Senin, 13 Januari 2014

Rahasia Hitam 3

"Ayo, Res, cepetan!" Dante berbisik padaku.
Matanya tak henti-hentinya memperhatikan gerak-gerik seseorang. Mengikutinya selangkah demi selangkah sambil sesekali bersembunyi di balik pepohonan warga.

Suasana saat itu sepi. Hanya ada aku, Dante, dan seseorang yang menjadi objek tugas Dante yang sepertinya tidak menyadari keberadaan kami.

Pagi tadi Dante mengajakku untuk mengikuti kak Agni untuk mengetahui sikapnya di luar jam kuliah. Rencana itu dia lakukan setelah puas membuntuti kak Agni berhari-hari di kampus. Dari hasil penyidikannya, Dante mencatat beberapa sikap kak Agni: Sombong, suka menghina, mudah marah, jahil, mudah menyerah dan entah apa lagi keburukannya. Namun aku juga mendapati dalam catatan itu: mudah bersosialisasi, tidak pelit, dan setia kawan. Aku tidak tau itu benar atau salah tapi itulah yang aku baca.

"Res, dia masuk ke gang kecil tuh! Ayo!"

Aku dan Dante terus mengikuti langkah kak Agni. Dari mulut gang kecil itu aku bisa melihat 4 orang yang mungkin adalah temannya. Mereka tampak menyeramkan, bertatto dan berbaju rombeng layaknya preman. Tunggu, aku rasa mereka memang preman. Aku tidak pernah melihat mereka di kampus. Asing. Ya, mereka asing buatku.

"Kak Agni mau apa di sini?"  Bisik Dante.

Dia tercengang melihat pemandangan di dalam gang sempit itu. Botol-botol bir tergeletak di sembarang tempat. Tak lupa tumpukan kartu serta lembaran uang puluhan ribu siap menjadi permainan mereka.

"Dan, kayaknya kita harus pergi sekarang," aku menarik tangan Dante.

"Nanti dulu! Aku masih mau nyelidikin kak Agni," bisiknya dengan nada tinggi.

"Ayo, Dan! Ini udah gak bener! Kita harus pergi sekarang!"

"Eh! Ngapain kalian di sini!?" Suara itu terdengar jelas di belakang kami. Mengejutkan aku dan Dante serta para pemain kartu di ujung gang kecil ini.

Aku dan Dante tidak menjawab. Kami masih bungkam. Jantungku berdegup lebih cepat seiring langkah orang-orang bermuka barbar itu mendekat, termasuk kak Agni.

"Ares? Dante? Ngapain kalian di sini?!" Pertanyaan itu terulang, kali ini oleh suara yang lebih familiar.

Tetap saja kami tidak menjawab. Kami terlalu takut dengan 6 orang yang mengepung kami.

"Lo kenal mereka, ni?"
"Mereka adik kelas gue di kampus"

"Kak! Ngapain kakak di sini?!" Dante memberanikan diri.
"Ngapain? Suka-suka gue dong mau ngapain di sini. Ada urusan apa lo ke sini?"

"Oh kalian ngebuntutin gue ya? Mau nyari tau tentang gue? Berani juga si cupu sama anak mami ini. Hahaha."  Ucap kak Agni setelah mengambil buku catatan Dante.

"Sebagai ucapan selamat karena udah berani ke sini, rasain nih!" Satu pukulan mendarat di perut Dante. Ia langsung tersungkur lemas. Aku pun tak luput dari sasaran kak Agni. Pukulannya mengenai wajahku.

"Guys, ayo dong! Sambut tamu kita yang berani ini!" Kak Agni mengajak 5 temannya untuk menjadikan kami bulan-bulanan mereka.

Tiga orang di antara mereka memukulku tanpa ampun. Tendangan dan pukulan aku tahan sekuat tenaga. Ingin rasanya aku balas. Tapi aku tidak berdaya. Aku lemah. Rasa sakit terlanjur merasuk ke sarafku memberi rangsangan yang melumpuhkan  seluruh tubuhku.

Nasib Dante tak jauh berbeda dariku. Dia juga menahan rasa sakit dari penindasan fisik ini. Kulihat dia menangis. Mungkin hanya itu luapan emosi yang bisa dia keluarkan sekarang.

Sekitar 5 menit pukulan dan tendangan mereka menghantam kami. Kak Agni mendekati aku yang meringkuk di aspal.

"Gimana  anak mami yang satu ini? Mami lo mana? Jauh ya tinggalnya? Kalau papi lo? Tunggu, emang lo punya papi? Papi elo aja gak jelas. Papi elo pasti cuma om-om yang rela ngebayar mami lo buat ngelahirin elo tanpa nikah. Iya kan? Dasar anak haram!" Ucap kak Agni dengan seringainya yang sangat kupandang rendah.

Deg! Jantungku berdegup lebih cepat. Jauh lebih cepat. Ini seperti saat ospek dulu tapi kali ini terasa lebih nyata. Kata itu terlanjur diucapkan.

Hinaan kak Agni membakar emosiku lebih cepat daripada rasa sakit di tubuhku yang pudar perlahan. Merubahnya menjadi tenaga super untuk aku bangkit dari aspal tempat aku berbaring. Namun aneh. Aku masih merasa lumpuh. Seolah aku kehilangan kendali atas tubuhku. Bahkan kesadaranku mulai tergantikan oleh sesuatu yang terus bergumam di kepalaku,

"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"



Senin, 06 Januari 2014

Rahasia Hitam 2

Kembali aku terduduk di taman samping Gedung rektorat. Tempat ini adalah tempat favoritku untuk menyendiri. Selain banyak pepohonan yang membuat sejuk, taman ini juga biasanya sepi. Jarang ada mahasiswa yang singgah di sini.

Lokasinya juga cukup jauh dari gedung fakuktas psikologi tempat aku biasa menimba ilmu. Di sini aku tidak perlu terpengaruh dengan hawa kehadiran seniorku yang tentunya ditakuti teman-temanku.

"Hoi, Res! Lagi-lagi kamu di sini. Ngapain, sih?"
"Iya, Dan. Cuma duduk aja kok."

"Jangan sendirian, Res. Kan udah dibilangin sama ketua angkatan kita. Nanti kamu dicap apatis loh."

Ketua angkatanku memang menyuruh kami untuk tidak sendirian. Kami diwajibkan untuk selalu sama-sama demi kesatuan, kekompakan atau apalah itu aku tidak peduli.

Aku hanya mengangguk untuk membalas ucapan Dante  barusan.

Sudah seminggu berlalu sejak acara ospek itu. Orang yang dahulu membelaku dari kak Agni kini duduk di hadapanku. Dante namanya. Seorang mahasiswa cupu yang sedang berontak dari kecupuannya.

"Gimana? Udah nentuin target buat tugas psikologi dasar?"

"Belom."

"Ayolah, Res. Kita kan harus memperhatikan tingkah laku seseorang tanpa ketauan."

"kalau begitu harusnya kamu gak perlu tau siapa targetku. Lagi pula memang kamu udah punya target, Dan?"

"Hmm.. belom juga sih. Yah, waktunya juga masih lama."

"Cieeee!! Si anak cupu sama anak mami lagi berduaan! Kayak homo." Teriakan itu terdengar dari luar taman. Suara menyebalkan yang sudah sangat aku kenal. Siapa lagi kalau bukan kak Agni.

Orang itu tidak henti-hentinya menghina kami. Tingkahnya seperti anak kecil. Tidak, dia lebih seperti orang gila. Bahkan lebih rendah menurutku.

Aku dan Dante hanya memperhatikannya yang tertawa garing sambil berlalu menuju gedung psikologi.

"Res, aku udah nentuin siapa targetku," Dante tersenyum licik.

"Siapa? Kak Agni?"

Dante tidak mengubah ekspresinya. Aku yakin itu berarti iya. Dante menargetkan kak Agni sebagai objek penelitiannya untuk tugas psikologi. 

"Kamu yakin, Dan?"
"Iya, abisnya dia menarik sih," jawab Dante.

Benar. Kak Agni memang ekspresif. Tingkahnya mencerminkan sifatnya lebih bening dari kaca. Dia menyebalkan tapi karena itu pula dia mudah untuk dinilai.

Berbeda denganku. Siapa yang mau menilaiku? Aku bukanlah orang yang menarik. Aku tidak bisa mengutarakan ekspresiku di depan orang banyak. Aku lebih cenderung membosankan. Aku jarang berkumpul dengan teman-teman. Apatis. Ya, itu sebutan yang mungkin akan aku sandang sebagai penghormatan dari angkatanku.

"Udah sore nih, Res, balik yuk?"

---
Hari-hariku berlanjut dengan membosankan. Hanya kuliah, mengerjakan tugas, makan, dan tidur yang aku lakukan. Oiya, juga merenung di tempat favoritku tentunya.

Sebenarnya aku masih sibuk bertanya. Kenapa aku ada di sini? Di fakultas psikologi? Awalnya aku kira jurusan psikologi adalah tempat orang-orang yang sering dicurhatin. Tempat orang yang paham perasaan orang lain. Seiring waktu, aku mulai menganggap psikolog adalah orang yang memberi masukan, bisa menghipnotis, atau semacamnya. Namun sekarang aku merasa psikolog bagaikan dokter penyakit jiwa. Dan aku yang akan jadi pasiennya.

Aku tidak tertarik dengan curhatan orang-orang. Aku juga tidak mahir memberi masukan untuk teman-temanku. Tidak ada niat untuk aku menjadi motivator, konsultan, apa lagi dokter penyakit jiwa. Seperti yang aku bilang, jika psikologi adalah rumah sakit jiwa, maka aku adalah pasiennya. Apa aku sakit jiwa? Tidak. Aku tidak gila. Mungkin belum.

Bagiku psikologi adalah rumah rehabilitasi. Tempat aku mengenal diriku dan sesuatu yang lain.

Sabtu, 04 Januari 2014

Rahasia Hitam 1

"Aaa... AAAAHHH!!" suaranya menggema dalam ruangan kosong yang pengap ini. Aku masih bisa mendengarnya walau rasanya sebentar lagi aku akan tuli. Masih bisa aku rasakan pisau menancap di dada kiriku. Sakit? Tidak. Aku mati rasa. Aku yakin sebentar lagi aku pun akan mati raga, juga jiwa. Aku kehilangan nyawa.

"AREEESSSS!!!" Dia mengguncang tubuhku yang bersimba darah.
Matanya terbuka lebar menatapku seolah tak percaya dengan apa yang ditangkap indra penglihatannya.

Kunikmati detik-detik terakhirku menatap wajah panik Dante, sahabatku. Orang yang paling mengenaliku, bahkan melebihi ibuku.

Aku tersenyum melihat darahku yang berlumuran di tangannya.  Sebilah pisau yang tertanam di jantungku juga adalah miliknya. Ya, dia yang membunuhku.

----

"SIAPA KALIAAAN?!" Teriakan  panitia ospek membuat bisu para mahasiswa baru.
Senyap, kami diam mematung.

"JAWAB!! Punya mulut, nggak?!" kali ini suara cempreng keluar dari mulut mbak Thita. Matanya yang sipit dipaksakan melotot demi  menghardik serdadu pelajar berpakaian putih hitam lengkap dengan atribut ospek yang menjadikan kami bak orang gila.

"Aku tanya sekali lagi. SIAPA KALIAAAN?!" teriakan itu terdengar lebih keras kali ini seperti gemuruh petir di tengah teriknya matahari.

"Mahasiswa Psikologi Universitas Prima Tamaya!" sayup-sayup terdengar sahutan tunggal dari barisanku.
Dante, ketua kelompokku, menjawab.

"Cuma satu orang yang menjawab? SIAPA KALIAN?!" Ini ketiga kalinya aku dengar  pertanyaan yang sama. Membosankan.

"MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS PRIMA TAMAYA!!!" kali ini lebih banyak suara yang menyambut teriakan panitia ospek bermuka sangar itu.

kami masih berdiri dijemur di bawah terik matahari siang ini. Sudah hampir dari 1 jam yang lalu kami mendapat bentakkan, umpatan, dan sesekali tamparan dari panitia ospek. Menyebalkan memang, tapi inilah yang harus kami jalani. Paling tidak untuk 4 bulan kedepan.

"WOY! Ngapain bengong?!" Satu tamparan keras dari kak Agni melayang ke arahku. Aku tidak membalasnya. Aku tahan rasa perih di pipi kananku dan berusaha tetap meredam emosi. Tetap diam di tempat dengan tatapan kosong  terkunci pada tengkuk leher Dante yang berdiri tepat di depanku.

"Oh jadi Ares bisa masuk universitas juga ya. Si 'anak mami' yang satu ini udah siap lepas dari maminya ya? HAHAHA," tawa kak Agni terdengar menjijikan. Aku tau dia berusaha memancing emosiku.

'Sabar.. tenang aja, Res, jangan terbawa emosi. Jangan termakan omongan kak Agni' batinku terus mengingatkanku. Aku harus tetap tenang dalam kondisi ini.

Belum puas menghinaku dengan sebutan anak mami, kak Agni kini mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Dengar ya, Res, aku tau kalau kamu itu anak ha.."

"Kak, cukup!" Dante memotong bisikkan Kak Agni yang merupakan kakak kelas kami di SMA yang beda 2 tahun di atas kami.

"Jangan ganggu Ares, kak!" Ucap Dante tegas seolah tau apa yang mau kak Agni ucapkan. Aku sendiri sebenarnya tau lanjutan dari kalimat kak Agni tadi. Kalau saja Dante tidak memotong bisikannya, mungkin saat ini emosiku sudah meledak.

"Kalau aku gangguin dia, kamu mau apa?"

Dante menatapnya tajam, walau aku tau sebenarnya dia takut pada kakak kelasku yang terkenal preman di SMA. Sialnya kami harus satu kampus dengannya, ditambah lagi dia adalah panitia ospek yang memiliki kuasa untuk menganiaya mahasiswa baru seperti kami.

Dante tidak menjawab. Hanya emosinya yang menyiratkan geram di raut wajahnya. Berbeda dengan kak Agni yang hanya dengan menyeringai mampu menciutkan nyali Dante.

"Jadi gimana? Kalau aku gangguin dia, kamu mau apa, hah?" Orang barbar itu mendongakkan dagunya. Sikapnya benar-benar menantang Dante yang terkesan alim dan cupu waktu SMA.

"Kamu ngapain, ni?" Seorang panitia ospek berbadan gempal dan berambut cepak datang. Kulitnya yang hitam menambah kesan menyeramkan dari dirinya.

"Ini, Bay, ada maba yang songong berani ngelawan gue,"
"Yang mana?"
"Ini, si dua kunyuk ini," kak Agni mengarahkan jari telunjuknya bergantian kepadaku dan Dante.

Kak Bayu, panitia bertubuh gempal itu, menatap kami. Tatapannya teduh, kontras dengan perawakannya yang mirip genderwo nyasar di kampus.

"Dek, di sini kalian sebagai maba. Tolong hormati kakak tingkat kalian. Jangan terbawa emosi. Sabar aja. Jangan ngelawan kami," ucapnya pelan.

Kata-katanya barusan berhasil mengguyur api amarahku. Walaupun sebenarnya ada jutaan kata "tapi" yang siap aku lontarkan untuk menanggapi nasihatnya. Aku rasa Dante juga begitu.

Setelah menasihati kami, kak Bayu segera menarik kak Agni keluar dari barisan maba, tepatnya barisan kelompokku. Mungkin dia pun sudah tau watak kak Agni yang belagu dan gampang emosi bisa menghadirkan masalah yang berlebihan antara panitia dengan para mabanya.

Semua panitia kini sudah berbaris di depan. Acara ospek jurusan ini akhirnya sampai pada jadwal penutupan. Para panitia meminta maaf atas semua perlakuannya pada kami. Mereka berdalih itu untuk perbaikan sikap atau menguji mental. Konyol. Sangat klise menurutku.

Aku lihat teman-teman mahasiswa baru sependeritaanku mulai lega. Walau ada beberapa yang menangis, dan masih menyisakan kemarahan. Ada juga yang pipinya merah, tatapannya kosong, kumel dan lain-lain akibat menjadi bulan-bulanan panitia ospek.

Jujur saja, aku sendiri sebenarnya masih emosi pada kak Agni. Bukan karena tamparannya, tapi lebih karena hinaannya. Aku sangat sensitif dengan sebutan "anak mami". Apalagi dengan kata yang tak sempat dia ucapkan. Kata yang dapat merubah duniaku dalam sekejap. Layaknya siang yang berganti malam dalam satu kedipan mata.

Senin, 30 Desember 2013

How to love MATH

Assalamu'alaikum, blogs!

Gue gak mau basa-basi dulu ah. Udah mau 2014.

Blogs! Udah baca judulnya? Bagus. Karena itu yang akan gue bahas kali ini. "How to love Math" tentunya dengan versi gue tanpa mengutip buku motivasi, journal, diary, majalah, katalog barang kecantikan atau pun brosur Superindo. Oke, langsung aja ya.

MATEMATIKA
ada yang phobia atau paranoid dengan kata itu?
Ada yang langsung bete ketika mendengarnya?
Atau ada yang langsung kepingin bunuh diri begitu mempelajarinya?

Tunggu, kalian tau gak matematika itu apa?
"Sejenis kacang-kacangan, dit."
"nama mahluk buas di dasar laut!"
"Bencana, dit!"
"mateMATIka."
-___-

Sekitar 15 tahun loh kalian belajar begituan dari yang disuruh ngitung buah-buahan di TK sampe cacing-cacingan di bangku kuliah. Masa gak tau definisi matematika? Matematika itu... pelajaran berhitung. Itu definisi gue. Tanpa google.

Apa cuma sekedar berhitung? Tentu tidak. Matematika melemparkan bermilyar-milyar masalah ke hadapan kita. Dari masalah di setiap soalnya hingga masalah yang timbul bila kita tidak bisa mengerjakan soal-soalnya (re: nilai jelek). Dalam soal-soal yang disodorkan di depan kita, kita dituntut mencari jalan keluar atau penyelesaiannya dengan cara yang masuk akal.  Ngeselin ya? Dia yang punya masalah kita yang disuruh menyelesaikan -_-.

Kebanyakan orang akan frustasi dengan Matematika. Alasannya? Sebuah jawaban berupa pertanyaan, "buat apa kita belajar matematika ribet-ribet kalau ilmunya gak dipakai nantinya?"
Kalian mikir gitu, nggak? Gue, sih, nggak. Kenapa? Karena tujuan kita belajar matematika itu bukan ilmunya yg pake rumus bejibun mulai dari luas, volume, sin cos tan, limit, integral dan cecunguk-cecunguknya itu. Tapi kita disuruh menyelesaikan masalah dengan sekreatif mungkin dengan syarat pake rumus.

Otak kita bakalan disetting untuk mencari jalan keluar dari tekanan masalah yg kita hadapi. Nah, menurut gue, ini melatih kita buat menghadapi masalah di masa depan. Walaupun konteksnya beda. Di masa depan, kita emang gak perlu menyelesaikan masalah rumah tangga pake rumus trigonometri. Masalah hak waris serta keturunan juga gak perlu pake differensial dan integral. Kalau kalian menyelesaikan masalah itu beneran pake rumus, kalian freak -__-.

Gue melihat hasil belajar  matematika itu pada mental kita. Biar gak ngeluh dan gampang nyerah begitu ada masalah. Mencari jalan keluar secara bertahap  dan masuk akal. Kenapa masuk akal? Karena ini logika. Jadi kalian gak gampang pergi ke dukun. Dukun itu orang pintar, tapi gue rasa mereka gak jago matematika.

Setelah tau tujuannya, sekarang cara menaklukkan si pembawa wabah frustasi, Matematika. Tadi gue udah menyebutkan, matematika menjejali kita dengan segudang masalahnya yang rumit bin ngerepotin. tapi kaliah jangan pernah anggap itu sebagai masalah. Anggap itu sebagai bencana, monster, zombie, musuh bebuyutan kakek-nenek kalian yang hidup kembali pake edo tensei orochimaru, atau apa pun yang ngebuat kalian ngerasa tertantang.

Kalau gue sih anggapnya monster. Soalnya gue pernah jadi seorang gamer yang demen banget ngebunuh monster. Waktu gue jadi gamer dulu, gue gak suka matematika. Actually,  hampir semua pealajaran gak gue suka. Bahkan gue gak suka sekolah. Gue sering pura-pura sakit kalau di bangunin mama buat sekolah, pura-pura sakit biar ke uks dan dipulangin walaupun harus minum obat atas penyakit palsu yg gue derita. 

Tapi setelah gue tersadarkan dan berhenti dari dunia game, gue mulai belajar biasa aja. Lalu gue menemukan korelasi antara game dan pelajaran. Mereka sama-sama menantang. Kalo di game kita ditantang mendapat kemampuan lebih, sedangkan di pelajaran kita ditantang mendapat ilmu lebih.  Dua-duanya butuh semangat dan pengorbanan waktu.

Selain itu kita juga harus bersaing dengan teman-teman kita. Kita kerucutkan topik tentang pelajaran ini jadi matematika aja ya. Gini, kalian tau kan banyak pelajar yang menganggap matematika itu ilmu yang sulit, kurang kerjaan, rumit, bikin frustasi dan sebagainya?  Bayangin kalau kalian menguasai matematika. Bayangin kalau kalian bisa menguasai ilmu yang rumit  dan nyusahin itu. Ilmu yang gak banyak dikuasai teman-teman kalian bahkan hampir sebagian  pelajar indonesia. It would be awesome, right?

Gue suka tantangan yang gak banyak orang bisa menyelesaikannya. Karena itu gue suka matematika. Gue menganggap "mimpi buruk" sebagian pelajar ini sebagai permainan. Cuma game. Soal-soal yang mengepung gue adalah monster. Gue punya sejata berupa rumus-rumus sederhana yang bisa menjadi dahsyat untuk melawan mereka. Caranya adalah dengan pola pikir gue. Kekreatifan, imajinasi, dan logika gue untuk mencari jalan keluar. Karena matematika itu rumit dan gak banyak yang bisa, itu artinya matematika itu tantangan/quest tingkat tinggi. Kalau bisa gue taklukin rewardnya bakalan besar banget. Selain nilai bagus, tentunya. Rewardnya ya kemampuan kita, pola pikir, mental, dan logika yang meningkat. Syukur-syukur kalau bisa dipake dalam pekerjaan nantinya.

Tau gak? Kalau pola pikir, mental, dan logika meningkat itu akan berdampak ke kreatifitas kita juga yang nantinya berhubungan dengan produktifitas kita dalam bekerja. Dan gak mungkin kalau kita gak ketemu masalah dalam pekerjaan. Pasti ada. Jadi matematika itu ngebuat kita gak gampang tertekan dan ngebuat kita jadi lebih kreatif. Itu sih menurut gue. Dan ini gak berlaku bagi mereka yang putus asa duluan begitu mempelajari matematika. 

Oke, blogs.
itu sudut pandang gue tentang Matematika. Kalian mungkin punya cara dan perspektif sendiri tentang matematika. But for me, it's just a game.

Selamat pagi, blogs~

Kamis, 26 Desember 2013

Love Letter: Analogi

Hai kamu,
Bagaimana kabarmu?
Ah mungkin aku tidak perlu bertanya. Cukup do'a yang selalu aku lantunkan dengan harapan agar kamu baik-baik saja. Jika kamu menanyakan keadaanku, pun aku akan bilang aku baik-baik saja. 

Sebelumnya maaf kalau aku mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan pesan rindu. Tidak masalah kalau kamu tidak mau menerima. Kamu bisa mengacuhkan atau membuang surat ini dan semua selesai. Ya, bagimu.
Rindu ini akan tetap menguap ke udara di sekitarmu. Tak perlu kamu mengenakan masker, ia tidak akan meracuni. Tapi tidak masalah pula jika kamu terlanjur menganggapnya polusi. 
aku tetap akan menyampaikan surat ini.

Kamu ingat saat-saat indah ketika dunia serasa milik berdua? Aku tidak. Karena kita memang tidak pernah berdua. Kita tidak pernah saling memiliki. Tapi aku ingat sebait puisi pagi yang kau buat tentang kita sebagai pemanis dari kopi pahit yang kita pesan di emperan jalan.

Kamu bilang,

"Kita adalah dua yang menyatu.
Kita-lah pondasi yang mencengkram langit.
Kita adalah tawa yang membanjiri tangis.
Kita menjadi karang yang menghantam ombak.
Kita si pemimpi dengan sejuta  ambisi,"

Indah. Tapi sayang ia tidak merubah rasa pahit kopi yang kuminum pagi itu. Hanya bisa membuatku tercengang hingga cangkirku yang tadinya panas kini terasa hangat.

Aku ingat bagaimana sorot matamu menggeledah duniaku saat itu.
Membuatku sesak. Tapi sayang, belum bisa membuatku lupa caranya bernapas. Kalau tidak, aku pasti sudah mati saat ini.

Semenjak saat itu entah bagaimana ada tanaman liar yang tumbuh di dalam hati. Aku tidak tau itu tumbuhan apa, jadi aku namakan saja ia "Cinta".

Aku tidak pernah memberinya pupuk, tapi ia tumbuh subur dalam wadah bernama "hati". Apa kamu yang diam-diam merawatnya? Aku tidak tau. Dan aku tidak peduli. Ia hanya tanaman liar yang mungkin kelak tak aku inginkan.

Lagi pula aku tidak mengerti bentuknya. Akarnya kuat batangnya kokoh tapi tidak berdaun. Ia juga tidak bercabang. Tidak memiliki buah atau pun bunga. Menjulang tinggi hingga aku tidak bisa melihat pucuknya.
Aku tetap membiarkannya.

Kamu tau? Terkadang aku ingin memanjat tanaman liar itu. Ingin kulihat apa yang ada di puncak pohon cinta ini. Sangat ingin. Entah bagaimana aku rasa aku tau apa yang menungguku di atas sana.

Tunggu, bukan apa melainkan siapa. Ya, kamu. Orang yang tanpa sengaja menanamkan benih tanaman bernama "Cinta".

Seiring waktu, aku tekadkan diriku untuk memanjat pohon itu. Kamu pasti tau aku takut ketinggian. Tapi aku yakinkan diriku untuk melihat bahwa kamu-lah yang ada di puncaknya.

Sulit, tak ada sulur yang bisa aku raih. Tak ada ranting yang bisa aku pijak. Ah, masabodo! Aku tetap akan merayap ke puncak.  Demi menjawab rasa penasaranku.

Penuh peluh berbalut luka di tubuhku ketika hampir ku gapai puncaknya. Hanya sesaat ingin kembali kulihat jejak pendakian yang telah kutempuh di dasar pohon ini.

Kamu tau apa yang aku dapati di bawah sana? Itu kamu. Berdiri menyeringai menatapku dengan segenggam kapak di tangan.

Sekali lagi kau buat aku tercengang. Tanpa ampun kamu ayunkan kapak itu. Tanpa menungguku turun kamu tebang pohon itu. Biarkan aku jatuh bersama "Cinta" yang dulu kau tanam.

Sakit? Tentu saja. Jatuh dari ketinggian pasti sakit. Sakit sekali.
Tapi aku tidak dendam padamu. Aku juga tidak benci. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kalau saja aku tidak punya wadah bernama "Hati", ini pasti tidak akan terjadi. Dengan begitu kamu tidak bisa menanamkan apapun padaku. Tidak akan aku kenal tanaman liar yang kusebut "Cinta". Tidak perlu aku bersusah payah merangkak dan jatuh dari puncaknya.

Tapi semua telah terjadi. Aku tidak peduli. Lupakan saja. Aku memaafkanmu. Sungguh, sepenuh hati aku memaafkanmu.

Oiya, aku lupa bilang. Aku juga menanamkan tanaman di dalam hatimu. Tenang saja, ini bukan tanaman liar. Ia memiliki akar yang kuat, batang yang besar, ranting yang bercabang, memiliki daun, buah, dan bunga yang indah.

Sayang kamu tidak bisa menyentuhnya. Ia berduri, seluruh tubuhnya memiliki racun. Aromanya harum semerbak tapi kamu bakal mati bila menghirupnya.
Aku menyebutnya "Penyesalan".

Tidak sepertimu, aku tidak akan menebangnya. Akan aku biarkan terus tumbuh menjadi pohon yang cantik di hatimu. Terus berbuah manis, berbunga indah. Hingga ia menjadi taman bunga "Penyesalan" yang indah. Kamu akan menjadi satu-satunya kumbang di sana. Indah, bukan? Bak surga pribadi. Kamu pasti senang.

Kamu tidak perlu berterimakasih padaku, aku melakukannya dengan senang hati. Sungguh, sepenuh hati. Aku harap kamu bahagia selamanya.

Baiklah,
Hanya ini yang ingin aku sampaikan dalam suratku kali ini. Maaf bila terlampau panjang dan membuatmu jenuh. Mungkin harusnya kamu buang surat ini begitu tau namaku tertera sebagai pengirimnya. Agar kamu tidak perlu tau analogi Cinta. 

Sesuatu yang membuatku jatuh dan memberimu penyesalan.

Sesuatu yang sanggup menyatukan aku dan kamu menjadi kita, serta memisahkan kita menjadi aku dan kamu.

Suatu tumbuhan langka yang menjulang tinggi tanpa cabang dan tertanam dalam hati yang rapuh.

Sesuatu yang sanggup memerangkap dua semesta di satu langit. Dan sanggup merobek potret diri kita yang utuh menjadi serpihan dalam bingkai yang berbeda.

Mungkin kamu tidak mengerti itu  sekarang. Tidak apa. Sungguh. Aku paham jika memang begitu.

sudah dulu ya..
aku menunggu balasan surat darimu. 

Salam rindu,

------

Minggu, 10 November 2013

Geology Spectacle

Selamat malam, blogs :)

Assalamu'alaikum.

Hmm... blogs, gue bosen.
Mau posting tapi bingung. Mau bikin cerpen lagi tapi belom dapet ide. Lagi pula gue sibuk di sini. Gak sibuk-sibuk banget tapi kata orang sih gue sibuk.

If you ask me, "sibuk ngapain, dit?", i would like to answer, "sibuk kuliah,"

ya, you know, gue kuliah di jurusan Teknik geologi. "Teknik". Kata orang sih biasanya mahasiswa teknik itu sibuk. Banyak tugas, sering begadang. Dulu gue kira itu karena orangnya aja yang gak bisa bagi waktu, tapi kenyataannya...... sumpah sibuk banget!

I used to think that perbandingan teknik dan nonteknik itu kayak ipa sama ips di SMA. Tapi ternyata... jauh banget -_-. Ini level expertnya. Ditambah lagi, blogs, gue di jurusan geologi. Makin parah. Jadi apa sih yang ngebuat gue sibuk di geologi? Mari simak kisah berikut..

Geologi... geo itu bumi, logi itu ilmu. Jadi Geologi itu.... ilmu yang mempelajari tentang bumi dari struktur luar hingga ke dalam bumi pada selang waktu jutaan tahun.

Nah, setelah gue ikut tes dan masuk jurusan ini di ***,  gue melalui beberapa kegiatan untuk mengenal geologi ini.

Dimulai dari PKK. Ini sejenis ospek gitu. Ada 4 hari. Ospek univ, fakultas, jurusan. Katanya pas ospek jurusan itu berat apalagi buat maba teknik. Jadi, apakah memang berat? Nggak kok. Di *** sih cuma marah-marah, disuruh bawa barang ospek, sama pengenalan laboratorium gitu. Barang ospeknya juga gak aneh-aneh. Selama ospek kami pake baju kemeja putih sama celana panjang hitam. Tau gak? Karena gue cuma punya satu set, itu gue pake 4 hari berturut-turut -_____-. Asli gak etis banget.

Di awal ospek, rambut harus dipotong jadi 1 cm. Males tapi yaudahlah. Setelah selesai ospek, kakak tingkat jurusan nyuruh dipotong jadi 0,1 cm which is 1 mm -________________- kampret sumpah!
Harga diri gue....... :"

Terus di semester 1 geologi ini ada 1 praktikum kristalmineral. aslinya sih gampang. Tugas kuliah sama praktikum itu dikit, tapi tugas dari kakak tingkatnya bikin sibuk banget -___-. Tugas apa? Rahasia:)

setelah itu selesai, kuliah jadi lebih santai. Walaupun masih berasa sibuk. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi sekarang udah kok. Gue banyak waktu luang. Tapi nanti di semester 3,4,5.... ini saat-saat krusial. Masing-masing semester itu ada 5 praktikum -_-. Seminggu 5 kali praktikum. Kebayang gak tugasnya? Aturannya pun ketat. Kalau dilanggar, bisa langsung ngulang setahun -____-. Di geologi ini total ada... 26 praktikum kayaknya. Ini jurusan dengan praktikum terbanyak di tempat gue. Ngerepotin ya? Ya, berasa jadi mahasiswa double teknik. pantesan banyak yang begadang buat tugas. Tapi kayaknya gue nikmatin aja deh. Ya liat aja nanti.

Lalu, blogs, selama 2 bulan pertama gue kuliah, gue bertanya-tanya, "kenapa gue masuk jurusan teknik geologi?" asli, gue bingung -_-.

Secara, passion gue ada di Astro, di langit. dan sekarang gue masuk ke Geo, di bumi. Gue berasa jadi mahluk khayangan yang jatuh gitu -___-. bayangin deh, di Astro kita bakalan melihat ke atas, menatap langit penuh bintang seolah menanti masa depan yang cerah dan penuh harapan. Di geo? Kita nunduk, ngeliat ke bawah, murung, pesimis. Apa yang diliat?
Batu -_____-. Asli jauh banget Astro sama Geo.

Dulu gue mau ke geologi itu karena pengen jalan-jalan. Kalo temen gue bilang karena prospeknya bagus. Ya, i dont care.
Jalan-jalan di geologi itu ke lapangan. Ya lumayan asik, tapi... alasan ini ternyata gak cukup kuat buat jadi alasan gue betah di geologi.

Karena itu gue belajar di geologi ini setengah hati. Sepertiga malah. Atau seperempat? Mungkin seperdelapan -__-. Pokoknya kurang niat deh.

Gue belajar geologi dasar aja berasa gak ada yang masuk. Kosong aja gitu. Tapi anehnya, begitu ditanya atau disuruh ngejelasin gue lumayan bisa -_-. di pelajaran sejenis mtk, kimia, fisika pun sama. Kimia sama fisika itu biasa tapi mtknya...... :')
Rasain sendiri ya.

Terus praktikum pun begitu. Gue bukan orang yang aktif ngejawab atau nanya kayak di SMA dulu, disini gue agak pasif. Why? Ya itu tadi, belom ada passion.
matkul tentang mineral yang hafalannya bejibun pun sama aja.

Tanpa passion, gue kehilangan sisi imajinatif gue. Ini bikin stres. Gue merasa terbebani dalam belajar. gue merasa akan masuk koran lagi dengan judul "Aditya Arya Sempat Terpuruk Kini Makin Terpuruk"
-__________-

Tapi, blogs, setelah gue debat sama Urf dan disadarkan tentang jati diri seorang klan Arya Dewa, gue pun mengerti. Sebagai seorang adit, gue memiliki kemampuan tersebar. Kayak kata guru bk dulu, "bibit unggul bisa tumbuh dimana saja". Dari kata-kata itu gue mendapatkan satu kemampuan lagi, "Flexible Passion". Kemampuan untuk mengembangkan seluruh potensi diri bagaimana pun kondisinya. Gue bisa belajar apa aja. Passion gue jadi banyak, which is, gue bisa mengembangkan apa pun ilmu yg gue dapet. Ini keren loh.

Terus, blogs, dengan flexible passion juga gue mulai melihat geologi sebagai jurusan yang keren. Ini jurusan yang punya Armor khusus. Kayak di game online.  Dari Armor berupa baju lapangan, topi lapangan, celana lapangan, sepatu tracking, tas daypackgeologi punya. Terus untuk equipmentnya geologi punya kompas geologi, lup, gps, sama palu geologi. Keren gak sih?

Kita punya misi. Kalo di game namanya hunting. Itu ngelawan monster. Kalo gue di geologi itu misinya ngumpulin mineral. Mineral ini ada di tempat tertentu dan langka. mineralnya bisa buat ditempa atau dijual atau buat koleksi atau belajar.

Terus kita juga bisa menghubungkan kejadian di masa lalu ke masa kini dan menganalisis itu untuk memprediksikan kejadian di masa depan.

Kita juga bisa ngeliat bentang alam kayak gunung, sungai, dan bukit atau yang lainnya. kalian juga bisa kan? Tapi kita bisa menjelaskan kenapa bentang alam itu ada disitu, gimana terbentuknya, apa yang ada disitu jutaan tahun yang lalu. Asli keren! Gue nyebut kemampuan menjelaskan ini dengan skill "Mata bumi". Gue belom belajar sih. Nanti di semester 3. Sekarang masih misi hunting mineral.

You know, blogs, kalo gue mulai imajinatif tentang kegiatan gue, gue bakalan seneng ngelakuinnya dan itu jadi passion gue. Makanya gue punya Flexible Passion. Ini tergantung pola pikir imajinatif gitu.
dengan kembalinya imajinasi ini, gue mulai seneng di geologi. Ini jurusan yang kuat  dengan skill yang keren.

blogs, Gue kangen astronomi. Di sana ada kemampuan menghubungkan bintang jadi rasi bintang. Sampai sekarang gue belum mahir sama rasi bintang. Kalau bisa kan dapet skill "Mata langit". Mata yang menyatukan/menghubungkan bintang. Keren.

Kalo punya mata bumi sama mata langit... AAAAAAAAAAA!!!!!!! mauuuuuuuuuu!!
Jadi punya basic ilmu langit sama ilmu bumi. Terus gue mau buka cabang ilmu Geo-Astro. Disitu punya motto "Earth is a huge Spaceship!" Mempelajari bumi sebagai pesawat ruang angkasa.
Pasti keren banget!

Nah, blogs, itulah pola pikir gue atau pandangan gue tentang geologi. Dari mulai gak tertarik hingga akhirnya tertarik dan jadi passion baru setelah astronomi. Gimana dengan jurusan kalian? Keren gak? Pasti iya, tergantung cara pandang kalian.
Cuma saran, sih,
Kita gak bisa selamanya jadi anak-anak. semakin dewasa kita akan disuguhin logika-logika abu-abu yang membosankan. Jangan pernah kehilangan imajinasi kalian. Karena imajinasi itu yang memberikan warna pada  pola pikir kalian. Kalo gak ada imajinasi, semuanya akan ngebosenin. Dengan imajinasi, kita bisa menembus apa pun.

Ada yang bilang Logika itu dari a ke b. Imajinasi itu bisa kemana aja.

Makanya gue tetep mempertahankan imajinasi gue walaupun dibilang aneh atau freak.
Gue emang freak... FREAKY AWESOME!!!! B)

Udah ya? Gue akan melanjutkan misi lagi. Jaga diri kalian, blogs.

Selamat malam :)

Kamis, 07 November 2013

Si Gadis Pemain Biola

Tepat pukul 20.00
kembali kudengar suara itu lagi.
Masih dari sumber yang sama oleh orang yang sama.
Si gadis pemain biola.

Aku selalu memperhatikannya. Saat jemari mungil itu menari di atas dawai yang bergetar. Mengalunkan nada-nada sumbang yang terlalu indah untuk di dengar manusia.
Mudah dipahami namun sulit untuk aku artikan.
Entah apa maksud hatinya yang terlalu dalam atau hatiku lah yang terlalu dangkal tuk menerka.

Si gadis pemain biola.
Begitu aku kerap memanggilnya. Namun dia tak pernah menoleh. Tetap melanjutkan simponi tanpa batas miliknya.
Semakin abstrak.. semakin abstrak.

Dalam hitungan detik, menit, jam ia tak kunjung berhenti.
Malah semakin lincah jari itu menari.
Di atas lantai dansa kecil bernama biola.
Yang tersayat, tergores halus oleh setiap guratan dawainya. 

Tepat pukul 01.00
Aku tau dia akan mulai menangis. Kerap aku bertanya kenapa. Tapi ia tetap bungkam tak peduli. Seolah aku ini tidak ada. Atau sebenarnya.. dia lah yang tak ada?

Tangisnya beradu masih dengan iringan melodi sumbang yang tak kunjung membuatku jenuh meski ribuan kali kudengar.
Dua suara yang kadang tersamarkan derasnya hujan  tengah malam.
Atau bersaing dengan hiruk pikuk  penghuni-penghuni malam.
Atau bahkan harmonisasi dari keempatnya yang sering kali menghalangiku dari gerbang mimpi-mimpi.

"Hai, gadis pemain biola," begitu aku berbisik.
Berharap ia berhenti dan menatapku.
Berharap ia tidak lagi mengacuhkanku.
Aku ingin ia menyudahi alunan simponi sendu yang membuat aku candu.
Atau haruskah aku hancurkan biola rapuh bernada sumbang itu?
Agar aku dapat melihat wajahnya.
Supaya aku tau namanya.
Atau sekedar mencari tau siapa di antara kita yang sebenarnya ada di dunia.

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented