Selasa, 09 Juli 2013

Lonely Winter: Perjalanan Sia-sia

Suasana mendadak lebih sejuk. Pasti karena pendingin yang ada di mall ini. Mall Arthapura sangat terkenal di kota. Dengan fasilitas mewah dan barang-barang yang berkualitas, menjadikan mall ini salah satu mall terbaik di kota. Terbaik? Tidak juga. Harga barang-barang di mall ini tergolong mahal karena kualitasnya. Hanya saja saat ini sedang diadakan potongan harga akhir tahun. Meski begitu, tetap saja mahal.
Cleva masih berjalan di sampingku. Kami tidak sering membuat kontak mata, tapi aku bisa lihat dia menatap sekeliling mall ini dengan matanya yang berbinar. Benar-benar seperti anak kecil baru mendapat mainan terbaru.

Lonely Winter: Sesuatu Dari Alam Bawah Sadar

Jantungku berdetak makin cepat. Gadis itu menatapku. Tidak, mungkin dia menatap dompet yang kupegang. Akulah yang menatap wajahnya. Wajah gadis itu benar-benar familiar. Putih, dengan sedikit rona merah alami di pipinya, dan rambut yang menutupi mata. Aku yakin pernah bertemu dia. Hanya saja aku tidak ingat kapan dan di mana.
Dalam lamunanku, aku berusaha mengingat kembali sosok berbaju putih itu. siapa dia?

belum sempat pertanyaan itu terjawab, kudengar seseorang berteriak, 
"lo copet ya?" Rupanya gadis itu. 
"Hah?!" Pertanyaan itu mengejutkanku. Aku mencari seseorang yang dimaksud.
"hei! Gue ngomong sama elo! Copet bukan?" Dia mengulangi pertanyaannya. Rupanya dia bicara padaku. 
"Copet? Bukan! Gue bukan copet!" Gila! Bagaimana bisa aku dibilang copet? 
"Bohong ah! dompet itu buktinya," dia menunjuk kotak di tanganku.
"Ini?"
"cepet balikin! Atau mau gue panggil satpam nih?" Gadis itu mengancam. 
"Eh jangan, jangan. Ini punya lo, kan? Nih!" Kukembalikan dompet itu padanya. 

Aku tidak habis pikir perempuan yang menurutku pendiam itu ternyata agak tomboy. Sikapnya sangat kontras dengan penampilannya.

Lonely Winter: I Have Seen You Before

Kasihan. Ya, aku rasa orang-orang kasihan padanya. Meski begitu, tidak ada yang bertindak untuk menolong.
Aku memperhatikan orang-orang di sebelahku. Mereka tertidur. Atau mungkin pura-pura tidur? Ah terserah! Aku yang akan menolong.
Sesaat sebelum aku bangkit untuk memberikan kursiku, seseorang di sebrang sudah mempersilakan nenek itu untuk duduk menggantikannya. Aku perhatikan orang itu. Samar-samar aku dapat melihat wajahnya diantara orang-orang yang berdiri di depanku. Seorang perempuan. Dia mengenakan jaket putih dan celana panjang hitam serta tas punggung kecil.

Seketika jantungku berdebar. Aku tidak mengenalnya. Tapi... aku merasa ada sesuatu dengan perempuan ini. Sesuatu yang familiar. Aku yakin... aku pernah bertemu dengannya!
Tapi di mana?

Lonely Winter: Hari Keberangkatan


Sabtu.
Hari ini aku akan menjelajah Ibu kota. Aku sudah menetapkan destinasiku. Yaitu, Museum Rajawali.

Semalam, aku sudah menyiapkan perlengkapan untuk perjalananku. Termasuk rute yang akan kutempuh. Sebenarnya tak ada yang spesial. Hanya berkeliling seorang diri.

Aku berangkat pukul 6.55.
Agar tidak ketinggalan kereta, aku sudah harus berada di stasiun sekitar jam setengah 8. 
Jarak rumahku dengan stasiun tidak terlalu jauh.
Untuk ke sana, aku harus naik angkutan umum 2 kali. Ditambah aku harus melalui gang kecil serta pasar yang cukup ramai. Ini sangat menyita waktu di perjalanan. 
Setelah melalui kerumunan di pasar, akhirnya aku tiba di stasiun Bromo.


Ternyata kondisi stasiun ini lebih ramai dari dugaanku. Kulihat orang-orang berlarian menuju loket. Mereka berebut giliran untuk membeli karcis. Saling serobot seenaknya. Tak peduli adanya papan bertuliskan himbauan untuk mengantre. Padahal antrean di loket itu tidak panjang. Hanya sekitar 5 orang. 
Apa aku harus menganggap hal ini wajar? Budaya tidak tertib ini seolah sudah mendarahdaging di diri mereka.

Lonely Winter: Plan


Libur akhir tahun sudah dimulai sejak dua hari yang lalu. Tak banyak yang aku lakukan. Keseharianku aku jalani dengan berleha-leha di rumah. Bersantai layaknya pemalas yang sangat malas. 
Seharusnya liburan ini aku isi bersama teman-teman. Tapi, mau bagaimana lagi? Mereka pergi bersama keluarga mereka. Sedangkan aku? Keluargaku terlalu sibuk. Tak ada waktu bagi mereka untuk berlibur. Aku rasa itulah tuntutan pekerjaan.

Sebenarnya aku ingin pergi. Berkunjung ke rumah sanak saudara pasti menyenangkan. Tapi, rumah mereka terlalu jauh dari tempatku di ibu kota. Aku tidak akan diizinkan pergi sendiri. Ini menyebalkan! Kalau begini liburanku akan sia-sia. Apa yang harus aku lakukan?

Lonely Winter: Pertemuan Mimpi


Dia berdiri di hadapanku. Di tengah kerumunan para penumpang kereta. Sedari tadi aku memperhatikannya. Meski dia membelakangiku, aku bisa menebak rupanya hanya dari caranya berpakaian atau pun dari model rambutnya terurai sebahu. Seorang perempuan yang cantik. Ya, itulah pikiranku. 
Ingin sekali aku membuktikan dugaanku. Tapi.. aku tidak berani. Aku terlalu takut. Takut mengganggu, takut tidak sopan, bahkan aku takut dianggap berniat jahat di tengah kerumunan ini.

Aku urungkan niatku dan mencoba mengalihkan pikiran. Tapi harus aku akui. Aku tertarik pada perempuan itu. Penasaran dengan wajahnya. Ah sudahlah! Apa yang aku pikirkan? Aku tidak boleh begini. Apa lagi terhadap orang yang aku tak kenal.

Senin, 08 Juli 2013

3 Years Journey

Assalamu'alaikum :)

Yoow, Blogs!
Lama sekali gue gak ke sini.
Maap yak, maklum tiket kereta menjelang lebaran udah abis -__-. Hubungannya? Simbiosis kurkumaplus -__-. Ah ngawur banget.
Apa kabar nih kalian? Baik kan? Semoga baik yaa..
Sebelumnya gue mau ngucapin selamat buat yg keterima SBMPTN dan yg lolos OSN :D
Selamat menempuh hidup baru :')

Gue nggak lolos SBMPTN loh. Well, wajar sih. Apa yg bisa diharapkan dari orang yg cuma belajar TPA? Cuma keberuntungan. Gue gak terlalu sedih buat SBM soalnya udah diterima di UPN Jogja. Lumayanlaah. Perlu gue ceritain perjuangan gue dapetin itu? Kapan-kapan aja ya. Lagi gak pengen.
Oke, kita mulai masuk topik.

Kali ini gue mau cerita masa-masa SMA. Agak telat sih memang, tapi kalian pasti tetep baca kan? Udah ngaku aja ;) *mata kedip* *kelilipan*
Ayo mulai!

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented