Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2021

Dua kesendirian

Ini sangat gila!
Aku tidak tau apa yang aku lakukan selama ini.
Ada banyak hal yg kupikirkan. Saat ingin aku ungkapkan semuanya menghilang.

Aku ingin dia di sini. Dia siapa? Aku tidak tau. Ini menjadi semakin tidak jelas.

Kau terlalu memperumit keadaan. Aku ingin bicara padamu. Sebagai nurani. Kau memiliki banyak hal tapi tak ada yg kamu gunakan. Kamu berbeda dari orang lain. Kamu memiliki kesadaraanmu sendiri, pikiranmu sendiri. Tapi pikiran hanyalah pikiran. Bukan tindakan. Bukan kenyataan. Kelemahan itu sudah kamu sadari sejak awal. Tapi kamu tidak lakukan apapun. Karena itu aku menyebutmu Bodoh!

Apa yg aku inginkan selama ini? Jika aku tidak ingin ke sana lalu untuk apa aku melangkah kesana? Aku bahkan tidak tau harus melangkah ke mana.

Kamu tau harus kemana.. Nuranimu hidup tapi hatimu mati. Kenapa jadi rumit sekali?
Apa kamu tau kenapa aku sendiri? Aku tidak tau. Aku semakin mengandalkan rasa sepi ini.

Aku adalah jebakan untukmu. Jangan mendekat. Kamu tau harus kemana. Aku bukan tujuanmu. Bunuh aku! Sebelum cintamu semakin kuat!

Tidak bisa. Semua sudah terlambat.

Terlambat untuk kamu sadari. Tapi belum terlambat untuk berubah dan kembali. Kumohon... Kembalilah. Aku merindukan dirimu yang dulu.

Aku juga merindukan diriku yg dulu. Kenapa aku ada disini saat ini? Selamatkan aku!

Kau ingat perasaanmu yg dulu? Janji kita? Janjimu? Aku ingin kamu di sana.

Aku takut.. Pada apa? Aku ingin kembali... Apa yg menahanku? Bagaimana caraku membunuhmu?

Kau tau caranya. Tapi cintamu selalu memghalangi. Sial!

Aku iri dengan mereka. Aku ingin menjadi mereka.

Kamu adalah dirimu. Dirimu yg mana yg kau inginkan?

Menghilanglah!

Singkirkan cintamu!

Apa ini cinta?

Iya, pada kesepian. Kumohon pergilah..
Aku hanya sebuah jebakan untukmu. Kau tidak boleh mengandalkanku.

Tapi kita adalah..

Kita bukan teman. Aku tak pernah ada di dunia ini. Aku hanya akan menyeretmu ke duniamu.

Nada-nada

Seperti Nada yang mendenging di telinga. Kata-katamu adalah lantunan lagu yang tidak bisa kumengerti. Yang aku putar ratusan kali tanpa peduli arti. Hingga aku beranjak pergi,  hingga kamu menjelma sunyi.
Seperti Nada yang mendenging di telinga. Pertemuan kita adalah ketidaksengajaan yang direncanakan. Hanya sejenak. Menjadi secuil bahagia dalam beberapa hembusan napasku. Bahagia yang perlahan memudar bersama udara.  Hingga aku kehilanganmu atau kau yang kehilangan aku.

Sabtu, 17 September 2016

Lonely Winter: Pesan untuk Bulan

Hai Cleva.
Salam untukmu dari duniaku.

Bagaimana kabarmu?
Kau tak pernah lagi singgah dalam mimpiku. Kamu kemana? Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Ada banyak pertanyaan yang belum kamu jawab.

Hai Cleva
Aku mendengarmu berbicara tentang mimpi. Walau bukan padaku. Kamu tidak ingin membicarakannya padaku. Sempat saat itu mata kita saling menatap. Beberapa detik. Sejenak dirimu tersenyum. Cantik sekali. Senyuman yang membaur bersama air mata di pipimu. Cukup untuk membuatku memahami perasaanmu. Kesedihan yang ditorehkan oleh perpisahan.
Maaf aku tidak membalas senyummu. Bagaimana aku tersenyum saat tau akan merindukanmu lagi? Bagaimana aku tersenyum saat tau ini adalah perpisahan?

Hai Cleva, katakan padaku..
Mana yang lebih menyakitkan patah hati atau kesepian? Jika itu dirimu, kurasa kau akan menjawab kesepian. Orang-orang mungkin akan menjawab patah hati. Tapi kamu menghantamkan keduanya padaku. Sakit? Tidak apa. Aku sudah terbiasa. Kau tau kan Manusia bisa beradaptasi. Bahkan pada sesuatu yang mereka sebut "kesepian". Walau aku rasa tidak seharusnya begitu. Sebagai mahluk sosial manusia harus berontak dari rasa sepi. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah beberapa tahun berlalu.

Rasa sepi ini menjelma menjadi pikiran lain dalam diriku. Menjadi teman terbaik yang aku miliki dengan semua sifat yang aku inginkan padanya. Kami tertawa, belajar,  bercanda, berdiskusi, marah dan melakukan banyak hal lainnya. Walau hanya dalam pikiranku. Aku berpura-pura dia adalah kamu. Ini membuatku candu.
Karenanya aku pergi seorang diri. Mencoba menemukanmu. Aku ingin kamu membunuhnya. Membunuh rasa sepi itu. Merubah proyeksi pikiran itu menjadi nyata dalam dirimu. Tapi mungkinkah ini akan terjadi? Kamu pasti berpikir itu konyol.

Hai, cleva.
Perjalanan ini hampir membuatku lelah. Bisakah kita bertukar peran? Bisakah dirimu menemukanku? Aku akan menunggumu. Hingga saat itu tiba aku akan merindukanmu lebih lama lagi


Rabu, 06 Juli 2016

Mayat Hidup

Entah hari ke berapa sekarang.
Aku terbaring lemah dalam dekapan ranjang rumah sakit ini. Tersadar di antara ada dan tiada. Tubuhku utuh, hanya saja bukan lagi hak ku. Aku tidak bisa lagi memerintahnya untuk bergerak. Apa aku sudah mati? Belum! Kesadaranku penuh. Aku masih bernapas, jantungku masih berdegup. Walau sangat lambat. Tapi hanya itu, tak ada yg bisa kugerakkan.

Tubuhku menganggapku sudah mati. Tapi alat-alat di ruangan ini memaksaku untuk tetap hidup. Mereka yang memasangnya pasti tidak mengizinkanku pergi dari dunia ini. Mereka memaksaku menjadi mayat hidup. Menyiksaku dalam ambang pikiran tanpa batas.

Rasanya tubuhku terlalu lelah untuk beristirahat. Aku ingin bergerak, aku ingin berteriak!

"Aku ingin mencipta sebuah karya!"
"Bergeraklah wahai raga!"
"Bangkitlah penjara jiwa!"

Tapi yang tersisa hanya nyawa.
Yang dipaksa melekat pada tubuh lumpuhku. 

Hingga dosis pertanyaan harian yang kolantarkan untuk diriku adalah, "kapan aku akan mati?"
Aku sudah lebih dari setengah perjalanan ke sana. Hanya tinggal beberapa langkah. Aku sudah pasrah.

Minggu, 19 Juni 2016

Disc 2 Chapter 6

Disc 2 chapter 6: Human!
Terdapat milyaran kehidupan di dalam diri manusia. Berani sekali kau menyebut dirimu kesepian!

Disc 2 Chapter 6: The Answer is..
Kau bertanya apa yang diinginkan seseorang yang bersembunyi dibalik kesepian? Mereka hanya ingin ditemukan.

Disc 2 Chapter 6: evolution!
Perjuangan adalah bentuk pemaksaan terhadap diri sendiri. Kau harus cukup egois dengan rasa lelahmu

Disc 2 Chapter 6: Weak!
Kamu lemah karena kamu tidak menyadari bahwa kamu kuat.
Kamu merasa gagal karena kamu tidak tau bahwa kamu bisa berhasil

Disc 2 Chapter 6: No future
Kamu tidak akan bisa menjangkau masa depan. Sekali pun jaraknya hanya 1 detik dari saat ini

Disc 2 Chapter 6: I am the Symtomp and You are the Cure.
Loneliness is dangerous. It's addicting. Once you see how peacefull it is, you don't want to deal with people

Disc 2 Chapter 6: Retlina
Orang yang lain
Nama yang lain
Perkenalan yang lain
Dan mimpi yang lain
Aku mulai lelah dengan harapan ini

Disc 2 Chapter 6: Jawaban
Senyum yang kulihat di wajahmu menyiratkan kebahagiaan dan kesedihan yang berdampingan, pertemuan dan perpisahan yang bergandengan, serta mimpi dan kenyataan yang bersebrangan. Ah.. Rasanya aku akan merindukanmu lebih lama lagi.

Disc 2 chapter 6: Dasar Manusia!
Kamu lemah,
Kamu kalah,
Tapi kamu adalah manusia.
Kamu kuat
Kamu  hebat.
Tapi kamu hanyalah manusia..

Jumat, 08 April 2016

Catatan buku biru: Laba-Laba Mimpi dan hujan

Untukmu laba-laba mimpi.
Sehelai jaringmu terbang ke arahku.
Membawa pesan yang tak sanggup disampaikan hujan.
Kudengar kau beranjak dari simpang jalan yang kau tapaki.
Kau melangkah beberapa jengkal lebih jauh dariku.

Maaf, aku tidak rindu.
Aku takkan menfirim sekotak rasa kehilangan padamu. Aku hanya akan mengirimkan do'a dan berharap kau baik-baik saja

Hai laba-laba mimpi
10 helai benangmu melintas melewatiku.
Membawa pesan yang tak bisa lagi aku baca.
Menyajikan berbagai cerita yang perlahan terhapus hujan, terbelit menjadi rumit.

Maaf, aku enggan mengurai.
Karena salah satunya adalah bahagiamu. Sisanya hanya suara rintik hujan.

Aku suka hujan.
Mereka turun bergerombol.
Membawa harapan pada tanah gersang. menyamarkan air mata hati yang terluka.
Menjadi kenangan singkat aku dan kamu.

Maaf, hanya aku. Bukan kamu.
Aku rasa kamu lupa.
Tapi malam itu aku mengingatkanmu..
Tentang hujan..
tentang kebetulan yang ada di antara kita..
Dan tentang sehelai perasaanku yang berusaha menjangkaumu..

Minggu, 31 Januari 2016

Disc 2 Chapter 5

Disc 2 chapter 5: Dua waktu (prologue)
Detik ini akan menentukan detik berikutnya
Menit ini untuk menit berikutnya
Jam ini untuk jam berikutnya
Hidupmu saat ini untuk hidupmu berikutnya.
Katakan padaku, kau inginkan masa depan yang seperti apa?

Disc 2 Chapter 5: World of silent
Kata-katanya telah membungkamnya.
Ekspresinya telah menguburnya.
Kau tidak bisa lagi mendengar hatinya berteriak,
"Tolong Aku..!"

Tapi Dia tidak begitu

Disc 2 Chapter 5: Behind The Scene
Kisah yang aku ceritakan padamu adalah rahasia. Ketangguhan yang kau lihat padaku adalah rahasia. Jangan kau katakan apapun pada dunia. Karena kau adalah rahasia

Disc 2 Chapter 5: Blackhole
Drag me to loneliness and you'll find the third.
Complete those missions, you'll get the second.
Stay beside me, you'll get to know the first.
In some random events i'll tell you the truth.

Disc 2 Chapter 5: Berpijak pada angin
Rasa kehilangan akan sesuatu memberimu lebih dari cukup untuk berusaha mendapatkan segalanya. Akh! Aku tau ini hanya rasa sementara.

Disc 2 Chapter 5: Tahun ke 7
"Semenyedihkan apapun dirimu saat ini, keberadaanku adalah sesuatu yang akan kau tertawakan nanti. Terimakasih karena masih menganggapku ada"

Disc 2 Chapter 5: dirimu semu.
Bertemu denganmu di dalam mimpiku hanya menambah daftar panjang rasa rinduku. Tunggu, aku bahkan tidak tau siapa kamu.

Disc 2 Chapter 5: Shadow
Cepatlah pergi!
Aku ingin merindukanmu

Disc 2 chapter 5: This time, This Cursed

Waktu adalah uang.
Waktu adalah pedang.
Tak peduli apa katamu,
Kamu tidak bisa mengutuk waktu tanpa mengutuk dirimu..

Disc 2 chapter 5: Seperti cermin
Mereka bilang, "mulutmu, harimaumu".
Benar. Kata-kata yang keluar dari lisanmu mencerminkan apa yang ada di pikiranmu..
Kecuali kamu seorang pembohong

Disc 2 Chapter 5: Dangerous Desires
Ada banyak pembunuhan di dalan pikiranmu. Untunglah kamu seorang pengecut.

Disc 2 Chapter 5: Evening Flow
Kau terpelanting, kau terbanting..
Seperti sungai dan hujan..

Disc 2 Chapter 5: The edge of Evening
Kembalilah! Aku punya janji dengan dirimu di kala itu

Disc 2 Chapter 5: You
Jika aku mengatakan aku pergi sendirian bersamamu, lalu siapakah dirimu?

Minggu, 01 November 2015

Masih Ada

Taukah kamu, saat ini mungkin mereka yang telah pergi meninggalkan kita tengah menderita di alam sana.

Apa kau dengar teriakan mereka? Tidak.
Apa kau tau apa yang mereka teriakan? Penyesalan.
Apa kau sadar apa yang mereka inginkan? Kesempatan.

Ya, Kesempatan untuk hidup kembali. Kesempatan untuk beribadah walau hanya sekejap.
Untuk menahan perih pedihnya siksa. Untuk kunci membuka surga

Namun percuma bagi mereka, lain hal dengan kita.

Kesempatan masih singgah.
Hidup masih betah.
Penyesalan masih berbenah. Belum menghampiri.

Lantas, apa yang akan kita persiapkan?
Bagaimana kesempatan akan kita perlakukan?

Jarak Antara Kita

Wahai saudaraku..
Akh! Tak pantas rasanya kau menyebutku saudara. Setelah aku meninggalkanmu menghadapi penderitaanmu sendirian. Seolah kita adalah tubuh yang terpisah. Atau akulah bagian yang tersuntik anastesi. Aku tidak lagi merasakan perihmu..

Katakan padaku, kawan..
Bagaimana kamu bisa sekuat itu bertahan?
Bagaimana dirimu bisa menggenggam keyakinan itu begitu erat? Sedang disini aku hampir meloloskannya dari genggamanku..

Katakan padaku, kawan..
Seperti apakah mati itu?
Sakitkah rasanya?
Adakah ia sama dengan terbangun dari mimpi panjang yang fana?

Ceritakan padaku, duhai sahabat..
Seperti apakah maut yang datang menggandeng dirimu?
Seperti apa dunia yang menunggumu di alam sana?

Aku khawatir wahai teman..
Kau akan meminta pertanggungjawabanku saat bibir ini tak bisa lagi memuntahkan beribu alasan.
Saat tangan dan kaki mengeluh karena aku tuan mereka yang begitu hina.

Dimana diriku saat kamu tersiksa?
Dimana diriku saat kamu menangis?
Bagaimana aku mengeluhkan panasnya siang saat api membakar rumahmu?
Bagaimana aku bisa bersantai saat air menghujaniku sementara peluru menghujanimu?

Kami tidak sebanding denganmu..

Di sana, para wanita mati-matian mempertahankan kehormatannya, sementara disini mereka rela menghinakan dirinya. Bukan hanya remaja. Bahkan juga orang tua. Atas dasar "gaya" katanya.

Di sana, orang-orang berlomba-lomba mengerjakan shalat. Di sini kami menundanya bahkan tak jarang terlewat.

Di sana, orang-orang bertaruh
nyawa datang ke masjid tapi masjid dirobohkan. Di sini, orang-orang tak peduli dengan nyawa tapi masjid ditinggalkan.

Di sana, orang-orang berjerihpayah menyampaikan dakwah. Di sini, dzikir pun jarang. Yang keluar dari lisan ini hanya makian, hinaan, hujatan, tawa dan permintaan.

Bagaimana bisa kami berkata "kami adalah orang yang baik, saat aib kami begitu besar?"

Bagaimana kami bisa mengira kami akan masuk surga, saat bahkan tak ada jalan untuk keluar dari neraka?

Bagaimana kami membanggakan kecerdasan otak, saat kecerdasan sesungguhnya adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya?

Bagaimana kami masih sibuk mengejar harta dengan teknologi mutakhir saat sebentar lagi dunia akan berakhir?

Ya Allah..
Kami harus bagaimana?
Kami ingin menjadi orang yg bermanfaat..
Kami ingin menolong mereka..
Kami ingin menolong agamaMu..
Bolehkah?

Minggu, 09 Agustus 2015

Disc 2 Chapter 4

Assalamu'alaikum!

Bloooogs, gimana kabarmu?
Kabar gue baik-baik aja dong. Seperti biasa, gue harap kalian juga baik dan semakin luar biasa ya. Semoga ada yg ngasih komen di blog gue terus blog gue jadi terkenal juga.

Anyway, kali ini gue akan menambah label Kata-kata yg udah jarang banget gue post. Judul post ini Disc 2 Chapter 4. Kalau kamu punya line dan liat Timeline gue pasti akan menemukan kata-kata ini. Kalau mau liat add aja idline: 1arya4.

Ada yang tau maksud dari Disc 2 Chapter 4? Well, Gue udah pernah jelasin apa maksud dari Disc 2 Chapter 4 di post sebelumnya. Dan gue agak malas menjelaskan ulang. Soo coba saja cari sendiri ya. Di post yg 15 Facts kalau gak salah.

Disc 2 Chapter 4 ini menceritakan berbagai hal yg gue alami selama semester 4. Karena labelnya "kata-kata" tentunya ini dengan bahasa puitis atau semacamnya. Setiap paragraf dari disc 2 chapter 4 ini memiliki arti dan kisah masing-masing. Tenang aja, akan gue jelaskan kok.
Baiklah! jika kamu sudah siap, mari kita mulai!

1) Disc 2 chapter 4: prolog
Tirai yang menutup panggung dunia akan tersibak. Sebuah kisah baru akan dimulai..  antara aku, waktu, rintik hujan dan satu nama di jendela kaca.

Ini awal gue masuk semester 4. Waktu mau berangkat ke wilayah 2 tuh hujan deres banget dan macet parah gara-gara banjir. Gue hampir telat naik kereta. Makanya saat itu kami (gue, mama, dan supir taxi) harus berpacu dengan waktu sebelum gue tertinggal. Lalu satu nama di jendela kaca adalah.. Seseorang yg gue pamitin.

2) Disc 2 chapter 4: The Black note.
Semua terulang. Kau menghilang. Yang tersisa hanya catatan hitam pada kertas lusuh yang aku tinggalkan di  dalam kotak itu.

Actually gue lupa ini tentang apa. Kayaknya gue teringat sebelum ada urf. Gue menggunakan kertas hitam untuk curhat dan sekarang gue segel di black box di kamar gue.

3) Disc 2 chapter 4: The Lost Memory
Sepotong kenangan semu yang terserak di benak membawaku kembali ke sini. Walau hanya sendiri, aku berjanji.. Aku akan menemukan kita.

Ini tentang sebuah kenangan dari sebuah gambar yg udah lama banget gak gue liat. Kenangan yg ngebuat gue tersenyum dan rindu. Gambar dan cerita di tanggal 13 Mei 2011.

4) Disc 2 chapter 4: tarian bulan
Senyuman yang indah dari wajah yang hanya menatapmu sebelah mata.

Tarian bulan.. Simple sih. Ini pas gue ngeliat bulan sabit. Bulan sabit itu bagaikan senyuman. Tapi karena hanya sebagian yg bersinar maka gue anggap pandangan sebelah mata.

5) Disc 2 Chapter 4: Downsanian
Diamlah! Aku tidak bicara padamu. Aku bicara pada nuranimu.

Disini gue mulai berubah. Dari berbagai masalah di kampus, gue ingin coba merubah keadaan dengan cara gue dan melawan downsanian. Yap, dengan menyerang nurani mereka

6) Disc 2 chapter 4: Sebuah misi sederhana untuk umat manusia
Ini tentang
Bagaimana kamu hidup
Bagaimana kamu mati
Bagaimana kamu akan dikenang
Targetmu adalah Reputasi Langit!

Yang ini tentang misi rahasia gue. Gue berpikir untuk apa hidup gue. Dan apa gunanya gue hidup. Dan saat itu gue temukan tujuan gue. Reputasi langit!

7) Disc 2 chapter 4:  stranger's arrow!
Yang aku bidik adalah hati nuranimu..
Sebaiknya kamu tidak bergerak,
Aku tidak ingin panah ini menembus jantungmu

Lanjutan dari misi ngelawan downsanian. Gue mulai bertindak nyata dengan selebaran dan kata-kata atau quote. Tapi gak terlalu efeksih. Kurang effort.

8) Disc 2 chapter 4: Ruang tunggu fatamorgana
Bertahanlah! Hanya 1 detik lebih lama di setiap detiknya.

Tentang bagaimana supaya gue tetap bertahan di pilihan gue. Saat banyak cobaan dan ujian dari mana-mana berupa dunia. Gue harus bertahan.

9) Disc 2 Chapter 4: Celah pada gelombang

Kita bagaikan karang yang berdiri kokoh dan siap dihantam ombak..
Tidak! Kita bagaikan karang yang bertahan jauh dari bibir pantai dan siap memecahnya.

Ini pas ujian tengah semester kayaknya. Mengisahkan tentang gue dan temen-temen yg udah sering menghadapi ujian. Gak tau juga sih gimana temen-temen gue. Tapi gue berpikir gue bukan lagi orang yg terima atau pasrah aja disuguhkan ujian. Gue harus siap untuk menghadapi ujian tersebut. Bagai karang yg memecah ombak

10) Disc 2 Chapter 4: Badai di akhir hayat
Badai pasti berlalu..
Menyisakan dirimu
Yang tersenyum seindah pelangi
Atau hancur laksana reruntuhan bangunan..

Ini pas minggu chaos. Biasalah praktikum + organisasi. Diri ini mulai paham bahwa ujian pasti berlalu. Hanya masalah waktu. Tapi hasil dari ujian itu tergantung tindakan kita untuk menghadapinya. Akankah kita menjadi kuat atau hancur berantakan?

11) Disc 2 Chapter 4: Purnama, Sendiri...

Aku tau kau menangisi keindahanmu
Saat ku dengar gemuruh duka yang berharap kau bukanlah dewa

Bait dari puisi yg paling gue suka. Menggambarkan seseorang yg ingin menjadi orang yg bisa diandalkan tapi nggak mau diandalkan teman-temannya. Kenapa? Karena itu hanya akan menjadikan dia sendirian.

12) Disc 2 Chapter 4: After Rain
I am a black rainbow
Flying into the night
Noone can see me
For now..

Hasil dari ujian yg gue hadapi. Gue kalah. Tapi gak sepenuhnya kalah. Kayak pelangi hitam ditengah malam. Ada tapi tak terlihat indah.

13) Disc 2 Chapter 4: Awal, Akhir, dan di antara keduanya
Kemenangan sejati adalah kemenangan yang tidak ada lagi pertarungan setelahnya. Jika itu dirimu, kau pasti mengerti. Kembalilah..

Ini sesuatu yg menginginkan gue untuk bangkit setelah kekalahan gue. Menggambarkan tentang tujuan akhir hidup kita. Tentang kemenangan yang dijanjikan.

14) Disc 2 Chapter 4: Kamu Ada
Aku mengerti. Manusia cukup lihai dalam beradaptasi. Bahkan terhadap hal menyedihkan seperti kesepian.

Tentang kemampuan manusia. Gue mengerti beberapa hal dalam diri gue. Keajaiban dari manusia

15) Disc 2 Chapter 4: Malam Melaju.
Hujan di pagi hari tak menyapaku hari ini.
Syukurlah, masih ada sisa embun malam yang sempat aku kantongi. Cukup untuk mengukir namamu. Tapi tidak untuk kita.

Pas gue balik dari wilayah 2. Musim kemarau.
Tentang perasaan yg mungkin bertepuk sebelah tangan. Dan cinta yg terembunyi.

16) Disc 2 Chapter 4: Tears After Cloudy Weather.
Seperti berpijak sebelah kaki di tengah mata badai. Aku terlalu mencintai rasa sepi ini... Sial!

Tentang diri gue sendiri. Gue membandingkan perasaan gue ketika sendirian dan ketika bersama temen-temen. Guess what? Rasanya lebih enak sendirian. Tapi gue sadar itu gak boleh dibiarkan.  Berpijak ditengah mata badai itu artinya sendiri ditengah keramaian. You feel safe.. And lonely.

17) Disc 2 Chapter 4: Terlalu Nyata
Setelah 6 tahun bersama harusnya aku melupakanmu di tahun ke 2.

Tentang urf. Udah 6 tahun sama dia dan itu adalah sebuah kesalahan fatal

18) Disc 2 Chapter 4: Half-soul
Bunuh aku..
Lalu keluarlah dari duniamu..

Ini juga tentang urf. Dari urf malah. Dia mau gue berubah. Dia pengen gue gak mengandalkan dia dan lebih bersosialisasi dengan yg lain. Gue harus keluar dari dunia gue dan jadi "normal".

19) Disc 2 Chapter 4: Antara Kau dan Aku (Epilogue).
Akhir cerita ini selalu kutemukan saat aku sendiri bersamamu. Aku mencintaimu..
Dan kau tau aku benci itu

Me-time. Pencarian jati diri dan ajang menenangkan pikiran. Berkutat dengan pikiran dan dunia gue sendiri. Lagi dan lagi. Aku baru sadar rasa sunyi ini membuatku candu.

Baiklah, blogs. Itu disc 2 chapter 4. Gak terlalu detail sih. Tapi gue sangat menikmati setiap kata dan makna di setiap baitnya. Ada cerita di sana. Bagus gak kata-kata puitis gue? Keren lah ya hehehe.

Well, gue akan melanjutkan ke disc 2 chapter 5. Entah apa yg menunggu untuk gue hadapi. I bet it gonna be awesome!  Wait for it, okay? :)

See you later, blogs ;)
Assalamualaikum

Sabtu, 28 Februari 2015

Kalau gue pacaran....

Assalamu'alaikum, blogs!!

"Waalaikumsalam, dit!! Tunggu, sebelum lu mulai basa-basi tentang post kali ini, gue shock ngeliat judulnya dan gue mau bilang.. GAK MUNGKIN!! Mustahil adit punya pacar! Mimpi punya pacar aja gak pernah!" - blogs.

Kurang ajar -___- gue belum mulai udah dihina... Blogs jahat banget! Kayak urf :'(
Ah sudahlah.. Gue tetep akan bercerita seandainya gue..
"Dit, mending gak usah. Gue tau ini akan menyedihkan dan hanya akan jadi khayalan semata.. Jadi jangan diteruskan. Demi hatimu yang rapuh, Gue mohon..." Ucap blogs dengan penuh memelas
Bawel banget sih -_-. just dead already!

Jadi...

Minggu, 21 September 2014

Catatan Buku Biru: Laba-laba Mimpi

Untukmu yang perlahan pergi..

sebuah cerita di mulai ketika kita bertemu dan tak akan berakhir bahkan ketika kita berpisah..

hai laba-laba mimpi..
bagaimana kabarmu?
Aku dengar kamu mulai dicintai seseorang..
setelah cukup lama aku terjerat dalam jaringmu,
bukannya memangsaku, kamu justru pergi membuat rumah baru.
tidak masalah bagiku.. kau masih sering kembali.
walau hanya sejenak dalam waktu yang sangat lama. setidaknya aku tau kamu baik-baik saja.

Hai laba-laba mimpi..
Ingatkah kamu pada obrolan hujan?
saat aku berdiri di depan pintu waktu itu..
kau orang pertama yang mengetuk dan mengganggu kasihku pada hujan,

Dan kita bicara..
entah tentang apa.. 
ia terlupakan oleh logika tapi sanggup tertoreh pada secuil rasa..

Dan kita tertawa..
entah karena apa..
ia tak teringat oleh otak namun masih menggema di telinga..

Dan aku jatuh cinta..
entah pada apa..
tak bisa aku rasa tapi bisa aku terka.
mungkin kepadamu

Hai laba-laba mimpi...
maaf jika aku ragu
aku ingin menceritakan rahasiaku padamu.
tapi aku yakin kamu tidak peduli.
aku ingin kamu ada di duniaku.
tapi aku yakin kau tidak akan mau tinggal.

Duhai laba-laba mimpi..
maaf bila aku tidak menggunakan hatiku secara utuh untuk bersamamu.
hingga kini aku sadar kamu akan pergi dan aku tidak bisa mencegahmu.
walau belum sepenuhnya terlambat, namun aku enggan mencoba.
biarlah kamu pergi sesuka hatimu,
karena aku akan menunggu sesuka hatiku..

Dan untukmu, laba-laba mimpi..
Bisakah kita bertemu kembali dalam mimpi?
untuk aku sampaikan kepadamu,
sehimpun kata maaf..
segenggam rasa terimakasih..
dan setangkai ucapan selamat tinggal..

aku mencintaimu 

Kamis, 28 Agustus 2014

Cintaku Seperti Ilmu Tajwid

Saat pertama kali berjumpa denganmu, 
aku bagaikan berjumpa dengan saktah, 
hanya bisa terpana dengan  menahan nafas sebentar…
 Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati diantara
idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada…
Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti
Idzhar, jelas dan terang…
Namamu ibarat ikhfa bagiku, selalu mendengung-dengung
ditelingaku…
Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika
aku bertemu dirimu, itu disebut cinta…
Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu
seperti Idgham mutamaatsilain…melebur jadi satu.
Cintaku padamu seperti Mad Lazim, Paling panjang di
antara yang lainnya…
Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti
Qalqalah kubro.. terpantul-pantul dengan keras…
Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti
Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu..
Sayangku padamu seperti mad thobi’I dalam Al-Qur’an…
Buanyaaakkk beneerrrrr….
Semoga dalam hubungan kita ini seperti idgham
bilaghunnah yang cuma berdua, lam dan ro’ ..
Meski perhatianku ga terlihat seperti alif lam syamsiah,
namun cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca
jelas…
Kau & aku sepeti Idgham Mutajanisain..
perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan
sifatnya…
Dan layaknya huruf Tafkhim, Namamu pun bercetak tebal
di fikiranku..
Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad
aridlisukun..
Subhanallah…
Sungguh bahagia insan yang telah menemukan cinta
sejatinya, mereka ibarat tasbih & benang pengikatnya yang
terajut menjadi satu untaian yang selalu disentuh satu demi
satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta
kepada Rabb-Nya..
(Dinukil dari group WA)

Rabu, 02 April 2014

Seseorang di depan cermin

Orang di depan cermin itu adalah dirimu sendiri..
Lihat wajah itu, mata itu, bibir itu..
Apa yang dia pikirkan?

perhatikan mimik wajahnya..
Apakah dia sedih, senang, tertekan, atau takut?

pernahkah kau bertanya tentang perasaan seseorang di depan cermin?
Apa yang dia sembunyikan dari dirinya?
Apa yang dia tidak tau tentang dirinya?
Sadarkah pikiranmu bahwa ada sesuatu yang terkubur di dalam hatinya?

Hati manusia adalah sebuah rahasia umum yang rumit

Kalbu manusia adalah cahaya yang hampir tidak bersinar

Ruang benak manusia adalah semesta yang tak lebih luas dari lubang kubur

Kesenangan dunia adalah fatamorgana yang paling nyata

Semuanya rumit...
penuh rahasia...
Seperti...
Orang di depan cermin..

Kamis, 26 Desember 2013

Love Letter: Analogi

Hai kamu,
Bagaimana kabarmu?
Ah mungkin aku tidak perlu bertanya. Cukup do'a yang selalu aku lantunkan dengan harapan agar kamu baik-baik saja. Jika kamu menanyakan keadaanku, pun aku akan bilang aku baik-baik saja. 

Sebelumnya maaf kalau aku mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan pesan rindu. Tidak masalah kalau kamu tidak mau menerima. Kamu bisa mengacuhkan atau membuang surat ini dan semua selesai. Ya, bagimu.
Rindu ini akan tetap menguap ke udara di sekitarmu. Tak perlu kamu mengenakan masker, ia tidak akan meracuni. Tapi tidak masalah pula jika kamu terlanjur menganggapnya polusi. 
aku tetap akan menyampaikan surat ini.

Kamu ingat saat-saat indah ketika dunia serasa milik berdua? Aku tidak. Karena kita memang tidak pernah berdua. Kita tidak pernah saling memiliki. Tapi aku ingat sebait puisi pagi yang kau buat tentang kita sebagai pemanis dari kopi pahit yang kita pesan di emperan jalan.

Kamu bilang,

"Kita adalah dua yang menyatu.
Kita-lah pondasi yang mencengkram langit.
Kita adalah tawa yang membanjiri tangis.
Kita menjadi karang yang menghantam ombak.
Kita si pemimpi dengan sejuta  ambisi,"

Indah. Tapi sayang ia tidak merubah rasa pahit kopi yang kuminum pagi itu. Hanya bisa membuatku tercengang hingga cangkirku yang tadinya panas kini terasa hangat.

Aku ingat bagaimana sorot matamu menggeledah duniaku saat itu.
Membuatku sesak. Tapi sayang, belum bisa membuatku lupa caranya bernapas. Kalau tidak, aku pasti sudah mati saat ini.

Semenjak saat itu entah bagaimana ada tanaman liar yang tumbuh di dalam hati. Aku tidak tau itu tumbuhan apa, jadi aku namakan saja ia "Cinta".

Aku tidak pernah memberinya pupuk, tapi ia tumbuh subur dalam wadah bernama "hati". Apa kamu yang diam-diam merawatnya? Aku tidak tau. Dan aku tidak peduli. Ia hanya tanaman liar yang mungkin kelak tak aku inginkan.

Lagi pula aku tidak mengerti bentuknya. Akarnya kuat batangnya kokoh tapi tidak berdaun. Ia juga tidak bercabang. Tidak memiliki buah atau pun bunga. Menjulang tinggi hingga aku tidak bisa melihat pucuknya.
Aku tetap membiarkannya.

Kamu tau? Terkadang aku ingin memanjat tanaman liar itu. Ingin kulihat apa yang ada di puncak pohon cinta ini. Sangat ingin. Entah bagaimana aku rasa aku tau apa yang menungguku di atas sana.

Tunggu, bukan apa melainkan siapa. Ya, kamu. Orang yang tanpa sengaja menanamkan benih tanaman bernama "Cinta".

Seiring waktu, aku tekadkan diriku untuk memanjat pohon itu. Kamu pasti tau aku takut ketinggian. Tapi aku yakinkan diriku untuk melihat bahwa kamu-lah yang ada di puncaknya.

Sulit, tak ada sulur yang bisa aku raih. Tak ada ranting yang bisa aku pijak. Ah, masabodo! Aku tetap akan merayap ke puncak.  Demi menjawab rasa penasaranku.

Penuh peluh berbalut luka di tubuhku ketika hampir ku gapai puncaknya. Hanya sesaat ingin kembali kulihat jejak pendakian yang telah kutempuh di dasar pohon ini.

Kamu tau apa yang aku dapati di bawah sana? Itu kamu. Berdiri menyeringai menatapku dengan segenggam kapak di tangan.

Sekali lagi kau buat aku tercengang. Tanpa ampun kamu ayunkan kapak itu. Tanpa menungguku turun kamu tebang pohon itu. Biarkan aku jatuh bersama "Cinta" yang dulu kau tanam.

Sakit? Tentu saja. Jatuh dari ketinggian pasti sakit. Sakit sekali.
Tapi aku tidak dendam padamu. Aku juga tidak benci. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kalau saja aku tidak punya wadah bernama "Hati", ini pasti tidak akan terjadi. Dengan begitu kamu tidak bisa menanamkan apapun padaku. Tidak akan aku kenal tanaman liar yang kusebut "Cinta". Tidak perlu aku bersusah payah merangkak dan jatuh dari puncaknya.

Tapi semua telah terjadi. Aku tidak peduli. Lupakan saja. Aku memaafkanmu. Sungguh, sepenuh hati aku memaafkanmu.

Oiya, aku lupa bilang. Aku juga menanamkan tanaman di dalam hatimu. Tenang saja, ini bukan tanaman liar. Ia memiliki akar yang kuat, batang yang besar, ranting yang bercabang, memiliki daun, buah, dan bunga yang indah.

Sayang kamu tidak bisa menyentuhnya. Ia berduri, seluruh tubuhnya memiliki racun. Aromanya harum semerbak tapi kamu bakal mati bila menghirupnya.
Aku menyebutnya "Penyesalan".

Tidak sepertimu, aku tidak akan menebangnya. Akan aku biarkan terus tumbuh menjadi pohon yang cantik di hatimu. Terus berbuah manis, berbunga indah. Hingga ia menjadi taman bunga "Penyesalan" yang indah. Kamu akan menjadi satu-satunya kumbang di sana. Indah, bukan? Bak surga pribadi. Kamu pasti senang.

Kamu tidak perlu berterimakasih padaku, aku melakukannya dengan senang hati. Sungguh, sepenuh hati. Aku harap kamu bahagia selamanya.

Baiklah,
Hanya ini yang ingin aku sampaikan dalam suratku kali ini. Maaf bila terlampau panjang dan membuatmu jenuh. Mungkin harusnya kamu buang surat ini begitu tau namaku tertera sebagai pengirimnya. Agar kamu tidak perlu tau analogi Cinta. 

Sesuatu yang membuatku jatuh dan memberimu penyesalan.

Sesuatu yang sanggup menyatukan aku dan kamu menjadi kita, serta memisahkan kita menjadi aku dan kamu.

Suatu tumbuhan langka yang menjulang tinggi tanpa cabang dan tertanam dalam hati yang rapuh.

Sesuatu yang sanggup memerangkap dua semesta di satu langit. Dan sanggup merobek potret diri kita yang utuh menjadi serpihan dalam bingkai yang berbeda.

Mungkin kamu tidak mengerti itu  sekarang. Tidak apa. Sungguh. Aku paham jika memang begitu.

sudah dulu ya..
aku menunggu balasan surat darimu. 

Salam rindu,

------

Kamis, 07 November 2013

Si Gadis Pemain Biola

Tepat pukul 20.00
kembali kudengar suara itu lagi.
Masih dari sumber yang sama oleh orang yang sama.
Si gadis pemain biola.

Aku selalu memperhatikannya. Saat jemari mungil itu menari di atas dawai yang bergetar. Mengalunkan nada-nada sumbang yang terlalu indah untuk di dengar manusia.
Mudah dipahami namun sulit untuk aku artikan.
Entah apa maksud hatinya yang terlalu dalam atau hatiku lah yang terlalu dangkal tuk menerka.

Si gadis pemain biola.
Begitu aku kerap memanggilnya. Namun dia tak pernah menoleh. Tetap melanjutkan simponi tanpa batas miliknya.
Semakin abstrak.. semakin abstrak.

Dalam hitungan detik, menit, jam ia tak kunjung berhenti.
Malah semakin lincah jari itu menari.
Di atas lantai dansa kecil bernama biola.
Yang tersayat, tergores halus oleh setiap guratan dawainya. 

Tepat pukul 01.00
Aku tau dia akan mulai menangis. Kerap aku bertanya kenapa. Tapi ia tetap bungkam tak peduli. Seolah aku ini tidak ada. Atau sebenarnya.. dia lah yang tak ada?

Tangisnya beradu masih dengan iringan melodi sumbang yang tak kunjung membuatku jenuh meski ribuan kali kudengar.
Dua suara yang kadang tersamarkan derasnya hujan  tengah malam.
Atau bersaing dengan hiruk pikuk  penghuni-penghuni malam.
Atau bahkan harmonisasi dari keempatnya yang sering kali menghalangiku dari gerbang mimpi-mimpi.

"Hai, gadis pemain biola," begitu aku berbisik.
Berharap ia berhenti dan menatapku.
Berharap ia tidak lagi mengacuhkanku.
Aku ingin ia menyudahi alunan simponi sendu yang membuat aku candu.
Atau haruskah aku hancurkan biola rapuh bernada sumbang itu?
Agar aku dapat melihat wajahnya.
Supaya aku tau namanya.
Atau sekedar mencari tau siapa di antara kita yang sebenarnya ada di dunia.

Rabu, 13 Maret 2013

I Hate Loneliness, but It Loves Me

"Jika semua manusia itu bersaudara, harusnya dunia tidak sesepi ini, kan?"

"apakah dunia menjauh ataukah aku yang terlanjur terbiasa dengan kesendirian?"

"Saat aku mendapatkan semuanya, aku mulai kehilangan semuanya. Hingga yang tersisa hanyalah halaman kosong."

"Mengapa langit penuh berbintang di malam mengerikan seperti ini? Mereka membuatku muak!"

"Bukan karena mereka. Bukan salah mereka."

"Ia hanya imajinasi yang terbentuk dari rasa putus asa akibat kesepian."

"Mendadak semua terdiam. Aku berada di ladang kesunyian. Hanya detak jantung amarah yang kudengar."

"Detak jantung yang tercipta dari benciku pada mereka yang tidak mengenal kesepian."

"Tidak masalah. Sejak awal aku berlatih hanya untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu."

Jumat, 28 Desember 2012

Aku, Warna dan Dunia

''Perlahan''
Pilar-pilar istana emas mulai runtuh. Ribuan bunga es yang bermekaran perlahan layu dan tercabik-cabik

''Ku lihat''
Jejak-jejak angin akan menapak pada hujan. Putih akan berlari, kemudian menghilang.

''Masih saja''
Orang itu berdiri menatap langit. Membiarkan butiran-butiran air menusuk tubuhnya. Dan menunggu petir menghujam bumi.

''Andai''
kita menilai orang lain buruk, apa kita pantas menghina mereka?

''Saat''
Tirai hujan abu-abu dunia tersingkap.
Dan semua berubah menjadi kaca perak.

''Tercipta''
Dari abu, api dinyalakan.
cahaya dari bayangan akan muncul.
Dan yang tak bermahkota akan menjadi raja.


''Dengarlah''
Aku berbohong, kau berbohong. Kau tidak perlu menyuruhku bercermin. Karena cermin pun berbohong.

''Sekarang''
Aku tergeletak di sini menunggumu.
Hingga seluruh dedaunan yang gugur ini menutupi mayatku.

''Tak perduli''
Meski hanya di dalam mimpi, aku dapat mendengar suaramu.
Meski hanya di dalam mimpi, aku akan mencarimu.
Meski aku harus mati di tengah padang es ini.

''Sudahlah''
semua cipratan darah ini hanyalah noda.
semua luka ini hanyalah masa lalu.
Semua ditelan waktu. Ntah sampai kapan..

''Kenyataan''
Keinginan egois untuk berdamailah yang menciptakan perang. Dan kebencian akan terlahir untuk melindungi cinta.

''Karena kita''
Langit memerah perih.
Merintih sakit karena ulah kita.
Siapa yang menghantam dia?

''Tua''
Mereka bilang kita hanya bisa saling bicara di akhir nanti. Tidak, nyatanya kita hanya menunggu mati.

''Akhirnya''
Kita telah melangkah jauh, tapi tidak pernah sejauh sang waktu. Kita melangkah cepat, Tapi tak pernah secepat sang waktu. Kita coba menghabiskan waktu tanpa sadar kita dihabisi oleh sang waktu.

''Jatuh''
Biru tertutup putih. Putih tersapu hitam. Hitam akan terjatuh, mengalir, dan terkubur.

''Dahulu''
Anak-anak riang berlarian. Bersenang-senang dengan apa yang kita sebut bencana. Dalam benak ku sibuk bertanya. Apa dulu aku seperti mereka?

''Tetap''
Meski ia tak bergerak, aku tetap menatapnya.
Meski ia terhenti, aku tetap menatapnya.
Kini ia tak lagi berputar. Dan aku tetap menatapnya.

''Seperti''
Besi-besi ini mengurung hati.
Rantai-rantai ini mengikat hati.
Seluruh pedang yang kau genggam ini, terhunus kepada hati.

''Kenapa''
Masih saja ku tulis namamu pada embun yang terhapus hujan. Pada pasir yang tersapu ombak. Pada rindu yang terbunuh waktu.

Selasa, 23 Oktober 2012

"Bukan Jarak Pembunuhnya. Tapi Kita lah Pelakunya."

blogs, ini salah satu puisi atau kata-kata yang menurut gue keren banget. rasanya bener-bener dari hati pembuatnya. okay then, enjoy :)


sumber: Shitlicious.com.

  "Bukan Jarak Pembunuhnya. Tapi Kita lah Pelakunya."
karya @shitlicious
 
"Dari kamu aku belajar tentang keberanian..
Bersamamu aku berani membuat keputusan..
Karena kamu aku bisa mengalahkan keangkuhan..
Dan demi kamu juga aku berani melakukan pengorbanan..

Aku ingat hal-hal bodoh yang pernah ku lakukan dulu..
Mengendap-endap di toko emas buat beli cincin tanpa sepengetahuan kamu..
Sampe ibu-ibu penjaga toko meneriakiku..
Tapi itu semua tertebus oleh sebuah tangisan haru..

Aku ingat saat pertama aku memelukmu..
Sengaja lama-lama aku ciumi pundakmu..
Seakan-akan aku bisa menghirup aroma bebanmu di situ..
Saat itu lah aku merasa menjadi pria berguna bagimu..

Tapi aku sadar, hidup ini mungkin terlalu panjang untuk cerita cinta kita..
Aku sadar, masa lalu biarlah menjadi nostalgia..
Aku hargai keputusanmu untuk menutup bab terakhir cerita kita..
Aku yakin, ini memang saatnya kamu membiarkanku sendiri menghadapi dunia..
Karena hanya kamu yang bisa benar-benar mengenaliku apa adanya..

Awalnya, aku mengira jarak lah yang patut disalahkan..
Tapi sekarang aku mengerti, kita lah yang layak dipertanyakan..
Mungkinkah cinta ini hanya sekedar selingan?
Atau cinta ini layak dibawa hingga akhir kehidupan?

Aku percaya jarak tak pernah salah..
Aku percaya jarak tak mampu membuat cinta musnah..
Aku percaya jarak tak pernah jahat..
Aku percaya jarak justru mendidik kita jadi pasangan yang hebat..

Tapi tampaknya kini kau menyerah..
Dan aku pun tak bisa melawan atau menebar amarah..
Karena kisah ini berawal dengan pertemuan yang indah..
Aku tak ingin semuanya diakhiri dengan rasa gelisah..

Aku ikhlas melepaskanmu..
Akan ku ceritakan kisah kita kepada anak-cucuku..
Agar mereka tau, aku pernah menghidupi kisah cinta sehebat itu..
Agar mereka sadar, cinta itu tak hanya sekedar "aku mencintaimu"..

Selamat tinggal cinta..
Terima kasih untuk pelajarannya..
Aku tak pernah berfikir ini semua sia-sia..
Justru kisah ini membuatku semakin dewasa..
Untuk menyikapi ceritaku di bab berikutnya..

Sampai jumpa di hari yang lebih mulia..
Mungkin saat ini kita adalah dua tokoh utama di dalam film yang berbeda.."

Kamis, 07 Juli 2011

little part of.....

'liat gunung yang membentang disana? Dulu matahari sering terbit dari situ'

'lagi-lagi kita kembali kesini'

'kalo diinget-inget lagi, itu ngebuat hati gue sakit tapi anehnya gue malah senyum'

'dulu ada seorang anak yang duduk sendirian disana. Banyak orang yang lewat tapi nggak ada yang sadar anak itu meneteskan air matanya'

'seperti awan yang dihembuskan oleh angin untuk memberi pesan kepada hujan'

'sepert kayu yang dilahap api yang menjadikannya tiada'

'semua sesederhana itu'

'terserahlah, gue adalah tokoh utama dalam hidup gue. Dan gue gakboleh kalah'

'gue cuma berdiri disini dan masih nggak percaya, lo udah gak ada'

'liat padang rumput hijau disana? Dulu ada seorang anak yang berdiri disana dan menatap langit'

'akankah lo manggil gue saat lo sampai disana?'

'tangan kita mungkin udah bisa ngelakuin banyak hal sendirian, tapi mereka masih butuh genggaman tangan lain'

'seorang golongan menengah kayak gue ngelawan golongan atas seperti mereka. Lo pikir gue diizinin buat kalah? nggak!'

'Tuhan, seandainya dengan memiliki teman aku akan melupakan-Mu, jangan biarkan aku memiliki teman'

'lalu Dia mengirim seseorang untuk berbagi'

'kalau semua manusia itu bersaudara, harusnya dunia nggak sesepi ini kan?'

'aku udah biasa tersesat sih, tapi aku gak nyangka bakal kesesat di hati kamu'

'dalam renunganku, aku menangis. aku... Merindukan Tuhanku..'

'nggak masalah kalo kita dimanfaatin temen sendiri, yang penting kita udah jadi orang yang bermanfaat,kan?'

'inget? di pasir putih ini dulu ada 2 orang yang mengukir namanya, walaupun sudah kehapus ombak'

'kamu bilang kamu sendirian buat jadi kuat mungkin memang benar, tapi itu nggak menutupi fakta bahwa kamu kesepian'

'cewek cantik, baik, pinter itu banyak. tapi mungkin cuma sedikit yang mencintai Tuhannya'

'kalau dengan menangis perasaan lo bisa tenang, menangislah. itu manusiawi kok'

'dan alam semesta membantuku untuk menemukanmu'

'gue cuma pengen tau, apa gue ada disana? tapi lo... udah gak ada..'

'lo pergi bukan karna sakit, tapi karna orang-orang udah sanggup buat kehilangan lo'

'will you call me when you get there? will you miss me everyday?'

'bahkan walau bentuknya sudah berubah, kamu masih menganggapnya manusia?'

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented