Tampilkan postingan dengan label point of view. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label point of view. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2016

Dunia Kata Mereka

Assalamu'alaykum, blooooogs :)

Gimana kabar kalian setelah gue tinggal sekitar... 8 jam dari tadi siang? Yang kurang baik udah jadi baik belum? Semoga udah ya.

Basa-basinya gak usah kepanjangan karena post ini mungkin agak panjang. Dan lagi, gue akan menambahkan label "point of view". Walau bukan Misi Rahasia ke-100. Baca aja ya..

Ini tentang "Dunia yang sebenarnya". Inspirasinya sederhana aja. Pernah denger ada yang bilang " kamu masih kuliah,  belum tau dunia yang sebenarnya pas kerja."? Atau pernyataan yang senada dengan itu? Atau mungkin kamu sendiri yg menyatakan itu ke adik kelasmu? It's okay.

Buat gue sendiri, pernyataan itu adalah pernyataan berulang dengan tingkat yg berbeda. Maksudnya, pernyataan itu udah disampaikan anak SMP ke SD. At least ke gue.

"Kamu masih kecil, masih SD. Belum tau dunia yang sebenarnya di SMP" kata anak SMP.
"Kamu masih SMP. Belum tau susahnya kehidupan SMA" kata anak SMA.
"Kamu masih SMA, masih pakai seragam putih abu-abu. Belum ngerasain beratnya dunia perkuliahan" kata Mahasiswa.

Gue udah melewati yang itu. Sekarang yg gue hadapi adalah:

"Kamu baru kuliah. Nanti kamu bakal ngerasain dunia yang sebenarnya pas kerja"
"Dunia tambang/minyak/geologi itu keras". Kata mereka yg udah kerja.

Well, gue memang belum tau atau merasakan seperti apa dunia kerja. Tapi dari yang gue amati, rasakan, dan renungkan dari "dunia" yang udah gue lalui adalah "dunia yang sebenarnya" adalah sebuah sistem yang hancur. Dari dunia SD, SMP, SMA dan seterusnya, sesuatu yg mereka sebut "dunia yang sebenarnya" itu semakin hancur. Kenapa? Ada banyak jawabannya. Paling mainstream yang gak akan gue bahas lagi adalah harta, tahta, wanita. Tapi ini gak berlaku di SMP. Pas jaman gue sih. Gak tau kalau sekarang. Kayaknya udah.

Gini, blogs. Waktu jaman gue SD kelas 1 - 3, belum ada nyontek. Bisa dibilang kejujurannya masih murni. Kelas 4 - 6 mulai ada kecurangan. Nyontek, bolos, dan semacamnya. Kejujuran berkurang.

Di dunia SMP, kita mulai menghadapi masalah percintaan. Mulai mengenal patah hati pas putus pacaran. Mulai mengenal rokok, nongkrong, cabut pelajaran, dan semacamnya.

Di dunia SMA, masalah cinta-cintaan makin rumit. Selingkuh, nikung, muka dua, galau, bunuh diri. Dengan beban kewajiban yang kian bertambah, seperti tugas, ujian nasional, ujian akhir, tes universitas dan lain-lain, banyak celah terbuka untuk merusak nilai moral. Kecurangan dalam UN, narkoba, Miras, dan sejenisnya. Tekanan kehidupan SMA ini mereka sampaikan ke anak SMP, "kalian masih SMP, belum ngerasain kehidupan sebenarnya di SMA".

Di kuliah pun begitu. Mulai ada bolos kuliah dengan titip absen, manipulasi data tugas kuliah. Well, gue juga kadang manipulasi data sih-_-. Disebutnya " Geomagic". Tapi gue gak titip absen dan gak mau dititipin. Gak mau nyontek juga. Gue masih mencoba mempertahankan kejujuran dan originalitas gue. Terus masalah percintaan juga tetap ada. Tapi gue gak tau. Kebanyakan ngerjain tugas. Keburukan dunia perkuliahan bisa dibaca di downsanian. Lebih detail di sana.

Dan dunia kerja yang saat ini mereka tanamkan dalam pikiran mahasiswa sebagai "dunia yang sebenarnya" adalah dunia yang keras dengan banyaknya persaingan. tempat berkumpulnya para penjilat, orang bermuka dua, munafik, musuh dalam selimut, musang berbulu domba, lengkuas berbumbu rendang, dan semacamnya. Adanya ancaman dari orang yg gak senang dengan kita, ada pemalakan, pemerasan, jebakan dan sejenisnya ngebuktikan sistemnya rusak. Dan kamu tau tips untuk menghadapi itu, blogs? "Jangan jadi orang yg polos, terlalu jujur. Berbohong gapapa. Jangan terlalu dekat dengan orang lain. Mereka bisa nusuk dari belakang." itu kata mereka.

Gue sedikit kaget dengan tips dari mereka yang udah kerja. Walau bisa gue rasakan tipsnya masuk akal dan pasti akan terpakai. Tapi blogs... Kalau gue renungkan ya... Semakin ke arah sana nurani semakin bisu. Kita mulai memakai topeng kehidupan. Dipaksa bohong oleh sistem persaingan. Kita didoktrin bahwa kejujuran gak akan memenangkan persaingan di "dunia yang sebenarnya". Sedikit demi sedikit nilai moral gak lagi ada artinya. Yang penting menang, yang penting senang. Kaya, harta berlimpah. Cara memperolehnya? Siapa peduli?

Orang yg berusaha mempertahankan kejujuran dijadikan tameng. Dimanfaatkan. Contoh gampangnya di partai pas pemilu. Setelahnya, yang jujur akan dikucilkan. Kalau melawan akan dijebak, diancam dan disingkirkan.

Inikah yang mereka sebut "dunia yang sebenarnya"? Sistem yang rusak begini? Dengan Manipulasi keadaan? Manipulasi fakta? Konyol.

Gue paham dengan istilah "survive", dan "struggle" dalam menjalani kehidupan dimana kita harus membaur dengan keadaan. Tapi untuk membaur dalam sistem dunia yg hancur, gue rasa gue lebih suka jadi anomali. Kejujuran harus dijaga. Tetap berjuang melawan arus keadaan.

Baiklah, blogs. Itu yg ingin gue sampaikan. Maaf ya hanya memandang dunia dari sisi negatifnya. Ini Karena mereka mengatakan "dunia yang sebenarnya" dengan rasa bangga akibat banyaknya keburukan yang sudah mereka alami.  Dalam downsanian pernah gue ungkapkan untuk apa kita bangga dengan keburukan yang kita punya? Kecuali kita bisa merubahnya jadi kebaikan. Gue gak suka dengan doktrin mereka yang seolah bilang, semakin dewasa kita akan semakin harus bersandiwara. Semakin akan merusak hati nurani. Gue gak mau kalian begitu.

Jangan masuk ke sistem yang rusak.
Jangan jadi generasi penerus.
Apa yang mau diteruskan dari sesuatu yang udah hancur?
Jadilah generasi perubah yang merusak sistem yang rusak. Merubahnya jadi lebih baik lagi. Berubahlah..

Sebelum "dunia yang sebenarnya" menjadi "kehidupan yang sebenarnya"

Assalamu'alaykum

Jumat, 01 April 2016

Media: Bahaya di Sela-sela Opini

Assalamu'alaykum, blogs :)

Lets start with a little chit-chat!
Bagaimana kabarmu? Kabarku sehat dan alhamdulillah masih single ._. Semoga kalian juga dalam keadaan sehat dan single juga. Kecuali bagi yang sudah menikah..

Anyway, kali ini gue ingin mengutarakan beberapa hal tentang suatu ancaman tersembunyi bagi generasi zaman sekarang. Sebenarnya bukan ancaman sih, tapi ini cukup bahaya. Ini tentang Media. Sesuatu yang dapat mengobrak-abrik asumsi seseorang.

Jadi gini, blogs, dewasa ini media online itu udah mulai diminati sebagai penyedia informasi bagi publik. Ini karena media online dianggap lebih praktis dan gampang diakses lewat smartphone yang digunakan hampir 80% orang indonesia. Ini ngebuat media cetak jadi kurang diminati. Tapi ini asumsi gue aja sih. Soalnya dari dulu gue juga gak sering baca koran.

Baik media cetak maupun online itu tujuannya sama: memberi informasi bagi publik. Bagus sih. Tapi ada fungsi lain yang masih abu-abu: Membentuk opini publik. Kenapa Abu-abu? Karena ini bisa membuat seseorang berpikiran positif atau negatif. Dalam pembentukan opini publik, konten berita bisa aja diselipkan fitnah atau semacamnya. Apalagi ketika era perpolitikan dimulai.

Eh tep-pan! Tau tepan gak? Ini semacam time-out atau pause waktu main game -_-. Generasi jaman sekarang mungkin hanya segelintir yg tau. Tepan! Gue ngerasa bahasa gue terlalu baku. Well, sebenarnya gue pengen bikin tulisan baku tapi... Rasanya gak cocok sama blogs. Iya gak sih? Sepertinya gue akan menggunakan bahasa santai aja kali ya.

Start!

Jadi ketika era perpolitikan dimulai, para politikus itu berlomba-lomba kampanye lewat media cetak dan online. Permasalahannya ada di media online. Ada partai atau calon yg membayar stasiun tv untuk menyiarkan berita baik tentang mereka aja. Stasiun tv lain juga sama sebagai oposisinya. Bahkan pernah dalam hasil pemungutan suara. Di Tv A si calon A menang, tapi di Tv B si calon B yang menang. Question: Jadi sebenarnya siapa yg menang?! -____- entah itu salah informasi atau gimana. Semoga aja gak disengaja.

Tapi itu udah beberapa tahun lalu. Sekarang lebih parah. Dengan berkembannya software untuk mengolah gambar, penyebaran fitnah lebih gampang dilakukan. Soalnya no pict = hoax. Tinggal edit foto, buat headline yg sensasional, publish. Isi beritanya? Belum tentu bener, yang penting banyak yg ngelike. Inilah media zaman sekarang. Dari sudut pandang gue.

Contohnya dulu gue pernah liat headline tentang adanya Manusia Bawah Tanah  yang muncul di Amerika. Ada gambarnya juga sejenis manusia berkepala tikus tanah gitu. Gue baca komentarnya. Gak sedikit yg gak percaya. Soalnya ada gambarnya sih. Tapi ada komentar seseorang yg bilang gambarnya itu dari film sains fiktif tahun 80an. See? Berita bohong.
Ada lagi headline tentang Biksu yang membantai umat muslim di vietnam terkena azab. Lengkap dengan gambar seorang biksu dengan penyakit kulit. Lagi-lagi komentarnya banyak yg menghina dan mencaci tentunya mereka percaya dengan beritanya. Tapi setelah diselidiki ternyata fotonya itu foto lama. Dan si biksu di foto itu emang udah sakit dari dulu dan dia gak ada hubungannya dengan pembantaian umat islam itu. Bobrok lagi kan medianya?

Kebobrokan Media gak berhenti sampai di edit foto aja. Lebih parah lagi. Yang ini gue gak tau bener atau nggak ya, tapi gue melihat ada potensi fitnah untuk menjatuhkan nama baik seseorang. Pernah liat headline semacam ini:
Calon Y, "Kalau si X sampai menang, saya akan loncat dari Monas".

Semacan pernyataan yg mirip nazar gitu. Kenapa hal ini bahaya? Pertama, karena beritanya pasti sensasional. Kedua, banyak masyarakat yang baca. Ketiga, masyarakat akan menagih omongan si calon Y. Keempat, si Calon Y gak akan mau membuktikan perkataannya yg bilang dia akan terjun dari monas kalau kalah. Ini hal baru di era perpolitikan zaman sekarang. Orang-orang bilang ini jadi warna baru bagi politik. Tapi buat gue ini cuma pola baru dengan warna yang sama: hitam. Artinya buruk.

Dengan berkuasanya media dalam membentuk opini publik, mereka bisa aja membuat headline yg menarik dengan berita bohong. Sekali lagi, tinggal cari foto orang yg bersangkutan, dan bikin berita sensasi dan biarkan berita ini meracuni pikiran masyarakat. Ini mudah.

Another badthings tentang Media.
Yang sekarang lagi marak banget sih isu-isu agama. Teroris dan semacamnya. Kamu pasti tau, orang islam akan dijadikan subject berita sebagai teroris atau pelaku kriminal. yang nonmuslim biasanya jadi korban. Lalu dunia ramai bersimpai ke mereka. Selalu begitu. Tapi ketika orang islam yg sebenarnya jadi korban, dunia akan bungkam. Karena ini skala dunia, maka tv lokal termasuk berperan di dalamnya.

Udah paham kan kebobrokan media saat ini? Tanpa adanya crosscheck suatu berita, maka kita akan dibodohi. Agar kamu tau, cara pembentukan opini publik lewat Media itu efektif banget loh. Mereka gak hanya memberi fakta, mereka rusak fakta dengan opini. Lalu masyarakat adalah korbannya. Merasa nggak?

Gue juga suka nulis, dan di organisasi juga di divisi media. Tapi gue jarang bikin berita atau opini publik gitu. Jadi ya.. Paling di blogs aja sih. Tapi inilah yang gue pikirkan dan rasakan dari media di luar sana. Mereka berbahaya. Walau gak semua media menebar berita bohong sih. Ada juga yg dapat dipercaya. Tapi tetap, lakukan crosscheck kebenaran beritanya. Caranya? Bandingkan aja berita Media A dan Media B. Kalau sama, beritanya bisa dipercaya. Semakin banyak perbandingan semakin bisa diyakini.

Baiklah blogs, itu aja sih untuk kali ini. Ada pepatah keren yang mungkin bisa kamu jadikan inspirasi:

"Jika kamu ingin merubah dunia, jadilah pemimpin. Jika kamu tidak bisa memimpin, maka jadilah penulis" - anonim.

Gue tutup post kali ini dengan pertanyaan,

Jadi apa aku berhasil mempengaruhi opinimu?

Sabtu, 13 Februari 2016

Simbiosis Iri Hati versi 3

Assalamu'alaykum :)
Hai, blogs! Halo para pembaca semua :D
Semoga selalu dalam kebaikan, kesehatan, ketentraman, dan kedamaian. Pokoknya semua yg baik deh.
Pada kesempatan kali ini gue akan kembali berbagi pemikiran gue tentang perasaan iri di dalam hati. Gue gak nyangka post Simbiosis iri hati bisa sampai 3. Alhamdulillah...! Ini adalah sebuah kesempatan yang luar biasa. Semoga bisa bermanfaat. 

Seperti yg kita tau, simbiosis iri hati adalah sebuah pemikiran dari pengamatan gue terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Tentang bagaimana seseorang melihat kehidupan orang lain selalu lebih baik. Hal ini membuat hati kita gak pernah puas dan akhirnya timbul sifat iri. Ini udah diterangkan di versi sebelumnya. Udah baca Simbiosis Iri Hati versi 1 dan versi 2 belum? Baca dulu biar viewernya nambah ._.

Sabtu, 16 Januari 2016

Batas Mayoritas!

Assalamu'alaikum, bloooooogs!

Aku tau.. Ini udah terhitung lama banget sejak gue terakhir main ke sini. Do you miss me? I do miss you. Entah siapa "you" nya...

Maaf ya gue meninggalkan blogs cukup lama. Soalnya.... Ah gak penting juga sih alasannya. Yang jelas gue kembali dengan berbagai cerita yg akan gue sampaikan. Penasaran? Nggak? Yaudah -_-

Anyway, post kali ini adalah sebuah pemikiran. Gue udah pelajari sejak... Gue ulangtahun desember 2015 silam. Ini tentang menjadi diri sendiri.. Dan sesuatu yang membatasinya..

Baiklah! Kita mulai!

Emm..
Adakah di antara kalian yg jago bermain peran? Acting? Jadi aktor mungkin? Kayaknya reader gue gak ada yg aktor ya -_-. Kalau begitu ada yg udah pernah main drama? Pasti ada!
Gue udah pernah main drama. Waktu SMA. Walaupun gak jago-jago banget sih.

Enak gak main drama? Asik lah ya. Apa lagi kalau dibayar. Kalau pun gak dibayar ya gapapa juga sih.

Seni bermain peran atau drama adalah seni yg, menurut gue, harus menjadikan kita berperan sebagai orang lain. Kita harus meresapi tokoh yg kita perankan dan benar-benar menjadi sosok tokoh tersebut. Walaupun karakter tokoh yg kita perankan berbeda jauh banget sama kita. Kalau dulu sih.. Peran gue cuma sebagai orang biasa yg jago ngerakit sesuatu. Gak jauh beda dengan karakter asli gue. Perannya gak terlalu penting juga. Tapi lumayan asik. Gimana denganmu? Suka main drama? Jadi karakter yg seperti apa? Pasti asik ya..

Tapi, blogs, pembahasan gue kali ini bukan tentang bermain drama di pentas drama. Melainkan bermain drama dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi orang lain di saat kita tidak harus jadi orang lain. Ngerti gak maksud gue?

Ini bermula semenjak gue merenungi beberapa hal. Tentang senyum palsu. Keren gak sih istilah "Senyum Palsu"? Dulu populer di Friendster gue. Sekarang udah pindah ke status FB teman-teman yg gak gue kenal. Tentu saja kebanyakan remaja. Biasanya ini dinyatakan oleh mereka yg galau banget dan berusaha buat tegar. Tapi gagal gara-gara update status FB -_-. Senyum Palsu ini, buat gue, menggambarkan seseorang yg sok tegar tapi pengen dikasihani. Dia membohongi diri sendiri dan orang lain. Dia ingin ada yg peduli sama dia. Tapi pas ditanya kenapa jawabnya, "gapapa kok :')"
Selin.. -___-

Selang waktu berikutnya mulai muncul istilah " Muna". Tau muna gak? Itu kependekan dari "Munafik". Semacam orang yg baik di depan kita tapi jahat dibelakang kita. Atau istilah kerennya itu "Backstabber". Orang semacam ini jago banget main dramanya. Walaupun akhirnya ketauan juga sih. Backstabber biasanya jauh lebih dibenci dari si Senyum Palsu karena Backstabber bisa merugikan orang lain dan menghancurkan hubungan. Bisa menyebar aib, fitnah, dan lain-lain. Bagaikan musuh dalam selimut.. Pokoknya bahaya deh!
Akibatnya orang-orang yang tersakiti hatinya akan saling membenci. Lebih lagi bisa menutup diri. Ekspresi yg orang ini lemparkan hanya ekspresi palsu untuk menutupi sakit hatinya.
Dia mulai hidup dalam kebohongan.

Seiring berjalannya waktu, hidup seolah memaksa kita untuk berpura-pura. Bukan, bukan hidup.. Tapi orang-orang di sekitar kita. Kita jadi terbiasa berbohong. Entah untuk keuntungan kita sendiri atau sekedar menjaga perasaan orang lain. Atau bahkan menutupi perasaan kita. Kita mulai mengenal istilah panggung kehidupan. Semua orang yang hidup seolah memakai topeng untuk menyembunyikan perasaannya. Gue rasa kalian juga mengerti dan pernah merasakan sesuatu semacam ini.

awalnya terasa keren. Seolah kita menjadi sosok misterius yg sulit dipahami. Tapi kenyataannya ini menyedihkan. Kita seolah berperan sebagai seorang tokoh yg ceria saat kenyataannya kita merasa sedih. Kita seperti memainkan sandiwara besar yg gak ada habisnya. Peran kita akan terhenti saat hati kita dipahami atau saat kita mati.

Well, gue gak tau juga sih, menutupi kesedihan kita itu sesuatu yg baik atau buruk. Benar atau salah. Rasanya memang gak semua orang harus tau kesedihan kita. Tapi... Kayak ada yg salah dengan pola ini. Apa ya...? Hmmm.. Mungkin guenya aja yg ngerasa ada yg salah.
Mungkin juga karena orang-orang yg gue amati di sekitar gue.

Rasa sedih dan penderitaan yg dialami seseorang akan mempertebal topeng sandiwaranya. Tau kenapa? Karena orang-orang yg menjadi tempatnya bercerita memaksa dia untuk jadi kuat saat hatinya sedang lemah. Membatasi hatinya untuk meluapkan perasaannya. Pasti kau pernah melihat atau mendengar saat seseorang lagi nangis tapi disuruh diem dan berhenti nangis. Padahal hatinya lagi sakit banget. Rasa takut akan cemoohan publik atau bullying juga menghasilkan kekuatan baru untuk menutup diri. Bukan untuk jadi lebih tegar. Dan gue rasa secara gak sadar ini dianggap jadi hal yg benar bagi sebagian besar orang, bagi mayoritas. Kebenaran untuk menahan emosi, dan memalsukan ekspresi. Perkembangan sosial memaksa kita menjadi sosok yg sama. Jadi aktor dalam drama bertopeng ini.

Kau tau, blogs? Dari dulu gue pengen bisa tampil beda. Gue gak mau sekedar ikut pendapat mayoritas. Gue ingin punya pola pikir gue sendiri. Bisa menjalani hidup sebagai diri sendiri. Karena aktor terbaik yang bisa memerankan diri gue ya gue sendiri. Noone else.

Contohnya... Dalam hal imajinasi. Sebagai seseorang yg usianya udah kepala 2, gue tetap suka berimajinasi seperti di dalam dunia game. Kenapa? Karena ini seru banget! Tapi... Sebagian orang akan berkata, "dit, usia lu kan udah 20, masa masih seneng imajinasi kayak anak-anak gitu? Jadi dewasa dong, dit."
Padahal... Saat mereka ngeliat anak kecil lagi main mereka bilang, "enak ya jadi anak kecil. Bisa main bebas. Seru. Gak ada beban pikiran. Rasanya pengen balik jadi anak kecil lagi."
-____-

Gue tau seperti apa berpikir dewasa dengan segala masalah dan logika abu-abunya. Makanya gue memilih menikmati hidup seperti anak-anak. Tapi... Mayoritas akan bilang gue salah. Dan seolah memaksa gue berpikir seperti mereka. Lalu mereka akan membatasi diri gue untuk memainkan peran gue sendiri. Akibatnya gue akan memakai topeng drama kehidupan yang tadi kita bicarakan. But no! I i want to be me!

Contoh lainnya adalah saat seseorang mengatakan orang lain alay. Dengan segala gaya foto, dan tulisannya yg sekarang melegenda. Memangnya apa yg salah dengan gaya Alay? Well, tulisannya emang salah sih. Gak sesuai EYD. Tapi itukan gaya mereka. Sesuatu yg ngebuat mereka bahagia. Dulu waktu kita berada di fase Alay kita juga ngerasa seneng-seneng aja. Gaul dan terasa keren. Tapi mayoritas mulai mencemooh dan merubah kita. Membatasi kebahagiaan kita menjadi diri kita sendiri hanya karena tidak sesuai dengan trend masa kini. Konyol...

Karena itu, blogs, gue ingin berusaha jadi diri sendiri. Apa pun trend yg ada sekarang. Mau gue ikut atau nggak, gue tetep memilih sesuai hati gue.  Dengan begitu, kebahagiaan untuk jadi diri sendiri gak akan terenggut :)

---
Okay, bloooogs..
Emm.. Kalian paham gak sama post ini?
Sebenernya gue ngerasa bagian awal hingga akhir post ini agak gak nyambung. Gue menggelar topiknya terlalu lebar -_-. Gue jadi bingung sendiri lagi ngebahas apa. Dan berkali-kali kena Writter' Block. Ini ngeselin banget! Gue harus berusaha menyambungkan topik mulai dari senyum palsu, backstabber, peran, topeng, mayoritas, jadi diri sendiri.. Pokoknya gitu deh. Yah semoga bisa diambil hikmahnya dan bermanfaat untuk kita semua. Kalau paham sih.. -_-

Udah ya?
Assalamu'alaykum, blogs

Selasa, 17 November 2015

Perang di sebrang

Assalamu'alaykum, blogs...

Akhirnya setelah beberapa waktu gue tinggalkan, sekarang gue kembali lagi ke sini untuk mengisi hari-hari kalian. Yeay! :D

Gimana kabar kamu semua? Semoga sehat dan tetap menjaga kesehatan ya. Soalnya saat ini sedang musin pancaroba. "Panca" berarti "5". "Roba" berarti... "Robot". Jadi Pancaroba adalah peralihan musim kemarau ke musim hujan. Gitu.

Oiya, sebenernya gue pengen belajar cara menulis dengan gaya bahasa yg baik. Kayak artikel gitu. Tapi belum bisa banget sih. Mungkin lain kali. Dan lagi.. Tema post kali ini rasanya lebih enak kalau gue gunain gaya bahasa bebas. Mau tau post kali ini tentang apa? Perang

Gunakan kacamata perspektif kalian.
Apa yg gue sampaikan ini lebih banyak opini. Mungkin ada fakta juga tapi kayaknya gak akurat. Dan lagi... Mungkin gue juga gak bisa ngasih solusi. Tapi kalo kalian melihat solusi yg nyempil ya baguslah.

Siap ya? Let's go!

Perang..
Ide ini bermula semenjak maraknya artikel tentang perang dan korban-korbannya di media sosial. Banyaaaaaak banget. Perang siapa lawan siapa? You know, israel vs palestine dalam skala kecil. Umat islam melawan dunia dalam skala besar.

Gue gak terlalu paham penyebab perangnya itu apa. Mungkin perebutan kekuasaan atau semacamnya. Yg jelas korbannya udah banyak banget. Terutama dari pihak palestine. Dan parahnya lagi korbannya sebagian besar adalah wargs sipil. Wanita dan anak-anak! Sementara dari pihak israel yg gue tau lebih banyak tentaranya.

Agresi dari pihak israel ke palestine atau sekitarnya gak cuma lewat tembakan, tank atau semacamnya. Mereka pake pesawat tempur, rudal, pemboikotan sumber daya dan lain-lain yang ditujukan ke perkotaan di palestine.

Ada banyak foto dan rekaman media yg menunjukan suasana perang disana. Entah apa udah sedahsyat perang dunia 2 atau sedang bergerak kesana. Tapi ini bener-bener terjadi! Terjadi di zaman kita. Tahun 2015! Walau beda lokasi sih.

Perang yg terjadi saat ini bukan dongeng. Bukan cerita di buku pelajaran sejarah yang udah berkali-kali dibaca tapi gak nyantol di otak. Kalau kalian merasa perang itu keren dan heroik coba aja pergi ke sana. Rasakan seperti apa perang itu. Pedih, perih, benci, dendam, duka. Berjuang mati-matian seperti veteran bangsa yang gak lagi dihargai sekarang ini.

Siapa yang harus disalahkan? Pemerintah? No, berharap sama pemerintah cuma bikin sakit hati dan kesal sendiri. Bangsa ini? Nggak, gue gak pengen menyalahkan bangsa ini. Actually, gue gak tau siapa yg salah. Menyalahkan orang lain dan menganggap diri kita sebagai korban adalah tindakan pengecut.

Kembali lagi ke perang tadi.
Perang israel vs palestine itu kan cuma skala kecil ya, perang yg skala besar tadi gue katakan adalah perang umat islam vs dunia. Ini dibuktikan dengan bagaimana media mengarahkan pandangan kita bahwa muslim adalah teroris. Sampai akhirnya muncul islamophobia. Takut sama orang yg menganut agama islam. Dan lagi-lagi ini bener-bener terjadi.

Beberapa waktu lalu ada seorang teman gue yg dia itu lagi mempelajari islam secara kaffah (menyeluruh). Dia belajar sunnah dan sering ikut kajian di masjid. Dia juga ikut dakwah kemana-mana. Mengajarkan persaudaraan dan bagaimana damainya islam. Tapi malah dilarang sama orangtuanya. Katanya sih takut masuk aliran sesat. Takut jadi ekstrimis dan jadi teroris. Padahal mah nggak. Yg jadi teroris itu dari... Wahabbi, kalau nggak salah. Gak tau juga itu ajarannya seperti apa. Terus muncul juga syiah yg juga mengatasnamakan islam untuk ajarannya yg melenceng. Kepercayaan untuk menganut agama islam jadi lemah karena fitnah yg besar banget. Islam menjadi asing dari dunia. Persis seperti yg dikatakan Rasulullah SAW.

Beliau mengatakan bahwa islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali terasingkan. Maka beruntunglah orang-orang asing (yg teguh memegang agama islam) tersebut.

Sabda nabi Muhammad SAW. yang menggambarkan kondisi agama islam di masa sekarang ini harusnya menguatkan kita bahwa agama islam adalah yg paling benar. Bukan yg lain.

Balik lagi. Islam vs dunia.
Kita udah tau sebagian kecil perang yg terjadi saat ini. Palestine, rohingya, afganistan dll. Penjajahan negara non-islam terhadap islam yg diberitakan secara terbalik. Beberapa waktu lalu muncul pertanyaan di pikiran gue,

"Indonesia kan penduduknya mayoritas islam. Kok gak dijajah?"
Ada yg bisa jawab?

Gue jawab dengan pertanyaan, "siapa bilang kita gak dijajah?" kita lagi dijajah. Dengan cara yg halus. Kok bisa?

Ini teori gue sendiri.
"Untuk menghancurkan suatu bangsa kamu hanya perlu menghancurkan pemudanya. Jika  pemudanya kuat maka ia dibunuh, jika pemudanya lemah maka ia dirusak."

Indonesia, kita, termasuk yg dirusak. Kuat dan lemah ini bukan secara fisik, tapi mental, keyakinan. Kalau indonesia diserang pake senjata, indonesia bakalan ngamuk. Kekuatan indonesia itu di masyarakatnya. Ketika kita berperang yg maju bukan cuma tentara, tapi seluruh pemudanya. Ini dulu pas perang di surabaya. Entah kalau sekarang. Mungkin masih sekuat dulu. Karena itu, negera luar menyerang indonesia pake cara halus. Dengan teknologi, menguras kekayaan alam indonesia, mengubah kebiasaan dan pola pikir pemuda dengan westernisasi, memanjakan penduduknya, menyebarkan penyakit dan masih banyak lagi. Dan tentu saja ini juga sedang terjadi. Entah kamu sadar atau nggak. Gue sadar tapi gak tau harus bertindak seperti apa. Bodoh juga.

Kita disibukkan dengan sesuatu yg... Menutup mata kita terhadap dunia. Kita menginginkan perdamaian tapi dengan cara berperang. Kita mengecam peperangan dengan menghina dan memprovokasi peperangan. Kita merasa aman karena perang itu tidak ter.. Maaf, belum terjadi di sekitar kita.

Seperti inilah, blogs, opini dan kenyataan yg ingin gue sampaikan. Bahwa kita juga sedang dijajah. Kita sedang dilemahkan. Akhlak kita dirusak dengan fashion yg menghinakan perempuan khususnya, lisan kita dibimbing untuk mengatakan "f*ck, mo*h*r f**k, as* h**e, an*i*g" dan semacamnya yg dianggap keren dan kekinian. Kita dibuat hanya bisa komentar tanpa bertindak. Menyalahkan orang lain dan berlagak menjadi korban serta banyak mengeluh. Kalian merasa seperti itu gak? Gue ngerasa loh.

Gue gak bisa ngasih solusi untuk masalah yg sedang terjadi di dunia. Rasanya... Bodoh banget karena gak bisa bertindak. Karena itu kalau ada yg punya solusi, bertindaklah!
Lakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia.

Tolong orang di sekitarmu.
Jaga lisanmu. Perbaiki akhlakmu.
Dan persiapkan dirimu untuk kehidupan berikutnya, ya?

Emmm...
Itu aja yg ingin gue sampaikan kali ini.
Sekali lagi maaf karena gue gak bisa ngasih solusi dan cuma nulis doang. Gue harap suatu saat tulisan gue bisa merubah dunia.

Assalamu'alaykum :)


Rabu, 07 Oktober 2015

Sedekah Dunia

Assalamualaikum, my dear Blogs!!

Lagi-lagi gue harus mengatakan lama tidak berjumpa denganmu di dunia maya ini. Gue gak akan bilang gue sibuk kuliah atau organusasi atau semacamnya. Karena emang lagi gak sibuk. Oiya, karena lama gak main kesini juga berarti gue harus menanyakan kabar kalian..

Baiklah!
Apa kabar kalian semua? Gue harus berprasangka baik bahwa kalian baik-baik aja. Kalau pun ada yg gak baik, semoga segera membaik ya :)

Untuk post kali ini, sebenernya gak terlalu jauh berbeda dengan post sebelumnya. Gue hanya ingin menyampaikan pemikiran gue aja. Ambil yang baiknya aja ya, yang buruknya ditinggalkan dan jadi bahan renungan.

Semua bermula dari sebuah kisah sederhana, dialog antara Janin dalam kandungan dan Allah SWT. Ini gue dapet dari suatu kajian di masjid Al jihad.
Dikisahkan pada saat janin di dalam kandungan, Allah bertanya kepadanya, "apa yang terpenting bagimu?" janin ini menjawab "Yang terpenting bagiku adalah tali pusar ini, Ya Allah. Dengannya aku bisa hidup. Aku tidak butuh tangan. Aku tidak butuh, kaki, mata, telinga, dan sebagainya. Karena itu tidak berguna untukku" kata Janin itu. Memang benar, ketika kita berupa janin yang menyuplai makanan untuk kita hidup adalah tali pusar. Pelindung kita adalah plasenta. Namun kenyataannya ketika janin ini keluar menuju kehidupan dunia, apa yang dia katakan? Dia bilang, "Ya Allah! Ternyata untuk hidup di dunia ini aku membutuhkan tangan, kaki, mata, telinga, dan semuanya. Namun yang kuanggap penting sebelumnya justru harus aku tinggalkan!". maksudnya adalah tali pusar janin ini harus dipotong. Kan kita gak hidup pake tali pusar di dunia ini, iya kan?

Itu kisahnya. Makna dari kisah itu sebenernya apa yg penting untuk kita suatu saat akan kita tinggalkan. Sekarang pertanyaannya, apa yang terpenting untuk kehidupan kita? Jika ditanya begini setelah mendengar kisah itu pasti banyak yang menjawab " amal soleh". Good! Itu wajar karena gue membicarakan konteks agama saat ini. Mungkin ada yg bilang "udara, dit!" well, bener juga sih.

Tapi kenyataannya, mau diakui atau tidak, yang terpenting bagi kita adalah Sandang, Pangan, Papan. Ini pokok. Kalau mau diteruskan lagi ada harta, gadget, mobil, baju mahal, dan sebagainya. Maaf ya, gue masuk ke ranah remaja kekinian lagi. Soalnya gue juga remaja. Jadi gue bisa membahas secara lebih lugas.

Bayangin deh, sebagian besar orang (bukan cuma remaja) pasti akan panik ketika gadgetnya ketinggalan. Jangankan gadgetnya, bateray yg mau habis aja bisa bikin panik. Bayangin juga dengan orang-orang yang punya baju pesta yang harganya mahaaaaaaal banget. Orang yg punya harta melimpah, rumahnya banyak, mobilnya banyak, dan semacamnya.

Gak ada yang salah dengan berusaha mendapatkan itu. Berikhtiar di dunia its okay. Tapi ingatlah ini semua akan kita tinggalkan. Apa yang terpenting untuk kita akan menjadi tidak berguna nantinya.

Soal gadget itu, gue juga termasuk panik kalau gak bawa gadget. Apalagi kalau ada informasi yg memang hanya bisa di dapat lewat gadget. Tapi ini suatu saat akan kita tinggalkan. Saat era teknologi terhenti, saat satelit hancur. Semua kembali ke jaman primitif lagi.

Soal baju yg mahal banget ini gue dapet dari renungan  sendiri. Jadi gue punya jaket. Jaket winter yang ada bulunya gitu. Keren deh. Ada di kost gue saat ini. Suatu ketika gue memandang jaket itu sambil merenung. Jaket Winter ini adalah jaket spesial. Gak terlalu mahal memang, tapi gue suka banget modelnya. Gue menetapkan jaket ini hanya dipakai saat ada event tertentu. Hanya saat spesial aja. Tapi saat gue renungkan dari fungsinya, jaket winter ini adalah yang paling gak berguna. Jaket lain sering gue gunakan, tapi winter nggak. Dicuci juga jarang. Cuma dipajang aja. Entah kapan gue gunakan. Dari situ gue mengerti apa yang spesial buat gue ternyata yang paling gak berguna. Soal mobil, rumah dll, mungkin bisa dipikir sendiri ya.

Lalu, blogs,  soal menjadi remaja,
Banyak yg mengatakan, "mumpung masih muda, berbuatlah sesukanya. Kalau udah tua nanti baru bertaubat." atau semacam itu.
Orang tua, dosen, guru, teman, sahabat hampir semua mengatakan itu. Semua mengarah ke kehidupan dunia aja. Ke kehidupan berikutnya? Hmmm... Semoga masih ada ya..

Tapi tau gak?
Salah satu yang akan dipertanyakan dihadapan Allah nanti adalah "untuk apa kamu gunakan masa mudamu?" nahloh! Kita mau jawab apa kalau senantiasa berbuat sesukanya?
Emang ada jaminan kita bisa hidup sampai tua? Atau jaminan kita sempat bertaubat? Gak ada.
Karena itu jangan berbuat sesukanya ya... Berbuat kebaikan dan persiapkan untuk kehidupan berikutnya. Bukan untuk masa depan dunia aja ya.

Nah, terkait masa depan dunia, gue juga punya pikiran. Gue kuliah di geologi. Gue tau ini adalah hal yang wajar ketika dosen memotivasi mahasiswa geologi untuk aktif belajar, dan semacamnya supaya IPK tinggi dan keterima kerja diperusahaan yang kaya. Supaya gajinya besar. Supaya kehidupannya terjamin. You know, somehow ini gak ngebuat gue semakin semangat. Bukannya gak kepengen kerja dengan gaji tinggi, hanya saja... Setelah dapet kerja itu, lalu apa? Jadi kaya? Bangga dengan harta?

Gue bingung, blogs. Bisa dikatakan saat ini gue punya barang yang numpuk di kamar kost gue. Barang yg jarang banget gue gunain. Barang yang akhir-akhir ini gue pertanyakan "barang ini untuk apa?". Barang-barang yg ternyata lebih bermanfaat untuk orang lain di dunia ini dan bermanfaat untuk gue di akhir nanti. Kamu juga berpikir seperti ini nggak? Semoga ya..

Kita masuk ke kesimpulan post ini.
Jadi lewat post kali ini, gue ingin mengajak kamu-kamu semua untuk bersyukur. Untuk bisa sedekah. Untuk bisa mengerti bahwa apa yang kita miliki di dunia ini ternyata tidak berguna untuk kehidupan akhirat.

Jadi mari kita sama-sama sedekah. Kalau belum bisa menyedekahkan barang yg kita anggap mahal atau spesial gapapa kok. Sedekah uang, makanan, pakaian, buku, atau yang lain juga gapapa. Yang penting niat dan ikhlas :)

Sebenernya masih banyaaaaaak lagi yang mau gue bahas. Tapi lain kali aja ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi.
Gue tutup dengan ayat aja ya:

(Al-Qaşaş) 28: 77 -
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Diperhatikan dan diingat ya, bukan "carilah dunia, dan jangan lupakan akhirat".

Okay, blogs?
Assalamu'alaikum :)

Minggu, 30 Agustus 2015

Downsanian 5

Assalamualaikum, blogs! :3

Hai! Tenang, Kabar gue baik-baik aja. Sebenernya lagi pilek sih. Terus gak ada yg nge-gws-in -_-. Tapi ada yg nyuruh gue minum obat kok.

Untuk kalian, para silent readerku, gue harap kamu baik-baik luar biasa. Jaga kesehatan ya.. Soalnya lagi musim kemarau. Dan katanya sih ada El Nino. Tau gak apa itu El Nino? Itu fenomena alam naiknya suhu air laut di pacific. Efeknya bisa kemarau, udara kering, suhu dingin tiba-tiba dan lain-lain. Tapi itu gak ada hubungannya dengan post ini. Gue cuma mengingatkan untuk menjaga kesehatan kamu-kamu aja :)

Baiklaaaah!
Judul post kali ini adalah... Downsanian 5. Huuuft... Downsanian lagi downsanian lagi.. -_-
Bosen gak sih? Gapapalah ya? Soalnya gue pengen merubah sesuatu. Dulu waktu kecil gue pernah bercita-cita untuk memberi pelajaran dan merubah dunia. Eh bukan waktu kecil deng, itu pas gue mau bikin blog ini. Jadi blog ini suatu saat mungkin bisa merubah dunia. Dimulai dari merubah diri gue, merubah pembaca, merubah masyarakat, lalu merubah dunia. Tentu saja dengan pemikiran yg lebih baik. Mudah-mudahan bisa!

Jadi di downsanian 5 ini gue ingin membahas salah satu kebiasaan buruk remaja hingga dewasa dan juga salah satu kelemahan gue sendiri: Berpendapat. Atau mengkritik. Atau beragumentasi. Atau mengutarakan pikiran dan perasaan. Oiya ini berpendapat yg sekaligus menghina ya. Bukan berpendapat yg baik aja.

Berpendapat itu hak setiap manusia. Mengkritik itu juga hak kita tapi harus sopan. Kita udah bisa berpendapat mulai dari kecil hingga sekarang. Mulai dari argumentasi awal "Ya" atau "tidak", "setuju" atau "tidak setuju" hingga bisa memberikan alasan dari pilihan kita. Dari mulai minta permen waktu kecil hingga minta kenaikan gaji. Keterampilan berpendapat ini semakin terlatih kalau kita ikut organisasi. Soft skill namanya.

Gue mengagumi orang-orang yg jago berpendapat, aktif dan dinamis. Soalnya menurut gue mereka orang-orang yg peduli dengan lingkungannya. Peduli dengan keadaan di sekitarnya. Beda sama gue yg lebih sering diam dan gak terlalu peduli. Hanya pikiran gue aja yg bergejolak saat ngeliat ada penyimpangan. Tapi gue belum bisa dan mau serta berusaha melakukan sesuatu.

Well, i did something with my blogs, actually. I show you my opinions through my posts. I know it's not enough. Still, i hope we could change to be better.  Jadi untuk saat ini gue belum bisa jadi orang yg gue kagumi melalui aktif berpendapat. Tapi gue tetep suka diri gue kok.

Tapi, blogs, sehebat-hebatnya orang yg berpendapat, lebih hebat lagi orang yg bisa menjaga emosinya saat dia kalah. Maksud gue adalah orang yg gak gampang marah saat kalah. Jadi dia menerima kekalahannya dan belajar lebih baik lagi. Tapi yang kebanyakan terjadi adalah mereka justru menghujat, memaki, menghina dan berusaha  menjatuhkan orang yg mengalahkan pendapat mereka. Padahal itu malah menjatuhkan diri sendiri.

Ini terjadi dalam banyak hal. Misalnya beberapa waktu lalu saat input mata kuliah di website kampus gue. Jadi ceritanya di upn ada kurikulum baru 2015. Udah disosialisasiin sih. Tapi pas eksekusi input matakuliah itu sistemnya bermasalah. Banyak mata kuliah yg belum keluar. Sistemnya error. Alhasil kami harus menunggu sekitar.. 5 jam tanpa kepastian kapan bisa input matkul. Jadi kami menunggu dan siaga di depan laptop masing-masing. Soalnya input matkul itu kan harus rebutan.

Nah, dalam penantian tanpa kepastian itu gue ngeliat grup line. Grup line gue rame. Rame sama mereka yg berargumen  dengan marah-marah dan ngehina kampus. Kata-kata kotor yg menghujat itu dilontarkan agar mereka terlihat seperti korban. Agar mereka terlihat jadi pihak yg dirugikan. Dan orang yg beragumentasi dengan cara menghina ini banyak yg dukung loh. Ya wajar sih.. Biasanya pihak yg dirugikan adalah pihak yg benar. Padahal mah nggak. Jadi mereka semacam terprovokasi gitu. Di grup itu mereka bilang,
"udah bakar aja ***"
"Petugasnya kayak ******"
"*** gak siap untuk berubah"
Dan kata-kata lain yg sifatnya negatif. Rusuh. Kayak demonstran.

Kalian termasuk gak? Well, Reaksi wajar dari orang yg marah. Gak cuma remaja, orang dewasa juga sama. Tapi yg gue lihat anak-anak gak begitu.

"Lalu dengan berpendapat kayak gini, maksudnya lo mau membebaskan diri lo supaya gak dianggap sama dan lebih baik dari mereka, dit?"

Jawabannya: Iya.
Gue gak mau disamain sama orang yg rusuh dan mengungkapkan emosi negatif dengan kata-kata kotor. Gue gak bilang gue udah lebih baik dari mereka tapi dalam kasus ini gue ngerasa lebih baik dari mereka.

Gue juga marah, kesel dan kecewa dengan sistem input yg error itu. Tapi gue berusaha untuk gak menghujat atau memaki. Membenci, mendendam, dan mendengki di dalam hati mungkin iya, ini kelemahan gue karena gue kadang susah berpendapat secara langsung.  Tapi dengan melihat apa yg orang-orang ungkapkan dengan kata-kata kotor itu gue berpikir, gue gak boleh kayak gitu. Gue harus jaga pikiran dan hati gue sendiri. Gue gak mau jadi orang mainstream. Gak mau jadi orang biasa kebanyakan. Ngapain jadi orang biasa yang sering menghujat dan mengutuk keadaan? Ngapain jadi orang mainstream di zaman yg mulai rusak ini?

Jadi orang yg gak terkenal tapi mampu merubah keadaan jadi lebih baik itu lebih keren dari orang terkenal yg rela terbawa arus pergaulan demi popularitas yg merusak moral.

Oiya kasus serupa udah banyak terjadi dimana-mana loh. Kebanyakan di f*c*book. Pernah liat foto pejabat yg sifatnya provokasi dan isi komentarnya cuma hinaan?
Atau pernah liat komentar dari orang yg debat agama dan saling menyalahkan yg juga menghina?
Atau mungkin juga pernah liat orang yg berusaha berubah lebih baik tapi malah dihina?
Atau mungkinkah kita salah satu dari orang yg memberikan komentar berupa hinaan tersebut?
Jangan sampai ya..
Selain bisa dipenjara karena mencemari nama baik seseorang, menghina dengan kata-kata kotor itu memperlihatkan isi pikiran kita. Gak mau kan orang lain menilai diri kita buruk?

Berpendapat itu boleh kok. Mengkritik juga boleh tapi usahakan yg sifatnya membangun. Kalau gak bisa, paling tidak jangan menghina dengan kata-kata kotor. Kalau gak bisa juga, mending diam aja deh.

Tapi blogs, sumber pemikiran gue tentang argumentasi itu gak cuma dari komentar di status itu. The thing is...
Yang jadi masalah utama dari downsanian kali ini adalah: Argumentasi penghinaan dan kata-kata kotor ini gak cuma terjadi saat kalah berpendapat atau melihat suatu keburukan aja. Ini terjadi dan hal wajar dalam kehidupan sehari-hari!

Gak percaya? Gue tanya kalian,
Mana yang lebih sering keluar dari lisan kalian, kata-kata: "anjing, bego, tolol, anjrit" dan sebagainya atau "astagfirullah, subhanallah, masyaAllah, insya Allah"?

"Adit, lo kok membandingkan kalimat Allah dengan kata-kata kotor gitu sih?"

Ya karena ini memang gak sama!
Orang yg terbiasa mengucapkan kalimat dzikir gak sama dengan orang yg sering ngucapin kata-kata negatif itu. Sekali pun sama-sama manusia, sekali pun sama-sama punya akal dan pikiran, sekali pun sama-sama punya hati nurani, tapi mereka gak sama.

Manusia yg positif dicintai dan yg negatif dibenci. Yg positif menggunakan pikiran untuk kebaikan dan yang negatif untuk menghina, ngatain dengan sebutan binatang. Padahal binatang aja gak pernah ngehina binatang lain. Yg postif nuraninya dibuka yang negatif tertutup.

Ini bener-bener terjadi di sekitar kita. Di televisi? Kalian pasti tau acara komedi dan musik zaman sekarang kayak apa.
Di usia remaja? Banyak bangeeeeet!
Di usia anak-anak? Mulai banyak banget!
Di usia dewasa? Alhamdulillah, sedikit. Setidaknya itu yg gue tau.

Gue sendiri belum bisa merubah mereka secara langsung. Gue masih jadi seorang pengecut yg gak berani berpendapat untuk merubah keadaan jadi lebih baik. Cuma lewat blogs aja. Karena itu gue harap ini bisa merubah dunia.

Blogs, mulutmu harimaumu.
Kata-kata yg keluar dari lisan kita mencerminkan apa yang ada di pikiran kita...

...kecuali kamu adalah seorang pembohong..

Assalamu'alaikum :)

Kamis, 16 April 2015

Downsanian 4

Assalamualaikum, blogs!!
Halo kamu-kamu semua!
Sehat kan? Gue harap semuanya sehat dan baik-baik saja karena lewat post kali ini gue akan menyayat hati kalian semua! Muwahahahahaha!
Ini gue ngapain sih? -__-.

Well, sebenernya sama seperti semua post gue yg berlabel point of view, post kali ini juga memiliki label point if view. Which mean, gue akan coba mendoktrin kalian dengan perspektif gue. Ditambah lagi post kali ini berjudul Downsanian 4. Para pembaca blogs yg lama harusnya tau apa yg akan gue sampaikan jika gue menggunakan judul "Downsanian". Something bad will happen? Tidak juga. Tapi akan ada beberapa kenyataan yang siap gue lempar ke kalian. Berharaplah kau tak punya hati atau ini akan cukup menyakiti!

Rabu, 25 Maret 2015

Simbiosis iri hati versi 2

Assalamualaikum!

Hai, blogs..
Saat ini, saat gue menulis kalimat ini, waktu menunjukan pukul 11.54 pm. It means sebentar lagi tengah malam. Yeay!

Ada apa dengan tengah malam? Gak ada apa-apa sih. Biasa aja sebenernya. Tapi gue jarang blogging tengah malam. Ngantuk. Capek. Mau nyari seseorang di mimpi. Orang di mimpi gue udah banyak. Udah ada 15 orang kayaknya deh. Tapi gue gak peduli lagi. Biarkanlah mereka menjadi bunga tidur gue.

Anyway, orang di mimpi itu gak ada hubungannya sama post kali ini. Soalnya gue lagi pengen sharing perspektif gue tentang hal yang harus tapi belum gue kuasai. Yaitu simbiosis iri hati. Udah baca yg sebelumnya? Yg versi 1 itu loh. Kalo udah, ini versi 2nya. Simak yap!

Simbiosis iri hati itu tentang perspektif gue terhadap orang-orang di sekitar gue. Tentang rasa iri yg ada di hati manusia. Di hati kita. Wajarkah bagi kita memiliki rasa iri? Wajar. Tapi gak boleh dimaklumin. Karena rasa iri adalah penyakit hati. Harus diobati dengan cara bersyukur. Gue udah bilang begitu di simbiosis iri hati versi 1 dulu. Gue tekanin lagi di awal post ini dan akan gue tambahkan di bagian akhir nanti.

Jumat, 27 Februari 2015

Flameart Revealed!

Assalamu'alaikum!

Bertemu dengan gue lagi, Arya D, the owner of this blog. 
Ketemu gue melulu pasti bosen ya? Bodo amat -_-. Ini kan blog gue. Huh!

Anyway, what do we have for today post? gue berencana untuk membuka fakta atau sejarah atau cerita tentang asal mula blog ini. Mau nyimak gak? Kalo mau pantengin terus ya!

Share it to the world..
Itu nama atau judul blog gue. Tapi gue lebih suka menyebutnya flame-art karena itu urlnya dan kedengeran lebih keren. Tapi dalam postingan gue atau kehidupan sehari-hari gue lebih sering nyebutnya Blogs. Ada huruf S nya. Gak tau kenapa. Lebih enak aja.

Share it to the world dibuatnya udah lumayan lama. Sejak gue duduk di bangku sekolah menengah pertama. Gue lupa kelas 7 atau 8 gitu. Dulu namanya bukan Share It To The World. Gue juga lupa apa namanya soalnya gak gue catet. Awalnya blog ini dibuat cuma buat tugas pelajaran TIK. Itu post pertama blog ini. Labelnya TIK. Cuma copast dan gak penting sih. Itu juga cuma 1 post doang.  Setelah tugas TIK selesai, gue meninggalkan blog ini lama banget. Berbulan-bulan  sampe akhir kelas 9. 

Sabtu, 21 Februari 2015

Life Guide #1

Hai blogs!!

Assalamualaikum!

Saat ini gue melaporkan langsung dari ruang tunggu C7 bandara soekarno-hatta. Yap! Gue sedang dalam perjalanan kembali ke wilayah 2, Yogyakarta. Sebenernya gue udah disana 4 hari yg lalu. Tapi karena wilayah 1 butuh gue, dengan terpaksa gue harus kembali. Daaan! karena gue juga dateng terlalu cepat ke bandara, gue ingin mengisi waktu luang gue dengan main ke sini. Seneng gak? nggak seneng ya? Yaudah -_-. 

Sekarang, saat gue nulis kalimat ini, pukul 14.11 WIB. Jadwal keberangkatan gue 15.50. Gue udah dateng dari jam 1 siang. Soooo gue harus menunggu selama... 3 jam. Belom termasuk delay. Kalo delay sih. Akhir-akhir ini pesawat lagi sering delay. Waktu berangkat ke wilayah 1 gue juga delay 4 jam. Lama banget. Untung ada urf. Gue jadi ada hiburan. Delaynya itu... Katanya sih kepadatan lalu lintas di udara. Kalo di darat disebutnya macet. Jadi, ada banyak pesawat yg mau terbang dan mendarat. Di bagian Tower atau ATCnya kewalahan ngaturnya. Jadi delay deh. 

Ngomong-ngomong, di draft blog postingan ini udah gue tandain berjudul "Life Guide". Jadi gue ingin share pemikiran gue tentang pedoman hidup ini. well, bukan pedoman hidup juga sih. apa yaaaa... ya pokoknya gitu deh. Pembahasannya so pasti dengan perspektif gue tentunya.
Jadi apa saja pedoman hidup versi gue tersebut? Simak ulasan berikut!

Minggu, 15 Februari 2015

Full Heart

Selamat malam, my dear blogs :)

assalamu'alaikum

jumpa lagi dengan gue, Arya D, dan pacar gue, emmm...., oiya, gue gak punya pacar. maap lupa. pokoknya gue mau sharing my thought about something. Not a big deal but, whatever, i'll share it anyway.

but first, as always, gue harus menanyakan kabar kalian semua. biar gue keliatan ramah dan peduli gitu. padahal mah... well, kamu kamu juga gak ada yang jawab. yang jawab cuma 1 di post Pelajaran dari Ketinggian. huft.. yaudahlah ya. 

Sooooo how are you doing, my silent readeeeeerrrrr?! sehat kan? ada yang sakit? semoga yang sakit cepat sembuh ya. ada yang lagi sedih? semoga yang sedih bisa jadi gembira tanpa sebab ya.. semoga kalian semua baik-baik saja pokoknya!

jadi mengenai sesuatu yang mau gue share kali ini sebenernya ada hubungannya dan bisa dibilang lanjutan dari Concept of Happiness.  Anggaplah gue menemukan suatu cara baru untuk bahagia. mau tau gaaaaak?

Rabu, 11 Februari 2015

World of Mine

Assalamualaikum, blogs!


Yoooow, blogs! Kali ini gue lagi gak kepengen memberikan pembukaan yang panjang lebar seperti biasanya. Soalnya nanti postnya kepanjangan. Selain itu karena dalam post kali ini gue akan memperkenalkan beberapa hal keren versi gue. Hal-hal gak penting yang ngebuat gue senang. Yap, this is my world :)
Selamat datang di dunia imajinasi gue yang... Gue yakin kalian bakal menganggapnya aneh, tapi bodoamat. Yang penting buat gue asik.

Senin, 02 Februari 2015

Concept of Happiness

Assalamualaikum!

Hai, blogs!  Salam untuk kamu semua dari First Region :)
Saat ini gue sedang berada di wilayah 1. Means, Tangsel. Gue lagi liburan tanpa tau caranya mengisi liburan. You know, setelah selesai menjalani petualangan di Disc 2 Chapter 3 yang penuh tantangan, gue merasa agak hampa. Pasalnya kalo di Disc 2 chapter 3 itu gue harus fokus sama misi gue yang banyak banget di wilayah 2. Dan itu sangat merepotkan. Tunggu, biar kita sepaham yg gue maksud misi itu adalah praktikum dan kuliah. Udah gue kasih tau kan apa aja yg gue hadapin? Gak semuanya sih tapi pokoknya seru dan nyusahin deh.

Waktu gue ngejalanin praktikum dan kuliah gue pengen itu cepat berakhir dan liburan. Tapi setelah semua selesai, gue malah gak ada kerjaan. Nganggur. Gak tau mau ngapain. selama liburan kegiatan gue cuma main game di hp. Gara-gara itu rasanya liburan gue gak bermakna. Gue jadi kurang bahagia. Sedih -_-.

Anyway, untuk memberikan sedikit warna dan makna serta cerita pada waktu luang gue, kita sharing lagi aja ya. Ada topik menarik yg menurut gue asik untuk dibahas, yaitu Konsep Kebahagiaan. Dan karena gue menandakan post ini dengan Point of View, Sooo kalian harus mengenakan kacamata perspektif versi gue. Jadi bersiaplah!


Selasa, 30 Desember 2014

Sepotong Dunia Semu

Assalamualaikum, blogs!

Oke. Gue akui gue meninggalkan blog ini lama banget. Hampir 1 semester kayaknya ya. Well, maaf deh. Gue beneran sibuk banget di dunia perkuliahan semester 3 ini. Gue sibuk apa sih? Ini mau gue ceritain. 

Oiya, gue lupa aturan formal di blogs ini. Gue harus nyapa dan menanyakan kabar kalian. Hmm.. Baiklah! 

Apa kabar semuanya? Sehat kan? Bahagia? Semoga kalian berada dalam perlindungan-Nya ya. Jumpa lagi dengan gue, Aditya Arya D, yang baru kembali dari Dungeon di disc 2 chapter 3 dengan selamat. Kurang keren ya? Bodoamat. Pikiran gue agak kaku setelah cukup lama gak membuat tulisan. 

Anyway, ada yg tau maksud dari Disc 2 Chapter 3? Kalo kalian liat update Line gue, pasti lumayan sering liat "Disc 2 Chapter 3" dengan judul dan kutipannya yg keren. Disc 2 itu berarti wilayah 2. Jadi kan sekarang gue udah kuliah dan pindah lokasi dari Tangsel ke Yogya, kalo di game itu berarti gue udah masuk ke sequel ke 2 dalam dunia gue. Masa SD, SMP, SMA di Tangsel atau wilayah 1 itu Disc 1. Terus Chapter 3 berarti gue di semester 3. Chapter 1 & 2 gak gue bikin. Belom kepikiran soalnya. Terus terus judul dan kutipannya itu adalah hal-hal yang sedang gue alami. Gak semuanya sih tapi gue suka kata-katanya.

Okay, jadi apa aja yang gue hadapi di Chapter 3 ini? Siapkan diri kalian. Gue akan coba membuat kalian melihat dunia dari sudut pandang gue!
Aurora Eyes!!

Sabtu, 20 September 2014

Againts The Pressure!

Assalamualaikum, blogs!

Fiuuuh... 
untuk sesaat gue ingin menarik napas panjang dulu di awal semester 3 ini. Kalian harus tau! Eh gak harus juga sih, tapi gapapa deh. Semester 3 ini luar biasa!! Selain praktikum yang ada 5 dan tugasnya yang bejibun, gue harus menghadapi tugas kuliah, tugas organisasi, dan tanggug jawab sebagai Guider. Apa itu guider? Guider itu artinya pembimbing. Ini sejenis panitia ospek mahasiswa baru gitu. Tapi bukan yang bagian marah-marah. Tugas gue sebagai Guider adalah membimbing adik-adik yang katanya ngegemesin baget itu *padahal mah nggak sama sekali* buat jadi mahasiswa yang baik. Gue juga harus memberikan materi geologi dasar dan ikut olahraga bareng mereka. Otomatis tugas gue bertambah banyak. Berat? Lumayan. Pokoknya di semester 3 ini lumaya sibuk banget gitu deh.

Nah karena kesibukan gue yang meningkat pesat dalam waktu singkat, kadang gue jadi stres juga. Seorang adit juga bisa stres loh O_O. Lagian tugas gue gak abis-abis. Mereka kayak mahluk immortal yang berusaha mengeroyok gue gitu. Setelah gue tebas, mereka hidup kembali dan bertambah banyak. Ngeselin. Karena itu gue mengalami stres dan depresi, blogs. Tapi tenang aja, gue memiliki beberapa cara untuk menghadapi rasa stres berkesinambungan ini. Mau tau? Simak pembahasan gue yap!

Kalian-kalian yang mahasiswa pasti akan mengalami stres apa bila dihadapkan pada tugas yang bejibun banget. Jangankan mahasiswa, siswa biasa aja juga stres kok. Orang tua juga. Kondisi stres ini terjadi karena tekanan dari banyaknya tugas dan waktu yang diberikan itu gak seimbang. Akibatnya kita kekurangan waktu dan menggunakan waktu istirahat kita untuk mengerjakan tugas. Gara-gara itu kita jadi sakit deh. Tapi gapapa sih bagi kalian yang udah lama gak di-gws-in dan kangen pengen di-gws-in lagi. Gue sih udah jarang banget -_-.  Tapi tetep kalo bisa jangan sakit. Kenapa? Karena "Monster" Tugas-tugas itu gak akan peduli mau kita sakit atau sehat, mereka tetap akan menyerang. Jadi kita harus menjaga manajemen waktu kita dengan sangat baik. Inget waktunya istirahat. Tubuh kita punya hak untuk istirahat loh. Jangan dipaksa kerja melulu. Jangan suka numpuk tugas. Jangan jadi deadliner, Okay?  Jadilah frontliner. Kerjakan tugas secpat mungkin sesuai kemampuan dan pola kinerja kita. Jangan terlalu santai tapi juga jangan terlalu serius. Pokoknya sesuai pola aja biar sehat. Itu tips pertama.

“ah, kalo Cuma itu sih gue juga tau, dit..”

Sabar dulu dong. Itu kan secara umum. Lagi pula itu mencegah stres, bukan menghilangkan stres. Yang mau gue kasih tau berikutnya baru versi gue

Okay, cara pertama gue untuk menghilangkan stres adalah.... makan. Simpel kan? Kalo gue lagi bete atau lagi kesel atau bingung mau ngapain biasanya gue makan. Makan yang banyak sesuai duit di kantong. Ini tips yang terbilang umum juga sih. Terutama dikalangan perempuan. Kalo mereka lagi galau atau kesel katanya sih mereka  makan. Gak peduli laper atau nggak. Karena itu gue mencoba tips ini. And It works! Pas makan, bete gue jadi hilang. Rasa kesel dan rasa bingung-mau-ngapain tiba-tiba sirna. Keren deh. Tapi sayang, ini gak efektif dan malah membuat kita terjebak pada siklus tanpa akhir.

Lo kesel – makan – kesel lo hilang – lo senang – liat cermin dan timbang berat badan – berat lo nambah – lo jadi gendut – lo kesel – lo makan – kesel lo hilang- dan seterusnya.

Ngeselin kan? Kalo gue sih biasanya karena bingung mau ngapain jadi gue makan aja.bener sih hilang rasa bosennya. Tapi setelah selesai makan gue bertambah bingung mau ngapain......

Selain makan, biasanya gue juga belanja. Bukan, bukan belanja barang-barang perempuan -_-. Gue belanja bulanan. Asik loh, apalagi kalo bareng Urf. Gue harus berdebat panjang lebar untuk menentukan apa yang harus gue beli. Dia mengutamakan barang bagus dan  yang gue butuhkan. Kalo gue lebih seneng belanja barang yang gue mau dengan harga murah. Tapi gue belinya banyak dan mubazir jadi jatohnya lebih mahal -_-. Terus Urf itu plin-plan dan kadang ngeselin.

“beli yang ini aja, dit. Lebih bagus terus murah. Eh jangan deh, beli yang itu aja. Tapi bagusan yang ini. Gue jadi bingung. Gal usah beli deh” gitu. Ngeselin kan?
“tapi, Urf, gue maunya yang itu. Lebih keren efeknya. Gue suka.”
“yaudah beli yang itu aja”
“bohong deng, gue lebih suka yang ini.. hehehe”
“........”
“bercanda, gue suka yang itu kok”
Iya, gue lebih ngeselin dari dia -_-.

Tapi Urf juga jahat. pernah di suatu pagi gue pergi ke Sunday-Morning di UGM. kalo di Jakarta ini sejenis Car Free Day. kalo di Ciputat lebih dikenal dengan sebutan pasar kaget. tapi gue gak kaget. mana bisa kita dikagetin sesuatu yang udah terjadwal -_-. Waktu ke Sunmor ini gue ngeliat mainan papercraft gundam! Keren banget! harganya cuma 17.000. jauh lebih murah dari harga aslinya yang sampe di atas 100.000! well, jelaslah ini kan dari kertas. Tapi tetep aja gundam. akhirnya gue beli. setelah gue beli, urf bilang gini, 
"bagus ya, dit, gundamnya"
"iya keren, yurf!"
"bagus ya... harganya 17.000 doang..."
"iya, murah"
"bagus banget... nanti malem lu gak boleh makan, dit"
Gue pun langsung speechless
-_________________-

Kalo mau beli snack gue harus meminta perizinan dia. Katanya sih biar hemat dan bisa terkontrol gitu. Entahlah. Biasanya setelah belanja, kami mengadakan evaluasi belanjaan.. terus nanti dia marah-marah kalo gue belanjanya mubazir.padahal mah bodoamat. Uangnya juga uang gue kok -_-.

Cara lain untuk menghilangkan stres versi gue adalah dengan berkaroke. Tunggu, bukan sembarang karoke di tempat-tempat karoke gitu. Ini gak perlu biaya mahal dan bisa dilakukan kapan aja asal ada kendaraan dan niat. biasanya kalo gue lagi stres malem-malem gue suka berkendara naik motor. Terus sepanjang jalan itu gue nyanyi. Nyanyi apa aja. dari lagu galau sampe lagu perjuangan gue nyanyiin semau gue. Gue ungkapkan perasaan gue di panggung malam. Walau suara gue pelan dan gak bisa nyanyi, i just shout it out. Ini seru! Gue kan nyanyinya sambil naik motor, semakin gue ngebut gue nyanyi makin keras. Kecuali kalo gue lupa lirik lagunya. Jadi kalo lagi macet, gue diem aja. Perjalanan malam adalah panggung karoke pribadi gue. gak boleh ada yang denger gue nyanyi -_-.
Oiya, saking menghayati lagu yang gue nyanyiin, gue bisa berurai air mata loh. Tapi paling Cuma yang kanan aja yang netes. Yang mata kirinya nggak. Setelah nyanyi, perasaan gue jadi lega. Dan bete gue hilang. Seneng deh.. Tapi setelahnya gue masuk angin -____-.

Menuju cara berkutnya. Tadi udah apa aja sih? Makan, belanja, sama nyanyi ya? Cara berkutnya itu nulis. Ini cara paling efektif dan paling berkualitas menurut gue. tapi juga cukup sulit untuk dilakukan. Coba deh kalau suatu saat kalian lagi bete, kesel, bosen, sedih, senang atau apapun coba kalian luangkan sedikit waktu kalian untuk meberi kesempatan jari-jemari berdansa dengan pena di atas lantai dansa yang mengukir hitam di atas putih. Coba kalian tulis apapun yang kalian rasakan dan pikirkan. Terserah pake bahasa puitis, formal, informal atau apapun yang kalian mengerti. Kalo gue sih biasanya pake bahasa puitis. Menulis ini berarti menorehkan emosi kalian pada secarik kertas yang dijajaki pena. Asik loh. Kita bisa membuat dunia sendiri sesuai perasaan kita, terus kita jadi lebih tenang dan bisa sekalian berkarya.

Dulu gue pernah lagi marah gitu kan. Gue berbeda pendapat tentang sesuatu. Terus kami yang marahan gak mau saling mengalah. Lagi pula kenapa harus aku yang mengalah? Tak pernahkah dia berpikir sedikit tentang diriku? Nah, pas marah dan emosi itu kan hati kita jadi penuh dengan rasa kesal dan pikiran kita jadi penuh dengan berbagai hal yang ingin diledakkan. Pas itulah kalian harus nyoba nulis pikiran dan perasaan kalian. Dijamin jadi lebih lega.  Gak percaya? Coba aja dulu. Nanti kalo udah coba baca hasil tulisan kalian. Insya Allah bagus dan menarik.

Terus, blogs, ada cara terbaru yang sedang gue kembangkan. Simpel banget. Ini terpikirkan begitu saja waktu gue lagi nonton iklan-iklan di tv. Gue ngeliat iklan orang makan coklat kok orangnya bahagia banget. Gue liat iklan sabun mandi orang-orangnya juga bahagia banget padahal mandi itu kegiatan yang agak memalaskan-_-. Terus gue juga liat iklan pasta gigi, sirup, kopi, dan lain-llai. Mereka semua bahagia! Iklan orang cuci muka juga orangnya tuh bahagia banget. Gue bingung. Perasaan gue melakukan apa yang mereka lakukan juga tapi gue gak bahagia -___-.
 Usut punya usut ternyata rahasianya adalah menikmati hal kecil. Mereka makan coklat aja dinikmati banget sampe bisa keliatan bahagia. Mereka cuci muka dengan  sabun sambil bergaya. walau harus kelilipan dan busa sabunnya ketelen mereka tetap bergaya supaya terlihat keren. Berangkat dari hal ini-lah akhirnya gue coba mengikuti. Gue harus bahagia seperti mereka! gak mau tau! gue mesti bisa bahagia dengan makan coklat, cuci muka sampe kelilipan, minum kopi dan sirup, dan ngunyah pasta gigi. Awalnya sih emang agak sok bahagia gitu soalnya maksa. Tapi akhir-akhirnya gue berhasil! gue bahagia kayak yang di iklan-iklan itu loh! Yeay!  It works.

Jadi gitu, blogs, cara gue menghilangkan stres gue dan memperoleh kebahagiaan. Murah dan simpel kan? Well, Gak juga sih. Tapi gapapalah yang penting gue bahagia -_-

Ada banyak cara lain yang bisa bikin kamu-kamu bahagia. misalnya main game, pergi ke bioskop, traveling, baca buku, atau apapun. tergantung minatmu. Kalo gue sih saat ini lagi males main game. gak punya fulus untuk dihamburkan di bioskop juga. sulit mencari waktu untuk traveling, dan masih moody kalo baca buku. Yah gapapa sih. tiap orang kan punya cara yang beda-beda untuk mengatasi stres. 

Itu dulu sebagian cara gue menghadapi stres. Kalo gue nemu lagi kapan-kapan kita sharing lagi ya? Itu aja ya, blogs

Semoga bermanfaat

Assalamualaikum 

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented