benar ini dengan nona You?'' ''Iya, ada apa?'' tanya You ragu. ''Maaf. Bisa datang ke Rumah sakit sekarang?'' ''Emm.. Ada apa ya, sus?'' ''Pasien yang bernama Me.. Sudah meninggal.'' ''........ Bohong!!! Nggak mungkin!'' You tak dapat membendung perasaannya. Dia tak percaya Me yang semalam bersamanya kini telah tiada. You segera berangkat ke RS Panama. Sesampainya di Rumah sakit, ia bergegas pergi ke kamar tempat Me terbaring. Beberapa orang telah berkumpul di samping tubuh Me yang tertutup kain. ''Me... Bangun!'' You memeluk Me erat. Airmatanya membasahi wajah Me. ''Me.. Kenapa kamu bohong? Kamu bilang.. Kamu sudah sembuh.. Kamu bilang kita akan ngeliat bintang jatuh lagi.. Me.. Kenapa kamu bohong?'' You menangis pilu di samping tubuh Me yang terbujur kaku. ''Apa ini maksud kamu pergi? Apa ini artinya aku cukup kuat untuk tanpa kamu..? Aku nggak mau! Me.. Bangun..!'' teriakan You semakin lirih terdengar. Menebar rasa kehilangan di hati mereka yang ada di kamar itu. *Saat ini, seandainya diizinkan, aku ingin ada di sampingmu walaupun kamu tak bisa melihatku.. Saat ini, seandainya diizinkan, aku ingin menghapus air matamu walaupun kamu tak bisa lagi aku sentuh.. Saat ini, seandainya diizinkan, aku ingin bilang "tenanglah, aku ada disini" walaupun kamu tak bisa mendengar aku lagi.. Saat ini, seandainya diizinkan, aku ingin membagi kesedihanmu walaupun aku tak dapat lagi merasa.. Saat ini, seandainya diizinkan, aku ingin menyampaikan kerinduanku karna kita tak akan lagi bertemu.. ______________________________________________________________________________ Me dimakamkan hari itu. Seluruh keluarga dan temannya hadir. Begitu pula dengan You, Ginta, dan Alfi. Tangisan pecah selama proses pemakaman. You menemukan sebuah kertas yang terlipat di kantung jaket Me yang ia kenakan. ''Selamat tinggal, You. Ini gambar terakhir.'' begitu yang tertulis diatas lipatan kertas itu. You membuka kertas itu dan memprhatikannya dengan seksama. ''Me..'' Ia tersenyum memandang nisan Me. ''Mungkin ini akan berat buat aku. Tapi aku akan berusaha hidup tanpa kamu. Seperti gambar terakhir yang kamu berikan.. Aku akan rela melepas kamu.. Aku akan mencintaimu dengan ikhlas.. Terimakasih telah mengisi peranmu di hidupku.. Me.. Persimpangan jalan hidup kita, berakhir disini..'' The End

You, Me, and Dandelion's dance 9

Hari beranjak siang. Namun suasana sejuk masih terasa di tempat ini. Semilir angin menyapu rerumputan tanpa arah. ''Eh You, kamu dengar tidak?'' Me memejamkan matanya. ''Dengar apa, Me?'' ''..... Sebentar lagi.. Berdiri deh.'' ''Hm? Ada apa sih?'' You berdiri di samping Me. ''Hembusan angin kearah sini.. Jangan tutup mata kamu ya.'' Angin kencang mulai berhembus. Menerpa pepohonan, menghasilkan suara gesekan ilalang. Menerbangkan benih-benih dandelion ke segala penjuru. ''Me, ini indah banget!'' You tersenyum. ''Indah? Ini keren, You! Hahaha.'' ''Iya. Kayak salju. Mereka dibawa kemana ya?'' ''Mereka siapa, You?'' ''Dandelion-dandelion ini.'' ''Hmm entahlah. Tapi, tidak seperti bintang jatuh yang tidak bisa kembali ke langit. Dandelion ini akan bersemi lagi. Entah kapan. Entah dimana. You?'' ''Apa?'' ''Ada yang ingin aku..'' ''Me! Hidung kamu berdarah!'' ''Hah?'' Me mengusap hidungnya. Darah segar menetes. ''Kamu nggak apa-apa, Me? Duduklah. Ini, pakai sapu tangan.'' ''Aku nggak apa-apa kok. Terimaka...'' Badan Me perlahan terhuyung ke belakang. ''Me? Kamu kenapa? Bangun, Me!'' Me tidak menjawab. Ia tak sadarkan diri. *Katakanlah padaku.. Jika aku bukanlah diriku, masihkah kau ingin mengenalku? Jika aku bukanlah diriku, masihkah kau menungguku? ______________________________________________________________________________ ''Halo, Fi? Bisa temuin gue di Rumah Sakit Panama? ........Nanti gue ceritain, tolong kesini sekarang ya.. Iya, makasih, Fi.'' You menutup telponnya. You berdiri disamping Me yang tengah terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Ditemani seorang bapak-bapak dan 2 orang anak kecil, cucu dari kakek penjaga warung. ''Mbak, sebenarnya mas Me ini kenapa?'' tanya seorang bapak yang menolong mereka. ''Saya juga nggak tau, pak. Tiba-tiba tadi dia mimisan lalu pingsan. Terima kasih banyak, pak. Kalau tidak ada bapak tadi.. Saya nggak tau harus gimana...'' ''Kak? Kakak jangan sedih. Kak Me pasti baik-baik aja kok.'' salah satu anak kecil itu mencoba menenangkan You. ''Iya.. Makasih ya,'' You tersenyum ramah. Drrrt! Drrrt! Handphone You bergetar. ''You, lo dimana? Gue udah di receptionist.'' pesan singkat dari Alfi. ''Lantai 2 kamar 157 .'' balas You. Tak lama kemudian Alfi datang bersama Ginta. ''You, lo nggak apa-apa?'' tanya Alfi. ''Nggak, gue nggak apa-apa. Eh ada Ginta juga.'' ''Iya, tadi Alfi minta dianterin. Katanya lo lagi di rumah sakit. Emang lo kenapa?'' ''Bukan gue, Gin.. Tapi...'' ''Eh ini Me kenapa?!'' Alfi terkejut melihat Me terbaring. Selang infus dan oksigen tersambung ke tubuhnya. ''Ini Me...?'' ''...... Iya, Gin.'' ''Dia kenapa?'' tanya Ginta. ''Nggak tau. Tadi dia tiba-tiba pingsan. Oh iya, ini bapak yang menolong kami tadi.'' You memperkenalkan bapak itu kepada Ginta dan Alfi. ''Mas sama mbak ini temannya mas Me, ya?'' tanya bapak itu. ''Iya, pak. Terimakasih sudah menolong dia, pak.'' ucap Ginta. ''Iya sama-sama, mas'' ''Eh You, ini gimana ceritanya? Dokternya bilang apa?'' Alfi mulai tenang. ''Dokter bilang.. Ada pendarahan di otaknya'' ''Hah?!'' ''Fi, jangan berisik! Kok bisa, You?''. ''Nggak tau, Gin. Dia nggak pernah bilang.'' ''Loh? Bukannya kalian sama-sama terus ya?'' ''Tapi dia nggak pernah cerita'' 'Jadi.... Waktu itu.. Me nggak bercanda?! Dia nggak bohong?! Berarti Me... Gue harus ngasih tau You!' pikir Alfi. ''Emm.. You..'' ''Kenapa, Fi?'' ''Ng......'' Me perlahan mulai tersadar. ''You....'' ucapnya pelan. Selang oksigen di hidungnya membuat Me sulit bicara. ''Iya, Me..'' You tersenyum. Airmata kembali membasahi pipinya. ''Maaf...'' ''Ginta.. Ikut gue yuk?'' ajak Alfi. ''Kemana?'' ''Cari makanan'' ''Tapi...'' ''Udah ikut aja'' Alfi menarik Ginta keluar. ''You, gue sama Ginta cari makan dulu ya.'' Mereka pergi meninggalkan You dan Me. ______________________________________________________________________________ Alfi dan Ginta berjalan sepanjang koridor rumah sakit. ''Mau makan apa, Fi?'' ''Nggak. Gue nggak laper.'' ''Terus kenapa keluar?'' ''Gue mau cerita... Tentang Me.'' ''Hm?'' Alfi kembali menceritakan apa yang telah Me sampaikan ketika di rumahnya *** ''Hah?! Serius?'' Ginta terkejut mendengar cerita Alfi. ''Awalnya gue juga nggak percaya. Me juga kelihatannya gak serius waktu itu.'' ''Terus?'' ''Tentang You.. Gin, gue tau lo cemburu. Tapi..'' ''Iya, Fi. Gue ngerti kok'', Ginta langsung memotong perkataan Alfi. ''Gue akan ngedukung mereka.'' tambahnya. ''Makasih, Gin. Lo emang teman yang baik'' ''Tapi gue nggak nyangka deh, Fi.. Keadaan Me udah begitu dari dulu dan You nggak tau..'' ''Iya. Pasti dia nggak ingin You sedih'' ''Nah! Lo sendiri gimana, Fi?'' ''Apanya?'' ''Lo bakal ngasih tau You, nggak?'' ''Hmm.. Gue bingung. Me bilang, jangan kasih tau You. Bayangin deh! Dia ngasih tau gue yang baru dia kenal. Sementara You yang teman dekatnya dari dulu, nggak dikasih tau. Menurut lo gimana, Gin?'' ''Menurut gue.. Mungkin lebih baik kita kasih tau aja, Fi. Kalau nggak dikasih tau, kasian You.'' ''Iya juga sih.. Tapi tetap aja Me bilang jangan kasih tau. Aduuh! Kenapa jadi kita yang bingung gini ya?'' ''Iya. Harusnya kan lo doang yang bingung. Lo malah cerita ke gue. Kan gue jadi bingung juga!'' ''Biar gue ada temen bingung, Gin.ah! Kita kasih tau aja deh.'' ''Yaudah. Besok, lo ajak You jalan-jalan, Fi.'' ''Lah? Terus lo gimana?'' ''Ya kan yang ngasih tau elo.'' ''Ogah! Lo juga harus ikut!'' ''Memang kenapa?'' ''Pokoknya ikut! Besok kita bawa You ke...'' ''Eh besok kan kuliah, Fi.'' Ginta memotong ucapaan Alfi. ''Mending di kampus aja. Pas pulang kuliah.'' lanjutnya. ''Ah ide bagus! Yaudah besok di kampus. Lo harus ikut, Gin.'' ''Iya iya. Eh, Me kita bawain apa?'' '' ... . Lo mau beliin sesuatu buat Me?'' Alfi ragu. ''Iya, kenapa?'' ''Bukannya lo..'' ''Apa? Cemburu? Kesel? Nggak kok. Lagian gue belum pernah ketemu Me, masa gue langsung kesel? Dia juga lagi sakit. Ya walaupun You sama Me saling suka, tetap aja gue harus menolong mereka, kan?'' ''Gin.. Ternyata lo memang teman yang baik!'' ''Yaudah beliin apa nih?'' ''Buah-buahan aja kali ya.'' ''Yaudah yuk.'' Ginta dan Alfi berjalan keluar Rumah sakit. ______________________________________________________________________________ Hari beranjak malam. Di kamar 157 tempat Me terbaring,You masih menemani Me yang baru tersadar. Bapak dan kedua anak kecil tadi sudah pulang. Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamar itu. ''You, ini kita bawain buah-buahan buat Me.'' Alfi dan Ginta datang. ''Makasih ya.'' ''Me...'' Alfi hanya memandangi Me dengan perasaan bersalah. ''Eh iya, Me.. Ini Ginta, teman kuliahku.'' You memperkenalkan Ginta. ''Gue Ginta.'' ''Iya, gue Me.'' Me menyodorkan tangannya. ''Eh nggak usah salaman dulu. Nanti infusnya lepas.'' ''Iya hahaha'' Me tertawa pelan. Mereka bercengkrama di ruangan itu. Sementara Alfi masih ragu. Ntah apa yang harus dia katakan kepada Me karena tidak mempercayai cerita Me. Dia hanya berusaha tersenyum. ''Eh You, pulang yuk? Udah malam nih.'' ajak Alfi. ''Iya, besok kan kuliah.'' Ginta menambahkan. ''Tapi..'' ''Gapapa.. Pulanglah You.'' Me tersenyum. ''Iya, Me kan harus istirahat dulu.'' ''Hmm.. Yasudah. Me, kita pulang dulu ya.'' ''Iya. Terimakasih You. Terimakasih udah dateng Alfi, Ginta.'' ''Iya. Cepat sembuh, Me.'' Mereka pun beranjak pergi meninggalkan Me di kamar itu. ______________________________________________________________________________ Keesokan harinya. Selesai kuliah, Alfi dan Ginta mengajak You ke kantin. You masih tampak murung, memikirkan Me. ''You? Lo gapapa? Kok kayaknya sedih banget.'' Ginta membuka pembicaraan. ''Sedih? Nggak. Gue gapapa kok.'' ''Hari ini lo mau ke tempat Me lagi?'' ''Nggak, Gin.'' jawab You singkat. ''Eh kalian mau pesan makanan nggak? Lo mau apa, You?'' ''Gue nggak, Fi.'' Ginta dan Alfi saling menatap. Ginta memberi isyarat agar Alfi menceritakan yang telah Me katakan. ''You.. Emm.. Ada yang ingin gue ceritain.'' ucap Alfi ragu. ''Apa?'' ''Ini tentang Me.'' ''Me? Kenapa?''. Alfi menatap Ginta sekali lagi. Ginta mengangguk, tanda agar Alfi melanjutkan. ''Lo inget kan waktu kita ngebersihin rumah Me? Waktu gue pengen ngambil minum di dapur atas.'' ''Iya?'' ''Waktu jalan ke dapur.. Gue ngeliat bekas tetesan darah. Gue ngeliat Me. Dia mimisan gitu.'' You tak bereaksi. Dia hanya diam mendengarkan. ''Terus, gue tanya dia kenapa. Dari situ dia mulai cerita. Tentang keluarganya, tentang dia yang mengidap sakit parah sejak kecil.'' lanjut Alfi. ''Sakit sejak kecil?'' ''Iya, dia nggak cerita ke elo ya?'' ''....... Nggak.'' ''Sebenarnya Me ngelarang gue ngasih tau lo tentang ini, You. Tapi.. Mungkin lo harus tau. Me bilang, dia sakit dari kecil karna tekanan keluarganya. Juga banyak masalah lain. Ditambah lagi kecelakaan yang menimpa keluarganya. Keadaan Me semakin buruk. Penyakitnya semakin parah.'' jelas Alfi. ''..... Me nggak pernah nunjukin kalau dia sedang sakit.'' ''Mungkin dia nggak ingin lo sedih dan khawatir.'' kata Ginta menanggapi. You kembali terdiam. Pikirannya melayang jauh mendengar cerita yang disampaikan kedua temannya. ''You.. Me bilang... Waktunya nggak lama lagi.'' lanjut Alfi. ''Cukup....'' ''Dia bilang..'' ''Cukup, Fi!'' You langsung memotong perkataan Alfi. ''Kalian tau apa tentang dia!? Kalian baru kenal dia, kan? Kenapa kalian cerita begini ke gue?'' ''..... You, awalnya gue sendiri nggak percaya dan ngira Me cuma bercanda. Tapi pas lo ngasih kabar, Me masuk rumah sakit karna pendarahan otak...'' ''Fi... Cukup... Makasih ceritanya.'' You segera bangkit dari kursinya dan meninggalkan Ginta dan Alfi. ''Fi, keliatannya dia nggak percaya.'' kata Ginta. ''Gue rasa... Sebenarnya dia percaya. Tapi mungkin nggak mau nerima keadaannya. Gue yakin Me udah ngasih tau sesuatu.'' ''Terus kita gimana lagi? You malah pergi.'' ''Biarin aja, Gin. Mungkin dia butuh sendiri dulu. Yaudah kita pulang aja yuk?'' ''Hmm.. Yaudah, Fi.''

Rabu, 25 Juli 2012

You, Me, and Dandelion's dance 8

Drrrt! Drrrt! You bergegas meraih handphonenya yang tergeletak di tempat tidur. ''1 text message.'' terpampang di layar handphone You. ''You, besok kamu kuliah, nggak?'', isi pesan singkat dari Me. ''Tidak, Me. Kenapa?'', sent! Balas You. Tak berapa lama berselang, handphone You kembali bergetar. Kembali sebuah pesan dari Me, ''besok aku mau pergi. Kamu ikut ya?'' ''Mau pergi kemana, Me?'' balas You. ''Pokoknya kamu ikut aja, You. Besok aku jemput jam 8 bisa?'' ''Bisa kok. Tapi mau kemana, Me?'' ''Rahasia hahaha. Besok juga tau kok. Udah dulu You. Jangan tidur terlalu malam ya. Selamat malam You.'' Me mengakhiri pesannya. ''Baiklah, selamat malam juga, Me.'' balas You. Jam dinding menunjukan pukul 22.43 You mengambil buku sketsa dan alat menggambar yang sudah dipersiapkannya untuk Me. Seketika You teringat Ginta yang memilih benda itu sebagai kado untuk Me. Kata-kata Alfi tentang Ginta tadi sore masih terngiang di telinganya. ''Ah sudahlah.'' You membuang pikirannya tentang perkataan Alfi dan bergegas tidur _____________________________________________________________________________________ Pagi hari. You sudah siap dengan baju putihnya. Tinggal menunggu Me untuk menjemputnya. Buku sketsa dan alat menggambar untuk Me juga sudah rapi ia bungkus dengan kertas kado. Tak berapa lama kemudian, Me datang dengan sepeda motornya. ''Kamu sudah siap, You?'' tanya Me. ''Kita mau kemana sih?'' Me hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan You. Matahari mulai meninggi pagi ini. Masih setia menebar kehangatannya pada dunia. Sinarnya yang teduh masih tertutup awan-awan tebal di langit pagi. Me memacu sepeda motornya bersama You. _____________________________________________________________________________________ Suasana perkotaan kini berganti dengan padang hijau luas yang sejuk. Me masih memacu motornya melewati jalan yang sepi legang. Hanya sedikit kendaraan yang melintas. Di pinggir jalan terdapat sebuah warung kecil. Me menepi ke warung itu dan meminta izin untuk menitipkan sepeda motornya kepada seorang kakek penjaga warung dan 2 orang cucunya. ''Halo, Kek.'' Me tersenyum menyapa kakek itu. ''Iya, siapa ya?'' kakek itu memperhatikan Me dan You yang baru dating. ''Saya Me, yang dulu suka main kesini sama Ayah saya.'' ''Me? Ooh rupanya kamu, nak. Sudah lama kamu tidak kesini.'' Kakek itu tampak ramah. Begitu pula dengan 2 cucunya yang masih kecil, terlihat akrab dengan Me. ''Me, itu kakek kamu?'' tanya You berbisik. ''Bukan hahaha. Dulu aku suka kesini sama papa. Suka ketemu sama kakek ini juga. Jadi udah kenal.'' jelas Me. ''Kamu nggak pernah ngasih tau aku.'' ''Kan itu waktu awal SMA, You. Ohiya, Kek, kenalin ini You, emm...teman saya.'' You tersenyum ramah. ''Ooh iya iya. Kamu mau ke tempat itu lagi ya, nak?'' tanya kakek itu. ''Iya, Kek. Makanya, saya boleh titip motor disini ya, kek?'' ''Yasudah.. Boleh kok.'' ''Makasih, kek. Kalau begitu kami pergi dulu ya.'' ''Iya. hati-hati! jalannya agak licin, nak.'' ''Iya, terimakasih ya, kek.'' Me pamit meninggalkan kakek itu dan kedua cucunya. ''Me, dulu kamu sering kesini?'' ''Iya.'' ''Untuk apa?'' ''....... Tutup mata kamu, You..'' ''Hah? Ada apa, sih?'' ''Tutup aja.. Aku mau nunjukin sesuatu.'' ''Nggak mau. Aku nggak tau ini dimana. Terus kakek tadi bilang jalannya licin, memangnya kita mau kemana lagi? Nanti kalau aku kenapa-kenapa, gimana?'' ''You bawel ya hahaha.'' ''Nggak! Ini kan demi keamanan.'' ''Tenanglah.. Tutup mata kamu.. Aku yang jaga kamu.'' ''Emm.. Nggak ah.'' ''You.. Percaya deh..'', Me menggenggam tangan You. ''Emm...'' You memejamkan kedua matanya. ''Terimakasih, You.. Jangan ngintip ya.'' Me menggandeng You menyusuri jalan setapak di dekat warung tadi. ''Masih jauh, Me?'' ''Nggak kok, sebentar lagi. Jangan ngintip!'' Semilir angin kian terasa seiring langkah You yang dipandu Me. Wangi alami rerumputan yang khas makin tercium sepanjang jalan yang mereka lalui. ''Nah...'' Me meninggalkan You. ''Me? Mau kemana? Aku udah boleh ngebuka mataku, belum?'' langkah You terhenti. ''You.. Kamu boleh buka mata kamu sekarang.'' ''Hm? Me?'' Me berdiri beberapa langkah di depan You. ''You.. Berbaliklah..'' Me tersenyum. ''Ini.....'' You terkejut dengan apa yang dilihatnya. Hamparan padang rumput hijau membentang luas di hadapan You. Ditaburi ratusan bunga Dandelion putih yang sedang mekar. ''Me...'' ''Jika kamu menunggu bintang jatuh di malam hari, maka aku menunggu Dandelion di musim semi..'' Me tersenyum di hadapan You. Dengan spontan You berlari ke arah Me dan memeluknya. ''Me.. Terimakasih...'' ''Ahahaha. iya.'' mereka duduk ditengah padang luas bertahtakan Dandelion di sekitarnya. ‘’bukannya kamu bilang ingin melihat dandelion di luar negeri, Me?’’ Tanya You. ‘’iya, disana lebih bagus. Tapi aku tau tempat ini. Jadi aku mau ngajak kamu kesini.’’ ''Kamu dulu sering kesini?'' ''Nggak sering juga sih.. Tapi aku suka disini dulu.'' ''Kapan?'' ''Waktu awal-awal pindah. Dulu papa suka ngajak aku kesini.'' '' .... Aku turut sedih dengan keluarga kamu, Me.'' ''Iya, makasih, You.'' ''Oh iya, ini aku mau ngasih kado buat kamu.'' You memberikan hadiahnya yang sudah dia persiapkan. ''Kado? Emangnya aku ulang tahun?'' ''Nggak sih.. Anggap aja hadiah selamat datang dari luar negeri hahaha.'' ''Ooh hahaha makasih, You. Aku buka ya?'' ''Iya.'' Me membuka bingkisan yang diberikan You. ''Buku sketsa, ya? Satu set sama alat-alatnya?'' ''Kamu... Masih suka ngegambar, kan?'' ''Masih kok hehe. Makasih banyak, You.'' Me tersenyum. Ia mulai meraut pensilnya dan memulai sketsa. ''Me.. Tempat seindah ini.. Kenapa sepi, ya? Kalau sudah ada dari dulu, harusnya kan lumayan terkenal.'' You menatap jauh ke sekitar padang dandelion itu. ''Mungkin orang-orang disini terlalu sibuk dengan pembangunan kota. Tapi lebih bagus begini.'' ''Kenapa?'' ''Ya padang dandelion ini akan tetap alami.'' Me tetap melanjutkan goresan-goresan pensil di buku sketsanya. ''Me.. Ada yang mau aku tanya..'' ''Hm? Apa, You?'' ''Emm... Sebenarnya perasaan kamu itu gimana sih?'' ''Perasaan?'' ''Iya. Perasaan kamu.. Ke aku..'' ''....... Kamu kenapa?''. Me menghentikan sketsanya. '' ... . Aku.. Cuma ingin tau.. Hubungan kita itu apa sih, Me? Apa kita cuma sekedar teman dekat?'' ''......... Kamu maunya gimana?'', Me balik bertanya. ''Kenapa kamu nggak nembak aku? Kenapa kita nggak pacaran?'' ''You... Apa sih pentingnya pacaran?'' ''Emm... Untuk berusaha saling memahami? Saling mendukung? Saling menjaga?'' ''Memangnya kalau aku bukan pacar kamu, aku nggak akan berusaha memahami kamu? Aku nggak mendukung kamu atau ngejaga kamu?'' You terdiam. ''Menurut kamu, apa yang menjadi landasan seseorang pacaran?'', Me kembali bertanya. ''Perasaan saling suka dan perasaan sayang.. Juga cinta.'' ''Kamu tau apa bedanya tiga perasaan itu?'' Me melanjutkan gambarnya. ''... Apa, Me?'' ''Rasa suka itu ingin memiliki, rasa sayang berarti tidak ingin kehilangan, tapi cinta... Cinta itu ikhlas. Seperti cintanya baginda Rasulullah SAW. Kepada umat manusia..'' ''Kamu tau, You? Banyak orang yang pacaran, suatu saat mungkin mereka berpisah. Lalu apa yang mereka lakukan? Sebagian besar akan berusaha melupakan seseorang yang pernah berharga di hidupnya. Melupakan kenangan mereka. Dan akhirnya benar-benar terpisah. You.. Aku nggak ingin begitu. Aku nggak butuh cinta dengan status.’’ Jelas Me. ‘’... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.. Lewat kata yang tak sempat disampaikan.. Awan kepada air yang menjadikannya tiada...'', Me menatap You. ''... Dan aku ingin mencintaimu dengan sederhana.. Dengan kata yang tak sempat diucapkan.. Api kepada kayu yang menjadikannya abu..'' You tersenyum, melanjutkan puisi yang diucapkan Me. ''Kamu tau puisi itu, You?'' ''Iya, karya bapak Sapardi Djoko Darmono. Aku pernah baca dulu. Emm.. Me?'' ''Ya?'' ''Maaf...'' ''Maaf? Untuk apa?'' ''Mungkin sejak awal.. Aku cuma sok mengerti kamu.. Aku menganggap tau banyak hal tentang kamu padahal nyatanya nggak. Tapi aku sayang kamu.. Aku ingin kita sama-sama..''. Air mata menetes di pipi You. ''You.. Nggak ada yang abadi di dunia ini. Suatu saat kita akan berpisah. Jangan takut dengan perpisahaan, karna kamu akan menemukan hal yang baru. Jangan menangis, You. Terimakasih karna kamu udah mencoba memahami aku. Aku juga sayang kamu.'' Me menghapus air mata di pipi You. *Kamu adalah putih.. Bagai Dandelion yang bebas menari bersama angin.. Dan kamu adalah putih.. Bagai Dandelion yang terhempas angin dan akan kembali bersemi.. Aku hanyalah hitam.. Bagai bayangan yang hanya menatap keindahaanmu dari sisi gelapku.. Dan aku hanyalah hitam.. Bagai bayangan yang berharap kau jatuh dan menemani sepiku..

You, Me, and Dandelion's dance 7

''Bang, jus alpukatnya satu ya!'' pinta Alfi dari mejanya. ''Loh? Tumben nggak minta air putih, Fi.'' ''Nggak ah, You, bosen air putih terus. Lo nggak mesen?'' ''Nggak deh. Nanti aja.'' Seseorang datang ke meja mereka, ''ini mbak, jusnya..''. ''Makasih, bang. Beneran nggak mau, You?'' tawar Alfi sekali lagi. ''Nggak, makasih. Jadi, gimana menurut lo, Fi?'' ''Hm? Apanya?'' ''Tentang Me. Menurut lo dia itu gimana?'' tanya You. ''Me? Dia itu... Baik sih, lumayan asik terus gampang akrab.'' ''Tapi dia juga agak aneh ya...'' tambahnya. ''Aneh gimana?'' ''Iya aneh aja, You. Bercandanya kayak serius gitu. Gue jadi bingung sendiri'', Alfi memainkan sendok di dalam gelasnya. ''Serius gimana, Fi?'' ''Eh kalian ngomongin siapa? Ngomongin gue ya?'', seorang laki-laki datang menghampiri You dan Alfi yang sedang duduk di kantin. ''Apaan, sih, Gin? Jangan ge-er deh.'' ''Eh, Fi, serius gimana?'' You tidak menghiraukan Ginta yang memotong pembicaraannya dengan Alfi. ''Iya.. Me itu..'', Alfi tidak melanjutkan perkataannya. Ia teringat dengan pesan Me, ''jangan kasih tau, You''. 'Yang waktu di dapur itu bercanda bukan, sih? Gue gak percaya dia sakit parah kalau ngeliat dari sikapnya.. Tapi.. Me sampai berdarah.. Ah paling cuma kecapekan aja kali ya.. Emang beneran bercanda! Kebetulan aja kondisinya lagi mimisan makanya dia bisa ngebuat cerita dramatis gitu! Tapi.. Tetep aja sorot matanya serius banget.. Apa dia emang serius ya? Ah elah!', pikir Alfi mengingat obrolannya dengan Me kemarin siang. ''Me itu.. Ah pokoknya begitu deh!'', Ucap Alfi tak mau berpikir panjang. ''Begitu gimana?'' You tetap mendesak Alfi. ''Tanya sendiri aja ke orangnya, You.'' ''Me? Siapa sih itu?'', tanya Ginta. ''Kan udah diceritain, Gin, waktu kita nonton bareng.'' ''Hah? Siapa, Fi?'' ''Me itu temennya You. dia baru pulang beberapa hari yang lalu, Gin.'' jelas Alfi. ''Ooh dia.. Temen dekatnya You, ya?'' ''Iya, Gin.'' jawab You. ''Ohiya, You, lo udah ngasih kado yang waktu itu belom?'' ''Kado...? Ohiya! Gue lupa, Fi! Nanti deh kalau ketemu dia lagi.'' ''Emang kapan mau ketemu lagi?'', tanya Alfi. ''Eh, gue duluan ya..'' Ginta beranjak dari kursinya. ''Gin! Lo kan baru dateng, kok udah mau pergi aja?'' ''Ahaha ada urusan, You. Yaudah ya, gue duluan'', Ginta memutuskan untuk meninggalkan You dan Alfi di kantin sore itu. ''Dia kenapa, sih?'' tanya You. ''Hmmm Lo nggak sadar ya?’’ ‘’sadar apa?’’ ‘’ Ginta itu suka sama lo, You!'' ''Hah?!'' You terkejut mendengar ucapan Alfi. ''Beneran, Fi?!'' ''Bener, You.'' ''Lo tau darimana?! Dia bilang ke lo?!'' ''Nggak, gue tau dari tingkahnya. Dia kan sering deketin lo dari dulu. Awalnya sih gue kira biasa aja, tapi semenjak lo ngomongin Me, Ginta jadi lebih diem. Lo nyadar nggak?'' ''Nggak, gue nggak merhatiin. Masa sih begitu?'' ''Menurut gue sih begitu. Mulai dari pas kita jalan bareng, beli kado, dan pas lo mau ngejemput Me, dia langsung jadi pendiem gitu. Mungkin dia cemburu. Lo liat kan gimana reaksinya tadi?'' ''Emm.. Iya sih kalau diperhatiin.. Aduuh! Terus gue harus gimana, Fi? Gue nggak sadar sikap dia dari dulu.'' ''Ya wajar sih.. Di saat seseorang jatuh cinta, dia akan terus mengejar orang yang dicintainya tanpa sadar sedang dikejar orang yang mencintainya..'' ''Aduh, Fi...'' ''Ngerti, nggak? Lo ngejar Me dan tanpa sadar lo juga dikejar Ginta.'' jelas Alfi. ''Terus yang ngejar lo siapa, Fi?'' ''Debt collector!!'' ''Hah?! Beneran?!'' ''Ya nggaklaah! Mana gue tau, You.'' ''Hahaha kirain beneran. Eh, terus gue harus gimana, Fi? Kasian Ginta kan kalau begini..'' ''Hmm.. Lo suka nggak sama dia?'' tanya Alfi. ''Biasa aja sih.'' ''Yaudah lo biasa aja kalau gitu.'' ''Pura-pura nggak tau dia suka sama gue? Tapi kan kasian dianya, Fi'' ''Udah, yang itu biar gue aja yang ngurus, You.'' ''Hah? Emang lo mau ngapain dia?'' ''Nggak gue apa-apain kok. Oh iya, lo ketemu sama Me lagi kapan?'' ''Belum tau. Emang kenapa?'' ''Nggak.. Nggak apa-apa. Yaudah yuk, pulang. Udah sore nih.'' Alfi bangkit dari kursinya. ''Hmm.. Yaudah deh, yuk.''

You, Me, and Dandelion's dance 6

''Itu rumahnya, You?'' tanya Alfi sambil memperhatikan rumah besar di ujung jalan. Rumah yang tampak cukup tua tak terawat. ''Iya, itu rumahnya Me.'' ''Kok kayaknya sepi banget ya? Terus keliatannya nggak ada yang ngerawat rumah itu..'' ''Iya memang, keluarga Me kan pindah ke luar negeri. Kalau mau tau, tanya aja langsung sama Me nanti, Fi.'' Alfi hanya mengangguk menanggapi. Matahari bersinar cukup cerah di hari Rabu pagi ini. Meski begitu, udara masih terasa dingin. Jalanan aspal yang You dan Alfi lalui tampak masih basah dan tergenang air sebagian akibat hujan kemarin malam. ''Eh You, lo udah bilang kan, gue mau dateng?'' tanya Alfi membuka pembicaraan. ''Udah kok. Tenang aja.'' ''Terus nanti kenalannya gimana?'' ''Udahlah nanti gue kenalin hahaha. Nggak usah gerogi gitu, Fi'' ''Aduh! Tetep aja, You.. Kenapa nggak ngajak Ginta juga sih?'' ''Nggak usah, nanti ngerepotin dia. Eh ini rumahnya, Fi.'' You dan Alfi berdiri di depan sebuah rumah besar. Pagar hitam rumah itu tampak usang dengan sebuah tombol bel di dinding gerbangnya. Tengtong! You menekan tombol bel itu. Tak berapa lama kemudian seorang lelaki keluar dari dalam rumah. ''Hai Me.'' sapa You pada lelaki itu. ''Hai You, hai... Emm?'' Me memperhatikan perempuan disebelah You yang tampak kebingungan. Alfi menyenggol tangan You, mencoba memberi kode. ''Eh? Ooh.. Me, kenalin ini temanku yang aku bilang kemarin lusa itu.'' You mengenalkan Alfi pada Me. ''Emm.. Alfi ya?'' ''I..iya.. Gue..Alfi..'' Alfi tampak gerogi berkenalan dengan Me. ''Ooh.. Hai fi. Gue Me, teman You.'' Me tersenyum ramah. ''Se..sen..'' Alfi salah tingkah. ''Senang kenalan? Hahaha. Iya sama-sama.'' ''Fi, lo kenapa?'' tanya You. ''Ng.......'' ''..... Yaudah masuk dulu aja ke dalam'' Me berjalan masuk ke kediamannya diikuti You dan Alfi. _____________________________________________________________________________________ ''Duduk aja dulu. Maaf ya, rumahnya masih kotor. Mau minum apa, Fi?'' ''Emm.... Air putih aja deh.'' ''Air putih? Kalau You?'' ''Air putih juga, Me'' ''Yaudah sebentar ya.'' Me beranjak pergi ke dapur di lantai atas. ''Eh You, kok dia keliatan santai banget sih?'' tanya Alfi. ''Emang kenapa, Fi?'' ''Padahal kan dia baru kenalan sama gue. Masa nggak ada nervous-nervousnya gitu?'' ''Hahaha. Lo daritadi nervous ya?'' ''Emm.. Iya sih.. Dikit. Tapi kenapa dia nggak?'' ''Coba aja tanya sendiri ke orangnya, Fi'' ''Nggak ah, nggak usah. Males banget nanya begitu doing.'' ''Eh maaf lama'' Me datang membawa nampan berisi 3 gelas dan botol. ''Ini minumnya. Terus ini kalau mau syrup.'' tambahnya. ''Makasih, Me'' jawab You. ''Me, emm.. Lo.. Suka perabotan model klasik ya?'' Alfi memperhatikan jejeran sofa tua dan lukisan-lukisan di ruang tengah. ''Hm? Nggak juga. Yang suka barang klasik itu, almarhum bokap. Dia suka ngoleksi barang antik.'' ''Almarhum?!'' Alfi terkejut. ''Iya.. You belum cerita ya?'' You hanya menggeleng. ''Jadi begini...'' Me kembali menceritakan kecelakaan yang dia alami bersama keluarganya di luar negeri. *** ''Jadi... Sekarang lo tinggal sendirian?!'' Alfi tercengang mendengar cerita Me. ''Iya.'' ''Keluarga besar lo gimana? Saudara atau yang lain?'' ''Tempat mereka jauh dari sini, Fi. Ya gapapalah, lagian gue juga udah ada tempat di luar negeri.'' jelas Me. ''Terus, yang nempatin rumah ini siapa?'' ''Ada om dan tante. Tapi ntahlah mereka lagi kemana, Fi.'' ''Ooh..'' ''Yang jelas, rumah ini tetap harus dijaga.'' ''Nah, makanya kita dateng sekalian buat bantu bersih-bersih, Fi.'' tambah You. ''Yaudah ayo mulai!'' Alfi terlihat bersemangat dalam membantu Me. Rasa simpati setelah mendengar cerita Me telah menghilangkan kecanggungannya. You dan Alfi membersihkan dapur dan kamar belakang sementara Me membersihkan ruang tengah. Debu-debu melapisi perabotan rumah yang lama ditinggalkan. ''Ohok! Ohok! Debunya banyak banget, sih! Bukannya rumah ini ditempatin sama om dan tantenya Me, ya? Kenapa nggak dirawat sih?'' Alfi mulai mengeluh. ''Jangan-jangan... Rumah ini ada penunggunya!? Makanya mereka nggak betah!'' ''Yah mana mungkin begitu! Jangan ngaco deh, You!'' ''Hahahaha.'' ''Eh, ini gambarnya Me?'' Alfi mengambil sebuah kertas yang agak berdebu di rak bawah meja. Dibersihkannya debu itu hingga terlihat gambar wajah seorang perempuan cantik yang muram. Air mata terlihat menetes di pipi perempuan itu dengan sebuah tangan yang menyeka salah satu pipinya. ''Jangan menangis lagi..'' begitulah tulisan yang terlihat di pojok kanan bawah gambar. ''You, ini... Ini elo?'' Alfi membandingkan wajah perempuan di dalam gambar dengan wajah You. ''Hah? Coba liat..'' sejenak You memperhatikan gambar. Rona merah seketika tampak di pipinya. You tersenyum. ''Eh kenapa senyum-senyum? Ini elo, bukan? Kok mirip banget deh.'' tanya Alfi. ''Hahaha mungkin.'' ''Kapan dia ngegambar ini, You?'' ''Nggak tau, gue nggak ingat pernah di gambar pas lagi nangis.'' ''Me kok romantis banget ya? Hebat.. Biasanya kan kalau pelukis mau melukis atau menggambar itu objeknya harus keliatan. Tapi di gambar ini walaupun lo nggak ada di hadapan dia, dia masih bisa ngebayangin ekspresi lo, wajah lo, dan di gambar disini.'' ''Emm....'' ''Coba gue punya pacar kayak begini ya...'' Alfi berandai-andai. ''Eh You, kalian kan udah deket banget ya. Gue bingung, kenapa kalian nggak pacaran sih?'' tambahnya. ''Hah? Emm... Kenapa ya?'' ''Lah?'' ''Gue juga bingung, Fi.'' ''Masa lo bingung juga? Dia pernah ngungkapin perasaannya nggak?'' ''Emm... Pernah, sih, waktu perpisahan dulu.'' ''Terus?'' ''Terus apa?'' ''Terus dia nembak elo, nggak?'' ''....... Nggak, dia cuma ngungkapin perasaannya aja, Fi.'' ''Ooh aneh ya.. Eh You, dapur di sebelah mana?'' ''Mau ngapain?'' ''Mau minta minum lagi.'' ''Dapurnya di atas.'' ''Oh oke.'' Alfi beranjak menuju lantai atas meninggalkan You di ruang tengah. 'Hmm..... Kalau dipikir.. Kenapa Me nggak nembak ya?' You masih memikirkan pertanyaan Alfi. _____________________________________________________________________________________ Alfi berjalan menaiki tangga. Pegangan tangga yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang khas terlihat tua dan rapuh. Menambah kesan klasik rumah Me. Ruangan atas terlihat rapi. Cahaya matahari menerpa dinding melalui jendela-jendela. Alfi berjalan menuju dapur. Langkahnya terhenti begitu melihat noda merah di lantai. ''Darah?'' Alfi memperhatikan noda itu. Seseorang berdiri di depan westafel membelakangi Alfi. ''Me?'' ''Eh? Alfi?'' Me tampak terkejut. ''Lo... Lo kenapa?'' ''Ng? Nggak apa-apa kok.'' Me segera membersihkan noda darah di bibirnya. ''Bohong! Tunggu, gue panggil You dulu ya.'' ''Jangan! Gue nggak apa-apa kok, Fi.'' ''Terus tadi itu berdarah kenapa?'' ''Ng...'' tampak keraguan di wajah Me. ''Kenapa, Me?'' Me hanya terdiam sambil berjalan perlahan ke meja makan di bagian tengah dapur. ''..... Lo inget cerita gue tadi, kan? Tentang keluarga gue...'', Me mulai bercerita. ''Tolong jangan kasih tau You tentang ini, Fi.'' tambahnya. ''Hm? Ada apa sih?'' Alfi segera duduk di sebrang Me. '' .... Konflik di keluarga gue itu udah lama. Udah dari sebelum gue tinggal disini.'' ''Jadi sebelum SMA, lo nggak tinggal disini?'' ''Iya, gue sering pindah sekolah dulu. Bokap nyokap gue sibuk banget. Karena itu, kadang gue ngerasa sepi di rumah. Walaupun ada teman-teman baru, begitu mulai akrab, gue udah harus pindah lagi. Sedih... Rasanya kesepian. Selang berapa waktu kemudian, keluarga gue makin kacau. Bokap nyokap hampir cerai karena suatu urusan.'' ''Cerai? Tunggu dulu.. Me, kenapa lo ceritain ini ke gue? Kita kan baru kenal. Masa lo ngasih tau gue tentang ini?'' Alfi memotong cerita Me. ''Karena nantinya lo yang harus ceritain ini ke You.'' ''Hah? Emang kenapa?'' ''...... Karena lo itu sahabatnya You. Dan.. Mungkin waktu gue nggak lama lagi, Fi..'' ''Eh? Lo ngomong apaan sih?! Bercandanya jangan begini dong, Me!'' ''Nggak, ini serius, Fi. Tekanan dari masalah keluarga sejak dulu.. Di tambah lagi kecelakaan itu.. Beberapa organ dalam gue rusak.. Kata dokter, ada penyakit syaraf juga. Mungkin karna depresi kali ya..'' Alfi hanya terdiam mendengar cerita Me. Matanya memandang Me tanpa berkedip. '' ... Harusnya sekarang ini, gue masih dirawat di Canada.'' Me melanjutkan ceritanya. ''Terus kenapa lo kesini?'' ''Untuk ketemu sama You.'' ''Cuma itu? Lo kan harusnya dirawat aja biar sembuh dulu! Kenapa malah kesini cuma buat ketemu sama You? Kan masih banyak kesempatan lain buat ketemu sama dia kalau lo sembuh!'' ''Fi.. Dokter bilang, kemungkinan gue sembuh itu kecil banget.'' ''Terus kenapa sekarang lo bisa kesini? Dan lo bisa berlagak sehat disini. Lo nggak bisa ngebohongin gue, Me. Gue nggak bodoh buat percaya cerita lo. Nggak mungkin lo sakit separah itu!'', nada bicara Alfi meninggi. Alfi kesal dengan semua cerita Me yang tak masuk akal. Me tersenyum. ''Hahahaha. Bener... Iya, lo nggak sebodoh itu untuk percaya semua cerita gue. Tapi.. Ada yang harus gue lakuin disini buat You.'' ''Apa?'' ''..... Pokoknya ada yang harus gue lakuin buat You''. ''Me, sebenarnya hubungan lo sama You itu apa sih?''. ''Hubungan?''. ''Iya, You itu sayang sama lo. Dan lo juga sayang sama dia, kan?'', tanya Alfi. ''Iya.. Gue sayang dia.'' ''Kenapa kalian nggak pacaran?'' ''Emangnya seberapa penting sih pacaran itu?'' Alfi terdiam dengan pertanyaan Me. ''Emm... Ya..'' ''Eh Me, Fi, kalian ngapain?'' You datang menghampiri dari ruang bawah. Memecah suasana hening diantara Me dan Alfi. ''Di bawah udah hampir selesai tuh.'' tambahnya. ''Lo ngeberesin sendiri, You?'' ''Iya, abisnya lo lama, Fi. Kalian lagi ngapain sih?'' ''Cuma ngobrol doang kok, You.'' jawab Me. ''Oh kalian udah akrab toh. Disini udah diberesin belum, Me?'' You mengusapkan tangannya ke meja makan. Memastikan tidak ada debu dan kotoran. ''Udah kok tadi.'' Jam dinding berwarna coklat di dapur berdentang. Menandakan hari semakin sore. ''Udah jam 5, Fi. Pulang yuk?'' ajak You sambil melihat jam dinding tua itu. ''Eh? Cepet banget. Yaudah yuk.'' Alfi beranjak dari kursinya. Diikuti Me dan You menuruni tangga jati bergaya klasik. Ruang bawah terlihat rapih setelah dibereskan oleh You. Me mengantar mereka sampai gerbang rumahnya. ''Makasih banyak You.. Fi.. Udah ngebantu ngeberesin rumah gue.'' ''Iya sama-sama. Makasih juga gambarnya yang di ruang bawah ya.'' You tersenyum. ''Gambar? Kamu liat ya? Hahaha. Maaf ya ekspresinya lagi sedih begitu.'' ''Gapapa kok, Me.'' ''Oh iya, Fi, tentang yang tadi..'' ''Yang tadi..?'' You penasaran dengan obrolan Me dan Alfi. ''Bukan apa-apa kok, You. Yaudah yuk! Pulang. Makasih ya, Me.'' Alfi dan You segera meninggalkan kediaman Me. Matahari sore kian tenggelam di ufuk barat. Menghadirkan sinar teduh kemerahan di langit senja. *Padamu ku titipkan alasan.. Tak perlu kau dengar, tapi percayalah.. Padamu ku titipkan jawaban.. Tak perlu kau ucapkan, tapi sampaikanlah..

You, Me, and Dandelion's dance 5

Langit kembali kelabu. Awan hitam mulai menyelimuti langit sore itu. ''Udah lama ya aku nggak ke rumah kamu.'' ''Iya hahaha. Kamu inget jalan ke rumahku, Me?'' ''Ingetlah, dulu kan aku suka main ke rumah kamu.'' ''Iya ya..'' mereka terus menelusuri jalan menuju rumah You. ''Hmm... Tempat ini nggak banyak berubah ya..'' Me memperhatikan rumah-rumah di sepanjang jalan. Memperhatikan detail yang mungkin berubah sejak dia pergi dulu. ''Me?'' ''Eh hujan lagi, You! Kamu bawa payung?'' ''Nggak.'' ''Yaudah ayo cari tempat berteduh!'' Me dan You berlari mencari tempat berteduh dari hujan yang mulai mengguyur lagi. Aspal yang baru mulai mengering kembali tergenang air, basah menghitam. ''Itu disana ada warung!'' You menunjuk sebuah warung makan kecil. ''Ayo kesana!'' You dan Me berteduh di warung itu. ''Huh! Jadi basah begini. Untung ada tempat berteduh.'' ''... Kamu besok kuliah, You?'' ''Hm? Iya besok aku masuk pagi.'' You merapihkan bajunya yang basah. ''Jam berapa?'' ''Jam 9an. Memang kenapa, Me?'' ''Nggak apa-apa.'' ''Oh iya Me, ada teman aku yang mau kenalan.'' ''Siapa?'' ''Namanya Alfi, teman kuliah aku. Dia Fakultas Sastra Indonesia juga loh.'' ''Alfi?'' ''Iya, dia orangnya lemot gitu. Tapi lucu terus baik. Dia suka minta aku traktir aqua gelas. Hahaha.'' You bersemangat mendeskripsikan teman kuliahnya itu. ''Hahaha kayaknya aneh ya. Kapan mau ketemu?'' ''Hmm.. Besok lusa aja, gimana? Sekalian ngebantuin kamu beresin rumah.'' ''Kamu mau ngebantuin?'' ''Iyalah. Nanti aku ajak Alfi juga, Me.'' ''Hmm boleh. Eh hujannya tambah deras, You. Kamu nggak kedinginan?'' ''Nggak'' ''Beneran?'' ''Emm..'' ''Hahaha udah, nih.'' Me menawarkan jaket yang dia pakai. ''Kok kayak di film-film ya?'' You tersenyum. ''Iya kan biar romantis hahaha. Nih jaketnya.'' ''Kamu gapapa? Nanti kamu yang kedinginan, Me.'' ''Nggak apa apa kok'' ''Nggak usah, Me. Kamu aja yang pakai jaketnya. Kan kamu juga baru pulang.'' ''Tenanglah, You. Gapapa kok.'' ''Hmm baiklah. Makasih Me.'' You mengenakan jaket yang ditawarkan Me. ''Me, ceritain tentang Canada dong.'' pinta You. ''Canada? Hm.. Gimana ya?'' Me menatap air yang mengalir deras, terjatuh dari genteng warung kecil tempatnya berteduh. ''Disana sangat berbeda dengan disini. Disana lebih tertib. Aku suka musim semi disana, bunganya bagus-bagus. Ada banyak taman yang mirip hutan ilalang.'' Me membayangkan suasana di Canada. ''Hutan? Seperti di rumahku, dong?'' ''Nggak, disana lebih bagus, luas. Dan pas musim gugur..'' Me menghentikan kata-katanya. ''Pas musim gugur kenapa, Me?'' You antusias mendengarkan cerita Me. ''Pas musim gugur, bunga dandellion berhembus tertiup angin. Itu bagus.'' ''Wah kapan-kapan ajak aku kesana, Me.'' ''Iya.'' Me tersenyum. ''Hmm keluarga kamu pasti senang ya tinggal disana.'' ''......'' Me terdiam. Pandanganya tertunduk memperhatikan genangan air yang terus diterpa hujan. ''Me..?'' ''You... Kamu tau? Tuhan nggak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya?'' ''Iya?'' ''Seandainya kehilangan juga termasuk cobaan...'' ''Apa maksud kamu?'' ''You.. Keluargaku udah nggak ada..'' ''Hah?!'' You tersentak mendengarkan apa yang baru diucapkan Me. ''Maksud kamu.....?'' ''Orang tuaku kecelakaan sekitar setahun sejak kami pindah.'' jelas Me. Wajahnya tampak muram. ''Kecelakaan? Kok kamu nggak ngasih tau?'' ''Maaf, You.. Waktu itu kami sedang dalam perjalanan di Australi. Papa yang menyetir mobil.'' Me memulai ceritanya. ''Kamu juga ada di mobil, Me?'' ''Iya. Saat itu papa dan mama lagi bertengkar. Karna emosi, papa jadi nggak konsentrasi mengemudi dan akhirnya lepas kendali. Mobil kami melaju sangat cepat di jalan tol. Ntah apa yang terjadi berikutnya, tapi aku pingsan. Baru sadar waktu di rumah sakit. Orang-orang yang membawaku kesana bilang mobil kami menabrak pembatas jalan dan terbalik.'' ''Lalu?'' You tampak antusias mendengar cerita Me. ''Dokter bilang nyawa papa nggak tertolong lagi. Mama sempat koma beberapa jam tapi...'' ''Me...'' ''...tapi akhirnya mama pergi juga.'' Me mencoba tersenyum menahan sedihnya. ''Kamu nggak apa-apa, Me?'' ''....iya'' ''Hanya karna kamu laki-laki, bukan berarti kamu nggak boleh nangis. Me, kalau kamu ingin menangis, menangislah. Itu manusiawi kok.'' You berusaha menenangkan Me. ''Iya.. Terimakasih, You.. Aku nggak apa-apa.'' ''Pasti berat ya..'' ''You.. Kamu tau kenapa seseorang di hidup kita bisa pergi? Kamu tau kenapa Tuhan memanggil orang itu?'' Me memandang langit yang masih bertahtakan awan mendung, menurunkan hujan. ''....... Kenapa, Me?'' tanya You, wajahnya antusias menunggu jawaban. '' ... . Karena begitu orang itu pergi, itu berarti kita cukup kuat untuk hidup tanpa dia. Kehilangan orang yang kita sayangi adalah ujian dan tanda bahwa kita cukup kuat untuk hidup tanpa orang itu..'' jelas Me. ''.........'' ''Suatu saat aku juga akan begitu.. Aku juga akan mening..'' ''Me, cukup... Jangan bicara lagi..'' You menahan tangisnya. Tak sanggup mendengar apa yang akan Me katakan. ''Maaf, You.. Aku ngebuat kamu sedih..'' ''Jangan ngomong itu lagi..'' '' ...Iya'' Me tersenyum menghapus air mata yang mulai turun di pipi You. *Rintik hujan yang menetes di dedaunan, menghasilkan melody yang mendekap hati.. Meski hanya satu nada itu sudah cukup.. Untuk kita bisa saling memahami.. Untuk dua orang bersatu tanpa keraguan..

You, Me, and Dandelion's dance 4

Ceklek! You menutup pintu kamarnya. Direbahkannya tubuhnya diatas kasur empuk, memejamkan mata sejenak melepas lelah setelah pergi dengan 2 temannya. Waktu menunjukan pukul 21.21. Suara binatang-binatang malam yang didominasi jangkrik dan kodok telah terdengar sejak tadi. Samar-samar suara itu perlahan hilang ditelan gelapnya malam. Seiring hilangnya kesadaran You mengalun dalam alam mimpinya. ''Me..?'' hanya sekejap You disana, kesadarannya kembali ketika teringat tentang Me. Diambilnya laptop yang tergeletak di meja belajar You. Langsung masuk ke website tempat chatting. 3 contacs online.. ''Hai You :) kenapa lama?'' seseorang memulai chat dengan You. ''Me :) iya tadi aku pergi sama temen dulu.'' balas You. ''Kamu nungguin daritadi?'' tambahnya. ''Iya, kemarin kamu nyuruh aku online kan'' ''Iya sih.. Maaf ya, Me'' ''Gapapa kok'' balas Me singkat. ''Besok kamu kesini jam berapa, me?'' ''Aku berangkat malam ini dari sini. Mungkin sampai sana besok siang'' ''Di bandara yang waktu dulu? Sama siapa?'' ''Iya disana. Sendiri aja.'' ''Keluarga kamu nggak ikut?'' tanya You. Seketika me terdiam, tak membalas chat dari You. ''Me? Kenapa?'' ''Nggak, gapapa kok.'' jawabnya. ''Oh oke. Besok mendarat di terminal berapa?'' ''Terminal 2E, Garuda GA 101 . Kamu mau jemput?'' ''Iya'' ''Tapi kamu kan kuliah besok, You.'' ''Pulang kuliah besok aku langsung ke bandara.'' ''Oke deh. Kamu baru pulang dari jalan-jalan, kan?'' ''Iya kenapa?'' ''Tidur gih, biar besok nggak capek.'' ''Iya hehe. Barang-barang kamu udah disiapin, me?'' ''Udah kok. Oleh-oleh juga udah hahaha.'' ''Oleh-olehnya apa?'' ''Ada deh hehe'' jawab Me. ''Yaudah aku tidur ya?'' ''Iya'' ''Sampai ketemu besok, Me :)'' ''Iya selamat tidur, You :)'' You mengakhiri chatnya dengan me. Sesaat sebelum menutup account chatting-nya.. ''You?'' seseorang menyapa You lewat chat. ''Kenapa, Gin?'' ''Baru sampai rumah?'' tanya Ginta. ''Nggak, udah daritadi. Lo aja yang telat onlinenya hahaha'' ''Iya baru sempat nih hehe. Lagi apa?'' ''Lagi mau tidur'' ''Yaah padahal baru gue chat..'' ''Maaf, Gin. Makanya jangan telat. Hehehe.'' ''Yang telat kan elo tadi pagi malah bangun kesiangan hahaha.'' ''Iya iya, maaf hehe. Yaudah gue tidur ya.'' ''Hmm oke deh. Bye You :)'' ''Iya bye juga Gin.'' You mengakhiri chat singkatnya dengan Ginta. Bersiap untuk tidur ditemani dengan suara binatang malam yang kian terdengar. ______________________________________________________________________________ Kuliah hari ini selesai lebih cepat. Dosen matakuliah bahasa Indonesia tidak hadir untuk memberikan materi karna suatu urusan. You beruntung, dia dapat pergi ke bandara tanpa khawatir akan terlambat. ''Buru-buru banget deh, You'' tanya Ginta yang duduk dibelakang You. ''Hm iya nih.'' You mengemasi barang-barangnya. ''Emm.. Ke rumah gue yuk?'' ajak Ginta. ''Maaf, Gin. Gue mau ke bandara.'' ''Hah? Mau ngapain? You mau pergi kemana?'' ''Eh ada apa nih?'' Alfi datang dari luar membawa 1 gelas es teh manis dan cemilan, menghampiri mereka. ''You mau pergi ke bandara, Fi.'' jawab Ginta, raut wajahnya menunjukkan berbagai pertanyaan. ''Ke bandara? Ooh mau jemput Me?'' ''Iya.'' jawab You singkat. ''Me? Siapa sih dia? Kok di jemput segala?'' ''Kan kemarin udah di kasih tau, Gin. Dia itu temennya You yang udah lama nggak ketemu'' jelas Alfi. ''Tapi kenapa minta di jemput segala?'' ''Dia nggak minta jemput. Guenya yang mau ngejemput dia.'' jawab You. ''Tapi kan..'' ''Iya wajar kan, Gin, kalau You ngejemput dia? Lagian mereka udah lama nggak ketemu, jadi pasti nggak sabar buat ketemu lagi.. Iya nggak, You? Hahaha.'' ''Emm.. Iya sih hahaha.'' ''Perlu dianterin nggak, You?'' ''Nggak usah, gue naik taksi aja dari depan.'' ''Oh oke, kado yang kemarin dibeli di bawa?'' ''Nggak, Fi. Kapan-kapan aja ngasihnya. Kalau sekarang cuma nambah-nambahin barang bawaannya dia aja.'' jawab You. ''Yaudah gue berangkat ya..'' tambahnya sambil berjalan ke luar ruangan. ''Oke, hati-hati. Langitnya mulai mendung, mungkin sebentar lagi hujan.'' ''Iya makasih, Fi. Udah ya Gin, Fi..'' ''Iya, Daah You.'' You bergegas meninggalkan 2 temannya yang masih di dalam ruangan. ''Gin, kok diam aja?'' tanya Alfi ke laki-laki di sebelahnya. ''Hm? Nggak kok, gapapa..'' jawab Ginta singkat. ''Yakin?'' ''Iya gapapa.. Yaudah ayo, Fi.'' ''Ayo kemana, Gin?'' ''Ya keluar dari sini! Masa mau nginep di kampus?'' ''Nggaklah hahaha, yaudah ayo.'' Alfi dan Ginta pergi meninggalkan ruangan kuliah itu. Terlintas kejanggalan dari tingkah laku Ginta yang mendadak berubah di pikiran Alfi. Tapi di tepisnya bayang-bayang itu. Tak dihiraukan olehnya. _____________________________________________________________________________________ Taksi yang ditumpangi You melaju cepat melewati jalan tol. Beruntung karena masih jam kerja, jalan-jalan terlihat cukup sepi bebas kemacetan. Andaikan setiap hari begini pasti akan lebih mudah untuk bepergian dan lebih cepat sampai. Tapi tentu saja hal itu sangat sulit khususnya di daerah kota yang padat penduduk pengguna kendaraan bermotor. Awan dilangit semakin pekat. Berkumpul satu dan yang lainnya membentuk wujud kelabu yang abstrak. You mencoba menghubungi Me lewat handphonenya. '' ... Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi..'' Me pasti belum mendarat. You kembali menunggu dalam taksi menuju Bandara. Sesampainya di Bandara, You turun di terminal 2E kedatangan internasional. Tempat Me akan datang. Jam tangan You menunjukan pukul 13.15. Seharusnya saat ini You baru keluar kampus kalau saja tadi dosen matakuliah bahasa Indonesia datang. Daftar jadwal pesawat yang sedang terbang maupun mendarat terpampang di layar tv besar di ruang tunggu bandara. Maskapai Garuda dengan nomor penerbangan GA 101 dari Canada belum mendarat. Menurut daftar jadwal penerbangan itu Garuda GA 101 baru akan mendarat sekitar pukul 13.53. Berarti You datang lebih cepat dari Me. Berulang kali You melihat jam tangannya, berharap waktu cepat berlalu agar bisa segera bertemu dengan Me. Butir-butir air mulai jatuh dari langit berselimut awan gelap. Bertambah deras dalam sekejap. Hujan mengguyur wilayah bandara. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh dari hujan dan angin yang berhembus kencang. You merekatkan kardigan hitam yang ia kenakan. Daftar jadwal penerbangan pesawat untuk Garuda GA 101 berubah status menjadi: Landed. Tanpa menunggu lagi, You kembali menghubungi Me. '' ...Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..'' handphone Me masih dinon-aktifkan. You hanya bisa menunggu di depan pintu keluar terminal 2E. Satu persatu penumpang pesawat keluar. Menghampiri keluarga yang menunggu mereka. Belum ada tanda-tanda dari Me. Hujan telah berhenti. Meninggalkan tanah yang basah dan beberapa awan hitam yang masih mengambang bebas di langit luas. Handphone You berdering. Incoming Call dari Me. ''Halo?'' sapa You. ''Halo? You? Kamu dimana?'' ''Aku di pintu keluar. Kamu dimana, Me?'' ''Oh yang pakai kardigan hitam ya? Aku liat kamu hahaha.'' ''Iya, cepet kesini, Me.'' ''Oke.'' Me menutup Telponnya. Menghampiri You yang berdiri di pintu keluar bersama orang-orang lain yang ntah menunggu siapa. ''Hai, You.'' Me tersenyum menyapa You. ''Welcome back, Me.'' You balas tersenyum. ''Kamu nggak banyak berubah ya hahaha.'' tambahnya. ''Kamu juga, You. Hahaha.'' ''Kamu sendirian kesini?'' ''Iya.'' ''Keluarga kamu disana, me?'' '' ... Iya'' Me mengangguk pelan. ''Yaudah. Kamu mau langsung pulang?'' ''Iya. aku lumayan capek dari kemarin.'' ''Oke kalau gitu kita cari taksi dulu.'' ''Iya.'' Mereka melangkahkan kaki keluar terminal bandara. Tak banyak yang dibicarakan You dan Me dalam perjalanan pulang. Me pasti sangat lelah setelah penerbangannya dari Canada kemarin. Setidaknya itu yang You pikirkan dan mengerti. Langit masih terlihat mendung sore ini. Taksi yang You dan Me tumpangi tiba di depan rumah Me. Rumah yang cukup besar bertingkat dengan pagar hitam dan cat abu-abu. Rumah Me terlihat sepi setelah keluarganya pindah ke luar negeri. ''Terimakasih, pak'' Me memberikan uang kepada sopir taksi. Taksi itu segera meninggalkan mereka setelah mengeluarkan koper yang dibawa Me. ''Sepertinya lagi nggak ada orang ya di rumahmu?'' tanya You. ''Iya, yang nempatin rumah ini sekarang kan cuma om sama tante aku. Sekarang pasti mereka belum pulang.'' ''Mereka kemana?'' ''Nggak tau, mungkin kerja.'' ''Hmm... Kamu bawa kuncinya?'' ''Iya.'' Me membuka pintu pagar rumahnya. Halaman rumah Me tidak seluas rumah You. Tanaman hias di rumah Me yang hampir tak terawat mulai layu dan berguguran. You dan Me memasuki rumah besar itu. Gelap. Seperti rumah tua berhantu yang tak terawat. Ctek! You menekan saklar lampu di dinding ruang tengah. Cahaya lampu menerangi ruangan itu. Perabotan klasik rumah Me terlihat berdebu. Lantainya pun kotor tak terawat. ''Rumah kamu kotor banget, Me. Kayak seminggu nggak dirawat.'' You memperhatikan ruangan demi ruangan di rumah itu. ''Iya ya. Hahaha.'' Me meletakkan kopernya diatas sofa. ''Mungkin mereka lagi di luar kota.'' tambahnya. ''Memang kamu nggak ngasih tau mereka kalau mau datang, Me?'' ''Nggak, biarkan sajalah nanti juga pulang.'' kata Me sambil membersihkan sofa yang berdebu. ''Eh udah sore, Me. Aku pulang ya?'' ''Hm? Kan masih jam 4, You.'' ''Iya gapapa. Nanti keburu hujan lagi.'' You bersiap meninggalkan kediaman Me. ''Tunggu, You. Aku anterin.'' ''Nggak usah, Me. Rumah aku kan dekat dari sini. Lagian kamu juga baru pulang, jadi kamu istirahat aja.'' You tersenyum penuh perhatian. ''Nggak apa-apa, aku anterin aja ke rumah kamu.'' Me mengejar You yang berada dekat pintu keluar.

You, Me, and Dandelion's dance 3

Sabtu malam.. Hujan mengguyur daerah pinggiran kota, tempat tinggal You. Menggagalkan rencana-rencana berpergian kaum remaja. Rintikan airnya terdengar kasar menghujam atap rumah You yang terbuat dari genting dan fiber dibagian depan kamar You. Jam dinding digital di kamar You menunjukan angka 23.34 larut malam. You masih terjaga di depan laptopnya. ''7 contacs online.'' terpampang di layar monitor laptop You yang membuka web untuk chatting. Tiba-tiba salah satu kontak itu mulai berkedip, menandakan ada yang meng-chat You. ''Good afternoon, You :)'' isi chat itu. ''Me..?'' You terdiam melihat siapa yang meng-chat dirinya. Dengan cepat You membalas. ''In here, it's night already, me :)'' ''Oh gitu, ya? Berarti selamat malam, You :)'' ''Selamat siang, Me :)'' You membalas. ''Gimana ujian disana?'' tambahnya. ''Ya lumayan sih. Susah-susah gampang. Maaf You belum sempat balas e-mail mu'' jawab Me lewat media chatting dari situs internet. ''Berarti udah selesai, kan? Iya gapapa.'' ''Iya, udah. Setelah ini, aku ada libur musim panas'' ''Would You come here to see me again?'' ''Of course, You. Hari senin nanti aku kesana'' ''Hari senin?'' ''Iya'' ''2 hari lagi dong? Yaah hari senin aku ada kuliah'' ''Iya gapapa, aku cuma ngasih tau kok'' ''Hmm.. Yaudah bawa oleh-oleh ya'' pinta You. ''Hahaha iya. Oiya, gimana kabar keluargamu disana?'' ''Mereka baik-baik aja kok, udah pada tidur sih sekarang'' ''Loh? Emang disana jam berapa?'' You kembali melihat jam digital di kamarnya. ''Sekitar jam 12 malam'' jawab You. ''Kok kamu belum tidur?'' ''Ya kan lagi chatting. Disini hujan, Me'' ''Disini malah lagi panas. Yaudah kamu tidur aja, You'' ''Terus ninggalin chattingan kamu yang jarang-jarang ini? Nggak mau!'' You menolak. ''Bukan begitu.. Disana kan katanya hujan, jadi pasti dingin mendingan kamu tidur aja. Lagian udah malam juga kan disana?'' ''Kalau soal chat kamu tenang aja. Sebentar lagi kan kita ketemu hahaha'' ''Oke deh. Aku off ya? Besok chat lagi dong, Me'' ''Iya iya tenang aja hehe'' ''Oke jangan lupa bawa oleh-oleh ya, Me. Selamat siang :)'' ''Iya selamat malam, You. Selamat tidur :)'' Me mengakhiri chatting dengan teman lamanya. You mematikan laptop. Memejamkan mata, berusaha untuk tidur di tengah suara deras air hujan yang menerpa atap kamarnya. ''Me, akhirnya kita akan ketemu lagi..'' _____________________________________________________________________________________ Minggu.. Matahari telah berada cukup tinggi dari titik terbitnya. Sinarnya hangat menyinari pagi. Menembus kaca jendela kamar You. ''Hoaaam! Ngg..'' perlahan You membuka matanya. Terdiam, berusaha mengumpulkan nyawa setelah berkelana dalam dunia mimpi. Dengan mata yang masih sayup-sayup terpejam, You berjalan pelan membuka jendela kamarnya yang tertutup gorden tipis warna biru laut. Cahaya matahari menerpa wajah putih You, menyilaukan matanya yang mulai terbuka. Terlihat langit biru terbentang luas dengan beberapa goresan awan putih disana. Air sungai di belakang rumah You meninggi, pepohonan juga basah akibat hujan semalam. You menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi di lingkungan rumahnya yang masih tergolong asri. ''Hmm.. Bau rerumputan..'' You tersenyum. Dia sangat senang dengan bau alami rerumputan setelah hujan. Tiba-tiba handphone You berdering. ''Alfi?'' You membaca nama penelpon yang tertera di layar handphonenya. ''Halo? Fi? .....Nonton? Oh iya! Gue baru bangun, Fi ... Maaf yaelah hahaha ... Yaudah, lo lagi dimana? ...... Ginta juga udah disana? ...... Oh oke tapi gue mandi dulu, lo bayarin tiket gue dulu nanti gue ganti ... . Iya iya gue cepet kok ... Yaudah ya? Gue mandi dulu terus berangkat ... Oke Fi, daah'' You menutup telponnya. Belasan misscall dan sms dari Ginta dan Alfi tertera di layar handphone You. Dia benar-benar lupa dengan rencana nonton yang dibuat Ginta. Efek bergadang semalam membuat You bangun kesiangan hari ini. You segera mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi. ------------------------------------------------ ''Fi, lo dimana?'' You mencoba meng-sms Alfi setibanya di depan mall tempat mereka janjian. ''Gue udah di bioskop. Cepetan kesini filmnya udah mulai, You'' balas Alfi. ''Oke, nanti lo keluar ya pas gue misscall'' balas You sambil berjalan ke dalam, menuju bioskop yang terletak di lantai 3. Sesampainya di bioskop, You menelfon Alfi. ''Hai, You!'' belum sempat telpon itu diangkat, seseorang memanggil You. ''Loh? Gin? Kok belum masuk?'' ''Iya kami nungguin elo dulu'' jawab laki-laki berbaju biru toska itu. ''Ooh maaf ya gue kesiangan tadi hahaha'' ''Iya gapapa kok'' ''Alfi mana? Udah di dalam studio?'' ''Nggak. Dia lagi beli popcorn.. Tuh dia'' Ginta menunjuk seorang perempuan yang membawa 2 kotak popcorn ditangannya, datang menghampiri mereka. ''Alfiii, maaf ya gue kesiangan soalnya tadi malem tidurnya telat'' You berusaha menjelaskan. ''Iya iya gapapa kok. Jadi kita mau nonton apa nih?'' ''Loh? Belum beli tiket?'' ''Iya kan kita nungguin elo yang ngaret banget, You'' ''Gue cuma kesiangan, bukan ngaret'' ''Yaudah sih sama-sama telat kan'' ''Udah-udah.. Jadi mau nonton apa? You mau nonton apa?'' tanya Ginta. ''Hm.. Terserah kalian. Yang udah mau mulai aja filmnya'' ''Tuh jadwalnya'' mereka memperhatikan papan besar bertuliskan daftar film dan jadwal penayangannya. ''Yang mana nih? Godzillanya nggak ada'' Alfi membuka percakapan. ''Fi... Plis deh, itu film udah lama banget'' ''Ya maaf, You.. Kan gue cuma bercanda ehehehe'' jawab Alfi dengan tawanya yang dipaksakan ''Jadi nonton apa nih?'' tambah Alfi. ''Sekarang jam 11.53.. Nonton itu aja The Biggest Little Thing, jam 12.05 sebentar lagi'' saran You. ''Itu tentang apa, You?'' ''Tentang filosofi kehidupan gitu. Gue udah baca novelnya, Gin. Seru loh!'' ''Yaudah, beli tiket dulu gih. Bayar sendiri-sendiri ya'' Mereka mengantri untuk membeli tiket. Antrian di loket terlihat sepi. Hanya ada 1-2 pasangan muda-mudi yang ikut mengantri. Tepat pukul 12.05 pintu theater 4 di buka, film The Biggest Little Thing akan segera dimulai. You, Alfi dan Ginta memasuki theater 4 _____________________________________________________________________________________ ''Dingiiin!'' Alfi mendekap kedua tangannya. ''Alfi norak! Hahaha'' ''Tapi emang dingin tadi, Gin'' ''Eh? Mau minjem jaket gue, You?'' Ginta menawarkan jaket cokelatnya. ''Nggak usah, makasih'' ''Mending gue aja, Gin'' Alfi menarik jaket Ginta. ''Gak mau. Nanti rusak'' Ginta memakai jaketnya kembali. ''Dasar.. Eh tapi tadi filmnya bagus loh! Mengharukan, nggak nyangka terakhirnya pisah gitu'' Alfi terlihat antusias. ''Iya gue suka kutipannya: 'hidup ini seperti benang pendek yang kusut.. Singkat dan rumit'. Keren deh'' sahut Ginta. ''Coba kalian baca novelnya, lebih seru lagi kalau bisa ngebayanginnya'' tambah You. ''Kapan-kapan pinjem dong, You'' ''Boleh deh. Kapan-kapan ya, Fi. Sekarang mau kemana nih?'' ''Gue mau ke toilet dulu sebentar ya'' Ginta meninggalkan 2 temannya di depan bioskop. ''Eh Fi, nyari kado yuk?'' ajak You. ''Buat siapa? Memangnya ada yang ulang tahun?'' ''Bukan, besok Me mau kesini loh'' ucap You dengan raut wajah bahagia. ''Beneran?! Wah asik nih! Kenalin gue, You! Kenalin gue!'' pinta Alfi. ''Iya nanti gue kenalin tapi temenin cari kado dulu'' ''Yaudah ayo. Ginta tinggalin aja hahaha'' Alfi dan You beranjak pergi dari bioskop, meninggalkan Ginta yang sedang ke toilet. ''Mau ngasih kado apa, You?'' ''Emm.. Apa ya? Menurut lo, kasih apa?'' tanya You sambil melihat-lihat barang di sebuah rak merah yang tersusun rapih. ''Kalau ini gimana?'' Alfi mengambil sebuah handuk merah kecil di bawah loker. ''Masa mau ngasih itu?'' ''Emang Me sukanya apa?'' ''Dia itu.. Suka menggambar pemandangan'' tersirat senyum halus di wajah You ketika mengingat semua gambar yang telah Me tunjukan padanya. ''Yaudah kasih peralatan menggambar aja.. Buku sketsa, alat tulis, ya semacam itulah'' ''Oiya, tumben Alfi pinteeer! Hahaha'' ''Makasih, yaudah ayo'' Mereka beranjak dari rak baju dan kain menuju tempat peralatan menggambar. Tak berapa lama mereka berjalan, handphone Alfi bergetar. ''Eh, Ginta sms nih.'' ''Apa katanya?'' ucap You, masih mengacak-ngacak rak peralatan menggambar. ''Dia nanyain kita lagi dimana'' ''Suruh kesini aja'' ''Oke..'' Alfi membalas pesan dari Ginta. Sementara You masih mencari-cari barang yang cocok untuk jadi hadiahnya. Membandingkan jenis, fungsi, dan warna dari barang yang nanti akan di belinya. ''Kalian lagi apa?'' seorang laki-laki datang menghampiri mereka. ''Hm? Lagi nyari kado, Gin'' ''Kado? Emang siapa yang mau ulang tahun, Fi?'' ''Bukan kado ulang tahun. Besok , Me, temannya You mau datang'' ''Emang dia siapa? Kenapa harus di kasih kado?'' ''Dia teman dekat gue dari SMA. Dia pindah ke luar negeri pas kelulusan. Sekarang dia mau ketemu gue lagi'' You terlihat bersemangat. ''Teman dekat? Ooh'' terlihat suatu kekecewaan di wajah Ginta mendengar penjelasan You. Wajahnya berubah sedikit murung memikirkan siapa sebenarnya Me yang disebut oleh You. ''Kalau ini gimana, You?'' Alfi menunjukan sebuah buku sketsa ukuran A3, dengan gambar beberapa bangunan pada cover putihnya. ''Ini bagus, Fi! Terus apa lagi? Gin, kasih saran dong'' ''Hm? ... .'' Ginta hanya terdiam sambil menyeleksi alat tulis di rak. Setelah cukup puas, akhirnya You membeli sebuah buku sketsa A3 dan 1 paket pensil dengan berbagai jenis. ''Mau makan dulu nggak?'' ''Em.. Langsung pulang aja deh. Gimana You?'' ''Iya langsung pulang aja. Udah sore, besok kan kuliah, Gin'' ''Hmm yaudah..'' Alfi, You, dan Ginta memutuskan untuk pulang. Menunggu bus di halte ke tujuannya masing-masing

You, Me, and Dandelion's dance 2

Pukul 8.57 You tiba di kampusnya bersama Alfi. Sejuknya suasana pagi di tempat itu mulai terganggu dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang membawa kendaraan bermotor. Beberapa motor dan mobil sudah terlihat berada di parkiran. ''Ah masih pagi udah nyebarin polusi aja!'' Alfi mengeluh melihat asap-asap kendaraan bermotor. ''Coba kalau semua mahasiswa disini ke kampus jalan kaki, pasti lebih sejuk deh!'' tambahnya. ''Tapi kan capek juga kalau jalan kaki kesini.'' You menanggapi. ''Paling nggak, naik sepeda deh! Biar nggak ada polusi.'' ''Percuma kali, Fi. Kampus ini kan di tengah kota, jadi pasti kena polusi dari pagi sampai malam.'' ''Yaudah adain Car Free Day aja sering-sering.'' ''Betul kata si Alfi!'' seseorang nyeletuk dari belakang, mencampuri obrolan You dan Alfi. ''Apa sih? Ikut campur aja..'' Alfi menoleh. Melihat seseorang dibelakangnya. ''Selamat pagi You.'' Ginta tersenyum menyapa You. ''Iya, pagi.'' ''Idih! Kan gue yang noleh, masa You doang yang disapa?!'' Alfi protes. ''Ya maaf, Fi. Hahaha. Kalian ngomongin apa sih?'' ''Hah? Lo tadi ngapain nyeletuk kalau nggak tau topik yang kita omongin?'' tanya You heran. ''Woi! Sapa gue dulu dong!'' ''Yaelah.. Selamat pagi tuan putri Alfi yang baik, yang cantik, yang manis, yang pengen disapa. Hahaha.'' Ginta tertawa meledek perempuan berbaju kuning cerah dan celana panjang hitam itu. ''Makasih, kamu baik deeh.'' Alfi tersenyum manis. Walau agak dibuat-buat. ''Jadi kalian ngomongin apa sih?'' tanya Ginta sekali lagi. ''Ini si Alfi protes'' jawab You. ''Protes kenapa? Kan tadi udah gue sapa.'' ''Bukan itu. Dia kesal sama asap dari motor-motor itu.'' ''Ooh ternyata Alfi yang selalu riang bisa kesal juga ya? Hahaha.'' ''Bisalah! Lagian coba deh lo bayangin, motor-motor mereka itu polusi! Coba kalau mereka naik sepeda ke kampus.. Pasti bakal lebih sejuk.'' ''...tapi kan, Fi, kasian yang rumahnya jauh kalau naik sepeda.'' ''Hmm.. Iya sih. Yaudah yang rumahnya jauh boleh bawa kendaraan, Gin.'' ''Tapi , Fi, nanti yang rumahnya deket malah iri.'' ''Iya juga ya... Ah udahlah! Pokoknya polusi itu nyebelin!'' Mereka terus berjalan memasuki gedung kampus untuk mengikuti mata kuliah hari ini. ______________________________________________________________________________ ''Eh You, hari minggu ada acara nggak?'' tanya Ginta. ''Hari minggu?'' You berpikir sambil merapikan buku-bukunya karena kuliah telah selesai. Beberapa Mahasiswa sudah keluar dari ruangan itu. ''Gue nggak ada.'' Alfi, yang duduk di sebelah You, nyeletuk. ''Yeee siapa yang ngajak lo, Fi? Gimana You?'' ''Hari minggu.. Kayaknya sih nggak ada, tapi belum tau juga deh. Emang mau kemana?'' You balik bertanya. ''Iya mau kemana, Gin?'' Alfi terlihat bersemangat. ''Ke bioskop, yuk?'' ajak Ginta. ''Ngapain?'' ''Ya nontonlah, Fi'' ''Nonton apa?'' ''Godzilla!'' Ginta kesal. ''Itu bukannya film lama ya, You? Emangnya masih ada?'' Alfi menatap You. ''Ya nggak adalah, Alfiii!'' jawab You. ''Kalau nggak ada, terus ngapain nonton itu?'' ''Aduh lemot banget deh lo, Fi. Pokoknya kita nonton. Mau nggak, You?'' ajak Ginta. ''Hmm.. Ayo deh! Alfi ikut juga ya?'' You menyetujui ajakan Ginta. ''Yaah Alfi nggak usah ikut.'' ''Emang kenapa kalau gue ikut, Gin?'' ''Ya... Gapapa sih.. Yaudah hari minggu kita langsung ketemuan di sana aja.'' ''Loh? Lo nggak jemput kita?'' ''Nggak. Udah ya, jangan lupa hari minggu.'' Ginta beranjak keluar meninggalkan dua temannya itu. ''Eh tunggu! Jam berapa, gin?'' ''Jam 11 aja, You!'' teriak Ginta dari luar ruangan. Laki-laki itu kini tak terlihat lagi. Hanya Alfi dan You yang masih ada di ruang kuliah. ''Eh mau makan dulu nggak, Fi?'' ''Emm.. Nggak ah, gue langsung pulang aja. Lo mau makan dulu?'' ''Kalau lo nggak mau, gue langsung pulang juga.'' ''Lo laper nggak?'' ''Laper sih..'' ''Yaudah gue temenin, You. Ayo.'' ''Wih makasih Fi. Tumben Alfi baik. Hahaha.'' ''Iya dong. Tapi nanti beliin gue minum ya. Hahaha.'' ''Dih baru juga dibilang baik, udah minta beliin aja.'' ''Udahlah mau ditemenin, kan?'' ''Iya iya..'' You dan Alfi berjalan menuju kantin. Beberapa mahasiswa masih terlihat nongkrong ditempat itu. Makan, Minum, merokok atau hanya sekedar duduk sudah jadi kegiatan biasa di sore hari. Baik bagi Mahasiswa yang baru pulang maupun Mahasiswa yang baru datang karena mengambil jam kuliah sore. ''Pak, mie ayam 1 sama es teh manis 1!'' pinta You ke salah satu penjual di kantin itu. ''Sebentar, mbak''. ''Fi, lo mau minum apa?'' tawar You. ''Aqua gelas aja deh, You.'' ''Hah? Aqua gelas doang?'' You kaget mendengar permintaan temannya. ''Iya, aqua gelas aja satu.'' ''Beneran?'' ''Iya beneran. Aqua gelas aja biar nanti lo ada ongkos pulang.'' ''Yaelah tenang aja kali ongkos pulang doing.'' Ditengah obrolan mereka, seseorang yang sudah berumur paruh baya datang menghampiri mereka, membawa semangkuk mie dan segelas es teh manis. ''Ini dek, mie ayam sama es teh manisnya.'' penjual itu menyerahkan makanan yang dipesan You. ''Makasih, pak. Eh Fi, cepetan mau pesen apa?'' You menawarkan temannya sekali lagi. ''Aqua gelas aja 1.'' ''Masa itu doang?'' ''Iya emang kenapa?'' ''Gapapa sih.. Yaudah, Pak, aqua gelas 1'' You kembali meminta pesanan pada bapak-bapak yang mengantarkan pesanannya tadi. Dengan segera bapak itu membawakan pesanan yang di minta, aqua gelas. ''Tuh.'' You menyerahkan aqua gelas itu ke Alfi. ''Makasih, You'' ''Aneh.. Lo ditraktir masa cuma minta aqua gelas doang?'' You masih tidak percaya. ''Ya kan gue nggak boleh nyusahin temen sendiri.'' ''Cie mau dibilang baik lagi ya? Hahaha.'' ''Mau dong. Hahaha.'' ''Ogah! Males banget'' You mulai menyantap makanan pesanannya. ''Dasar.. Eh iya, You, gimana kabar temen lo yang pindah itu?'' ''Hm? Siapa?'' ''Itu yang lo ceritain keluar negeri.'' ''Me? Dia bilang sih, sebentar lagi libur musim panas.'' ''Musim panas? Emang dia kuliah dimana sih?'' ''Waktu pertama pindah dia ke Australia, terus katanya pindah lagi ke Canada.'' jelas You. ''Wih pasti enak ya jalan-jalan begitu?'' ''Hmm.. Tapi pasti capek juga.'' ''Tapi kan enak bisa jalan-jalan, banyak temen. Coba gue bisa begitu juga ya..'' Alfi menatap langit-langit kantin. Membayangkan dirinya dapat berpergian seperti Me. ''Tapi, Fi, enak nggak sih punya banyak temen tapi pas udah begitu deket, kita harus pergi? Harus adaptasi lagi sama temen-temen yang baru?'' ''Hmm.. Iya juga ya..'' ''Pergi-pergi begitu berarti bukan cuma ketemu hal baru, tapi berarti berpisah sama hal yang lama juga.'' ''Iya bener, harus pergi begitu udah nyaman pasti nggak enak.. Eh tapi gue belum pernah ketemu dia loh. Kalau dia kesini lagi, kenalin gue ya, You.'' ''Oke tenang aja, Fi.'' You melanjutkan makannya. Matahari berangsur-angsur mendekati ufuk timur, menandakan hari semakin petang. Membuat 2 mahasiswi itu segera melangkah keluar menuju rumah mereka masing-masing.

You, Me, and Dandelion's dance 1

''....karena kita.. Berada dibawah langit yang sama..'' You mengakhiri pembacaan puisinya di depan teman-teman dan dosennya.
 Prok! Prok! Prok! 
''Bagus, You!'' 
''Puisimu bagus!'' orang-orang di ruang kelas bahasa indonesia bersorak memuji You. 
 ''Itu puisinya bikin sendiri?'' 
''Yah nggak usah ditanya. You emang jago bikin puisi!'' 
 ''Terimakasih semua.'' You beranjak kembali ke tempat duduk. Wajahnya terlihat senang walau matanya agak berkaca-kaca. 
''You.. Kamu kenapa? Kok kayak mau nangis?'' tanya Alfi, salah seorang temannya. 
''Ng... Nggak apa-apa kok. Cuma terharu aja hehe'' You mengelap matanya. 
 ''Yakin gapapa?'' Alfi terlihat ragu. 
''Iya gapapa, Fi.'' 
 ''Oh yaudah, terharunya jangan sampai nangis dong hahaha.'' 
 ''Iya, tenang aja.'' 

'Me.. Sudah 1 setengah tahun sejak hari itu, apa kabarmu disana? Benarkah kamu baik-baik saja seperti surat-suratmu? Aku disini merindukanmu..' 

You kembali mengenang teman dekatnya semasa SMA yang kini berada di luar negeri. Matahari bersinar terik di siang bolong hari itu. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan rasa malas datang menyergap orang-orang dari aktivitasnya di luar rumah. Beruntung ruang kuliah di kampus You dilengkapi pendingin udara yang sejuk. Tapi justru karena pendingin udara ini mahasiswa di dalam ruangan jadi mengantuk. Satu-persatu mahasiswa di kelas itu membacakan puisi karya mereka. Lantunan bait-bait puisi mereka tidak kalah dari You. Bahkan beberapa diantaranya terdengar memiliki makna lebih dalam. Membuat suasana hening penuh penghayatan. 

''Baiklah, kuliah hari ini kita cukupkan dulu sampai disini. Sampai ketemu di pertemuan berikutnya. Selamat siang'' dosen matakuliah bahasa indonesia mengakhiri kuliah hari ini. Para mahasiswa berbondong-bondong keluar dari ruangan kelas. 

''You!'' seorang laki-laki mengejar You yang berjalan ke pintu keluar kampus. 
 ''Eh Ginta. Kenapa, Gin?'' sapa You pada laki-laki berkemeja biru kotak-kotak itu. 
 ''Tadi puisi yang lo bacain bagus banget loh! Gue suka. Maknanya dapet banget!'' ucap Ginta bersemangat. ''Makasih Gin. Hehe.'' 
''Iya sama-sama. Itu puisinya bikin sendiri?'' 
''Iya dong. Keren kan? Hahaha.'' 
''Iya iya keren kok. Tapi... Kok tadi baca puisinya kayak mau nangis?'' 
''Eh? Emang iya, ya?'' 
''Tanya aja sama yang lain kalau nggak percaya.'' 
''Oh...'' You menundukan wajahnya. Sambil terus berjalan, Ginta menunggu jawaban yang lebih jelas dari perempuan di sebelahnya itu. 
''...... Lo kenapa, You?'' tanya Ginta penasaran. 
''Hm? Gapapa kok..'' mereka berhenti di depan halte di pinggir jalan. Menunggu bus. ''Beneran?'' ''Iya gapapa, Gin.'' 
''Bohong..'' 
''Beneran kok.'' 
''Ayolah! Gue udah kenal lo dari pertama masuk kuliah. Dari mulai pendaftaran sampai sekarang..'' Ginta mulai mencari alasan untuk memaksa You. 
''Maaf....'' 
''Gue tau sikap lo kalau lo lagi ada masalah..'' Ginta memotong perkataan You. 
''Gin....'' 
''Cerita aja, You, kalau ada masalah.. Jangan dipen..'' Ginta masih memaksa. 
''Ginta! Maaf..'' ucap You tegas menghentikan perkataan Ginta. 
''Gue nggak apa-apa. Gue tau maksud lo baik, makasih, tapi gue nggak kenapa-kenapa. Lo nggak perlu khawatirin gue.'' tambahnya membungkam Ginta. 
''...... Maaf, You.'' 
''Iya nggak apa-apa. Makasih, Gin. Gue duluan ya, busnya udah datang.'' You meninggalkan Ginta di halte itu. Sekali lagi dia melihat wajah Ginta sebelum menaiki bus yang membawanya pulang. Tersirat rasa bersalah di wajah Ginta. 'Maaf, Gin..' dalam benaknya You juga merasa bersalah. Bus pun melaju meninggalkan halte dan beberapa orang disana dalam tujuannya. _____________________________________________________________________________________ '1 inbox' terpampang di layar laptop You. ''Pasti me'' Dengan cepat You mengklik tulisan itu. Memastikan siapa pengirimnya. ''Hai You, Gimana baca puisinya tadi? Pasti bagus ya. Aku harap aku ada disana biar bisa liat kamu baca puisi itu. Oh iya, aku sudah selesai ujian dan sebentar lagi ada libur musim panas disini. Bagaimana disana? Lagi musim panas atau hujan? Ada libur juga nggak? Really hope to see you as soon as possible..'' isi pesan masuk itu dari Me. You dan Me memang hanya bisa saling berhubungan melalui layanan e-mail karena berbeda tempat. Mahalnya biaya telepon ke luar negeri agak menghambat komunikasi mereka. '1 attachment' di e-mail yang dikirim oleh Me. File gambar. Terpampang file berupa gambar yang di buat me di Australia. Terlihat gambar sebuah rumah dalam suasana hujan. Goresan-goresan halus menunjukan aliran air hujan yang mengalir deras menuruni genteng rumah tersebut. Terlihat 2 orang berteduh dalam gambar itu. You tersenyum melihatnya. ''Hai Me.. Tadi baca puisinya lumayan sih, walau banyak puisi yang lebih bagus. Aku harap kamu disini biar bisa aku bacain puisinya hahaha. Tentang ujian kamu,semoga hasilnya bagus ya! Disini belum ujian. Ujiannya masih lama. Disini lagi musim hujan. Kamu kapan kesini lagi, Me? Pas liburan ya? Oh iya aku udah liat gambar kamu. Aku suka :) itu keliatan nyata padahal cuma pakai pensil. Efek daun-daun basahnya juga bagus. Jadi ingat waktu dulu di perkemahan.. Yah semangat ya ujiannya! Me pasti bisa. Really miss You'', Sending e-mail. You membalas surat elektronik dari Me. Sekali lagi dibukanya file yang berisi gambar dari Me. You memperhatikan gambar itu dengan seksama. Menebak-nebak makna dari gambar itu. ''Di print aja kali ya.'' You memutuskan mengeprint gambar itu. Walau berupa print-an, goresan-goresan pensil yang me buat tetap terlihat begitu nyata. You mengambil buku gambar Me, hadiah pertukarannya saat perpisahan dulu. Halaman demi halaman dibukanya, membangkitkan kenangan lama dari setiap gambar didalamnya. Ia menempel gambar tadi di satu halaman pada buku gambar Me sambil kembali diperhatikannya gambar itu. ''Me.. Kapan kita bertemu lagi..?''

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented