Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juni 2017

Gelembung Kenangan

Assalamu'alaikum, blogs!

Kita harus cepat sebelum ingatan mimpi gue menghilang! Basa-basinya kapan-kapan aja ya..

Wuuuuzzzz..!!

So, ini tentang seseorang dari dalam mimpi lagi. Bukan, bukan Cleva. Gue baru memimpikannya beberapa saat yang lalu. Jadi semua bermula dari..... Gue gak tau. Namanya juga mimpi -_-. Gimana gue mau inget awalnya?

Pokoknya tadi malam gue tidur jam 2an. Setelah nonton Deadpool dan main Brave Frontier. Mumpung ada event kolaborasi sama Final Fantasy. Jadi begitulah.

"Mimpinya, dit!"

Oiya, pokoknya jam 2an itu gue tidur lalu bermimpi. Gue berada di..... Entahlah. Kayak taman. Ada tempat duduknya dan semacam ayunan tapi gak terlalu jelas. Saat itu malam hari. Kayaknya di mimpi itu gue baru abis ada kegiatan sama temen SMA deh.

Kemudian di taman itu gue gak sendiri. Ada 1 perempuan temen SMA gue dan laba-laba yang sarangnya dari jaring warna perak. Apa yang kami lakukan di taman malam itu? Kami berbicara. Tapi gak bicara sama laba-labanya. Kami bicara tentang.... Perasaan perempuan itu ke gue. Jadi dia semacam suka sama gue gitu.

"Sayangnya cuma mimpi ya, dit"
Bawel! -_-

Gue tau siapa dirinya di dunia nyata dan ya dia memang pernah suka sama gue. Woooo! Tapi gue tolak sih. Di dalam mimpi pun juga gue tolak. Kenapa? Prinsip. Gak boleh pacaran. Dan sebisa mungkin gak mau pacaran. Ternyata prinsip sejak 9 tahun lalu itu juga tertanam di alam bawah sadar gue.

Setelah gue tolak di mimpi, dia keliatan nggak terlalu kecewa dan memahami prinsip gue. Dia menerima kami sebagai teman dekat sambil tersenyum. Dan hubungannya dengan laba-laba jaring perak itu? Nggak ada. Gue sempat pegang jaringnya yang udah ngebentuk sarang. Tapi jaringnya elastis gitu jadi gak rusak.

That's it, blogs! Mimpi malam ini tentang seseorang. Nggak terlalu penting sih tapi gapapalah.

Bye!

Tunggu...
Well, actually, ada 1 orang lagi di mimpi itu yang mau gue ceritakan. Mimpi setelah di taman itu. Semacam lanjutannya. Settingan mimpi kedua ini berada di... Rumah? Ruang kelas? Nggak tau. Gak jelas. Gue bersama seorang perempuan lagi. Bukan temen SMA gue yang tadi. Seseorang yang kalau gak salah udah lama banget gak ketemu. Mungkin pas SD. Dia semacam temennya temen gue. Dan kami sama sekali gak dekat. Kalau salah, berarti dia seseorang yang belum pernah gue temui di dunia nyata.

Namanya Joana. How did i know that? I just did. Well, di mimpi gue gak manggil dia Joana sih. Tapi feeling gue namanya Joana. Pokoknya gitu. Gak usah protes. Mimpi gue, suka-suka gue.

Joana ini kayak keturunan chinese. Rambutnya panjang sepinggang. Sedikit coklat. Gak terlalu tinggi. Matanya.... Ya sipit. Tapi warna hitam mengkilap gitu. Lumayan cantik deh.

Kejadiannya hampir sama kayak mimpi sebelumnya. Di dalam ruangan itu kami berbicara. Tentang perasaan Joana. Sepertinya dia juga menyukai gue. Padahal di mimpi itu kami belum kenal lama.

Akhirnya... Ada 2 orang yang menyatakan perasaannya ke gue! Mimpi apa gue semalam?!

"Dit, ini juga kan cuma mimpi..."
Oiya -_-

Setelah dia menyatakan perasaannya ke gue, apa jawaban gue? Tentu saja gue tolak lagi.

"Pantes jomblo. Di mimpi aja sok jual mahal!"
Ngeselin.. Salahkan urf yang menanamkan prinsip ini -___-

Alasan penolakannya juga sama seperti sebelumnya, yaitu prinsip gak boleh pacaran. Tapi keliatannya Joana belum paham. Jadi gue jelaskan gue juga mencari seseorang yang bisa menghargai hal-hal kecil. Menghargai waktu yang dihabiskan bersama. Dan hal-hal spesial lainnya.

Somehow, di ruangan itu ada pistol gelembung sabun. Tau kan? Banyak di jual di Monas dulu. Entah motivasi gue apa tapi gue bilang, "coba kamu ungkapkan sebesar apa perasaan kamu dengan pistol itu." I know... It's stupid.

Dia ambil pistol itu dan bilang, "perhatikan." Kemudian muncul gelembung besar banget dan lumayan banyak. Setiap gelembung itu adalah kenangan. Waktu yang kami habiskan bersama. Besarnya gelembung itu adalah seberapa besar Joana menghargai kenangan kami. Padahal kami belum lama kenal. Yang terlintas di pikiran gue saat itu adalah.. Memories Keeper. Penjaga kenangan. Salah satu bagian dari diri gue juga.

Dengan melihat seberapa besar perasaan Joana ini gue jadi bingung. Gue pengen menerima. Tapi nggak boleh. Pokoknya nggak boleh. Kemudian gue bilang, "maaf, gue belum bisa menerima. Tapi kalau status itu bukan sesuatu yang penting buat kamu, kita bisa jadi teman dekat." Kurang lebih begitu. Dia keliatannya bisa mengerti.

Setelah kejadian itu, keesokan harinya (masih di mimpi) gue menyiapkan tas, baju seragam sekolah, topi abu-abu. Jadi gue balik lagi ke SMA -_-. Well, setidaknya gue lumayan senang bisa ketemu Joana di sekolah. Tapi di mimpi itu gue belum sholat subuh. Jadi sholat dulu di mimpi. Pas udah selesai, gue dibangunin untuk shalat di dunia nyata...

Baiklah.. Kali ini beneran "That's it, blogs!" Itu mimpi gue malam tadi. Dengan seseorang yang udah lama gak ketemu atau mungkin memang belum pernah ketemu. mereka yang belum pernah gue temui di dunia nyata sebenarnya lebih banyak lagi. Di post Dream Troopers kan cuma 13 kayaknya. setelah post itu gue bermimpi tentang yang lainnya. Tapi gue lupa nama sama mimpinya gimana. Jadi ya.. Yaudahlah ya.

Pesan dari post kali ini adalah...

"Gue tau, dit. Hargailah setiap waktu dan kenanganmu bersama seseorang.. Walau hanya di dalam mimpi"
Good!

Assalamu'alaikum, blogs :)

Sabtu, 17 September 2016

Lonely Winter: Pesan untuk Bulan

Hai Cleva.
Salam untukmu dari duniaku.

Bagaimana kabarmu?
Kau tak pernah lagi singgah dalam mimpiku. Kamu kemana? Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Ada banyak pertanyaan yang belum kamu jawab.

Hai Cleva
Aku mendengarmu berbicara tentang mimpi. Walau bukan padaku. Kamu tidak ingin membicarakannya padaku. Sempat saat itu mata kita saling menatap. Beberapa detik. Sejenak dirimu tersenyum. Cantik sekali. Senyuman yang membaur bersama air mata di pipimu. Cukup untuk membuatku memahami perasaanmu. Kesedihan yang ditorehkan oleh perpisahan.
Maaf aku tidak membalas senyummu. Bagaimana aku tersenyum saat tau akan merindukanmu lagi? Bagaimana aku tersenyum saat tau ini adalah perpisahan?

Hai Cleva, katakan padaku..
Mana yang lebih menyakitkan patah hati atau kesepian? Jika itu dirimu, kurasa kau akan menjawab kesepian. Orang-orang mungkin akan menjawab patah hati. Tapi kamu menghantamkan keduanya padaku. Sakit? Tidak apa. Aku sudah terbiasa. Kau tau kan Manusia bisa beradaptasi. Bahkan pada sesuatu yang mereka sebut "kesepian". Walau aku rasa tidak seharusnya begitu. Sebagai mahluk sosial manusia harus berontak dari rasa sepi. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah beberapa tahun berlalu.

Rasa sepi ini menjelma menjadi pikiran lain dalam diriku. Menjadi teman terbaik yang aku miliki dengan semua sifat yang aku inginkan padanya. Kami tertawa, belajar,  bercanda, berdiskusi, marah dan melakukan banyak hal lainnya. Walau hanya dalam pikiranku. Aku berpura-pura dia adalah kamu. Ini membuatku candu.
Karenanya aku pergi seorang diri. Mencoba menemukanmu. Aku ingin kamu membunuhnya. Membunuh rasa sepi itu. Merubah proyeksi pikiran itu menjadi nyata dalam dirimu. Tapi mungkinkah ini akan terjadi? Kamu pasti berpikir itu konyol.

Hai, cleva.
Perjalanan ini hampir membuatku lelah. Bisakah kita bertukar peran? Bisakah dirimu menemukanku? Aku akan menunggumu. Hingga saat itu tiba aku akan merindukanmu lebih lama lagi


Minggu, 21 September 2014

Catatan Buku Biru: Laba-laba Mimpi

Untukmu yang perlahan pergi..

sebuah cerita di mulai ketika kita bertemu dan tak akan berakhir bahkan ketika kita berpisah..

hai laba-laba mimpi..
bagaimana kabarmu?
Aku dengar kamu mulai dicintai seseorang..
setelah cukup lama aku terjerat dalam jaringmu,
bukannya memangsaku, kamu justru pergi membuat rumah baru.
tidak masalah bagiku.. kau masih sering kembali.
walau hanya sejenak dalam waktu yang sangat lama. setidaknya aku tau kamu baik-baik saja.

Hai laba-laba mimpi..
Ingatkah kamu pada obrolan hujan?
saat aku berdiri di depan pintu waktu itu..
kau orang pertama yang mengetuk dan mengganggu kasihku pada hujan,

Dan kita bicara..
entah tentang apa.. 
ia terlupakan oleh logika tapi sanggup tertoreh pada secuil rasa..

Dan kita tertawa..
entah karena apa..
ia tak teringat oleh otak namun masih menggema di telinga..

Dan aku jatuh cinta..
entah pada apa..
tak bisa aku rasa tapi bisa aku terka.
mungkin kepadamu

Hai laba-laba mimpi...
maaf jika aku ragu
aku ingin menceritakan rahasiaku padamu.
tapi aku yakin kamu tidak peduli.
aku ingin kamu ada di duniaku.
tapi aku yakin kau tidak akan mau tinggal.

Duhai laba-laba mimpi..
maaf bila aku tidak menggunakan hatiku secara utuh untuk bersamamu.
hingga kini aku sadar kamu akan pergi dan aku tidak bisa mencegahmu.
walau belum sepenuhnya terlambat, namun aku enggan mencoba.
biarlah kamu pergi sesuka hatimu,
karena aku akan menunggu sesuka hatiku..

Dan untukmu, laba-laba mimpi..
Bisakah kita bertemu kembali dalam mimpi?
untuk aku sampaikan kepadamu,
sehimpun kata maaf..
segenggam rasa terimakasih..
dan setangkai ucapan selamat tinggal..

aku mencintaimu 

Kamis, 31 Oktober 2013

From History to Story (cont)

Halo, Blogs.

Ini lanjutan dari pembahasan cerpen dari post sebelumnya ya.
Post sebelumnya masa gak muat padahal tanggung-_-.

baiklah, kita lanjut.

Cerpen gue yang terbaru itu..
The last but not least...
Lonely Winter.

Tokoh utamanya adalah Rigel, seorang anak kelas 2 SMA yang biasa saja gak ganteng-ganteng amat,  yang bertemu dengan Cleva, seorang perempuan aneh dari mimpinya. kenapa cleva aneh? Baca aja ceritanya kalo mau secara detail.
But, kalau gak mau baca, here is the review:

Ada 2 masalah dalam Lonely Winter.
Pertama, Perjanjian dengan Cleva yang melarang Rigel dan Cleva saling jatuh cinta. Perjanjian ini  membuat Rigel benar-benar berusaha membohongi hatinya sendiri dan menjauh dari Cleva.
Tapi pada akhirnya dia berontak dan menyatakan perasaannya walau agak terlambat.

Kedua, tentang Cleva.
Sikap yang Cleva tunjukin dari mulai berusaha terlihat ceria, banyak bicara, suka memperhatikan sekitar dan semua perjalanan seorang dirinya itu ternyata ada alasannya yang menjadikan dia seperti itu. Pada bagian Frozen Crecent dijelaskan alasannya, yaitu karena rasa sepi.
dia hobi menikmati kesendirian hingga terjerumus kedalamnya dan mulai merasa kesepian.
Setiap kali dia cerita tentang hobinya itu, Cleva keliatan ceria. Tapi dibalik binar keceriaannya itu... ya pikir aja sendiri.

Ide cerita Lonely Winter  adalah gabungan dari impian, mimpi dan kenyataan yang pernah gue alami.

Impian gue buat ketemu seseorang kayak Cleva. Kalau ketemu..  pasti asik buat gue ajak jalan-jalan. Kan kami jadi sama-sama gak perlu jalan-jalan sendirian lagi. Tapi gue harus nyari dia dimana... -_-.

Mimpi. Ada di post Dream Troopers. Cleva dalam cerita ini adalah seseorang dari dalam mimpi. Jadi, gue harap bisa ketemu di dunia nyata. Dengan begitu, she would be so spesial.

Kenyataan.
Ya.... gimana ya? Apa yg gue alami itu sebagian ada di cerita ini. Kebanyakan sih tentang perjalanan sendirinya. Ke museum, sumber air panas, sama ke mall. Tapi gue gak ketemu Cleva -____-.   Dia terlalu langka. Ya begitu deh.

Lonely Winter ini cerpen terpanjang gue loh. Dengan berapa part sih? 20an atau belasan? Gue lupa -_-. Males baca lagi. Endingnya pun gue miripin ke awal lagi dengan agak kontras. Biar keren gitu.

oke itu pembahasan cerpen gue. Soal voting yang telat banget-banget-banget itu.... lupakan aja.cuma 1 orang yang ikutan.
jadi atas dasar pertimbangan itu, gue aja yang langsung milih awardnya.

*award berikut ini adalah suka-suka gue. kalo beda dengan persepsi kalian, jangan protes -_-*

1. Cerita terkeren atau terbaik.
Berdasarkan alur dan macam-macam aspek lainnya, gue nobatkan kepada....
You, Me and Dandelion's dance :D

2. Tokoh terbaik.
Gue pilih Me :D
Me ini sangat bijak dan pinter. Dia mengerti arti kehidupan dan semacamnya. Pokoknya keren deh.

3. Klimaks cerita.
Ini... gue suka klimaksnya High and Low sama Lonely Winter -_-. Di high and low dialognya Nita di taman itu loh. Nusuk banget. Berasa bodoh banget si Fizan.

Sedangkan di Lonely Winter dari 2 masalah yang ada, gue suka pas bagian Frozen Crescent. Kenapa? Ya... begitu deh. A piece of me is in there.

Tapi di antara keduanya, gue lebih suka Nita, jadi High and Low terpilih di sini :D

4. Pesan moral.
ah ini mah gak perlu repot milih. You, Me and Dandelion's dance menang di kategori ini :D. Pesan moral dari Me, "jika seseorang pergi dari hidup kita, itu artinya kita cukup kuat untuk hidup tanpa orang itu,"

Ya itu dia award dari cerpen gue. Untuk saat ini sih. Terima atau tidak, bodoamat.

Oke, blogs. Itu aja kali ya. Gue masih sibuk di wilayah 2 jadi maaf kalau jarang post. Tugasnya banyak kalau hari biasa. Giliran minggu uts itu minggu santai.

Ada banyak cerita yang mau gue share dari wilayah 2 ini. Tapi karena belum ada kesempatan, mungkin lain kali.

Udah ya? Itu aja untuk sekarang.
Jaga diri kakian baik-baik, blogs :)

selamat malam

Sabtu, 07 September 2013

From History to Story

Selamat malam, blogs :D

Assalamu'alaikum.

Sudah lama sekali ya gue gak posting. Maaf ya, gue sibuk di wilayah 2 ini. Sibuk apa? Banyak. Kuliah, main, istirahat, makan, tidur dan lain-lain. Pokoknya sibuk deh. Jadi gak ada waktu buat post lagi.

Apa kabar kalian? Yang dari wilayah satu gimana? Yang jauh di sana baik-baik aja kan? Ya, semoga kalian semua baik-baik aja ya.

Anyway, kali ini gue belom mau cerita tentang wilayah 2 ini. Masih gak mood. Kali ini kita bahas cerpen aja ya? Oke deh. Simak yap!

Yang suka baca cerpen gue mana suaranyaaaaaa?! "Krik krik krik".
yang udah ngevote buat award cerpen gue mana semangatnyaaaa?! "..........." -___-.

jadi, blogs, masa gak ada yang ikutan voting cerpen gue -_-. Ada sih tapi cuma 1 orang. Mana bisa dijadiin award. Karena itu awardnya akan gue batalkan secara objektif. Sebagai gantinya, gue sendiri yang akan memilih award buat cerpen gue sendiri.

tapi sebelumnya, gue mau bahas cerpen gue satu per satu dulu.
Dimulai dari....

Dream World Adventure.
Ada yang udah baca? Inilah cerpen pertama gue.  Cerita tentang dunia fantasy yang pingin gue wujudkan. Kalo udah baca, DWA 1 itu beneran dari mimpi tapi seri berikutnya adalah imajinasi.

Dream World Adventure ini menceritakan petualangan  seorang anak yang super imajinatif di alam mimpi bersama teman khayalannya. Anak ini punya misi untuk mengalahkan Pandemonium. Apa itu Pandemonium? Gue gak tau -_-. Pokoknya itu sejenis penguasa kegelapan gitu deh. Nah, untuk mengalahkan Pandemonium ini, si anak harus mempelajari Lucid Dream, tehnik untuk mengendalikan mimpi.

karena DWA itu cerpen peetama gue, kalian pasti bisa ngeliat gaya penulisannya yang masih gak konsisten. Kadang gak jelas juga dengan semua sihir yang gue tulis.
Kalo gue baca lagi sekarang sih fak seru. Tapi waktu gue  dulu nulis sambil imajinasiin itu, sumpah, seru banget! Lebih asik dari harry potter -_-. Andaikan kalian bisa liat imajinasi gue..... kalian mungkin pingsan -__-. Dream World Adventure ini aslinya ada 8 seri. Tapi yang gue post cuma 7. Males ngelanjutinnya. Lagian gaya penulisan gue terlanjur berubah jadi ya udahlah. Kalian aja yang imajinasiin sisanya.

Berikutnya ada.....

Di Bawah Langit.
Tau, kan? Ini salah satu cerpen terkenal *hoek* gue. Cerpen pertama yang gue masukan unsur puisi di dalamnya. "Daun yang jatuh tidak pernah membeci angin," ini kata-kata gue ambil dari judul novel. Tapi gue gak pernah baca novelnya.

Di Bawah Langit bercerita tentang Me, laki-laki pendiam nomaden yang berteman dengan You, seorang perempuan cantik berambut panjang yang menyukai puisi. Kenapa namanya Me dan You? Karena gue gak jago nyari nama buat character gue -_-. Itu bagian paling malesin. Lagian emang tadinya Me itu adalah gue kok.

Coba deh perhatikan adegan awal cerpen ini adalah Me yang sedang termenung di pinggir sungai. Ini gue ambil dari pengalaman gue waktu kelas 10 di kampung Naga. Waktu gue memperhatikan suara aliran sungai dan orang-orang gak ada yang ngerti. Inspirasinya cuma itu doang. Sisanya imajinasi gue yang bekerja.

Rangkaian puisi yang gue tulis di cerita ini juga asli bikinan gue loh. Keren ya? Pastinya B). Terus pesan moral yang ingin gue sampaikan pun udah jelas ya? Itu jadikan tersurat di awal dan gue tegasin lagi di akhir cerita. Yaitu, apa pun yang terjadi dalam hidup kita, kita gak boleh nyalahin takdir. Ya gitu deh. Oiya, kabarnya ini jadi cerita paling menyedihkan yang pernah gue bikin. Bener gak menurut kalian?

lalu yang ketiga ada....

Ridiculove.
Awalnya judul cerpen ini adalah "As Ours" tapi ini jelek. Karena cerita ini mengandung sedikit unsur kejahilan maka gue rubah jadi "ridiculove". Tokoh utamanya adalah Al dan Aria. Al adalah cowok kreatif yang jail banget. Kontras dengan Aria, seorang perempuan polos.

Sifat Al yang jahil ini diambil dari pengalaman gue waktu SD. Pengalaman yang mana, dit? Yang sms temen sekelas dan ngaku sebagai cewek. sumpah ini gue lakuin waktu kelas 6 dan ini menggegerkan angkatan gue. Sampe walikelas gue pun ikutan penasaran -_-.

Gue dulu ngaku sebagai Nia, cewek misterius kelas 6 sd, yang ngajak kenalan teman-teman gue. Itu sampe diajakin ketemuan loh bahkan diajakin pacaran -____-. Gue sempet dicurigain juga dan hampir ketauan. Kalau udah begitu, gue tinggal bilang gue juga disms sama cewek namanya Arisa -___-. Dan mereka pun percaya. Dasar otak anak sd -_-.

gue suka alur cerita ridiculove ini. Walau gampang ketebak. Gue suka sifatnya Aria yang polos lugu gitu. Dan berharap bisa nemu perempuan macam ini di dunia nyata juga -_-. Lalu, berdasarkan voting dari satu orang itu, ridiculove memenangkan kategori Ending Terbaik :D selamat!

keempat ada......   Apa sih?
High and Low ya? Iya, tokoh utamanya adalah Fizan, seorang anak biasa kelas 2 SMA. Atau 3 ya? Kayaknya sih 2. Dia bersekolah di SMA favorit tapi merasa sekolahnya gak layaj disebut favorit. Fizan bertemu dengan Nita, seorang gadis populer di sekolahnya. Fizan harus menghadapi berbagai macam persepsi orang disekitarnya karena Nita. Bahkan persepsi terhadap dirinya sendiri.

High and Low ini gue ambil dari persepsi gue tentang kisah pasangan yg beda golongan. Ini kayak Ftv sih. Kaya sama miskin atau Kota dan desa. Ya taulah.

Dari semua cerita gue, High and Low ini yang paling gue suka gaya bahasa penulisannya. Apalagi pas bagian akhir Nita nangis di taman itu. Kata-kata Nitanya keren banget.

Next..
You, Me and Dandelion's dance.
Lanjutan dari 'Di bawah langit'.
ini menceritakan kisah You dan Me yang sudah beranjak dewasa. Ada karakter baru yaitu Ginta sama Alfi. Ginta adalah seorang cowok sastra indonesia seperti You. Ginta ini tertarik sama You. Keliatan dari sikapnya dia. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.

"Kenapa bertepuk sebelah tangan, dit?"
terserah gue dong  kan gue yang nulis -_-.

Alfi seorang gadis ceria yang asik gitu. Hobinya minum air putih. Gak tau kenapa. Mungkin biar sehat. Dia ini sahabatnya You sama Ginta. Dia menyadari perasannya Ginta ke You. padahal aslinya... mungkin dia punya perasaan juga ke Ginta.

Dalam cerita ini, pelajaran berharganya lumayan banyak. Tertulis di bagian akhir. Di sini gue mau ngungkapin sudut pandang gue tentang kehilangan seseorang.
Juga tentang "hidup ini bukan perlombaan siapa yang paling menyedihkan kisah hidupnya. Tapi siapa yang bisa menemukan kebahagiaan sekecil apapun di tengah kesedihannya," ya semcam itulah.

Oiya, puisi-puisinya gimana menurut kalian?
"Aku adalah hitam.. bagai bayangan yang memperhatikanmu dari sisi gelapku.
Dan aku hanyalah hitam..
Bagai bayangan yang berharap kau jatuh dan menemani sepiku," :)

Berikutnya, Sebuah Misi Sederhana.
ini kisah nyata. Pengalaman gue sendiri. Dari mulai beli komik, cukur rambut, sama debat itu. Tapi donor darahnya sih belom. Gak jadi karena suatu hal.
Tukang cukur yg ada di cerita itu beneran. Waktu cukur, biasanya dia suka "mendoktrin" gue tentang umat manusia. ini menarik. Soalnya dari semua penjelasan dan cerita dia, gue belajar buat lebih peduli ke sesama.

Blogs, lanjut di post berikutnya ya

Rabu, 07 Agustus 2013

Lonely Winter: End of Dream

Aku tiba di stasiun kota. Stasiun yang sangat aku kenali dengan sejarah pertemuanku dengan seorang gadis dari mimpiku.

Entah kenapa aku kembali ke tempat ini. Sendiri tanpa tempat tujuan untuk melanjutkan. Untuk bernostalgia? Tidak. Aku rasa aku hanya ingin ada di sini. Ya, seorang diri di tempat ini.
Tapi mana mungkin? Stasiun kota selalu saja ramai. Orang-orang berlalu-lalang melewatiku yang hanya berdiri termenung. Tak ada yang bertanya tentang apa yang aku pikirkan. Tak ada yang peduli. Aku sendiri ragu mampu menjawabnya seandainya benar ada yang bertanya. Kenapa? Aku tidak tau. Pikiranku terlalu penuh sehingga terasa kosong.

Lonely Winter: Tears 2

Gelap. Pandanganku hitam pekat. Tubuhku terbujur kaku di pinggir jalan. Diam mati rasa. Aku berada di ambang batas kesadaran. Apa aku akan hidup kembali? Atau aku akan tertidur untuk selamanya?
Aku dengar langkah kaki orang-orang. Samar-samar aku dapat melihat mereka mendekat. Mereka memanggilku di sela-sela dengung yang masih mengganggu telinga.
"Kamu gapapa?" Tanya salah seorang yang mendatangiku.
Aku tidak menjawabnya. Dadaku terlalu sesak untuk bicara saat ini.

Aku lihat keadaan sekitar. Orang-orang berkerumun di depan mobil sedan yang menghantamku. Apa mereka meminta tanggung jawab dari sang pengemudi? Tidak. Kulihat ada jasad yang terbaring di depan sedan itu. Jasad seorang perempuan yang sangat aku kenal.

Lonely Winter: Batas kesadaran


Waktu menunjukkan pukul 20.27
Kami memutuskan untuk kembali ke stasiun.

Malam cerah di ibu kota. Gemerlap lampu di sepanjang jalan menghiasi jalan yang kami lalui. Ditemani suara hiruk pikuk kendaraan yang masih berlalu-lalang bersaing dengan lantunan lagu anak jalanan yang menengadahkan tangan penuh iba. Berharap kepingan receh dari sebagian mereka yang bahkan tak sudi menatapnya. Inilah ibu kota. Tempat yang keras dengan orang-orang yang tidak lagi peduli sesama. Aku pun begitu. Untuk saat ini.

Lonely Winter: Broken Promise

"Soal pacar itu... gue bohong,"
Pernyataanku barusan mengejutkan Cleva lebih dari sebelumnya.
"Sebenarnya gue nggak pacaran. Gue cuma pura-pura,"
"... Kenapa?" tanya Cleva.
"Karena gue gak boleh jatuh cinta sama lo, Clev,"
Entah apa yang dia pikirkan setelah kujawab pertanyaannya dengan sesuatu yang menurutku sangat konyol.
Sejenak keheningan merajai di antara kami.
".... Begitu ya," kekecewaan terdengar dari nada bicara gadis itu.
Sebenarnya aku tidak tega membongkar kebohonganku hanya dari mendengar suaranya barusan. Namun aku tetap melanjutkan dan mengakhiri ini semua.
"Lo inget janji kita di malam tahun baru?"

Lonely Winter: Frozen Crescent

Kami tiba di Arthapura, salah satu mall terkenal di kota. Tempat yang sama dengan waktu pertama kali aku melakukan perjalanan sia-sia dengan Cleva. Kali ini aku tidak ingin menjadikannya seperti tahun lalu yang hanya berjalan tanpa tujuan bersama perempuan aneh yang menuduhku pencopet.
Perempuan itu kini di sampingku. Berjalan berdampingan dengan mata terbuka lebar mengagumi dekorasi tahun baru di mall. Pernak-pernik natal juga menghiasi beberapa sudut toko. Tak lupa papan dan spanduk bertuliskan potongan akhir tahun tergantung di salah satu toko baju ternama. Walau pun begitu, bagiku tetap saja mahal.
Kami berhenti di restauran yang sama seperti sebelumnya. Aku sengaja memilih tempat ini untuk sedikit bernostalgia. Cleva pun tidak ada masalah dengan itu.

"Lo masih inget tempat ini 'kan, Clev?" kataku setelah kami duduk di tempat yang sama persis dengan tahun lalu.

Lonely Winter: December

December.
Sudah berbagai tempat aku kunjungi seorang diri. Dengan hobinya yang suka menjelajah, aku rasa Cleva juga begitu. Gadis itu hampir tak pernah lagi memberi kabar. Komunikasiku dengannya sudah terputus berminggu-minggu yang lalu. Kami tidak berusaha saling menghubungi lagi. Setidaknya aku begitu. Walau sebenarnya aku sangat ingin bertemu. Entah bagaimana rasa gengsi mulai menghalangi sejak kunyatakan aku punya pasangan. Aku tidak menyangka hal itu berpengaruh hingga sekarang.
Setahun sudah aku mengenalnya. Kini aku kembali ke tempat pertama kali kami bertemu. Stasiun Kota. Entah apa yang membuatku ingin ke sini. Aku memutuskan menutup perjalanan seorang diriku di tempat ini.
Hari telah menjelang sore saat aku tiba. Sinar oranye menerpa tiang-tiang stasiun yang tampak lebih usang. 
Sebagai stasiun utama, suasana stasiun Kota memang tetap ramai pada saat libur akhir  tahun. Antrean di loket terlihat cukup panjang. Beberapa pengantre saling serobot seperti biasa. Sementara yang lain hanya bersabar  dan sebagian mencoba menegur. Pemandangan biasa untukku.

Lonely Winter: Walk On Your Path

Beberapa waktu berikutnya aku mencoba lebih memahami Cleva. Melakukan perjalanan seorang diri tanpa tujuan. Aku ingin tau apa yang dia rasakan.

Aku mengunjungi tempat yang pernah dia ceritakan. Pemandian air panas dan yang lainnya. Tidak banyak yang bisa aku lakukan seorang diri di tempat semacam ini. Aku hanya berkeliling memandang hamparan alam hijau dari puncak bukit kapur yang dulu dia bicarakan. Memang tenang rasanya. Melepas penat dari rutinitas kehidupan. 
Aku bisa menghirup udara segar dan memperhatikan pengunjung lain. Senang rasanya, tapi tanpa Cleva.. ini tidak sempurna.

Aku juga pergi ke museum Rajawali. Sudah 9 bulan sejak terakhir aku ke sini. Patung burung besar yang dulu kulihat di pintu masuk masih tetap sama. Masih menganga dengan gagah berani. Begitu pula dengan ruangan koleksi museum Rajawali.

Aku memasuki ruang pepohonan. Ruang pertama dari serangkaian ruangan di museum ini. Tidak ada yang berubah. Tidak ada tambahan atau pengurangan spesies dari kunjungan terakhirku. 
Aku memperhatikan mahluk hidup hijau itu. Dulu aku hanya melihat strukturnya. Tapi kini, seperti Cleva, aku mulai mempelajari keterangan dari apa yang aku amati.

Di ruangan berikutnya pun begitu. Ruangan yang dipenuhi hewan. Mulai dari yang biasa aku lihat hingga jenis yang langka tak luput dari pengamatanku. Terkadang aku menemukan fakta aneh dari spesies yang sudah punah. Dulu aku hanya sekedar melihat bentuk mereka. Tapi sekarang aku coba mempelajari koleksi fauna di museum Rajawali.
Aku memasuki ruangan dengan kumpulan serangga. Tidak terlalu banyak pengunjung di ruangan ini. Hanya orang tua dan beberapa remaja yang mungkin seusiaku.
Berbeda denganku mereka tidak pergi seorang diri. Dari ruangan ini aku bisa melihat mereka belajar bersama, bercanda, serta mengambil potret diri mereka. Mendengar tawa mereka di tengah kesendirianku. Aku coba untuk tak acuh. Ku lanjutkan langkahku  hingga berada di depan satu koleksi serangga bersayap lebar. Kumpulan kupu-kupu.
Salah satu jenis serangga cantik itu menarik perhatianku. Kupu-kupu bulan sabit. Serangga yang hidup di puncak gunung. Cantik.. seperti Cleva.
Sesaat pikiranku kembali  ke hari kunjunganku bersama Cleva. Saat dia memberi tau arti namanya. Cresentia Cleva.. bulan sabit di puncak gunung. Nama yang cantik seperti dirinya. Andai dia ada di sini.. Apa yang akan dia katakan? Dia pasti akan membuatku salah tingkah dengan senyumannya lagi. Lalu dia akan kembali membahas berbagai fakta tentang flora dan fauna yang baru dia pelajari. Atau sekedar memandang sekelilingnya dengan raut wajah polos. Itulah Cleva. Seorang perempuan aneh dari mimpiku.
Cukup lama aku di ruangan serangga. Kini aku menuju replika gua tempat manusia purba. Relief di dinding serta tanaman rambat menjadikan semua terlihat nyata. Di kiri dan kanan gua berjejer patung manusia purba yang disesuaikan dengan kelompoknya. Lengkap dengan peralatan kuno yang dulu mereka gunakan. Ada juga tulang belulang yang ditata rapih termasuk sebagian kerangka dinosaurus. Sebagian menarik perhatianku. Misalnya tengkorak dinosaurus bertanduk yang ditemukan di Mojokerto. Bentuk tengkoraknya yang lebar dan kokoh membuatku membayangkan seandainya tengkorak itu digunakan sebagai perisai saat bertempur. Pastilah pasukan yang memakainya akan terlihat lebih hebat. Tapi itu hanya imajinasi. Hanya ada di pikiranku.
Aku selesai menjelajah museum Rajawali. Berikutnya aku memutuskan menuju restauran tempat dulu aku beristirahat dengan Cleva. Aku duduk di kursi yang sama.

Tak ada yang berubah selain orang-orang di sekitarku. Dan bangku kosong yang tergeletak di hadapanku. Dulu seorang perempuan murah senyum dan menyukai petualangan pernah duduk di sana. Dengan mata yang sedikit tertutup poni memandang ke arahku penuh rasa ingin tau. 
Dia mengusik sesuatu tentang mimpi yang telah ku lupa dan menceritakannya kembali dengan lengkung halus di bibirnya.


Pandanganku beralih pada barang elektronik yang sedari tadi aku genggam. Jemariku sibuk menekan berbagai tombol di layar. Aku kembali membuka folder foto yang sudah ratusan kali aku lihat. Foto bersama keluarga dan teman-teman. Setiap kali aku mulai merasa penat seorang diri, foto-foto inilah yang menjadi pelarianku untuk membunuh waktu. Sebenarnya ini kulakukan hanya agar aku terlihat memiliki kegiatan.  
Setelah foto, kini pesan singkatlah yang menjadi incaranku. Aku sering membaca percakapan yang menarik berulang-ulang. Mungkin bukan percakapannya, melainkan seseorang yang menarik yang berkirim pesan denganku. Tentu saja orang itu adalah Cleva. Aku tidak ingin lagi menyangkal perasaanku. Saat ini aku rindu pada gadis itu.

Aku coba menghubunginya. Tidak satu pun nada sambung yang terdengar. Sudah 5 kali kucoba dengan hasil yang sama. Panggilanku terputus begitu saja. Mungkin handphonenya mati.
Kembali aku amati sekelilingku. Tidak ada yang ingin aku lakukan lagi. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah.

Lonely Winter: Tentang Dia

Minggu demi minggu berlalu. Kini aku sudah duduk di bangku senior SMA. Berarti aku sudah harus mulai  mempersiapkan diri untuk masa depan. Mengurangi waktu bermain dan mulai mengikuti kursus. Inilah yang harus dilakukan seorang murid kelas 3 SMA. Setidaknya itu yang dikatakan guru dan orang tuaku.

Beberapa barang masa kecilku juga mulai tergantikan buku kumpulan rumus yang memenuhi lemari kamarku. Meski tertata rapi, bagiku tetap menyesakkan. Entah kapan aku akan mulai membacanya.




Waktu terasa lambat.  Gadis ceria yang biasa menghubungiku di dunia maya kini perlahan menghilang. Kami masih berkomunikasi hanya saja tidak sesering dulu. Wajar, aku dan Cleva sama-sama sudah ada di tahun terakhir SMA. Aku yakin dia sibuk. Mungkin memang begitu. Mungkin juga karena pertemuan terakhir kami. Aku rasa dia benar-benar menghargai keputusanku untuk menjauh darinya. Tentu saja alasannya pacarku. Ya, pacar khayalanku yang bodoh.

Sejenak aku berpikir. Tujuanku untuk menjauh darinya sudah tercapai. Dia tidak lagi menggangguku dengan cerita kesehariannya yang mengharuskanku berpura-pura bosan. Aku tidak perlu menyimak ocehannya tentang ilmu pengetahuan yang ia baca. Dan aku tidak perlu lagi menemani perempuan itu pergi. Ya, tidak perlu lagi. Dengan begini kami akan semakin jauh. Itu yang aku pikirkan. Tapi apa benar ini yang aku inginkan? Menjauh dari Cleva dengan alasan yang aku sendiri tidak mengerti. Hanya karena sebuah janji.

Komputer di sudut kamar yang menjadi media penghubung aku dan Cleva pun sudah jarang aku gunakan. Akun jejaring sosial Cleva yang dulu selalu aku tunggu berubah menjadi deretan huruf yang tak lagi aku hubungi. Aku tidak lagi melihatnya tertawa atau hanya sekedar tersenyum tipis melalui webcam. Tidak lagi membaca pesan-pesannya yang sering kali membuatku salah tingkah.


Sesuatu yang hilang mengundang sepi yang mulai merajai ruang hatiku yang sempit.  Aku sendirian. 
Tidak ada tempat untuk bercerita. Kepada teman-temanku di sekolah? Mereka tidak akan peduli. Keluargaku pun hanya akan menyuruhku belajar. Pacar khayalan? Apa yang bisa dia lakukan? Cuma imajinasi rendahan yang justru membuatku kehilangan Cleva.



Cleva pernah bilang kalau dia suka sendirian. Menikmati waktu seorang diri. Pergi tanpa tujuan, mengamati banyak hal tak penting atau semacamnya. Apa enaknya begitu? Kalau pun itu hobinya, tetap saja tidak akan menyenangkan bila dilakukan sendiri. Tidak bisa membagi apa yang kita pikirkan dengan orang lain atau bahkan hanya sekedar memiliki teman bicara. Rasanya pasti sepi. Apa Cleva benar-benar menikmati hal semacam ini atau sebenarnya dia  kesepian? 
Kenapa dia kesepian? Bagaimana pun dia pasti memiliki teman. Tapi kalau aku pikir lagi Cleva memang agak berbeda dari kebanyakan orang. Dia terlalu aneh untuk ukuran orang yang baru aku kenal. 
Menuduhku pencuri, memaksaku ikut dengannya, hinga membuat janji itu.


Aku coba menerawang jauh. Tidak ada yang salah dengan kelakuan Cleva. Semua tingkah dan kebiasaan bicara terus terangnya  adalah karena dia memang begitu. Itu yang membuat dia mudah akrab denganku. Bukan hanya itu, dengan sikapnya dia bahkan bisa menumbuhkan rasa yang sering aku salah artikan.
Setengah tahun lebih aku mengenalnya. Waktu yang singkat untuk menyimpulkan sifat seseorang. Tapi bagiku cukup untuk tau tentang Cleva. Dia tidak berubah. Dia masih memberi kabar kepadaku. Walau aku hampir tidak pernah membalasnya.

Puisi yang dia kirimkan di malam aku mengatakan sudah punya pasangan pun masih aku simpan. Tersimpan dalam folder khusus di komputerku bersama foto kami di museum. Hanya sedikit tapi cukup untuk kukenang. Di waktu senggang ku baca kembali bait-bait puisi Cleva.  Mencari tau makna di setiap rangkaian kata. Ada cinta juga air mata. 2 hal yang selalu terpikirkan saat ku ingat malam dimana aku memulai kisah cinta palsu. Jika aku adalah Cleva malam itu pasti aku cemburu

Selasa, 30 Juli 2013

Lonely Winter: Stupid Drama

Juli.
Aku mengangkat handphoneku yang berdering sejak tadi. Rupanya Cleva menelpon.

"Halo?" 
"Halo, Rig. Lo lagi di mana?" Melalui telepon aku bisa mendengar suara bising di sekitar Cleva.
"Gue di rumah, Clev. Kenapa?"
"Sibuk nggak, Rig?"
"Kenapa dulu?"
"Main yuk?"
"Main? Emang lo lagi dimana?" 
"Di stasiun deket rumah lo. Hahaha,"
"Hah? Stasiun Bromo? Ngapain? Lo sendirian lagi?"
"Iya, gue sendirian. Lo kesini dong," ucap Cleva

Sejenak aku ragu. Apa aku harus menemuinya? Tidak. Malas rasanya untuk pergi ke stasiun. Aku sedang tidak ingin berpanas-panasan di jalan. Belum lagi lalu lintas yang tersendat di pasar. Aku rasa ini cukup sebagai alasan untuk tidak menemui Cleva.

Senin, 29 Juli 2013

Lonely Winter: Tears

Beberapa minggu berlalu. Aku mulai sibuk dengan urusanku di sekolah. Ulangan harian, tugas, dan persiapan ujian menjagaku tetap sibuk di rumah. Dan Cleva? Aku masih berkomunikasi dengannya. Tentu saja melalui dunia maya.
Sejak pertemuan terakhir kami, aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan Cleva. Aku coba menolak kehadirannya dalam keseharianku. Karena... entahlah. Aku tidak tau kenapa. Aku rasa aku hanya harus menjauh darinya.
Namun seiring berjalannya waktu aku justru semakin sering berkomunikasi dengan Cleva.
Awalnya aku berusaha tak acuh setiap kami chatting di situs jejaring sosial, tapi Cleva seolah tetap memaksaku meladeninya. Membuatku ingin menjawab pertanyaan-pertanyaannya.  Sesekali aku menganggap dia pengganggu. Dia menghilangkan semangatku untuk belajar. Menggantinya dengan keinginan untuk selalu bicara dengannya. Dia pikir dia siapa? bagiku dia hanya pengganggu.

Lonely Winter: Priceless Dream

Cukup lelah aku dan Cleva berkeliling museum. Kami sudah menjelajah semua ruangan. Termasuk replika gua berisi manusia purba. Cleva sepertinya sangat senang di sana. Dia cukup antusias menpelajari sejarah manusia kuno itu. Berbeda denganku yang hanya melihat-lihat sepintas koleksi museum Rajawali.
Sekitar jam 2 siang Cleva dan aku memutuskan untuk makan siang di salah satu restauran cepat saji di dekat museum. Restauran ini cukup ramai. Rata-rata pengunjungnya adalah remaja seperti kami. Jika aku perhatikan sebagian besar pengunjung restauran ini berpasangan. Termasuk aku dan Cleva. Tunggu, aku dan Cleva bukan pasangan. Kami hanya teman. Ya, teman.

Setelah makan siang, kami tidak langsung beranjak pergi. Kami masih duduk di sini. Tidak banyak yang kami bicarakan.

Lonely Winter: Cresentia Cleva


Pukul 7.29 
Aku sudah berada di stasiun tempat kami akan bertemu. Aku tiba terlalu cepat. Entah apa yang membuatku mau datang lebih awal dari waktu yang ditentukan.


Aku menghabiskan waktu dengan memperhatikan aktivitas di stasiun ini.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini stasiun Kota terlihat lebih sepi. Antrean di loket karcis pun hanya 1 sampai 3 orang. Mungkin memang karena hari libur sehingga pengguna jasa angkutan kereta berkurang.


Pukul 7.56
kereta dari arah stasiun Ganesha tiba. Aku rasa inilah kereta yang mengangkut seseorang yang kutunggu. Seseorang yang pernah kutemui dalam mimpi.

Benar saja, tak berapa lama kemudian seorang perempuan mendatangiku.

Lonely Winter: Plan 2


2 bulan berlalu sejak aku mengenal Cleva. Kami tak pernah bertemu lagi. Tidak secara langsung. Kami hanya bertegur sapa di dunia maya. Lewat sms atau situs jejaring sosial. 
Sesekali juga melalui telepon.

Aneh. Perempuan itu selalu punya suatu hal untuk diperbincangkan. Hal-hal sepele yang banyak orang tidak peduli. Termasuk aku. Kadang aku tidak tertarik dan hanya setengah hati menanggapinya. Tapi dia tetap saja berbicara. Tetap ceria seperti biasa.

Februari.
Aku menyalakan komputerku yang mulai berdebu. Layar hitam itu perlahan berganti gambar-gambar animasi membosankan yang hampir setiap hari aku lihat. Tanpa basa-basi aku segera masuk ke situs jejaring sosial.

Seperti biasa, kulihat akun Cleva aktif. Sepertinya dia menungguku. Terbukti! Beberapa detik kemudian dia memulai chatting denganku. 

Selasa, 09 Juli 2013

Lonely Winter: I Won't Love You

Cleva menunggu balasan dariku. Aku tau dia pasti sedang berusaha menebak apa yang aku pikirkan. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang tergambar jelas di wajahku. Sedangkan perempuan itu masih dengan santainya tersenyum seperti biasa. Seolah ini adalah hal biasa.
"Rig, jangan bengong!" Dia kembali mengirim pesan singkat.
Aku tidak langsung membalasnya. Aku sibuk memikirkan lawan chatting-ku. Kenapa dia bisa membuat perjanjian seperti itu?  Orang ini sangat aneh. Aku tidak mengerti dirinya.

"Oke, Clev. Gue janji gak bakal jatuh cinta sama elo. Tapi lo juga janji gak boleh jatuh cinta sama gue,"
"Oke, Rigel. Hahaha," Cleva kembali tertawa ceria.

Lonely Winter: Tantangan

Aku menyalakan komputer di kamarku. Malam ini aku berencana untuk chatting dengan Cleva. Beberapa hari lalu aku sudah mendapat akun jejaring sosialnya.
Pertemuanku dengan Cleva dalam mimpi waktu itu belum aku ungkapkan. Aku rasa waktunya tidak tepat. Aku berencana untuk mengatakannya malam ini. Di malam pergantian tahun baru.

Jam 8 malam. Aku sudah login di suatu halaman website jejaring sosial. Jejaring sosial yang dilengkapi fitur chatting dengan menggunakan webcam. 
Aku lihat akun milik Cleva juga sudah online.


"Hai Clev," aku menyapanya lebih dulu. Dari halaman website ini aku bisa melihat wajahnya.

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented