Minggu, 07 Februari 2016
Dungeon #1: Jacuzzi alami gunung peyek
Senin, 01 Februari 2016
Bayat, After Dungeon
Minggu, 31 Januari 2016
Disc 2 Chapter 5
Disc 2 chapter 5: Dua waktu (prologue)
Detik ini akan menentukan detik berikutnya
Menit ini untuk menit berikutnya
Jam ini untuk jam berikutnya
Hidupmu saat ini untuk hidupmu berikutnya.
Katakan padaku, kau inginkan masa depan yang seperti apa?
Disc 2 Chapter 5: World of silent
Kata-katanya telah membungkamnya.
Ekspresinya telah menguburnya.
Kau tidak bisa lagi mendengar hatinya berteriak,
"Tolong Aku..!"
Tapi Dia tidak begitu
Disc 2 Chapter 5: Behind The Scene
Kisah yang aku ceritakan padamu adalah rahasia. Ketangguhan yang kau lihat padaku adalah rahasia. Jangan kau katakan apapun pada dunia. Karena kau adalah rahasia
Disc 2 Chapter 5: Blackhole
Drag me to loneliness and you'll find the third.
Complete those missions, you'll get the second.
Stay beside me, you'll get to know the first.
In some random events i'll tell you the truth.
Disc 2 Chapter 5: Berpijak pada angin
Rasa kehilangan akan sesuatu memberimu lebih dari cukup untuk berusaha mendapatkan segalanya. Akh! Aku tau ini hanya rasa sementara.
Disc 2 Chapter 5: Tahun ke 7
"Semenyedihkan apapun dirimu saat ini, keberadaanku adalah sesuatu yang akan kau tertawakan nanti. Terimakasih karena masih menganggapku ada"
Disc 2 Chapter 5: dirimu semu.
Bertemu denganmu di dalam mimpiku hanya menambah daftar panjang rasa rinduku. Tunggu, aku bahkan tidak tau siapa kamu.
Disc 2 Chapter 5: Shadow
Cepatlah pergi!
Aku ingin merindukanmu
Disc 2 chapter 5: This time, This Cursed
Waktu adalah uang.
Waktu adalah pedang.
Tak peduli apa katamu,
Kamu tidak bisa mengutuk waktu tanpa mengutuk dirimu..
Disc 2 chapter 5: Seperti cermin
Mereka bilang, "mulutmu, harimaumu".
Benar. Kata-kata yang keluar dari lisanmu mencerminkan apa yang ada di pikiranmu..
Kecuali kamu seorang pembohong
Disc 2 Chapter 5: Dangerous Desires
Ada banyak pembunuhan di dalan pikiranmu. Untunglah kamu seorang pengecut.
Disc 2 Chapter 5: Evening Flow
Kau terpelanting, kau terbanting..
Seperti sungai dan hujan..
Disc 2 Chapter 5: The edge of Evening
Kembalilah! Aku punya janji dengan dirimu di kala itu
Disc 2 Chapter 5: You
Jika aku mengatakan aku pergi sendirian bersamamu, lalu siapakah dirimu?
Sabtu, 16 Januari 2016
Batas Mayoritas!
Assalamu'alaikum, bloooooogs!
Aku tau.. Ini udah terhitung lama banget sejak gue terakhir main ke sini. Do you miss me? I do miss you. Entah siapa "you" nya...
Maaf ya gue meninggalkan blogs cukup lama. Soalnya.... Ah gak penting juga sih alasannya. Yang jelas gue kembali dengan berbagai cerita yg akan gue sampaikan. Penasaran? Nggak? Yaudah -_-
Anyway, post kali ini adalah sebuah pemikiran. Gue udah pelajari sejak... Gue ulangtahun desember 2015 silam. Ini tentang menjadi diri sendiri.. Dan sesuatu yang membatasinya..
Baiklah! Kita mulai!
Emm..
Adakah di antara kalian yg jago bermain peran? Acting? Jadi aktor mungkin? Kayaknya reader gue gak ada yg aktor ya -_-. Kalau begitu ada yg udah pernah main drama? Pasti ada!
Gue udah pernah main drama. Waktu SMA. Walaupun gak jago-jago banget sih.
Enak gak main drama? Asik lah ya. Apa lagi kalau dibayar. Kalau pun gak dibayar ya gapapa juga sih.
Seni bermain peran atau drama adalah seni yg, menurut gue, harus menjadikan kita berperan sebagai orang lain. Kita harus meresapi tokoh yg kita perankan dan benar-benar menjadi sosok tokoh tersebut. Walaupun karakter tokoh yg kita perankan berbeda jauh banget sama kita. Kalau dulu sih.. Peran gue cuma sebagai orang biasa yg jago ngerakit sesuatu. Gak jauh beda dengan karakter asli gue. Perannya gak terlalu penting juga. Tapi lumayan asik. Gimana denganmu? Suka main drama? Jadi karakter yg seperti apa? Pasti asik ya..
Tapi, blogs, pembahasan gue kali ini bukan tentang bermain drama di pentas drama. Melainkan bermain drama dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi orang lain di saat kita tidak harus jadi orang lain. Ngerti gak maksud gue?
Ini bermula semenjak gue merenungi beberapa hal. Tentang senyum palsu. Keren gak sih istilah "Senyum Palsu"? Dulu populer di Friendster gue. Sekarang udah pindah ke status FB teman-teman yg gak gue kenal. Tentu saja kebanyakan remaja. Biasanya ini dinyatakan oleh mereka yg galau banget dan berusaha buat tegar. Tapi gagal gara-gara update status FB -_-. Senyum Palsu ini, buat gue, menggambarkan seseorang yg sok tegar tapi pengen dikasihani. Dia membohongi diri sendiri dan orang lain. Dia ingin ada yg peduli sama dia. Tapi pas ditanya kenapa jawabnya, "gapapa kok :')"
Selin.. -___-
Selang waktu berikutnya mulai muncul istilah " Muna". Tau muna gak? Itu kependekan dari "Munafik". Semacam orang yg baik di depan kita tapi jahat dibelakang kita. Atau istilah kerennya itu "Backstabber". Orang semacam ini jago banget main dramanya. Walaupun akhirnya ketauan juga sih. Backstabber biasanya jauh lebih dibenci dari si Senyum Palsu karena Backstabber bisa merugikan orang lain dan menghancurkan hubungan. Bisa menyebar aib, fitnah, dan lain-lain. Bagaikan musuh dalam selimut.. Pokoknya bahaya deh!
Akibatnya orang-orang yang tersakiti hatinya akan saling membenci. Lebih lagi bisa menutup diri. Ekspresi yg orang ini lemparkan hanya ekspresi palsu untuk menutupi sakit hatinya.
Dia mulai hidup dalam kebohongan.
Seiring berjalannya waktu, hidup seolah memaksa kita untuk berpura-pura. Bukan, bukan hidup.. Tapi orang-orang di sekitar kita. Kita jadi terbiasa berbohong. Entah untuk keuntungan kita sendiri atau sekedar menjaga perasaan orang lain. Atau bahkan menutupi perasaan kita. Kita mulai mengenal istilah panggung kehidupan. Semua orang yang hidup seolah memakai topeng untuk menyembunyikan perasaannya. Gue rasa kalian juga mengerti dan pernah merasakan sesuatu semacam ini.
awalnya terasa keren. Seolah kita menjadi sosok misterius yg sulit dipahami. Tapi kenyataannya ini menyedihkan. Kita seolah berperan sebagai seorang tokoh yg ceria saat kenyataannya kita merasa sedih. Kita seperti memainkan sandiwara besar yg gak ada habisnya. Peran kita akan terhenti saat hati kita dipahami atau saat kita mati.
Well, gue gak tau juga sih, menutupi kesedihan kita itu sesuatu yg baik atau buruk. Benar atau salah. Rasanya memang gak semua orang harus tau kesedihan kita. Tapi... Kayak ada yg salah dengan pola ini. Apa ya...? Hmmm.. Mungkin guenya aja yg ngerasa ada yg salah.
Mungkin juga karena orang-orang yg gue amati di sekitar gue.
Rasa sedih dan penderitaan yg dialami seseorang akan mempertebal topeng sandiwaranya. Tau kenapa? Karena orang-orang yg menjadi tempatnya bercerita memaksa dia untuk jadi kuat saat hatinya sedang lemah. Membatasi hatinya untuk meluapkan perasaannya. Pasti kau pernah melihat atau mendengar saat seseorang lagi nangis tapi disuruh diem dan berhenti nangis. Padahal hatinya lagi sakit banget. Rasa takut akan cemoohan publik atau bullying juga menghasilkan kekuatan baru untuk menutup diri. Bukan untuk jadi lebih tegar. Dan gue rasa secara gak sadar ini dianggap jadi hal yg benar bagi sebagian besar orang, bagi mayoritas. Kebenaran untuk menahan emosi, dan memalsukan ekspresi. Perkembangan sosial memaksa kita menjadi sosok yg sama. Jadi aktor dalam drama bertopeng ini.
Kau tau, blogs? Dari dulu gue pengen bisa tampil beda. Gue gak mau sekedar ikut pendapat mayoritas. Gue ingin punya pola pikir gue sendiri. Bisa menjalani hidup sebagai diri sendiri. Karena aktor terbaik yang bisa memerankan diri gue ya gue sendiri. Noone else.
Contohnya... Dalam hal imajinasi. Sebagai seseorang yg usianya udah kepala 2, gue tetap suka berimajinasi seperti di dalam dunia game. Kenapa? Karena ini seru banget! Tapi... Sebagian orang akan berkata, "dit, usia lu kan udah 20, masa masih seneng imajinasi kayak anak-anak gitu? Jadi dewasa dong, dit."
Padahal... Saat mereka ngeliat anak kecil lagi main mereka bilang, "enak ya jadi anak kecil. Bisa main bebas. Seru. Gak ada beban pikiran. Rasanya pengen balik jadi anak kecil lagi."
-____-
Gue tau seperti apa berpikir dewasa dengan segala masalah dan logika abu-abunya. Makanya gue memilih menikmati hidup seperti anak-anak. Tapi... Mayoritas akan bilang gue salah. Dan seolah memaksa gue berpikir seperti mereka. Lalu mereka akan membatasi diri gue untuk memainkan peran gue sendiri. Akibatnya gue akan memakai topeng drama kehidupan yang tadi kita bicarakan. But no! I i want to be me!
Contoh lainnya adalah saat seseorang mengatakan orang lain alay. Dengan segala gaya foto, dan tulisannya yg sekarang melegenda. Memangnya apa yg salah dengan gaya Alay? Well, tulisannya emang salah sih. Gak sesuai EYD. Tapi itukan gaya mereka. Sesuatu yg ngebuat mereka bahagia. Dulu waktu kita berada di fase Alay kita juga ngerasa seneng-seneng aja. Gaul dan terasa keren. Tapi mayoritas mulai mencemooh dan merubah kita. Membatasi kebahagiaan kita menjadi diri kita sendiri hanya karena tidak sesuai dengan trend masa kini. Konyol...
Karena itu, blogs, gue ingin berusaha jadi diri sendiri. Apa pun trend yg ada sekarang. Mau gue ikut atau nggak, gue tetep memilih sesuai hati gue. Dengan begitu, kebahagiaan untuk jadi diri sendiri gak akan terenggut :)
---
Okay, bloooogs..
Emm.. Kalian paham gak sama post ini?
Sebenernya gue ngerasa bagian awal hingga akhir post ini agak gak nyambung. Gue menggelar topiknya terlalu lebar -_-. Gue jadi bingung sendiri lagi ngebahas apa. Dan berkali-kali kena Writter' Block. Ini ngeselin banget! Gue harus berusaha menyambungkan topik mulai dari senyum palsu, backstabber, peran, topeng, mayoritas, jadi diri sendiri.. Pokoknya gitu deh. Yah semoga bisa diambil hikmahnya dan bermanfaat untuk kita semua. Kalau paham sih.. -_-
Udah ya?
Assalamu'alaykum, blogs
Selasa, 17 November 2015
Perang di sebrang
Assalamu'alaykum, blogs...
Akhirnya setelah beberapa waktu gue tinggalkan, sekarang gue kembali lagi ke sini untuk mengisi hari-hari kalian. Yeay! :D
Gimana kabar kamu semua? Semoga sehat dan tetap menjaga kesehatan ya. Soalnya saat ini sedang musin pancaroba. "Panca" berarti "5". "Roba" berarti... "Robot". Jadi Pancaroba adalah peralihan musim kemarau ke musim hujan. Gitu.
Oiya, sebenernya gue pengen belajar cara menulis dengan gaya bahasa yg baik. Kayak artikel gitu. Tapi belum bisa banget sih. Mungkin lain kali. Dan lagi.. Tema post kali ini rasanya lebih enak kalau gue gunain gaya bahasa bebas. Mau tau post kali ini tentang apa? Perang
Gunakan kacamata perspektif kalian.
Apa yg gue sampaikan ini lebih banyak opini. Mungkin ada fakta juga tapi kayaknya gak akurat. Dan lagi... Mungkin gue juga gak bisa ngasih solusi. Tapi kalo kalian melihat solusi yg nyempil ya baguslah.
Siap ya? Let's go!
Perang..
Ide ini bermula semenjak maraknya artikel tentang perang dan korban-korbannya di media sosial. Banyaaaaaak banget. Perang siapa lawan siapa? You know, israel vs palestine dalam skala kecil. Umat islam melawan dunia dalam skala besar.
Gue gak terlalu paham penyebab perangnya itu apa. Mungkin perebutan kekuasaan atau semacamnya. Yg jelas korbannya udah banyak banget. Terutama dari pihak palestine. Dan parahnya lagi korbannya sebagian besar adalah wargs sipil. Wanita dan anak-anak! Sementara dari pihak israel yg gue tau lebih banyak tentaranya.
Agresi dari pihak israel ke palestine atau sekitarnya gak cuma lewat tembakan, tank atau semacamnya. Mereka pake pesawat tempur, rudal, pemboikotan sumber daya dan lain-lain yang ditujukan ke perkotaan di palestine.
Ada banyak foto dan rekaman media yg menunjukan suasana perang disana. Entah apa udah sedahsyat perang dunia 2 atau sedang bergerak kesana. Tapi ini bener-bener terjadi! Terjadi di zaman kita. Tahun 2015! Walau beda lokasi sih.
Perang yg terjadi saat ini bukan dongeng. Bukan cerita di buku pelajaran sejarah yang udah berkali-kali dibaca tapi gak nyantol di otak. Kalau kalian merasa perang itu keren dan heroik coba aja pergi ke sana. Rasakan seperti apa perang itu. Pedih, perih, benci, dendam, duka. Berjuang mati-matian seperti veteran bangsa yang gak lagi dihargai sekarang ini.
Siapa yang harus disalahkan? Pemerintah? No, berharap sama pemerintah cuma bikin sakit hati dan kesal sendiri. Bangsa ini? Nggak, gue gak pengen menyalahkan bangsa ini. Actually, gue gak tau siapa yg salah. Menyalahkan orang lain dan menganggap diri kita sebagai korban adalah tindakan pengecut.
Kembali lagi ke perang tadi.
Perang israel vs palestine itu kan cuma skala kecil ya, perang yg skala besar tadi gue katakan adalah perang umat islam vs dunia. Ini dibuktikan dengan bagaimana media mengarahkan pandangan kita bahwa muslim adalah teroris. Sampai akhirnya muncul islamophobia. Takut sama orang yg menganut agama islam. Dan lagi-lagi ini bener-bener terjadi.
Beberapa waktu lalu ada seorang teman gue yg dia itu lagi mempelajari islam secara kaffah (menyeluruh). Dia belajar sunnah dan sering ikut kajian di masjid. Dia juga ikut dakwah kemana-mana. Mengajarkan persaudaraan dan bagaimana damainya islam. Tapi malah dilarang sama orangtuanya. Katanya sih takut masuk aliran sesat. Takut jadi ekstrimis dan jadi teroris. Padahal mah nggak. Yg jadi teroris itu dari... Wahabbi, kalau nggak salah. Gak tau juga itu ajarannya seperti apa. Terus muncul juga syiah yg juga mengatasnamakan islam untuk ajarannya yg melenceng. Kepercayaan untuk menganut agama islam jadi lemah karena fitnah yg besar banget. Islam menjadi asing dari dunia. Persis seperti yg dikatakan Rasulullah SAW.
Beliau mengatakan bahwa islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali terasingkan. Maka beruntunglah orang-orang asing (yg teguh memegang agama islam) tersebut.
Sabda nabi Muhammad SAW. yang menggambarkan kondisi agama islam di masa sekarang ini harusnya menguatkan kita bahwa agama islam adalah yg paling benar. Bukan yg lain.
Balik lagi. Islam vs dunia.
Kita udah tau sebagian kecil perang yg terjadi saat ini. Palestine, rohingya, afganistan dll. Penjajahan negara non-islam terhadap islam yg diberitakan secara terbalik. Beberapa waktu lalu muncul pertanyaan di pikiran gue,
"Indonesia kan penduduknya mayoritas islam. Kok gak dijajah?"
Ada yg bisa jawab?
Gue jawab dengan pertanyaan, "siapa bilang kita gak dijajah?" kita lagi dijajah. Dengan cara yg halus. Kok bisa?
Ini teori gue sendiri.
"Untuk menghancurkan suatu bangsa kamu hanya perlu menghancurkan pemudanya. Jika pemudanya kuat maka ia dibunuh, jika pemudanya lemah maka ia dirusak."
Indonesia, kita, termasuk yg dirusak. Kuat dan lemah ini bukan secara fisik, tapi mental, keyakinan. Kalau indonesia diserang pake senjata, indonesia bakalan ngamuk. Kekuatan indonesia itu di masyarakatnya. Ketika kita berperang yg maju bukan cuma tentara, tapi seluruh pemudanya. Ini dulu pas perang di surabaya. Entah kalau sekarang. Mungkin masih sekuat dulu. Karena itu, negera luar menyerang indonesia pake cara halus. Dengan teknologi, menguras kekayaan alam indonesia, mengubah kebiasaan dan pola pikir pemuda dengan westernisasi, memanjakan penduduknya, menyebarkan penyakit dan masih banyak lagi. Dan tentu saja ini juga sedang terjadi. Entah kamu sadar atau nggak. Gue sadar tapi gak tau harus bertindak seperti apa. Bodoh juga.
Kita disibukkan dengan sesuatu yg... Menutup mata kita terhadap dunia. Kita menginginkan perdamaian tapi dengan cara berperang. Kita mengecam peperangan dengan menghina dan memprovokasi peperangan. Kita merasa aman karena perang itu tidak ter.. Maaf, belum terjadi di sekitar kita.
Seperti inilah, blogs, opini dan kenyataan yg ingin gue sampaikan. Bahwa kita juga sedang dijajah. Kita sedang dilemahkan. Akhlak kita dirusak dengan fashion yg menghinakan perempuan khususnya, lisan kita dibimbing untuk mengatakan "f*ck, mo*h*r f**k, as* h**e, an*i*g" dan semacamnya yg dianggap keren dan kekinian. Kita dibuat hanya bisa komentar tanpa bertindak. Menyalahkan orang lain dan berlagak menjadi korban serta banyak mengeluh. Kalian merasa seperti itu gak? Gue ngerasa loh.
Gue gak bisa ngasih solusi untuk masalah yg sedang terjadi di dunia. Rasanya... Bodoh banget karena gak bisa bertindak. Karena itu kalau ada yg punya solusi, bertindaklah!
Lakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia.
Tolong orang di sekitarmu.
Jaga lisanmu. Perbaiki akhlakmu.
Dan persiapkan dirimu untuk kehidupan berikutnya, ya?
Emmm...
Itu aja yg ingin gue sampaikan kali ini.
Sekali lagi maaf karena gue gak bisa ngasih solusi dan cuma nulis doang. Gue harap suatu saat tulisan gue bisa merubah dunia.
Assalamu'alaykum :)
Minggu, 01 November 2015
Masih Ada
Taukah kamu, saat ini mungkin mereka yang telah pergi meninggalkan kita tengah menderita di alam sana.
Apa kau dengar teriakan mereka? Tidak.
Apa kau tau apa yang mereka teriakan? Penyesalan.
Apa kau sadar apa yang mereka inginkan? Kesempatan.
Ya, Kesempatan untuk hidup kembali. Kesempatan untuk beribadah walau hanya sekejap.
Untuk menahan perih pedihnya siksa. Untuk kunci membuka surga
Namun percuma bagi mereka, lain hal dengan kita.
Kesempatan masih singgah.
Hidup masih betah.
Penyesalan masih berbenah. Belum menghampiri.
Lantas, apa yang akan kita persiapkan?
Bagaimana kesempatan akan kita perlakukan?
Jarak Antara Kita
Wahai saudaraku..
Akh! Tak pantas rasanya kau menyebutku saudara. Setelah aku meninggalkanmu menghadapi penderitaanmu sendirian. Seolah kita adalah tubuh yang terpisah. Atau akulah bagian yang tersuntik anastesi. Aku tidak lagi merasakan perihmu..
Katakan padaku, kawan..
Bagaimana kamu bisa sekuat itu bertahan?
Bagaimana dirimu bisa menggenggam keyakinan itu begitu erat? Sedang disini aku hampir meloloskannya dari genggamanku..
Katakan padaku, kawan..
Seperti apakah mati itu?
Sakitkah rasanya?
Adakah ia sama dengan terbangun dari mimpi panjang yang fana?
Ceritakan padaku, duhai sahabat..
Seperti apakah maut yang datang menggandeng dirimu?
Seperti apa dunia yang menunggumu di alam sana?
Aku khawatir wahai teman..
Kau akan meminta pertanggungjawabanku saat bibir ini tak bisa lagi memuntahkan beribu alasan.
Saat tangan dan kaki mengeluh karena aku tuan mereka yang begitu hina.
Dimana diriku saat kamu tersiksa?
Dimana diriku saat kamu menangis?
Bagaimana aku mengeluhkan panasnya siang saat api membakar rumahmu?
Bagaimana aku bisa bersantai saat air menghujaniku sementara peluru menghujanimu?
Kami tidak sebanding denganmu..
Di sana, para wanita mati-matian mempertahankan kehormatannya, sementara disini mereka rela menghinakan dirinya. Bukan hanya remaja. Bahkan juga orang tua. Atas dasar "gaya" katanya.
Di sana, orang-orang berlomba-lomba mengerjakan shalat. Di sini kami menundanya bahkan tak jarang terlewat.
Di sana, orang-orang bertaruh
nyawa datang ke masjid tapi masjid dirobohkan. Di sini, orang-orang tak peduli dengan nyawa tapi masjid ditinggalkan.
Di sana, orang-orang berjerihpayah menyampaikan dakwah. Di sini, dzikir pun jarang. Yang keluar dari lisan ini hanya makian, hinaan, hujatan, tawa dan permintaan.
Bagaimana bisa kami berkata "kami adalah orang yang baik, saat aib kami begitu besar?"
Bagaimana kami bisa mengira kami akan masuk surga, saat bahkan tak ada jalan untuk keluar dari neraka?
Bagaimana kami membanggakan kecerdasan otak, saat kecerdasan sesungguhnya adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya?
Bagaimana kami masih sibuk mengejar harta dengan teknologi mutakhir saat sebentar lagi dunia akan berakhir?
Ya Allah..
Kami harus bagaimana?
Kami ingin menjadi orang yg bermanfaat..
Kami ingin menolong mereka..
Kami ingin menolong agamaMu..
Bolehkah?