Kamis, 07 Agustus 2014
Cerita Dalam Buku Biru
Minggu, 23 Februari 2014
Rahasia Hitam 4
Gelap. Mataku masih terpejam namun telah bisa kurasakan permukaan kasar dari aspal tempat aku terkapar. Rasa sakit di sekujur tubuhku membantuku mengumpulkan nyawa lebih cepat. Mataku mengerjap. Sayup-sayup aku dapat menangkap gambaran keberadaanku. Ya, di gang kecil yang lembab dengan pecahan botol dimana-mana.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Res..." suara lirih datang dari belakangku.
"Dante!" Aku lihat sahabatku terbaring lemas. Memar biru dan noda darah terpapar di sekujur tubuhnya sama sepertiku.
Ohiya! Aku baru ingat. Kami berdua membuntuti kak Agni hingga ke gang kecil ini. Kami tertangkap oleh preman-preman dan berakhir menjadi bulan-bulanan mereka di sini. Ya, itulah penyebab aku dan Dante jadi babak-belur begini.
Namun sejak aku tersadar aku tidak melihat kak Agni atau pun preman-preman itu. Hanya ada aku dan Dante di tempat ini. Mungkin mereka kabur setelah puas menghardik kami dan takut tertangkap warga.
"Dasar pengecut!" Gumamku dalam hati.
"Dan, kamu gapapa?" Segera aku luruskan pikiranku kembali kepada kondisi sahabatku.
Dante tidak menjawab. Aku bisa mendengar napasnya melemah. Matanya setengah terpejam.
"Dante? Dan? Bangun, Dan!" serak aku berteriak.
Tetap, sahabatku masih diam. Hanya kelopak matanya yang berangsur-angsur menutup. Sepertinya kesadarannya menghilang.
Masih dengan rasa sakit di tubuhku, aku coba membopong tubuh Dante.
Selangkah demi selangkah. Aku tertatih. Rasa sakit di tubuhku perlahan meringkus kesadaranku pula.
"Sial...!"
Aku terjatuh di ujung mulut gang ini
----------
Sosok itu berdiri beberapa meter di depanku. Mungkin sekitar 25 meter. Namun tidak bisa ku lihat dengan jelas siapa. Seluruh tubuhnya seolah berkamuflase dengan bayang-bayang dinding sebuah gang kecil. Hitam kelam.
Dia tidak sendiri. Aku lihat ada sosok yang berpostur tinggi badan sama denganku di sampingnya yang tak kalah hitamnya. Mereka bagai bayangan tak bertuan.
2 sosok itu saling berhadapan. Entah apa yang mereka bicarakan aku tidak mengerti. Jangankan untuk mengerti, aku bahkan tidak bisa dengar percakapan 2 bayangan itu.
Yang kutau, setelah beberapa menit mereka bercengkrama, sosok yang lebih tinggi itu dengan cepat mencengkram leher mahluk di hadapannya. Tentu saja lawannya berontak namun percuma. Cengkraman si tinggi jauh lebih kuat dari perlawanan bayangan hitam pendek itu. Semakin dia melawan semakin habis tenaganya. Selang beberapa menit kemudian tidak ada lagi perlawanan darinya. Si pendek terkulai lemas tak berdaya.
Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, si tinggi melanjutkan aksinya.
BUKK!
Satu pukulan mendarat di tubuh si pendek. Pukulan tersebut menjadi sambutan bagi pukulan-pukulan berikutnya. Aku yang berdiri jauh dari mereka hanya bisa geram menyaksikan si pendek dianiaya tanpa perlawanan.
"Hentikan...! Cukup!" aku berteriak.
untuk sesaat sosok tinggi kejam itu berhenti. Mungkin dia mendengarku namun kuliat dia tidak menoleh.
Apa dia sudah selesai? Tidak! Dia mengambil benda stainlesssteel berukuran 25-30cm yang entah dari mana asalnya.
"dia mau apa?" tanya batinku.
"Jangan... Jangan!!!" Sontak aku berteriak begitu kulihat si tinggi menghunuskan besi itu ke arah si pendek.
JLEB!
Tanpa perlawanan apapun si tinggi menikam jantung lawannya yang sedari tadi tidak sadarkan diri.
Berkali-kali. Tikaman pisau mendarat di tubuh si pendek.
"Hentikan!! Jangan!!" Pintaku yang menyaksikan adegan sadis itu.
Namun bedebah kejam itu tidak berhenti. Tetap membuat lubang-lubang luka dengan pisau di tangannya. Tak peduli apa lawannya sudah mati atau belum. Dia terus menggenangi latar hitam gang kecil itu menjadi merah darah.
"Hentikan! Hentikan!!! AAAAAA!!"
-----
"Res! Ares!!!" panggilan Dante menyadarkanku.
".... ini di mana?" Responku setengah sadar.
"di rumah salah satu warga. Kamu gapapa? Luka-lukamu gimana?"
Sontak pertanyaan Dante membuat aku mulai meringis merasakan rasa sakit dari luka di tubuhku. Namun, syukurlah, sama seperti Dante, luka-lukaku sudah tertutup perban. Entah sejak kapan.
Senin, 13 Januari 2014
Rahasia Hitam 3
"Ayo, Res, cepetan!" Dante berbisik padaku.
Matanya tak henti-hentinya memperhatikan gerak-gerik seseorang. Mengikutinya selangkah demi selangkah sambil sesekali bersembunyi di balik pepohonan warga.
Suasana saat itu sepi. Hanya ada aku, Dante, dan seseorang yang menjadi objek tugas Dante yang sepertinya tidak menyadari keberadaan kami.
Pagi tadi Dante mengajakku untuk mengikuti kak Agni untuk mengetahui sikapnya di luar jam kuliah. Rencana itu dia lakukan setelah puas membuntuti kak Agni berhari-hari di kampus. Dari hasil penyidikannya, Dante mencatat beberapa sikap kak Agni: Sombong, suka menghina, mudah marah, jahil, mudah menyerah dan entah apa lagi keburukannya. Namun aku juga mendapati dalam catatan itu: mudah bersosialisasi, tidak pelit, dan setia kawan. Aku tidak tau itu benar atau salah tapi itulah yang aku baca.
"Res, dia masuk ke gang kecil tuh! Ayo!"
Aku dan Dante terus mengikuti langkah kak Agni. Dari mulut gang kecil itu aku bisa melihat 4 orang yang mungkin adalah temannya. Mereka tampak menyeramkan, bertatto dan berbaju rombeng layaknya preman. Tunggu, aku rasa mereka memang preman. Aku tidak pernah melihat mereka di kampus. Asing. Ya, mereka asing buatku.
"Kak Agni mau apa di sini?" Bisik Dante.
Dia tercengang melihat pemandangan di dalam gang sempit itu. Botol-botol bir tergeletak di sembarang tempat. Tak lupa tumpukan kartu serta lembaran uang puluhan ribu siap menjadi permainan mereka.
"Dan, kayaknya kita harus pergi sekarang," aku menarik tangan Dante.
"Nanti dulu! Aku masih mau nyelidikin kak Agni," bisiknya dengan nada tinggi.
"Ayo, Dan! Ini udah gak bener! Kita harus pergi sekarang!"
"Eh! Ngapain kalian di sini!?" Suara itu terdengar jelas di belakang kami. Mengejutkan aku dan Dante serta para pemain kartu di ujung gang kecil ini.
Aku dan Dante tidak menjawab. Kami masih bungkam. Jantungku berdegup lebih cepat seiring langkah orang-orang bermuka barbar itu mendekat, termasuk kak Agni.
"Ares? Dante? Ngapain kalian di sini?!" Pertanyaan itu terulang, kali ini oleh suara yang lebih familiar.
Tetap saja kami tidak menjawab. Kami terlalu takut dengan 6 orang yang mengepung kami.
"Lo kenal mereka, ni?"
"Mereka adik kelas gue di kampus"
"Kak! Ngapain kakak di sini?!" Dante memberanikan diri.
"Ngapain? Suka-suka gue dong mau ngapain di sini. Ada urusan apa lo ke sini?"
"Oh kalian ngebuntutin gue ya? Mau nyari tau tentang gue? Berani juga si cupu sama anak mami ini. Hahaha." Ucap kak Agni setelah mengambil buku catatan Dante.
"Sebagai ucapan selamat karena udah berani ke sini, rasain nih!" Satu pukulan mendarat di perut Dante. Ia langsung tersungkur lemas. Aku pun tak luput dari sasaran kak Agni. Pukulannya mengenai wajahku.
"Guys, ayo dong! Sambut tamu kita yang berani ini!" Kak Agni mengajak 5 temannya untuk menjadikan kami bulan-bulanan mereka.
Tiga orang di antara mereka memukulku tanpa ampun. Tendangan dan pukulan aku tahan sekuat tenaga. Ingin rasanya aku balas. Tapi aku tidak berdaya. Aku lemah. Rasa sakit terlanjur merasuk ke sarafku memberi rangsangan yang melumpuhkan seluruh tubuhku.
Nasib Dante tak jauh berbeda dariku. Dia juga menahan rasa sakit dari penindasan fisik ini. Kulihat dia menangis. Mungkin hanya itu luapan emosi yang bisa dia keluarkan sekarang.
Sekitar 5 menit pukulan dan tendangan mereka menghantam kami. Kak Agni mendekati aku yang meringkuk di aspal.
"Gimana anak mami yang satu ini? Mami lo mana? Jauh ya tinggalnya? Kalau papi lo? Tunggu, emang lo punya papi? Papi elo aja gak jelas. Papi elo pasti cuma om-om yang rela ngebayar mami lo buat ngelahirin elo tanpa nikah. Iya kan? Dasar anak haram!" Ucap kak Agni dengan seringainya yang sangat kupandang rendah.
Deg! Jantungku berdegup lebih cepat. Jauh lebih cepat. Ini seperti saat ospek dulu tapi kali ini terasa lebih nyata. Kata itu terlanjur diucapkan.
Hinaan kak Agni membakar emosiku lebih cepat daripada rasa sakit di tubuhku yang pudar perlahan. Merubahnya menjadi tenaga super untuk aku bangkit dari aspal tempat aku berbaring. Namun aneh. Aku masih merasa lumpuh. Seolah aku kehilangan kendali atas tubuhku. Bahkan kesadaranku mulai tergantikan oleh sesuatu yang terus bergumam di kepalaku,
"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Senin, 06 Januari 2014
Rahasia Hitam 2
Kembali aku terduduk di taman samping Gedung rektorat. Tempat ini adalah tempat favoritku untuk menyendiri. Selain banyak pepohonan yang membuat sejuk, taman ini juga biasanya sepi. Jarang ada mahasiswa yang singgah di sini.
Lokasinya juga cukup jauh dari gedung fakuktas psikologi tempat aku biasa menimba ilmu. Di sini aku tidak perlu terpengaruh dengan hawa kehadiran seniorku yang tentunya ditakuti teman-temanku.
"Hoi, Res! Lagi-lagi kamu di sini. Ngapain, sih?"
"Iya, Dan. Cuma duduk aja kok."
"Jangan sendirian, Res. Kan udah dibilangin sama ketua angkatan kita. Nanti kamu dicap apatis loh."
Ketua angkatanku memang menyuruh kami untuk tidak sendirian. Kami diwajibkan untuk selalu sama-sama demi kesatuan, kekompakan atau apalah itu aku tidak peduli.
Aku hanya mengangguk untuk membalas ucapan Dante barusan.
Sudah seminggu berlalu sejak acara ospek itu. Orang yang dahulu membelaku dari kak Agni kini duduk di hadapanku. Dante namanya. Seorang mahasiswa cupu yang sedang berontak dari kecupuannya.
"Gimana? Udah nentuin target buat tugas psikologi dasar?"
"Belom."
"Ayolah, Res. Kita kan harus memperhatikan tingkah laku seseorang tanpa ketauan."
"kalau begitu harusnya kamu gak perlu tau siapa targetku. Lagi pula memang kamu udah punya target, Dan?"
"Hmm.. belom juga sih. Yah, waktunya juga masih lama."
"Cieeee!! Si anak cupu sama anak mami lagi berduaan! Kayak homo." Teriakan itu terdengar dari luar taman. Suara menyebalkan yang sudah sangat aku kenal. Siapa lagi kalau bukan kak Agni.
Orang itu tidak henti-hentinya menghina kami. Tingkahnya seperti anak kecil. Tidak, dia lebih seperti orang gila. Bahkan lebih rendah menurutku.
Aku dan Dante hanya memperhatikannya yang tertawa garing sambil berlalu menuju gedung psikologi.
"Res, aku udah nentuin siapa targetku," Dante tersenyum licik.
"Siapa? Kak Agni?"
Dante tidak mengubah ekspresinya. Aku yakin itu berarti iya. Dante menargetkan kak Agni sebagai objek penelitiannya untuk tugas psikologi.
"Kamu yakin, Dan?"
"Iya, abisnya dia menarik sih," jawab Dante.
Benar. Kak Agni memang ekspresif. Tingkahnya mencerminkan sifatnya lebih bening dari kaca. Dia menyebalkan tapi karena itu pula dia mudah untuk dinilai.
Berbeda denganku. Siapa yang mau menilaiku? Aku bukanlah orang yang menarik. Aku tidak bisa mengutarakan ekspresiku di depan orang banyak. Aku lebih cenderung membosankan. Aku jarang berkumpul dengan teman-teman. Apatis. Ya, itu sebutan yang mungkin akan aku sandang sebagai penghormatan dari angkatanku.
"Udah sore nih, Res, balik yuk?"
---
Hari-hariku berlanjut dengan membosankan. Hanya kuliah, mengerjakan tugas, makan, dan tidur yang aku lakukan. Oiya, juga merenung di tempat favoritku tentunya.
Sebenarnya aku masih sibuk bertanya. Kenapa aku ada di sini? Di fakultas psikologi? Awalnya aku kira jurusan psikologi adalah tempat orang-orang yang sering dicurhatin. Tempat orang yang paham perasaan orang lain. Seiring waktu, aku mulai menganggap psikolog adalah orang yang memberi masukan, bisa menghipnotis, atau semacamnya. Namun sekarang aku merasa psikolog bagaikan dokter penyakit jiwa. Dan aku yang akan jadi pasiennya.
Aku tidak tertarik dengan curhatan orang-orang. Aku juga tidak mahir memberi masukan untuk teman-temanku. Tidak ada niat untuk aku menjadi motivator, konsultan, apa lagi dokter penyakit jiwa. Seperti yang aku bilang, jika psikologi adalah rumah sakit jiwa, maka aku adalah pasiennya. Apa aku sakit jiwa? Tidak. Aku tidak gila. Mungkin belum.
Bagiku psikologi adalah rumah rehabilitasi. Tempat aku mengenal diriku dan sesuatu yang lain.
Sabtu, 04 Januari 2014
Rahasia Hitam 1
"Aaa... AAAAHHH!!" suaranya menggema dalam ruangan kosong yang pengap ini. Aku masih bisa mendengarnya walau rasanya sebentar lagi aku akan tuli. Masih bisa aku rasakan pisau menancap di dada kiriku. Sakit? Tidak. Aku mati rasa. Aku yakin sebentar lagi aku pun akan mati raga, juga jiwa. Aku kehilangan nyawa.
"AREEESSSS!!!" Dia mengguncang tubuhku yang bersimba darah.
Matanya terbuka lebar menatapku seolah tak percaya dengan apa yang ditangkap indra penglihatannya.
Kunikmati detik-detik terakhirku menatap wajah panik Dante, sahabatku. Orang yang paling mengenaliku, bahkan melebihi ibuku.
Aku tersenyum melihat darahku yang berlumuran di tangannya. Sebilah pisau yang tertanam di jantungku juga adalah miliknya. Ya, dia yang membunuhku.
----
"SIAPA KALIAAAN?!" Teriakan panitia ospek membuat bisu para mahasiswa baru.
Senyap, kami diam mematung.
"JAWAB!! Punya mulut, nggak?!" kali ini suara cempreng keluar dari mulut mbak Thita. Matanya yang sipit dipaksakan melotot demi menghardik serdadu pelajar berpakaian putih hitam lengkap dengan atribut ospek yang menjadikan kami bak orang gila.
"Aku tanya sekali lagi. SIAPA KALIAAAN?!" teriakan itu terdengar lebih keras kali ini seperti gemuruh petir di tengah teriknya matahari.
"Mahasiswa Psikologi Universitas Prima Tamaya!" sayup-sayup terdengar sahutan tunggal dari barisanku.
Dante, ketua kelompokku, menjawab.
"Cuma satu orang yang menjawab? SIAPA KALIAN?!" Ini ketiga kalinya aku dengar pertanyaan yang sama. Membosankan.
"MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS PRIMA TAMAYA!!!" kali ini lebih banyak suara yang menyambut teriakan panitia ospek bermuka sangar itu.
kami masih berdiri dijemur di bawah terik matahari siang ini. Sudah hampir dari 1 jam yang lalu kami mendapat bentakkan, umpatan, dan sesekali tamparan dari panitia ospek. Menyebalkan memang, tapi inilah yang harus kami jalani. Paling tidak untuk 4 bulan kedepan.
"WOY! Ngapain bengong?!" Satu tamparan keras dari kak Agni melayang ke arahku. Aku tidak membalasnya. Aku tahan rasa perih di pipi kananku dan berusaha tetap meredam emosi. Tetap diam di tempat dengan tatapan kosong terkunci pada tengkuk leher Dante yang berdiri tepat di depanku.
"Oh jadi Ares bisa masuk universitas juga ya. Si 'anak mami' yang satu ini udah siap lepas dari maminya ya? HAHAHA," tawa kak Agni terdengar menjijikan. Aku tau dia berusaha memancing emosiku.
'Sabar.. tenang aja, Res, jangan terbawa emosi. Jangan termakan omongan kak Agni' batinku terus mengingatkanku. Aku harus tetap tenang dalam kondisi ini.
Belum puas menghinaku dengan sebutan anak mami, kak Agni kini mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Dengar ya, Res, aku tau kalau kamu itu anak ha.."
"Kak, cukup!" Dante memotong bisikkan Kak Agni yang merupakan kakak kelas kami di SMA yang beda 2 tahun di atas kami.
"Jangan ganggu Ares, kak!" Ucap Dante tegas seolah tau apa yang mau kak Agni ucapkan. Aku sendiri sebenarnya tau lanjutan dari kalimat kak Agni tadi. Kalau saja Dante tidak memotong bisikannya, mungkin saat ini emosiku sudah meledak.
"Kalau aku gangguin dia, kamu mau apa?"
Dante menatapnya tajam, walau aku tau sebenarnya dia takut pada kakak kelasku yang terkenal preman di SMA. Sialnya kami harus satu kampus dengannya, ditambah lagi dia adalah panitia ospek yang memiliki kuasa untuk menganiaya mahasiswa baru seperti kami.
Dante tidak menjawab. Hanya emosinya yang menyiratkan geram di raut wajahnya. Berbeda dengan kak Agni yang hanya dengan menyeringai mampu menciutkan nyali Dante.
"Jadi gimana? Kalau aku gangguin dia, kamu mau apa, hah?" Orang barbar itu mendongakkan dagunya. Sikapnya benar-benar menantang Dante yang terkesan alim dan cupu waktu SMA.
"Kamu ngapain, ni?" Seorang panitia ospek berbadan gempal dan berambut cepak datang. Kulitnya yang hitam menambah kesan menyeramkan dari dirinya.
"Ini, Bay, ada maba yang songong berani ngelawan gue,"
"Yang mana?"
"Ini, si dua kunyuk ini," kak Agni mengarahkan jari telunjuknya bergantian kepadaku dan Dante.
Kak Bayu, panitia bertubuh gempal itu, menatap kami. Tatapannya teduh, kontras dengan perawakannya yang mirip genderwo nyasar di kampus.
"Dek, di sini kalian sebagai maba. Tolong hormati kakak tingkat kalian. Jangan terbawa emosi. Sabar aja. Jangan ngelawan kami," ucapnya pelan.
Kata-katanya barusan berhasil mengguyur api amarahku. Walaupun sebenarnya ada jutaan kata "tapi" yang siap aku lontarkan untuk menanggapi nasihatnya. Aku rasa Dante juga begitu.
Setelah menasihati kami, kak Bayu segera menarik kak Agni keluar dari barisan maba, tepatnya barisan kelompokku. Mungkin dia pun sudah tau watak kak Agni yang belagu dan gampang emosi bisa menghadirkan masalah yang berlebihan antara panitia dengan para mabanya.
Semua panitia kini sudah berbaris di depan. Acara ospek jurusan ini akhirnya sampai pada jadwal penutupan. Para panitia meminta maaf atas semua perlakuannya pada kami. Mereka berdalih itu untuk perbaikan sikap atau menguji mental. Konyol. Sangat klise menurutku.
Aku lihat teman-teman mahasiswa baru sependeritaanku mulai lega. Walau ada beberapa yang menangis, dan masih menyisakan kemarahan. Ada juga yang pipinya merah, tatapannya kosong, kumel dan lain-lain akibat menjadi bulan-bulanan panitia ospek.
Jujur saja, aku sendiri sebenarnya masih emosi pada kak Agni. Bukan karena tamparannya, tapi lebih karena hinaannya. Aku sangat sensitif dengan sebutan "anak mami". Apalagi dengan kata yang tak sempat dia ucapkan. Kata yang dapat merubah duniaku dalam sekejap. Layaknya siang yang berganti malam dalam satu kedipan mata.
Kamis, 31 Oktober 2013
From History to Story (cont)
Halo, Blogs.
Ini lanjutan dari pembahasan cerpen dari post sebelumnya ya.
Post sebelumnya masa gak muat padahal tanggung-_-.
baiklah, kita lanjut.
Cerpen gue yang terbaru itu..
The last but not least...
Lonely Winter.
Tokoh utamanya adalah Rigel, seorang anak kelas 2 SMA yang biasa saja gak ganteng-ganteng amat, yang bertemu dengan Cleva, seorang perempuan aneh dari mimpinya. kenapa cleva aneh? Baca aja ceritanya kalo mau secara detail.
But, kalau gak mau baca, here is the review:
Ada 2 masalah dalam Lonely Winter.
Pertama, Perjanjian dengan Cleva yang melarang Rigel dan Cleva saling jatuh cinta. Perjanjian ini membuat Rigel benar-benar berusaha membohongi hatinya sendiri dan menjauh dari Cleva.
Tapi pada akhirnya dia berontak dan menyatakan perasaannya walau agak terlambat.
Kedua, tentang Cleva.
Sikap yang Cleva tunjukin dari mulai berusaha terlihat ceria, banyak bicara, suka memperhatikan sekitar dan semua perjalanan seorang dirinya itu ternyata ada alasannya yang menjadikan dia seperti itu. Pada bagian Frozen Crecent dijelaskan alasannya, yaitu karena rasa sepi.
dia hobi menikmati kesendirian hingga terjerumus kedalamnya dan mulai merasa kesepian.
Setiap kali dia cerita tentang hobinya itu, Cleva keliatan ceria. Tapi dibalik binar keceriaannya itu... ya pikir aja sendiri.
Ide cerita Lonely Winter adalah gabungan dari impian, mimpi dan kenyataan yang pernah gue alami.
Impian gue buat ketemu seseorang kayak Cleva. Kalau ketemu.. pasti asik buat gue ajak jalan-jalan. Kan kami jadi sama-sama gak perlu jalan-jalan sendirian lagi. Tapi gue harus nyari dia dimana... -_-.
Mimpi. Ada di post Dream Troopers. Cleva dalam cerita ini adalah seseorang dari dalam mimpi. Jadi, gue harap bisa ketemu di dunia nyata. Dengan begitu, she would be so spesial.
Kenyataan.
Ya.... gimana ya? Apa yg gue alami itu sebagian ada di cerita ini. Kebanyakan sih tentang perjalanan sendirinya. Ke museum, sumber air panas, sama ke mall. Tapi gue gak ketemu Cleva -____-. Dia terlalu langka. Ya begitu deh.
Lonely Winter ini cerpen terpanjang gue loh. Dengan berapa part sih? 20an atau belasan? Gue lupa -_-. Males baca lagi. Endingnya pun gue miripin ke awal lagi dengan agak kontras. Biar keren gitu.
oke itu pembahasan cerpen gue. Soal voting yang telat banget-banget-banget itu.... lupakan aja.cuma 1 orang yang ikutan.
jadi atas dasar pertimbangan itu, gue aja yang langsung milih awardnya.
*award berikut ini adalah suka-suka gue. kalo beda dengan persepsi kalian, jangan protes -_-*
1. Cerita terkeren atau terbaik.
Berdasarkan alur dan macam-macam aspek lainnya, gue nobatkan kepada....
You, Me and Dandelion's dance :D
2. Tokoh terbaik.
Gue pilih Me :D
Me ini sangat bijak dan pinter. Dia mengerti arti kehidupan dan semacamnya. Pokoknya keren deh.
3. Klimaks cerita.
Ini... gue suka klimaksnya High and Low sama Lonely Winter -_-. Di high and low dialognya Nita di taman itu loh. Nusuk banget. Berasa bodoh banget si Fizan.
Sedangkan di Lonely Winter dari 2 masalah yang ada, gue suka pas bagian Frozen Crescent. Kenapa? Ya... begitu deh. A piece of me is in there.
Tapi di antara keduanya, gue lebih suka Nita, jadi High and Low terpilih di sini :D
4. Pesan moral.
ah ini mah gak perlu repot milih. You, Me and Dandelion's dance menang di kategori ini :D. Pesan moral dari Me, "jika seseorang pergi dari hidup kita, itu artinya kita cukup kuat untuk hidup tanpa orang itu,"
Ya itu dia award dari cerpen gue. Untuk saat ini sih. Terima atau tidak, bodoamat.
Oke, blogs. Itu aja kali ya. Gue masih sibuk di wilayah 2 jadi maaf kalau jarang post. Tugasnya banyak kalau hari biasa. Giliran minggu uts itu minggu santai.
Ada banyak cerita yang mau gue share dari wilayah 2 ini. Tapi karena belum ada kesempatan, mungkin lain kali.
Udah ya? Itu aja untuk sekarang.
Jaga diri kakian baik-baik, blogs :)
selamat malam
Sabtu, 07 September 2013
From History to Story
Selamat malam, blogs :D
Assalamu'alaikum.
Sudah lama sekali ya gue gak posting. Maaf ya, gue sibuk di wilayah 2 ini. Sibuk apa? Banyak. Kuliah, main, istirahat, makan, tidur dan lain-lain. Pokoknya sibuk deh. Jadi gak ada waktu buat post lagi.
Apa kabar kalian? Yang dari wilayah satu gimana? Yang jauh di sana baik-baik aja kan? Ya, semoga kalian semua baik-baik aja ya.
Anyway, kali ini gue belom mau cerita tentang wilayah 2 ini. Masih gak mood. Kali ini kita bahas cerpen aja ya? Oke deh. Simak yap!
Yang suka baca cerpen gue mana suaranyaaaaaa?! "Krik krik krik".
yang udah ngevote buat award cerpen gue mana semangatnyaaaa?! "..........." -___-.
jadi, blogs, masa gak ada yang ikutan voting cerpen gue -_-. Ada sih tapi cuma 1 orang. Mana bisa dijadiin award. Karena itu awardnya akan gue batalkan secara objektif. Sebagai gantinya, gue sendiri yang akan memilih award buat cerpen gue sendiri.
tapi sebelumnya, gue mau bahas cerpen gue satu per satu dulu.
Dimulai dari....
Dream World Adventure.
Ada yang udah baca? Inilah cerpen pertama gue. Cerita tentang dunia fantasy yang pingin gue wujudkan. Kalo udah baca, DWA 1 itu beneran dari mimpi tapi seri berikutnya adalah imajinasi.
Dream World Adventure ini menceritakan petualangan seorang anak yang super imajinatif di alam mimpi bersama teman khayalannya. Anak ini punya misi untuk mengalahkan Pandemonium. Apa itu Pandemonium? Gue gak tau -_-. Pokoknya itu sejenis penguasa kegelapan gitu deh. Nah, untuk mengalahkan Pandemonium ini, si anak harus mempelajari Lucid Dream, tehnik untuk mengendalikan mimpi.
karena DWA itu cerpen peetama gue, kalian pasti bisa ngeliat gaya penulisannya yang masih gak konsisten. Kadang gak jelas juga dengan semua sihir yang gue tulis.
Kalo gue baca lagi sekarang sih fak seru. Tapi waktu gue dulu nulis sambil imajinasiin itu, sumpah, seru banget! Lebih asik dari harry potter -_-. Andaikan kalian bisa liat imajinasi gue..... kalian mungkin pingsan -__-. Dream World Adventure ini aslinya ada 8 seri. Tapi yang gue post cuma 7. Males ngelanjutinnya. Lagian gaya penulisan gue terlanjur berubah jadi ya udahlah. Kalian aja yang imajinasiin sisanya.
Berikutnya ada.....
Di Bawah Langit.
Tau, kan? Ini salah satu cerpen terkenal *hoek* gue. Cerpen pertama yang gue masukan unsur puisi di dalamnya. "Daun yang jatuh tidak pernah membeci angin," ini kata-kata gue ambil dari judul novel. Tapi gue gak pernah baca novelnya.
Di Bawah Langit bercerita tentang Me, laki-laki pendiam nomaden yang berteman dengan You, seorang perempuan cantik berambut panjang yang menyukai puisi. Kenapa namanya Me dan You? Karena gue gak jago nyari nama buat character gue -_-. Itu bagian paling malesin. Lagian emang tadinya Me itu adalah gue kok.
Coba deh perhatikan adegan awal cerpen ini adalah Me yang sedang termenung di pinggir sungai. Ini gue ambil dari pengalaman gue waktu kelas 10 di kampung Naga. Waktu gue memperhatikan suara aliran sungai dan orang-orang gak ada yang ngerti. Inspirasinya cuma itu doang. Sisanya imajinasi gue yang bekerja.
Rangkaian puisi yang gue tulis di cerita ini juga asli bikinan gue loh. Keren ya? Pastinya B). Terus pesan moral yang ingin gue sampaikan pun udah jelas ya? Itu jadikan tersurat di awal dan gue tegasin lagi di akhir cerita. Yaitu, apa pun yang terjadi dalam hidup kita, kita gak boleh nyalahin takdir. Ya gitu deh. Oiya, kabarnya ini jadi cerita paling menyedihkan yang pernah gue bikin. Bener gak menurut kalian?
lalu yang ketiga ada....
Ridiculove.
Awalnya judul cerpen ini adalah "As Ours" tapi ini jelek. Karena cerita ini mengandung sedikit unsur kejahilan maka gue rubah jadi "ridiculove". Tokoh utamanya adalah Al dan Aria. Al adalah cowok kreatif yang jail banget. Kontras dengan Aria, seorang perempuan polos.
Sifat Al yang jahil ini diambil dari pengalaman gue waktu SD. Pengalaman yang mana, dit? Yang sms temen sekelas dan ngaku sebagai cewek. sumpah ini gue lakuin waktu kelas 6 dan ini menggegerkan angkatan gue. Sampe walikelas gue pun ikutan penasaran -_-.
Gue dulu ngaku sebagai Nia, cewek misterius kelas 6 sd, yang ngajak kenalan teman-teman gue. Itu sampe diajakin ketemuan loh bahkan diajakin pacaran -____-. Gue sempet dicurigain juga dan hampir ketauan. Kalau udah begitu, gue tinggal bilang gue juga disms sama cewek namanya Arisa -___-. Dan mereka pun percaya. Dasar otak anak sd -_-.
gue suka alur cerita ridiculove ini. Walau gampang ketebak. Gue suka sifatnya Aria yang polos lugu gitu. Dan berharap bisa nemu perempuan macam ini di dunia nyata juga -_-. Lalu, berdasarkan voting dari satu orang itu, ridiculove memenangkan kategori Ending Terbaik :D selamat!
keempat ada...... Apa sih?
High and Low ya? Iya, tokoh utamanya adalah Fizan, seorang anak biasa kelas 2 SMA. Atau 3 ya? Kayaknya sih 2. Dia bersekolah di SMA favorit tapi merasa sekolahnya gak layaj disebut favorit. Fizan bertemu dengan Nita, seorang gadis populer di sekolahnya. Fizan harus menghadapi berbagai macam persepsi orang disekitarnya karena Nita. Bahkan persepsi terhadap dirinya sendiri.
High and Low ini gue ambil dari persepsi gue tentang kisah pasangan yg beda golongan. Ini kayak Ftv sih. Kaya sama miskin atau Kota dan desa. Ya taulah.
Dari semua cerita gue, High and Low ini yang paling gue suka gaya bahasa penulisannya. Apalagi pas bagian akhir Nita nangis di taman itu. Kata-kata Nitanya keren banget.
Next..
You, Me and Dandelion's dance.
Lanjutan dari 'Di bawah langit'.
ini menceritakan kisah You dan Me yang sudah beranjak dewasa. Ada karakter baru yaitu Ginta sama Alfi. Ginta adalah seorang cowok sastra indonesia seperti You. Ginta ini tertarik sama You. Keliatan dari sikapnya dia. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Kenapa bertepuk sebelah tangan, dit?"
terserah gue dong kan gue yang nulis -_-.
Alfi seorang gadis ceria yang asik gitu. Hobinya minum air putih. Gak tau kenapa. Mungkin biar sehat. Dia ini sahabatnya You sama Ginta. Dia menyadari perasannya Ginta ke You. padahal aslinya... mungkin dia punya perasaan juga ke Ginta.
Dalam cerita ini, pelajaran berharganya lumayan banyak. Tertulis di bagian akhir. Di sini gue mau ngungkapin sudut pandang gue tentang kehilangan seseorang.
Juga tentang "hidup ini bukan perlombaan siapa yang paling menyedihkan kisah hidupnya. Tapi siapa yang bisa menemukan kebahagiaan sekecil apapun di tengah kesedihannya," ya semcam itulah.
Oiya, puisi-puisinya gimana menurut kalian?
"Aku adalah hitam.. bagai bayangan yang memperhatikanmu dari sisi gelapku.
Dan aku hanyalah hitam..
Bagai bayangan yang berharap kau jatuh dan menemani sepiku," :)
Berikutnya, Sebuah Misi Sederhana.
ini kisah nyata. Pengalaman gue sendiri. Dari mulai beli komik, cukur rambut, sama debat itu. Tapi donor darahnya sih belom. Gak jadi karena suatu hal.
Tukang cukur yg ada di cerita itu beneran. Waktu cukur, biasanya dia suka "mendoktrin" gue tentang umat manusia. ini menarik. Soalnya dari semua penjelasan dan cerita dia, gue belajar buat lebih peduli ke sesama.
Blogs, lanjut di post berikutnya ya