Senin, 29 Juli 2013

Lonely Winter: Cresentia Cleva


Pukul 7.29 
Aku sudah berada di stasiun tempat kami akan bertemu. Aku tiba terlalu cepat. Entah apa yang membuatku mau datang lebih awal dari waktu yang ditentukan.


Aku menghabiskan waktu dengan memperhatikan aktivitas di stasiun ini.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini stasiun Kota terlihat lebih sepi. Antrean di loket karcis pun hanya 1 sampai 3 orang. Mungkin memang karena hari libur sehingga pengguna jasa angkutan kereta berkurang.


Pukul 7.56
kereta dari arah stasiun Ganesha tiba. Aku rasa inilah kereta yang mengangkut seseorang yang kutunggu. Seseorang yang pernah kutemui dalam mimpi.

Benar saja, tak berapa lama kemudian seorang perempuan mendatangiku.

Lonely Winter: Plan 2


2 bulan berlalu sejak aku mengenal Cleva. Kami tak pernah bertemu lagi. Tidak secara langsung. Kami hanya bertegur sapa di dunia maya. Lewat sms atau situs jejaring sosial. 
Sesekali juga melalui telepon.

Aneh. Perempuan itu selalu punya suatu hal untuk diperbincangkan. Hal-hal sepele yang banyak orang tidak peduli. Termasuk aku. Kadang aku tidak tertarik dan hanya setengah hati menanggapinya. Tapi dia tetap saja berbicara. Tetap ceria seperti biasa.

Februari.
Aku menyalakan komputerku yang mulai berdebu. Layar hitam itu perlahan berganti gambar-gambar animasi membosankan yang hampir setiap hari aku lihat. Tanpa basa-basi aku segera masuk ke situs jejaring sosial.

Seperti biasa, kulihat akun Cleva aktif. Sepertinya dia menungguku. Terbukti! Beberapa detik kemudian dia memulai chatting denganku. 

Selasa, 09 Juli 2013

Lonely Winter: I Won't Love You

Cleva menunggu balasan dariku. Aku tau dia pasti sedang berusaha menebak apa yang aku pikirkan. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang tergambar jelas di wajahku. Sedangkan perempuan itu masih dengan santainya tersenyum seperti biasa. Seolah ini adalah hal biasa.
"Rig, jangan bengong!" Dia kembali mengirim pesan singkat.
Aku tidak langsung membalasnya. Aku sibuk memikirkan lawan chatting-ku. Kenapa dia bisa membuat perjanjian seperti itu?  Orang ini sangat aneh. Aku tidak mengerti dirinya.

"Oke, Clev. Gue janji gak bakal jatuh cinta sama elo. Tapi lo juga janji gak boleh jatuh cinta sama gue,"
"Oke, Rigel. Hahaha," Cleva kembali tertawa ceria.

Lonely Winter: Tantangan

Aku menyalakan komputer di kamarku. Malam ini aku berencana untuk chatting dengan Cleva. Beberapa hari lalu aku sudah mendapat akun jejaring sosialnya.
Pertemuanku dengan Cleva dalam mimpi waktu itu belum aku ungkapkan. Aku rasa waktunya tidak tepat. Aku berencana untuk mengatakannya malam ini. Di malam pergantian tahun baru.

Jam 8 malam. Aku sudah login di suatu halaman website jejaring sosial. Jejaring sosial yang dilengkapi fitur chatting dengan menggunakan webcam. 
Aku lihat akun milik Cleva juga sudah online.


"Hai Clev," aku menyapanya lebih dulu. Dari halaman website ini aku bisa melihat wajahnya.

Lonely Winter: Sesuatu Tentang Mimpi

Kami kembali ke stasiun Kota tempat kami bertemu. Keadaannya saat ini tidak jauh berbeda dari tadi pagi. Masih ramai seperti biasa.
Setelah membeli karcis, seperti penumpang lainnya, kami menunggu kereta di peron stasiun.
Tampang lusuh dan rasa lelah melekat erat di diriku. Berbeda dengan Cleva, dia masih terlihat ceria. Walau aku tau dia pasti juga lelah.

"Eh Rig, minta nomor hp elo dong,"
"buat apa?"
"ya buat dihubungin,"
"Ngapain ngehubungin gue?"
"biar bisa jalan-jalan lagi," Cleva tersenyum ramah.
"Ogah. Gak mau,"
"ayo doong, Rig, gue gak akan ganggu elo pas elo sibuk, kok," ucapnya setengah memelas.
"Dari mana lo tau gue sibuk atau nggak?"
"feeling. Biasanya feeling gue tepat loh,"

aku mengalah padanya. Aku berikan nomor hpku dan berharap itu hanya akan menjadi deretan angka yang tak pernah ia hubungi atau hafal.

Lonely Winter: Perjalanan Sia-sia

Suasana mendadak lebih sejuk. Pasti karena pendingin yang ada di mall ini. Mall Arthapura sangat terkenal di kota. Dengan fasilitas mewah dan barang-barang yang berkualitas, menjadikan mall ini salah satu mall terbaik di kota. Terbaik? Tidak juga. Harga barang-barang di mall ini tergolong mahal karena kualitasnya. Hanya saja saat ini sedang diadakan potongan harga akhir tahun. Meski begitu, tetap saja mahal.
Cleva masih berjalan di sampingku. Kami tidak sering membuat kontak mata, tapi aku bisa lihat dia menatap sekeliling mall ini dengan matanya yang berbinar. Benar-benar seperti anak kecil baru mendapat mainan terbaru.

Lonely Winter: Sesuatu Dari Alam Bawah Sadar

Jantungku berdetak makin cepat. Gadis itu menatapku. Tidak, mungkin dia menatap dompet yang kupegang. Akulah yang menatap wajahnya. Wajah gadis itu benar-benar familiar. Putih, dengan sedikit rona merah alami di pipinya, dan rambut yang menutupi mata. Aku yakin pernah bertemu dia. Hanya saja aku tidak ingat kapan dan di mana.
Dalam lamunanku, aku berusaha mengingat kembali sosok berbaju putih itu. siapa dia?

belum sempat pertanyaan itu terjawab, kudengar seseorang berteriak, 
"lo copet ya?" Rupanya gadis itu. 
"Hah?!" Pertanyaan itu mengejutkanku. Aku mencari seseorang yang dimaksud.
"hei! Gue ngomong sama elo! Copet bukan?" Dia mengulangi pertanyaannya. Rupanya dia bicara padaku. 
"Copet? Bukan! Gue bukan copet!" Gila! Bagaimana bisa aku dibilang copet? 
"Bohong ah! dompet itu buktinya," dia menunjuk kotak di tanganku.
"Ini?"
"cepet balikin! Atau mau gue panggil satpam nih?" Gadis itu mengancam. 
"Eh jangan, jangan. Ini punya lo, kan? Nih!" Kukembalikan dompet itu padanya. 

Aku tidak habis pikir perempuan yang menurutku pendiam itu ternyata agak tomboy. Sikapnya sangat kontras dengan penampilannya.

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented