Selasa, 17 November 2015

Perang di sebrang

Assalamu'alaykum, blogs...

Akhirnya setelah beberapa waktu gue tinggalkan, sekarang gue kembali lagi ke sini untuk mengisi hari-hari kalian. Yeay! :D

Gimana kabar kamu semua? Semoga sehat dan tetap menjaga kesehatan ya. Soalnya saat ini sedang musin pancaroba. "Panca" berarti "5". "Roba" berarti... "Robot". Jadi Pancaroba adalah peralihan musim kemarau ke musim hujan. Gitu.

Oiya, sebenernya gue pengen belajar cara menulis dengan gaya bahasa yg baik. Kayak artikel gitu. Tapi belum bisa banget sih. Mungkin lain kali. Dan lagi.. Tema post kali ini rasanya lebih enak kalau gue gunain gaya bahasa bebas. Mau tau post kali ini tentang apa? Perang

Gunakan kacamata perspektif kalian.
Apa yg gue sampaikan ini lebih banyak opini. Mungkin ada fakta juga tapi kayaknya gak akurat. Dan lagi... Mungkin gue juga gak bisa ngasih solusi. Tapi kalo kalian melihat solusi yg nyempil ya baguslah.

Siap ya? Let's go!

Perang..
Ide ini bermula semenjak maraknya artikel tentang perang dan korban-korbannya di media sosial. Banyaaaaaak banget. Perang siapa lawan siapa? You know, israel vs palestine dalam skala kecil. Umat islam melawan dunia dalam skala besar.

Gue gak terlalu paham penyebab perangnya itu apa. Mungkin perebutan kekuasaan atau semacamnya. Yg jelas korbannya udah banyak banget. Terutama dari pihak palestine. Dan parahnya lagi korbannya sebagian besar adalah wargs sipil. Wanita dan anak-anak! Sementara dari pihak israel yg gue tau lebih banyak tentaranya.

Agresi dari pihak israel ke palestine atau sekitarnya gak cuma lewat tembakan, tank atau semacamnya. Mereka pake pesawat tempur, rudal, pemboikotan sumber daya dan lain-lain yang ditujukan ke perkotaan di palestine.

Ada banyak foto dan rekaman media yg menunjukan suasana perang disana. Entah apa udah sedahsyat perang dunia 2 atau sedang bergerak kesana. Tapi ini bener-bener terjadi! Terjadi di zaman kita. Tahun 2015! Walau beda lokasi sih.

Perang yg terjadi saat ini bukan dongeng. Bukan cerita di buku pelajaran sejarah yang udah berkali-kali dibaca tapi gak nyantol di otak. Kalau kalian merasa perang itu keren dan heroik coba aja pergi ke sana. Rasakan seperti apa perang itu. Pedih, perih, benci, dendam, duka. Berjuang mati-matian seperti veteran bangsa yang gak lagi dihargai sekarang ini.

Siapa yang harus disalahkan? Pemerintah? No, berharap sama pemerintah cuma bikin sakit hati dan kesal sendiri. Bangsa ini? Nggak, gue gak pengen menyalahkan bangsa ini. Actually, gue gak tau siapa yg salah. Menyalahkan orang lain dan menganggap diri kita sebagai korban adalah tindakan pengecut.

Kembali lagi ke perang tadi.
Perang israel vs palestine itu kan cuma skala kecil ya, perang yg skala besar tadi gue katakan adalah perang umat islam vs dunia. Ini dibuktikan dengan bagaimana media mengarahkan pandangan kita bahwa muslim adalah teroris. Sampai akhirnya muncul islamophobia. Takut sama orang yg menganut agama islam. Dan lagi-lagi ini bener-bener terjadi.

Beberapa waktu lalu ada seorang teman gue yg dia itu lagi mempelajari islam secara kaffah (menyeluruh). Dia belajar sunnah dan sering ikut kajian di masjid. Dia juga ikut dakwah kemana-mana. Mengajarkan persaudaraan dan bagaimana damainya islam. Tapi malah dilarang sama orangtuanya. Katanya sih takut masuk aliran sesat. Takut jadi ekstrimis dan jadi teroris. Padahal mah nggak. Yg jadi teroris itu dari... Wahabbi, kalau nggak salah. Gak tau juga itu ajarannya seperti apa. Terus muncul juga syiah yg juga mengatasnamakan islam untuk ajarannya yg melenceng. Kepercayaan untuk menganut agama islam jadi lemah karena fitnah yg besar banget. Islam menjadi asing dari dunia. Persis seperti yg dikatakan Rasulullah SAW.

Beliau mengatakan bahwa islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali terasingkan. Maka beruntunglah orang-orang asing (yg teguh memegang agama islam) tersebut.

Sabda nabi Muhammad SAW. yang menggambarkan kondisi agama islam di masa sekarang ini harusnya menguatkan kita bahwa agama islam adalah yg paling benar. Bukan yg lain.

Balik lagi. Islam vs dunia.
Kita udah tau sebagian kecil perang yg terjadi saat ini. Palestine, rohingya, afganistan dll. Penjajahan negara non-islam terhadap islam yg diberitakan secara terbalik. Beberapa waktu lalu muncul pertanyaan di pikiran gue,

"Indonesia kan penduduknya mayoritas islam. Kok gak dijajah?"
Ada yg bisa jawab?

Gue jawab dengan pertanyaan, "siapa bilang kita gak dijajah?" kita lagi dijajah. Dengan cara yg halus. Kok bisa?

Ini teori gue sendiri.
"Untuk menghancurkan suatu bangsa kamu hanya perlu menghancurkan pemudanya. Jika  pemudanya kuat maka ia dibunuh, jika pemudanya lemah maka ia dirusak."

Indonesia, kita, termasuk yg dirusak. Kuat dan lemah ini bukan secara fisik, tapi mental, keyakinan. Kalau indonesia diserang pake senjata, indonesia bakalan ngamuk. Kekuatan indonesia itu di masyarakatnya. Ketika kita berperang yg maju bukan cuma tentara, tapi seluruh pemudanya. Ini dulu pas perang di surabaya. Entah kalau sekarang. Mungkin masih sekuat dulu. Karena itu, negera luar menyerang indonesia pake cara halus. Dengan teknologi, menguras kekayaan alam indonesia, mengubah kebiasaan dan pola pikir pemuda dengan westernisasi, memanjakan penduduknya, menyebarkan penyakit dan masih banyak lagi. Dan tentu saja ini juga sedang terjadi. Entah kamu sadar atau nggak. Gue sadar tapi gak tau harus bertindak seperti apa. Bodoh juga.

Kita disibukkan dengan sesuatu yg... Menutup mata kita terhadap dunia. Kita menginginkan perdamaian tapi dengan cara berperang. Kita mengecam peperangan dengan menghina dan memprovokasi peperangan. Kita merasa aman karena perang itu tidak ter.. Maaf, belum terjadi di sekitar kita.

Seperti inilah, blogs, opini dan kenyataan yg ingin gue sampaikan. Bahwa kita juga sedang dijajah. Kita sedang dilemahkan. Akhlak kita dirusak dengan fashion yg menghinakan perempuan khususnya, lisan kita dibimbing untuk mengatakan "f*ck, mo*h*r f**k, as* h**e, an*i*g" dan semacamnya yg dianggap keren dan kekinian. Kita dibuat hanya bisa komentar tanpa bertindak. Menyalahkan orang lain dan berlagak menjadi korban serta banyak mengeluh. Kalian merasa seperti itu gak? Gue ngerasa loh.

Gue gak bisa ngasih solusi untuk masalah yg sedang terjadi di dunia. Rasanya... Bodoh banget karena gak bisa bertindak. Karena itu kalau ada yg punya solusi, bertindaklah!
Lakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia.

Tolong orang di sekitarmu.
Jaga lisanmu. Perbaiki akhlakmu.
Dan persiapkan dirimu untuk kehidupan berikutnya, ya?

Emmm...
Itu aja yg ingin gue sampaikan kali ini.
Sekali lagi maaf karena gue gak bisa ngasih solusi dan cuma nulis doang. Gue harap suatu saat tulisan gue bisa merubah dunia.

Assalamu'alaykum :)


Minggu, 01 November 2015

Masih Ada

Taukah kamu, saat ini mungkin mereka yang telah pergi meninggalkan kita tengah menderita di alam sana.

Apa kau dengar teriakan mereka? Tidak.
Apa kau tau apa yang mereka teriakan? Penyesalan.
Apa kau sadar apa yang mereka inginkan? Kesempatan.

Ya, Kesempatan untuk hidup kembali. Kesempatan untuk beribadah walau hanya sekejap.
Untuk menahan perih pedihnya siksa. Untuk kunci membuka surga

Namun percuma bagi mereka, lain hal dengan kita.

Kesempatan masih singgah.
Hidup masih betah.
Penyesalan masih berbenah. Belum menghampiri.

Lantas, apa yang akan kita persiapkan?
Bagaimana kesempatan akan kita perlakukan?

Jarak Antara Kita

Wahai saudaraku..
Akh! Tak pantas rasanya kau menyebutku saudara. Setelah aku meninggalkanmu menghadapi penderitaanmu sendirian. Seolah kita adalah tubuh yang terpisah. Atau akulah bagian yang tersuntik anastesi. Aku tidak lagi merasakan perihmu..

Katakan padaku, kawan..
Bagaimana kamu bisa sekuat itu bertahan?
Bagaimana dirimu bisa menggenggam keyakinan itu begitu erat? Sedang disini aku hampir meloloskannya dari genggamanku..

Katakan padaku, kawan..
Seperti apakah mati itu?
Sakitkah rasanya?
Adakah ia sama dengan terbangun dari mimpi panjang yang fana?

Ceritakan padaku, duhai sahabat..
Seperti apakah maut yang datang menggandeng dirimu?
Seperti apa dunia yang menunggumu di alam sana?

Aku khawatir wahai teman..
Kau akan meminta pertanggungjawabanku saat bibir ini tak bisa lagi memuntahkan beribu alasan.
Saat tangan dan kaki mengeluh karena aku tuan mereka yang begitu hina.

Dimana diriku saat kamu tersiksa?
Dimana diriku saat kamu menangis?
Bagaimana aku mengeluhkan panasnya siang saat api membakar rumahmu?
Bagaimana aku bisa bersantai saat air menghujaniku sementara peluru menghujanimu?

Kami tidak sebanding denganmu..

Di sana, para wanita mati-matian mempertahankan kehormatannya, sementara disini mereka rela menghinakan dirinya. Bukan hanya remaja. Bahkan juga orang tua. Atas dasar "gaya" katanya.

Di sana, orang-orang berlomba-lomba mengerjakan shalat. Di sini kami menundanya bahkan tak jarang terlewat.

Di sana, orang-orang bertaruh
nyawa datang ke masjid tapi masjid dirobohkan. Di sini, orang-orang tak peduli dengan nyawa tapi masjid ditinggalkan.

Di sana, orang-orang berjerihpayah menyampaikan dakwah. Di sini, dzikir pun jarang. Yang keluar dari lisan ini hanya makian, hinaan, hujatan, tawa dan permintaan.

Bagaimana bisa kami berkata "kami adalah orang yang baik, saat aib kami begitu besar?"

Bagaimana kami bisa mengira kami akan masuk surga, saat bahkan tak ada jalan untuk keluar dari neraka?

Bagaimana kami membanggakan kecerdasan otak, saat kecerdasan sesungguhnya adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya?

Bagaimana kami masih sibuk mengejar harta dengan teknologi mutakhir saat sebentar lagi dunia akan berakhir?

Ya Allah..
Kami harus bagaimana?
Kami ingin menjadi orang yg bermanfaat..
Kami ingin menolong mereka..
Kami ingin menolong agamaMu..
Bolehkah?

Rabu, 07 Oktober 2015

Sedekah Dunia

Assalamualaikum, my dear Blogs!!

Lagi-lagi gue harus mengatakan lama tidak berjumpa denganmu di dunia maya ini. Gue gak akan bilang gue sibuk kuliah atau organusasi atau semacamnya. Karena emang lagi gak sibuk. Oiya, karena lama gak main kesini juga berarti gue harus menanyakan kabar kalian..

Baiklah!
Apa kabar kalian semua? Gue harus berprasangka baik bahwa kalian baik-baik aja. Kalau pun ada yg gak baik, semoga segera membaik ya :)

Untuk post kali ini, sebenernya gak terlalu jauh berbeda dengan post sebelumnya. Gue hanya ingin menyampaikan pemikiran gue aja. Ambil yang baiknya aja ya, yang buruknya ditinggalkan dan jadi bahan renungan.

Semua bermula dari sebuah kisah sederhana, dialog antara Janin dalam kandungan dan Allah SWT. Ini gue dapet dari suatu kajian di masjid Al jihad.
Dikisahkan pada saat janin di dalam kandungan, Allah bertanya kepadanya, "apa yang terpenting bagimu?" janin ini menjawab "Yang terpenting bagiku adalah tali pusar ini, Ya Allah. Dengannya aku bisa hidup. Aku tidak butuh tangan. Aku tidak butuh, kaki, mata, telinga, dan sebagainya. Karena itu tidak berguna untukku" kata Janin itu. Memang benar, ketika kita berupa janin yang menyuplai makanan untuk kita hidup adalah tali pusar. Pelindung kita adalah plasenta. Namun kenyataannya ketika janin ini keluar menuju kehidupan dunia, apa yang dia katakan? Dia bilang, "Ya Allah! Ternyata untuk hidup di dunia ini aku membutuhkan tangan, kaki, mata, telinga, dan semuanya. Namun yang kuanggap penting sebelumnya justru harus aku tinggalkan!". maksudnya adalah tali pusar janin ini harus dipotong. Kan kita gak hidup pake tali pusar di dunia ini, iya kan?

Itu kisahnya. Makna dari kisah itu sebenernya apa yg penting untuk kita suatu saat akan kita tinggalkan. Sekarang pertanyaannya, apa yang terpenting untuk kehidupan kita? Jika ditanya begini setelah mendengar kisah itu pasti banyak yang menjawab " amal soleh". Good! Itu wajar karena gue membicarakan konteks agama saat ini. Mungkin ada yg bilang "udara, dit!" well, bener juga sih.

Tapi kenyataannya, mau diakui atau tidak, yang terpenting bagi kita adalah Sandang, Pangan, Papan. Ini pokok. Kalau mau diteruskan lagi ada harta, gadget, mobil, baju mahal, dan sebagainya. Maaf ya, gue masuk ke ranah remaja kekinian lagi. Soalnya gue juga remaja. Jadi gue bisa membahas secara lebih lugas.

Bayangin deh, sebagian besar orang (bukan cuma remaja) pasti akan panik ketika gadgetnya ketinggalan. Jangankan gadgetnya, bateray yg mau habis aja bisa bikin panik. Bayangin juga dengan orang-orang yang punya baju pesta yang harganya mahaaaaaaal banget. Orang yg punya harta melimpah, rumahnya banyak, mobilnya banyak, dan semacamnya.

Gak ada yang salah dengan berusaha mendapatkan itu. Berikhtiar di dunia its okay. Tapi ingatlah ini semua akan kita tinggalkan. Apa yang terpenting untuk kita akan menjadi tidak berguna nantinya.

Soal gadget itu, gue juga termasuk panik kalau gak bawa gadget. Apalagi kalau ada informasi yg memang hanya bisa di dapat lewat gadget. Tapi ini suatu saat akan kita tinggalkan. Saat era teknologi terhenti, saat satelit hancur. Semua kembali ke jaman primitif lagi.

Soal baju yg mahal banget ini gue dapet dari renungan  sendiri. Jadi gue punya jaket. Jaket winter yang ada bulunya gitu. Keren deh. Ada di kost gue saat ini. Suatu ketika gue memandang jaket itu sambil merenung. Jaket Winter ini adalah jaket spesial. Gak terlalu mahal memang, tapi gue suka banget modelnya. Gue menetapkan jaket ini hanya dipakai saat ada event tertentu. Hanya saat spesial aja. Tapi saat gue renungkan dari fungsinya, jaket winter ini adalah yang paling gak berguna. Jaket lain sering gue gunakan, tapi winter nggak. Dicuci juga jarang. Cuma dipajang aja. Entah kapan gue gunakan. Dari situ gue mengerti apa yang spesial buat gue ternyata yang paling gak berguna. Soal mobil, rumah dll, mungkin bisa dipikir sendiri ya.

Lalu, blogs,  soal menjadi remaja,
Banyak yg mengatakan, "mumpung masih muda, berbuatlah sesukanya. Kalau udah tua nanti baru bertaubat." atau semacam itu.
Orang tua, dosen, guru, teman, sahabat hampir semua mengatakan itu. Semua mengarah ke kehidupan dunia aja. Ke kehidupan berikutnya? Hmmm... Semoga masih ada ya..

Tapi tau gak?
Salah satu yang akan dipertanyakan dihadapan Allah nanti adalah "untuk apa kamu gunakan masa mudamu?" nahloh! Kita mau jawab apa kalau senantiasa berbuat sesukanya?
Emang ada jaminan kita bisa hidup sampai tua? Atau jaminan kita sempat bertaubat? Gak ada.
Karena itu jangan berbuat sesukanya ya... Berbuat kebaikan dan persiapkan untuk kehidupan berikutnya. Bukan untuk masa depan dunia aja ya.

Nah, terkait masa depan dunia, gue juga punya pikiran. Gue kuliah di geologi. Gue tau ini adalah hal yang wajar ketika dosen memotivasi mahasiswa geologi untuk aktif belajar, dan semacamnya supaya IPK tinggi dan keterima kerja diperusahaan yang kaya. Supaya gajinya besar. Supaya kehidupannya terjamin. You know, somehow ini gak ngebuat gue semakin semangat. Bukannya gak kepengen kerja dengan gaji tinggi, hanya saja... Setelah dapet kerja itu, lalu apa? Jadi kaya? Bangga dengan harta?

Gue bingung, blogs. Bisa dikatakan saat ini gue punya barang yang numpuk di kamar kost gue. Barang yg jarang banget gue gunain. Barang yang akhir-akhir ini gue pertanyakan "barang ini untuk apa?". Barang-barang yg ternyata lebih bermanfaat untuk orang lain di dunia ini dan bermanfaat untuk gue di akhir nanti. Kamu juga berpikir seperti ini nggak? Semoga ya..

Kita masuk ke kesimpulan post ini.
Jadi lewat post kali ini, gue ingin mengajak kamu-kamu semua untuk bersyukur. Untuk bisa sedekah. Untuk bisa mengerti bahwa apa yang kita miliki di dunia ini ternyata tidak berguna untuk kehidupan akhirat.

Jadi mari kita sama-sama sedekah. Kalau belum bisa menyedekahkan barang yg kita anggap mahal atau spesial gapapa kok. Sedekah uang, makanan, pakaian, buku, atau yang lain juga gapapa. Yang penting niat dan ikhlas :)

Sebenernya masih banyaaaaaak lagi yang mau gue bahas. Tapi lain kali aja ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi.
Gue tutup dengan ayat aja ya:

(Al-Qaşaş) 28: 77 -
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Diperhatikan dan diingat ya, bukan "carilah dunia, dan jangan lupakan akhirat".

Okay, blogs?
Assalamu'alaikum :)

Minggu, 30 Agustus 2015

Downsanian 5

Assalamualaikum, blogs! :3

Hai! Tenang, Kabar gue baik-baik aja. Sebenernya lagi pilek sih. Terus gak ada yg nge-gws-in -_-. Tapi ada yg nyuruh gue minum obat kok.

Untuk kalian, para silent readerku, gue harap kamu baik-baik luar biasa. Jaga kesehatan ya.. Soalnya lagi musim kemarau. Dan katanya sih ada El Nino. Tau gak apa itu El Nino? Itu fenomena alam naiknya suhu air laut di pacific. Efeknya bisa kemarau, udara kering, suhu dingin tiba-tiba dan lain-lain. Tapi itu gak ada hubungannya dengan post ini. Gue cuma mengingatkan untuk menjaga kesehatan kamu-kamu aja :)

Baiklaaaah!
Judul post kali ini adalah... Downsanian 5. Huuuft... Downsanian lagi downsanian lagi.. -_-
Bosen gak sih? Gapapalah ya? Soalnya gue pengen merubah sesuatu. Dulu waktu kecil gue pernah bercita-cita untuk memberi pelajaran dan merubah dunia. Eh bukan waktu kecil deng, itu pas gue mau bikin blog ini. Jadi blog ini suatu saat mungkin bisa merubah dunia. Dimulai dari merubah diri gue, merubah pembaca, merubah masyarakat, lalu merubah dunia. Tentu saja dengan pemikiran yg lebih baik. Mudah-mudahan bisa!

Jadi di downsanian 5 ini gue ingin membahas salah satu kebiasaan buruk remaja hingga dewasa dan juga salah satu kelemahan gue sendiri: Berpendapat. Atau mengkritik. Atau beragumentasi. Atau mengutarakan pikiran dan perasaan. Oiya ini berpendapat yg sekaligus menghina ya. Bukan berpendapat yg baik aja.

Berpendapat itu hak setiap manusia. Mengkritik itu juga hak kita tapi harus sopan. Kita udah bisa berpendapat mulai dari kecil hingga sekarang. Mulai dari argumentasi awal "Ya" atau "tidak", "setuju" atau "tidak setuju" hingga bisa memberikan alasan dari pilihan kita. Dari mulai minta permen waktu kecil hingga minta kenaikan gaji. Keterampilan berpendapat ini semakin terlatih kalau kita ikut organisasi. Soft skill namanya.

Gue mengagumi orang-orang yg jago berpendapat, aktif dan dinamis. Soalnya menurut gue mereka orang-orang yg peduli dengan lingkungannya. Peduli dengan keadaan di sekitarnya. Beda sama gue yg lebih sering diam dan gak terlalu peduli. Hanya pikiran gue aja yg bergejolak saat ngeliat ada penyimpangan. Tapi gue belum bisa dan mau serta berusaha melakukan sesuatu.

Well, i did something with my blogs, actually. I show you my opinions through my posts. I know it's not enough. Still, i hope we could change to be better.  Jadi untuk saat ini gue belum bisa jadi orang yg gue kagumi melalui aktif berpendapat. Tapi gue tetep suka diri gue kok.

Tapi, blogs, sehebat-hebatnya orang yg berpendapat, lebih hebat lagi orang yg bisa menjaga emosinya saat dia kalah. Maksud gue adalah orang yg gak gampang marah saat kalah. Jadi dia menerima kekalahannya dan belajar lebih baik lagi. Tapi yang kebanyakan terjadi adalah mereka justru menghujat, memaki, menghina dan berusaha  menjatuhkan orang yg mengalahkan pendapat mereka. Padahal itu malah menjatuhkan diri sendiri.

Ini terjadi dalam banyak hal. Misalnya beberapa waktu lalu saat input mata kuliah di website kampus gue. Jadi ceritanya di upn ada kurikulum baru 2015. Udah disosialisasiin sih. Tapi pas eksekusi input matakuliah itu sistemnya bermasalah. Banyak mata kuliah yg belum keluar. Sistemnya error. Alhasil kami harus menunggu sekitar.. 5 jam tanpa kepastian kapan bisa input matkul. Jadi kami menunggu dan siaga di depan laptop masing-masing. Soalnya input matkul itu kan harus rebutan.

Nah, dalam penantian tanpa kepastian itu gue ngeliat grup line. Grup line gue rame. Rame sama mereka yg berargumen  dengan marah-marah dan ngehina kampus. Kata-kata kotor yg menghujat itu dilontarkan agar mereka terlihat seperti korban. Agar mereka terlihat jadi pihak yg dirugikan. Dan orang yg beragumentasi dengan cara menghina ini banyak yg dukung loh. Ya wajar sih.. Biasanya pihak yg dirugikan adalah pihak yg benar. Padahal mah nggak. Jadi mereka semacam terprovokasi gitu. Di grup itu mereka bilang,
"udah bakar aja ***"
"Petugasnya kayak ******"
"*** gak siap untuk berubah"
Dan kata-kata lain yg sifatnya negatif. Rusuh. Kayak demonstran.

Kalian termasuk gak? Well, Reaksi wajar dari orang yg marah. Gak cuma remaja, orang dewasa juga sama. Tapi yg gue lihat anak-anak gak begitu.

"Lalu dengan berpendapat kayak gini, maksudnya lo mau membebaskan diri lo supaya gak dianggap sama dan lebih baik dari mereka, dit?"

Jawabannya: Iya.
Gue gak mau disamain sama orang yg rusuh dan mengungkapkan emosi negatif dengan kata-kata kotor. Gue gak bilang gue udah lebih baik dari mereka tapi dalam kasus ini gue ngerasa lebih baik dari mereka.

Gue juga marah, kesel dan kecewa dengan sistem input yg error itu. Tapi gue berusaha untuk gak menghujat atau memaki. Membenci, mendendam, dan mendengki di dalam hati mungkin iya, ini kelemahan gue karena gue kadang susah berpendapat secara langsung.  Tapi dengan melihat apa yg orang-orang ungkapkan dengan kata-kata kotor itu gue berpikir, gue gak boleh kayak gitu. Gue harus jaga pikiran dan hati gue sendiri. Gue gak mau jadi orang mainstream. Gak mau jadi orang biasa kebanyakan. Ngapain jadi orang biasa yang sering menghujat dan mengutuk keadaan? Ngapain jadi orang mainstream di zaman yg mulai rusak ini?

Jadi orang yg gak terkenal tapi mampu merubah keadaan jadi lebih baik itu lebih keren dari orang terkenal yg rela terbawa arus pergaulan demi popularitas yg merusak moral.

Oiya kasus serupa udah banyak terjadi dimana-mana loh. Kebanyakan di f*c*book. Pernah liat foto pejabat yg sifatnya provokasi dan isi komentarnya cuma hinaan?
Atau pernah liat komentar dari orang yg debat agama dan saling menyalahkan yg juga menghina?
Atau mungkin juga pernah liat orang yg berusaha berubah lebih baik tapi malah dihina?
Atau mungkinkah kita salah satu dari orang yg memberikan komentar berupa hinaan tersebut?
Jangan sampai ya..
Selain bisa dipenjara karena mencemari nama baik seseorang, menghina dengan kata-kata kotor itu memperlihatkan isi pikiran kita. Gak mau kan orang lain menilai diri kita buruk?

Berpendapat itu boleh kok. Mengkritik juga boleh tapi usahakan yg sifatnya membangun. Kalau gak bisa, paling tidak jangan menghina dengan kata-kata kotor. Kalau gak bisa juga, mending diam aja deh.

Tapi blogs, sumber pemikiran gue tentang argumentasi itu gak cuma dari komentar di status itu. The thing is...
Yang jadi masalah utama dari downsanian kali ini adalah: Argumentasi penghinaan dan kata-kata kotor ini gak cuma terjadi saat kalah berpendapat atau melihat suatu keburukan aja. Ini terjadi dan hal wajar dalam kehidupan sehari-hari!

Gak percaya? Gue tanya kalian,
Mana yang lebih sering keluar dari lisan kalian, kata-kata: "anjing, bego, tolol, anjrit" dan sebagainya atau "astagfirullah, subhanallah, masyaAllah, insya Allah"?

"Adit, lo kok membandingkan kalimat Allah dengan kata-kata kotor gitu sih?"

Ya karena ini memang gak sama!
Orang yg terbiasa mengucapkan kalimat dzikir gak sama dengan orang yg sering ngucapin kata-kata negatif itu. Sekali pun sama-sama manusia, sekali pun sama-sama punya akal dan pikiran, sekali pun sama-sama punya hati nurani, tapi mereka gak sama.

Manusia yg positif dicintai dan yg negatif dibenci. Yg positif menggunakan pikiran untuk kebaikan dan yang negatif untuk menghina, ngatain dengan sebutan binatang. Padahal binatang aja gak pernah ngehina binatang lain. Yg postif nuraninya dibuka yang negatif tertutup.

Ini bener-bener terjadi di sekitar kita. Di televisi? Kalian pasti tau acara komedi dan musik zaman sekarang kayak apa.
Di usia remaja? Banyak bangeeeeet!
Di usia anak-anak? Mulai banyak banget!
Di usia dewasa? Alhamdulillah, sedikit. Setidaknya itu yg gue tau.

Gue sendiri belum bisa merubah mereka secara langsung. Gue masih jadi seorang pengecut yg gak berani berpendapat untuk merubah keadaan jadi lebih baik. Cuma lewat blogs aja. Karena itu gue harap ini bisa merubah dunia.

Blogs, mulutmu harimaumu.
Kata-kata yg keluar dari lisan kita mencerminkan apa yang ada di pikiran kita...

...kecuali kamu adalah seorang pembohong..

Assalamu'alaikum :)

Bagaimana kalau Dia tidak peduli lagi?

Untuk kamu yang punya teman ngeselin yang kalau dibaikin malah ngelunjak

Kamu punya teman yg kalau dibaikin malah ngelunjak? Atau teman yang hanya datang di saat dia butuh aja? Kita udah sering menolong mereka, tapi giliran kita minta tolong sedikit aja, mereka gak mau bantu. Kita pinjemin barang, malah dirusakin. Ngeselin kan? Banget!
Rasanya pengen ditinggalin aja orang kayak gitu. Terserah dia mau menjalani hidupnya seperti apa. Gak akan kita tolong lagi. Bodoamat dengan mereka.

Tunggu, kok rasanya kasus ini familiar dengan diri kita ya? Tapi kita jadi orang yg ngeselin dan sering bikin marahnya. Bedanya yg sedang kita bikin marah itu Allah SWT.

Allah memberi kita banyak banget nikmat dan pertolongan.
Ngasih nikmat iman & islam, nikmat hidup, bisa melihat, bisa mendengar, bisa bicara, bisa memiliki teman.. Waaah pokoknya banyak deh!
Tapi kok sedikit sekali kita bersyukur dan berterimakasih ya?

Allah meminjamkan kita tubuh yg sehat, kehidupan, dan nikmat lainnya. Masa barang pinjaman ini gak kita rawat? Gimana kalau nanti Allah minta kembali? Wah bisa gawat nih!

Allah beri waktu 1 hari 23 jam 56 menit 53 detik. Dibuletin jadi 24 jam. Allah cuma minta kurang dari 1 jam. 1 jam untuk waktu total melakukan shalat 5 waktu. Lama gak sih 1 jam dibanding 23 jam? 1 jam untuk kita bisa meminta lebih dan mengenal Allah SWT. Yang ngasih kita semuanya ini. Tapi kok kita malah ngelunjak dan bilang kita sibuk ya? Duh gimana nih...?

Gimana kalau Allah gak peduli lagi sama kita?

Astaghfirullahalaziim!

Ya Allah, Aku Ingin Pacaran

Ya Allah, aku ingin pacaran

Hai para jomblo!
Hari gini masih jomblo? HAHAHA gue juga.
Bosen ya jadi jomblo?
Gue iri sama mereka yang punya pacar. Gue pengen banget punya pacar.
Setiap pagi ada yang bangunin.
Ada yang selalu ngingetin makan.  Ada yang bisa diajak bercanda terus. Ada yang nelponin. Ada yang kangen kita.
Ada yang ngasih perhatian sama kita. Ada yang sayang sama kita. Kemana-mana selalu berdua, bisa gandengan tangan romantis. Bisa pamer foto berdua. Iri sama mereka yg keliatan bahagia bareng pacar mereka. Pengen pacaran.. Pengen banget.

Tapi..
Ya mau bagaimana lagi. Takdir berkata lain. Gue ditakdirkan menjadi jomblo ngenes. Bukannya gue gak pernah usaha buat bisa pacaran.
Hanya saja..
Allah masih menjaga gue dari maksiat..

Salam, jomblo Syariah

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented