Jumat, 17 Februari 2012

Ridiculove 4

Seminggu berlalu sejak Al mengenal Aran. Aran semakin sering mengirim pesan kepada Flo walau hanya sekedar bertanya ''sedang apa, flo?''.
Al menjawab pertanyaan-pertanyaan Aran dengan wajar.

Sore hari..
matahari hampir berada di peraduannya. Awan-awan merah menghiasi langit biru yang perlahan memudar.
Al mengirim pesan singkat ke Aran.
''udah pulang belom?''.
Tak berapa lama berselang Al mendapat balasan.
''belom. memang kenapa?''.
''loh? Kan udah mau maghrib, Kenapa belom pulang?''. Send! Al kembali membalas pesan dari Aran.
''iya ada ekskul''.
''oh ekskul. Lo ikut ekskul apa?''
''gue ikut futsal, flo. Lo ikut ekskul apa di sekolah?''.
''Gue nggak ikut ekskul apa-apa. Terus lo udah makan dulu tadi?''.
''belom''. Jawab Aran singkat.
''emang nggak jajan?''.
''nggak, gue lagi nabung, Flo''.
'nabung....? kok sama lagi?' bisik Al. lagi-lagi Al dibuat tercengang dengan jawaban Aran. Seolah Al sedang berbicara dengan dirinya yang diperankan orang lain.
''nabung buat apa, ran?''.
''iya sebentar lagi kan valentine. Lo nggak nyiapin coklat atau sesuatu?''.
''coklat? Buat apa?''.
''ya buat pacar atau teman lo''.
''pacar? Gue belom punya pacar''.
''hah? Masa sih, flo?''
''iya, emang kenapa?''
''nggak apa-apa sih. Cuma bingung aja elo belom punya pacar''.
''emangnya harus punya pacar ya?'' tanya Flo.
''ya nggak juga sih. Gue juga belom punya kok hahaha''.
''tuhkan ternyata belom punya juga''.
''iya adanya temen dekat. Tapi kami lagi marahan sih akhir-akhir ini''.

'teman dekat? Marahan? Jangan-jangan....' Al menyadari sesuatu.
'tapi.... Mana mungkin begitu.. eh tapi mungkin aja kali ya.. ceritanya dia... kok mirip Aria ya? Apa mungkin?' Al menduga-duga siapa sebenarnya Aran. Bagaimana Aran bisa menceritakan pengalaman yang serupa dengan apa yang di alami Al dengan Aria.
'gue harus pastiin!' Al bertekad untuk mencari tau siapa Aran sebenarnya.

''Ran, bisa ketemuan nggak?'' Send! Al memutuskan untuk menemui Aran.
Dengan cepat Aran membalas, ''hah? Kenapa ngajak ketemuan?''.
''gapapa. Cuma mau ketemu aja''.
''iya tapi kenapa mendadak, flo?''.
''ya soalnya sebentar lagi kan libur, mungkin kita bisa ketemuan. Bisa nggak, ran?''.
''mau ketemu dimana emangnya?''.
''di taman kota aja, gimana?''.
''kapan? jam berapa?''.
''hari minggu nanti. sekitar jam 10 aja bisa?''. Al menunggu keputusan Aran. Cukup lama waktu berlalu namun Aran belum membalas pesan Al. mungkin Aran sedang memikirkan ajakan Al.
Atau dia sedang mencari alasan menghindar dari ajakan itu?

''gimana? Bisa nggak, Ran?'' Al kembali mengirim pesan singkat.
menunggu. dan hanya menunggu.
menganalisa dugaan tentang Aran dalam benaknya.
'bagaimana kalau Aran itu sebenarnya adalah Aria? mungkin aja kan dari apa yang udah dia bilang? tapi gimana kalau gue salah dan Aran memanglah Aran..? Lagipula kalau dia itu Aria, untuk apa Aria menyamar jadi Aran? Aduh gawat! kenapa gue harus berpikir begini!?'

Drrrt Drrrrt
Handphone Al bergetar. ''1 text message'' terpampang di layarnya. Tentu saja pesan itu dari Aran.
Al membuka pesan singkat itu,
''kayaknya sih bisa, flo. Tapi gue nggak janji bisa dateng. Oiya, kita ketemuannya gimana ya? gimana caranya biar gue tau itu elo?'' isi pesan itu.
''yaudah nggak apa-apa. Nanti kalau udah disana gue sms deh, Ran''.
''oh oke deh. Sampai ketemu disana ya, flo''. Aran menyetujui ajakan Flo.
''iya, sampai ketemu disana juga''. Al mengakhiri pesan singkatnya.

''oke tinggal tunggu hari minggu dan siapkan penyamaran!'' rencana Al berjalan lancar untuk mencari tau siapa Aran sebenarnya.

------------------------------------------------minggu..
Hari yang Al tunggu-tunggu pun datang. Hari ini Al akan menemui Aran di taman kota. Tentu saja Al berencana menyamar dan hanya akan memperhatikan dari jauh untuk memastikan siapa Aran sebenarnya.
Al mengenakan kaos dan celana panjang biasa agar tak terlihat mencurigakan. Setelah siap, Al mengayuh sepedanya menuju taman kota. Tempat mereka akan bertemu.

Sesampainya di Taman kota, Al menatap sekelilingnya mencari-cari sosok yang mungkin saja Aran.

''Duh! lumayan ramai.. Gimana nyarinya kalau begini?'' Al mengeluh. memperhatikan orang yang berlalu lalang dari pinggir taman. dibawah pohon-pohon besar menjadi tempat yang cocok bagi Al untuk bersembunyi. Cukup lama Al memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Dia melihat jam dinding besar yang menempel di sebuah tugu kecil di tengah taman kota.
''sudah jam 10 ya.. apa mungkin yang itu..?'' Al memperhatikan seorang laki-laki seusianya yang daritadi duduk termenung di sebrang tempat Al berdiri.
''hm... mungkin memang dia. Coba sms dulu deh, kalau benar Aran pasti dia bereaksi'' Al mengeluarkan handphonenya.
Dia memperhatikan laki-laki itu sekali lagi. sesaat sebelum Al mengetik sms, seorang perempuan datang ke tempat laki-laki itu. Duduk di sebelahnya. Al mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan. Al memperhatikan mereka berdua.
Dari jauh Al mendengar laki-laki itu berkata ke perempuan disebelahnya, ''eh liat deh! Yang lain pada doubledate tapi dia sendirian. Kasian ya hahahaha'' mengisyaratkan bahwa Al yang ditujunya.
''sial! Dia ngeledek!'' Al masih memperhatikan mereka yang sibuk bercanda tawa. Mereka belum beranjak dari tempatnya.
''Ah sudahlah! kenapa gue malah memperhatikan mereka?! gue masih harus mencari..''
''Al..?'' seseorang memotong perkataan Al. Seketika Al menoleh.
seorang perempuan dengan baju putih dan celana panjang hitam tengah berdiri di belakang Al.
''Aria? Kamu ngapain disini?'' tanya Al.
''emm.. Aku lagi nunggu temen. Kamu sendiri ngapain disini? kok sendirian?'' Aria duduk disebelah Al.
''aku cuma jalan-jalan doang. Kamu nunggu siapa? Tumben rambut kamu nggak dikuncir''
''aku lagi nyamar tau''
''nyamar? Buat apa?''
''ya buat ketemu sama temenku itu''
''lah? Kok mau ketemu aja pake nyamar segala? hahaha''
''iya soalnya aku belom pernah ketemu dia'' Aria celingak-celinguk memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
''terus temen kamu mana?''
''emm... Nggak tau. Harusnya sih dia sms jam 10an''
''sms..?'' sejenak Al termenung.

'sms? Oh iya! Gue belom sms Aran!
Eh tunggu.. Aria udah disini dan dia bilang dia lagi nyamar dan nunggu teman.. Jangan-jangan dia beneran Aran?!'

''Al? hei Al!'' Aria membuyarkan lamunan Al.
''eh? apa?''
''kamu kenapa? kok tiba-tiba ngelamun?'' tanya Aria. wajah lugunya berubah jadi sedikit khawatir.
''nggak, gapapa kok. Mana temen yang kamu tunggu itu?''
''haah.. Nggak tau. Mungkin dia nggak dateng''
''emang siapa namanya?''
''Namanya Flo''
''hah?!'' Al terkejut mendengar nama yang disebutkan Aria.

'tuhkan bener!! Ternyata Aria itu Aran! dugaan gue bener!! pantes ceritanya Aran sama kayak cerita gue ke Aria. Ternyata Aran adalah Aria.. Eh tapi... kalau Aran itu Aria, dia tau nggak ya kalau gue itu Flo..?'
Al sibuk dengan pikirannya. Perasaannya bercampur antara senang, bingung, dan penasaran.
Senang karena tau Aran adalah Aria, teman dekatnya.
Bingung memikirkan kenapa Aria menyamar.
Dan penasaran apa Aria tau bahwa Al sebenarnya adalah Flo.

''Al! Jangan tiba-tiba bengong dong! Kamu kenapa sih?!'' Aria kembali membuyarkan Al.
''gapapa...''
''kamu tau si Flo itu?''
''em.. dia.. yang ngesms teman-teman di kelas kan?'' Al menjawab pertanyaan Aria dengan hati-hati.
Tampak Al menyembunyikan keterkejutannya setelah mengetahui Aran adalah Aria. Seorang perempuan dihadapannya itu.
''iya''
''kamu dapet nomor handphonenya dari mana?''
''dari Ian''
''Ian? terus kenapa kamu mau ketemuan sama Flo?''
''nggak tau. Padahal dia yang ngajakin. Tapi dia yang nggak dateng'' Aria terlihat kecewa.

'Flo-nya disebelah kamu woy!' Al teriak dalam pikirannya.

''hm.. Yaudah mungkin dia ada urusan lain. Eh Aria mau es krim?''
''mau! Mana?''
''itu disana'' Al menunjuk tukang es krim di sebrang tempatnya duduk. Laki-laki yang tadi dikiranya Aran masih berada disana dengan pasangannya. Menikmati es krim yang baru mereka beli.

''beliin dong, Al'' pinta Aria.
''ogah!''
''pelit!!''
''biarin! mending kamu yang beliin aku!''
''ogah!''
''pelit!!''
''biarin! aku kan lagi nabung'' jelas Al.
''nabung buat apa sih? paling cuma beli barang-barang baru buat ide iseng kamu, kan?''
''bukan sih. liat aja nanti. Eh Aria, itu cepet beli nanti tukangnya keburu pergi!'' Al menggandeng tangan Aria ke tempat tukang es krim.
''Bang, yang coklat 1 sama vanilla 1'' kata Al.
''kamu beliin aku?''
''yeee beli sendiri-sendirilah. itu dua-duanya buat aku''
''huh! Dasar pelit! Bang, yang vanilla 1!'' pinta Aria.

Sambil menunggu es krim pesanan mereka, Al mendengar pembicaraan pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk dekat tempat itu.

''emang cewek yang lo suka itu kayak gimana?'' tanya si perempuan.
''emm.. kayak..'' laki-laki itu keliatan gugup.
''emmm yang baik, ramah.. emm sopan, terus rambutnya sebahu, terus suka pake baju putih'' kata si laki-laki dengan agak terbata-bata.

'lah? Itu kriteria yang dia sebutin kok kayak semua yang ada di ceweknya? mungkin dia suka sama si cewek ini. tapi dari cara dia ngomong yang masih kaku... kayaknya mereka belom pacaran' Al sibuk memperhatikan obrolan mereka.
perempuan itu hanya tersenyum mendengar apa yang diucapkan si laki-laki. sepertinya dia sadar.

''Dek, ini es krimnya'' tukang es krim menyerahkan es krim pesanan Al.
''makasih, Bang''. Al beranjak pergi dari tempatnya.
''Al! Mau kemana? tungguin aku!'' ucap Aria.
''eh? Oh iya kamu juga beli ya hahaha''
''Al jahat banget!''
''hahaha iya iya maaf''

sayup-sayup terdengar suara seseorang bersenandung. Perempuan itu. Yang duduk di sebelah laki-laki tadi melantunkan sebait lagu.

''I will be all that you want And get myself together
'Cause you keep me from falling apart'' suara merdunya membuat laki-laki di sebelahnya jadi lebih tenang.

''Al, ayo'' Aria sudah dapat es krim pesanannya.
''.......'' Al masih memperhatikan pasangan tadi.
''Al? Al! Halo? Al!!'' Aria berusaha menyadarkan Al.
Plak! Aria menampar Al.
''aduh! Apaan sih tiba-tiba nampar?!''
''kamu kenapa daritadi bengong terus?! ada lalat di pipi kamu!''
''aku nggak apa-apa. Eh Aria, tunggu tunggu..''
''apa?''
''jangan bergerak..!'' Al mengangkat tangannya.
Plak! Al menampar Aria. Pelan.
''Duh! Apaan sih malah nampar aku?!'' Aria marah.
''soalnya..''
''Apa?! Ada lalat juga?!''
''bukan. Soalnya pipi kamu tembem hahahaha''
''hah? apa.. alasan macam apa itu?! Ih iseng banget sih'' Aria menahan tawa. Menjaga image bahwa dia sedang marah.
''hahaha maaf. Ayo balik ke tempat kita'' Al mulai berjalan ke tempatnya semula.
Aria hanya diam. Wajahnya memerah
''...... Hei Al! Tungguin!'' Aria segera berlari menyusul Al.

Langit mulai mendung. Awan-awan hitam terbentuk menutupi langit siang hari itu.
Al dan Aria masih duduk di bawah pohon rindang di pinggir taman.
''Aria, kayaknya mau hujan deh''
''iya..'' Aria menguncir rambutnya.
''temen kamu belom dateng juga?'' Al berpura-pura.
''kayaknya dia nggak dateng. Nanti aku sms deh pas di rumah''

'sepertinya Aria belom sadar kalau Flo itu gue..' pikiran Al jadi lebih tenang.

''kamu pulang naik apa, Al?'' tanya Aria.
''aku naik sepeda. Kamu?''
''aku jalan kaki lagi''
''loh? Rumah kamu kan lumayan jauh dari sini?''
''ya makannya kamu goncengin aku dong, Al''
''Idih! nggak mau!''
''dasar pelit!''
''biarin. Lagipula rumah kita kan nggak searah dari sini''
''huh! Yaudah aku pulang duluan!'' Aria pergi meninggalkan Al.
Pasangan yang tadi di sebelah tukang es krim sudah pergi.
Taman kota semakin sepi seiring bertambah gelapnya awan yang menutupi langit.
Angin kencang mulai berhembus menggugurkan daun-daun dari ranting yang rapuh.

Al mengambil sepedanya.
''Aria!'' Al mengejar perempuan itu.
''apa lagi?'' Aria menghentikan langkahnya.
''ayo pulang. Aku anterin''
''hah? Serius? Tumben kamu baik, Al''
''eh nggak jadi deh hahaha''
''dasar jahat!!''
''bercanda kok hahaha. Ayo naik''
Al pergi mengantar Aria pulang ke rumahnya.
Daun-daun berguguran menghias sepanjang perjalanan mereka.
------------------------------------------------

Ridiculove 3

Pagi hari..
Al sudah berada di sekolah.
Kelas Al cukup ramai oleh obrolan murid-murid di kelas itu.
''eh kemarin masa ada yang sms gue deh pake nomer ini'' Ian menunjukan handphonenya ke temannya.
''iya, gue juga di sms. tapi nggak gue bales. Itu siapa, Ian?''
''namanya Flo'' kata Ian. Murid-murid laki-laki sibuk membicarakan 'Flo' yang kemarin mengirim sms ke mereka. Al hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari tempatnya yang agak jauh.
''dia kelas berapa? Sekolah dimana?'' tanya beberapa temannya terlihat penasaran.
''dia nggak ngasih tau. tapi kayaknya seumuran kita deh''.
''hmm.. Namanya Flo ya? Kayaknya cakep deh''
''ya dari namanya sih begitu hahahaha'' mereka tertawa.
Al yang memperhatikan pembicaraan mereka ikut tertawa. Dia berhasil menjalankan rencananya lagi.
''coba ajak ketemuan gih, ian'' saran seorang teman.
''yaelah baru kenal sehari.. kapan-kapan ajalah'' kata Ian.

'yah kalau ketemunya sama Ian mah ngebosenin' pikir Al. Aria yang duduk di depan Al dari tadi juga mendengarkan pembicaraan teman-temannya itu.
''yaudah gapapa kali langsung ajak ketemuan gitu kalau beneran cakep kan lumayan hahaha'' bujuk temannya.
''hmmm iya iya hahaha'' Ian tertawa.
-----------------------------------------------
Pulang sekolah
handphone Al berdering.
''1 text message: Ian'' terpampang di layar handphone Al.
''Flo, lo lagi sibuk nggak?'' isi pesan itu.
Al membalas, ''emang kenapa?''.
''kita bisa ketemuan nggak?'' pinta Ian.
''yah tuhkan! males deh gue kalau ketemuan'' Al diam cukup lama memikirkan balasan sms untuk Ian.
''oh maaf yan, gue nggak bisa'' Al mengirim pesan singkat.
''emang kenapa nggak bisa, flo?'' Ian membalas.
''ya gue lagi sibuk urusan sekolah'' Al mulai malas.
''kalau pas liburan gimana?'' Ian tetap membujuk Flo.
''liburan nanti gue pergi sama keluarga gue. Maaf ya'' Al mencari-cari alasan.
''yah yaudah deh kalau gak bisa. Udah ya flo. Daah :)'' Ian menyudahi sms-nya.
Al menutup handphonenya.
''haaah dasar Ian! Baru kenal sehari masa langsung ngajakin ketemuan?''.
Sejenak suasana di rumah Al hening. Ibu Al belum pulang kerja dari kantor.
''mending makan dulu deh'' Al bangun dari tempat tidurnya.
Saat dia ingin keluar kamar, handphonenya kembali berbunyi.
''heeh paling Ian lagi.. Bodo ah!'' Al mengabaikannya dan lanjut berjalan ke ruang tengah untuk makan siang.
------------------------------------------------

Setelah makan siang Al kembali ke kamarnya. Dia mengecek handphonenya yang tadi berbunyi.
''1 text message: 085...'' tulisan pada layar handphone Al.
''nomor siapa ini?'' Al penasaran dengan nomor yang tak dikenalnya.
''ini flo ya?''. isi pesan itu.
''Iya, siapa?''. Send! Al membalas.
'siapa ya? Ah paling si Ian iseng mau ngajak ketemuan lagi!' pikir Al sambil menunggu balasan sms dari nomor yang tak dikenalnya.
Drrrtt..Drrrtt..
Dengan cepat Al mengecek handphonenya. 1 sms dari nomor yang sama.
''gue Aran. Salam kenal ya''.
''oh salam kenal juga. Tau nomor gue dari mana?'' Al penasaran.
Dengan cepat Aran membalas,
''mau tau aja hehehe''.
'sial! dia ngeledek!' Al kesal.
''Jangan ngeledek deh..'' Al kembali mengirim pesan.
''iya iya maaf. Sekolah dimana flo?'' isi pesan Aran.
''mau tau aja hehehe''. Al balas meledeknya.
''yeee malah ngeledek balik hahaha. Beneran nih flo sekolah dimana?''. tanya Aran.
''lo duluanlah yang ngasih tau''.
''Gue di SMA 11 Asken. Tau nggak?''
''ooh tau. Kelas berapa?'' jawab flo.
''masih 2 sma. Lo kelas berapa? Sekolah dimana?''.
''sama kelas 2 juga, ran. Gue di SMA 7 Asken''.
''deket dong?''
''Ya lumayanlah''. Al masih berhati-hati dengan Aran yang mungkin saja temannya.

------------------------------------------------
Di sekolah..
Seperti biasa kelas Al ramai dengan obrolan murid-murid di dalamnya.
Al yang mencurigai Ian sebagai Aran, mendekati Ian yang sedang mengobrol dengan temannya.
''gimana, yan? Flo mau nggak diajak ketemuan?''. tanya seorang teman kepada Ian.
''kayaknya nggak deh. Dia sibuk urusan sekolah katanya''. wajah Ian tampak kecewa.
''terus lo jadinya mau gimana sama flo?''. Al ikut bicara.
''ya nggak gimana-gimana, Al. Lagian kan gue baru kenal beberapa hari ya wajarlah''.
''ooh iya juga sih. Eh pinjem handphone lo deh yan'' pinta Al.
''buat apa?''.
''liat smsan lo sama Flo doang sebentar''.
''mau tau nomornya Flo ya? hahaha''. Ian meledek.
'Flo itu gue woy!!' teriak Al dalam pikirannya.
''nggak, cuma liat doang kok sebentar''.
''nih''. Ian memberikan handphonenya.
Al membuka fiture sms di handphone Ian. Masuk ke tampilan pesan yang terkirim.
''Flo.. banyak banget sms ke Flo''. kata Al masih memeriksa sms-sms itu.
'dari sms yang dikirim sih nggak ada yang kayak smsnya Aran. Mungkin Ian bukan Aran.. Kalau bukan Ian, terus siapa..?'. kata Al dalam hatinya. Al termenung menduga-duga siapa yang mungkin menjadi Aran.
''nyari apa sih?''. Ian membuyarkan lamunan Al.
''ng? Nggak kok. Nih handphone lo''. Al mengembalikan handphone Ian. Sepanjang hari Al hanya memperhatikan teman-temannya yang mungkin adalah Aran.
------------------------------------------------
Pulang sekolah handphone Al kembali bergetar.
''udah pulang Flo?''. Pesan teks dari Aran.
''udah. Baru aja pulang. Kenapa, ran?''. balas Al.
''gapapa. Nanya doang kok. pulang naik apa?''
''jalan kaki''. Al berbohong.
''jalan kaki? emang rumah lo dimana? apa nggak capek?''.
''nggak kok udah biasa. Lo sendiri kalau pulang naik apa?''.
''biasanya gue naik sepeda pulang pergi, flo''.
'naik sepeda? kok jadi kayak gue?' Al bingung dengan jawaban Aran. Dia semakin penasaran tentang siapa Aran sebenarnya.
''naik sepeda? Emang rumah lo di dimana, ran?''.
''lumayan deket sih dari sekolah gue. Di daerah Centra. Tau nggak?''.
''ooh tau kok''.
''deket dari rumah lo nggak?''. Tanya Aran.
''emang daerah Centra itu dimana ya?''.
''yaelah tadi katanya tau.. Gimana sih flo? hahaha. Centra itu di daerah pinggiran Asken deket kampus Ursa''.
''ooh disitu. Yaudah Ran, gue mau makan dulu ya''. Al mengakhiri pesan textnya.
''yaudah. Selamat makan flo''.
------------------------------------------------

Ridiculove 2

Malam hari..
Al memikirkan ide untuk menjahili teman-temannya di kelas. Al membuka kotak peralatan di kamarnya. dia menemukan sebuah bola, tali dan sehelai kain putih. Diperhatikannya bola dan kain itu.
''hmmm... Ini pasti seru!'' Al tersenyum licik. Dia mendapat ide jahil untuk mengerjai teman-temannya.
Dibungkusnya bola dengan kain putih itu. Al menggambar mata dengan spidol hitam pada kain.
''lalu ditambahkan noda-noda darah di kain.. hehehe'' Al mengambil spidol merah dan menambahkan gamba-gambar pada kain yang membungkus bola.
''nah! Tinggal dikasih rambut palsu deh. Pakai apa ya?'' Al mencari barang-barang yang bisa dijadikan rambut palsu untuk karyanya itu.

''Al!'' teriak Ibu Al dari ruang tengah.
''iya,ma?''
''makan dulu sini''
''sebentar, ma''
''udah makan dulu, udah mama siapin ini''
''iya, ma'' Al menghampiri ibunya dengan agak malas. Mereka makan malam bersama di ruang tengah.

''bagaimana di sekolahnya tadi?'' ibu Al membuka pembicaraan.
''emmm ya biasa aja. Nggak ada apa-apa''
''ada tugas, nggak? Kamu udah belajar?''
''aku lagi bikin boneka-bonekaan''
''boneka? buat apa?''
''emmm buat pelajaran kesenian, ma'' kata Al berbohong.
''terus, ma, aku butuh rambut palsu buat bonekanya'' lanjut Al.
''Rambut palsu? Pakai kain pel aja, Al'' ibu Al memberikan ide.
''kain pel..? tapi nanti kan kainnya digunting. Gapapa, ma?''
''gapapa kok, kan tinggal beli lagi. Lagian kain pelnya udah jelek'' jelas ibu Al.
Al memikirkan saran dari ibunya. Dia membayangkan bagaimana jadinya boneka yang dibuatnya bila berambut kain pel.
''benar juga ya.. pakai kain pel aja deh'' Al menerima saran ibunya.
mereka meneruskan makannya.
------------------------------------------------

setelah makan malam, Al mengambil kain pel untuk karyanya. Dia menggunting bagian dari kain itu menyerupai rambut panjang dan menempelkannya pada boneka yang dia buat. Warna usang dari kain yang dipakainya menambah kesan menyeramkan dari boneka itu.
''nah! Selesai..'' Al terlihat puas dengan karyanya.
''hmm.. seram juga ya. hahaha. mereka pasti takut'' Al berkata sendiri. Al melihat jam dinding di kamarnya.
''sudah jam 10 malam? Besok harus bangun pagi nih'' Al meletakkan boneka itu disamping tempat tidurnya dan dia pun segera tidur.
-----------------------------------------------
Keesokan harinya..
Al membuka matanya perlahan. perlahan Al melihat sesuatu berbentuk bulat dibalut kain putih menatap ke arah Al.
''mmm.... HUWAAA!!! Siapa yang naro disini?!'' Al terkejut melihat boneka yang dibuatnya semalam ada di sampingnya. Dipandanginya boneka itu.
''oh iya, gue sendiri yang naro di meja semalam.. sial..''.
Al menatap jam dinding di kamarnya.
Pukul 4.15 pagi hari.
Al segera bersiap-siap untuk mandi.
selesai mandi dan sholat subuh, Al mengenakan seragam yang biasa dipakainya ke sekolah. setelah siap, dia juga memasukan boneka yang dibuatnya ke dalam tas plastik.
''Al, masih jam setengah 6 kok udah siap mau sekolah?'' Ibu Al melihatnya.
''iya, ma. Aku harus datang pagi buat latihan kesenian'' Al kembali berbohong.
''oh yasudah. Sarapan dulu, mama bikinin roti isi ya?''
''roti isi?'' Al teringat roti isi yang diberikan Aria kemarin.
''nggg nggak usah deh, ma''
''nanti di sekolah kamu lapar loh'' bujuk ibunya.
''nggak kok''
''itu tas plastik isinya apa?'' ibu al melihat tas plastik yang dibawa Al.
''ini boneka yang kemarin aku buat, ma'' Al menunjukkan boneka itu ke ibunya.
''kok bonekanya serem?''
''ya emang disuruhnya begitu. Udah ya ma, aku mau berangkat''
''yaudah hati-hati, Al''
''iya, assalamu'alaikum'' Al pamit dengan ibunya
''wa'alaikumsalam''

Al menyiapkan sepedanya dan berangkat ke sekolah.
------------------------------------------------
Sesampainya di sekolah, seperti biasa hanya ada satpam di pintu gerbang sekolah. Setelah memarkir sepedanya, Al segera pergi ke kelasnya. Tidak ada orang disana.
Al melihat jam tangan yang dikenakannya.
''masih jam 6 kurang 15 menit? bagus! sesuai rencana'' Pikir Al.
Al segera mengeluarkan boneka yang dia buat. Dilihatnya boneka itu baik-baik. Mata dan rambut boneka yang urak-urakan terlihat menyeramkan ditambah noda-noda spidol merah yang bagai darah pada kain boneka itu.
Al mengambil tali yang sudah dia siapkan. Dia menggantung boneka itu tepat di pintu masuk kelasnya. Pintu kelas Al dibuat agak terbuka sedikit untuk mengganjal boneka di atas pintu. Sehingga bila ada yang membuka pintu, boneka itu akan jatuh.

''nah siap! tinggal nunggu yang akan datang'' Al tersenyum licik.
Melalui jendela kelas, Al memperhatikan murid-murid yang berdatangan. Dia menunggu teman sekelasnya.
Pukul 6 pagi..
seorang perempuan dengan rambut dikuncir berjalan menuju kelas Al.
''Aria? Tumben dia datang pagi'' bisik Al.
''eh Aria kan penakut.. Bisa gawat nih kalau dia masuk'' Al membuka jendela kelas.
''Aria!! Jangan masuk dulu!!'' teriak Al lewat jendela.
''hm? Memangnya kenapa?'' Aria masih berjalan mendekati pintu.
''Pokoknya jangan!!'' Al berusaha memperingatkan Aria.
''hah? Apa sih?'' Aria mengabaikan Al. Dia membuka pintu kelas yang sudah terbuka sedikit.
''eh?!!'' Aria terkejut melihat sebuah boneka menyeramkan jatuh tergantung tepat dihadapannya. Mata boneka yang besar dan rambut serta noda darah palsu terlihat mengerikan. seketika wajah Aria menjadi pucat.
''Aria? Kamu gapapa, kan?''
''........'' Aria menahan nafasnya.
''hei? Aria? Kamu gapapa? Aria?'' Al mulai agak panik.
tak berapa lama berselang Aria terjatuh tidak sadarkan diri.
''Aria?! yaaaaah tuhkan dia pingsan..''
Al segera membawa Aria ke UKS.
------------------------------------------------
Jam pelajaran di mulai..
Al duduk di belakang tempat Aria. Tempat itu kini kosong. Aria masih terbaring di UKS. Al mengkhawatirkan Aria.
saat istirahat, Al pergi ke UKS menjenguk Aria.
''Aria?'' Al memasuki ruang UKS. Hanya ada Aria disitu.
''Al..?'' Aria duduk di kasur.
''kamu gapapa?''
''Gapapa apanya?! Maksud kamu apa bikin boneka begitu?!'' Aria membentak Al.
''Tadinya itu buat ngagetin yang lain. Tapi malah kamu yang datang duluan. Ya salah sendiri''.
''Udah ngebuat aku pingsan, sekarang kamu nyalahin aku karena datang pagi?!''
''Aku kan niatnya bukan ngagetin kamu, kamunya aja yang malah kaget! Lagian aku udah ngasih tau jangan masuk tapi kamu malah masuk!'' nada bicara Al meninggi.
''kamu bukannya minta maaf, malah balik marah?!'' Aria juga meninggikan nada bicaranya tak mau kalah.
''kamu yang marah duluan!! Udah aku bawa ke UKS bukannya berterimakasih malah marah''
''udah mending kamu balik ke kelas sana!!'' Aria mengusir Al.
''yaudah kalau gitu!!'' Al meninggalkan Aria dan kembali ke kelasnya.
------------------------------------------------
pulang sekolah..
Al melihat Aria berjalan sendiri lagi.
Al hanya melewati Aria tanpa menyapanya. Tampaknya Aria pun tidak peduli dengan Al. Aria masih marah dengan kejadian di sekolah tadi.

Sesampainya di rumah, Al masih memikirkan Aria.
''mungkin harusnya gue minta maaf ya...? Ah tapi Aria juga begitu sih! Malah langsung marah!''. Al menggerutu sendiri.
''daripada mikirin Aria, mending main handphone deh''. Al meraih handphonenya. Dia memandangi handphone itu cukup lama.
''handphone ya...'' Al mencoba mencari ide iseng lagi.
''hmm..'' Al tersenyum menandakan dia mendapat ide. Dia mengambil uang dan membeli kartu SIM baru.
Al mengganti SIM card handphonenya.
''oke, tinggal sms mereka. hehehe'' Al tertawa kecil. Wajahnya tampak begitu licik.

''hai :)'' send! Al mengirim sms ke beberapa teman laki-laki di kelasnya.
tak berapa lama handphonenya berdering.
''ini siapa?'' beberapa teman Al membalas pesan itu.
''gue Flo :)'' send! Al menyamar untuk mengerjai temannya.
''Flo? Cowok atau cewek?'' balas teman Al.
''ya ceweklah. Ini siapa?'' Al membalas pesan itu.
Ada 3 teman Al yang meladeni sms dari Al itu. Salah satunya Ian.
''oh.. gue Ian. Tau nomer gue darimana?''. Ian, teman sekelas Al, membalas sms itu. Al tertawa karena rencananya berhasil.
''oh Ian. Salam kenal ya :). Tau dari temen gue''. Al berusaha ramah layaknya seorang perempuan.
Handphone Al kembali berdering.
''iya salam kenal juga flo :) siapa nama temennya?'' isi pesan dari Ian.
''mau tau aja deh hehehe''. Send! Al tertawa melihat reaksi teman-teman yang membalas smsnya.

Seharian itu Al bersms ria dengan teman-temannya. Dengan mengaku sebagai Flo, Al berhasil mengerjai mereka.

Ridiculove 1

Pagi ini, seperti biasa Al berseragam rapih bersiap untuk berangkat ke sekolah. Al menyiapkan sepeda putih yang biasa dipakainya untuk ke sekolah.
''aku berangkat ya, ma''. teriak Al pada ibunya.
''eh kamu nggak sarapan dulu, Al?''.
''nggak usah deh. Udah ya, ma. Assalamualaikum''.
''wa'alaikumsalam. Hati-hati, Al''.
Al mengayuh sepedanya ke sekolah. Udara yang sejuk membuat Al suka berangkat sekolah lebih pagi dari teman-temannya. Jarak rumah Al ke sekolah tidak terlalu jauh. Setiap ke sekolah Al selalu menggunakan sepedahnya.

Sesampainya di sekolah, sekolah masih terlihat sepi. Hanya ada satpam yang berjaga di depan gerbang sekolah. Al memasuki kelasnya. Tidak ada satu pun orang karena memang masih terlalu pagi.

''hmmm... Bosen juga kalau setiap hari begini...''. ucap Al pada dirinya sendiri. Al memperhatikan sekitarnya. Dia melihat bangkai kecoa tergeletak di lantai.
''............. Ah! Bagus!''. Al mendapat ide. Al mengambil bangkai kecoa itu dengan hati-hati dan meletakannya di laci Aria. Laci di kelas Al dapat dibuka-tutup keatas dan kebawah.

Hari semakin siang. teman-teman Al dan murid-murid lain mulai berdatangan. kelas menjadi lebih ramai dengan obrolan pagi mereka.

Kriiiiing! Bel sekolah berbunyi. Teman-teman Al kembali ke tempat duduknya masing-masing. Al duduk di belakang Aria.
seorang guru masuk ke kelas Al.
''selamat pagi, anak-anak''. Sapa Bu Anna, guru di kelas itu.
''selamat pagi, Bu''.
''siapa yang nggak hadir hari ini?''.
''nggak ada, Bu''.
''masuk semua ya.. oke, kita lanjutkan materi yang kemarin ya..''. Guru itu menjelaskan pelajarannya seperti biasa.
Al memperhatikan Aria dari belakang.
''ssstt hei Aria..''. bisik Al.
''hm?''. Gadis itu menoleh.
''pinjam pulpen dong?''.
''sebentar''. Aria membuka laci meja tempatnya menyimpan peralatan tulisnya.
''apa........... HUWAAAA!!''. Teriak Aria mengagetkan seisi kelas.
'Rencanaku berhasil!' pikir Al.
''Aria, Kamu kenapa?''. Tanya Bu Anna bingung. Teman-teman yang lain memandangi Aria.
''Bu... Itu Bu...''. Aria bicara terbata-bata.
''ada apaan sih?''.
''itu bu.. Kecoa!!''. Wajah Aria pucat.
''kecoa? Hahahahaha''. Teman-teman tertawa.
''kamu takut kecoa, ya? Hahahaha''. tanya Al meledek.
''nggak! nggak takut..''. Wajah Aria masih terlihat panik
''bohong ah hahahaha''.
''sudah anak-anak. Al, tolong buang kecoa itu''. Perintah Bu Anna.
''lah? Kenapa saya, bu?''.
''sudahlah tinggal dibuang saja kan. Cepat buang ke luar!''.
Al mengambil bangkai kecoa yang tadi ditaruhnya di laci Aria dan membuangnya keluar.
Al kembali duduk dibelakang Aria.
''kamu gapapa?'' tanya Al.
''gapapa kok, makasih ya. Oiya, Nih pulpennya''. Aria meminjamkan pulpennya kepada Al.
''eh iya makasih..''.
Pelajaran pun kembali dilanjutkan seperti biasa.

jam istirahat..
Al masih duduk ditempatnya memperhatikan teman-temannya. Beberapa teman Al pergi ke kantin sekolah dan yang lainya membawa bekal.
''kamu nggak makan, Al?'' tanya Aria.
''ng nggak''.
''emangnya nggak laper?''
''ya laper sih tapi..''
''jajan aja di kantin atau makan bekal gitu''
''aku lagi nabung terus aku nggak bawa bekal''
''kasian deh hahahaha'' Aria meledek Al. Aria mengambil kotak bekal makanannya.
''aku bawa roti isi, kamu mau?'' Aria menawarkan bekalnya.
''nggak usah, makasih''
''udah gapapa kok. Tadi kan katanya laper..''
''nggak, udah nggak laper kok''
''bohong.. Perlu disuapin? hahahaha''
''nggak, nggak mau. emang kenapa nggak kamu makan?''
''aku udah sarapan tadi pagi. nih!''
''yaudah makasih ya Aria'' Al memakan roti isi yang diberikan Aria.
''HAA!!! Pedes banget!!! Roti isi apaan sih ini, Ar?!''
''tadi pagi pas bikin itu saosnya kebanyakan. Jadinya aku nggak mau makan itu deh hahahaha''
''terus kenapa ngasih aku?!'' Al masih kepedesan.
''lagian kamu kayaknya laper banget tadi. Jadi aku tawarin deh. Maaf ya''
''pedes tau!''
''ya maaf Al. Mau minum?''
''nggak usah, makasih!!''
''yaudah kalo nggak mau!''

jam istirahat pun berakhir. teman-teman kembali memasuki kelas untuk melanjutkan pelajaran seperti biasa.
------------------------------------------------
Bel terakhir berbunyi mengakhiri jam sekolah hari ini.
Al mengayuh sepedanya kembali ke rumah. Melewati jalan yang biasa ia lewati. Al melihat Aria berjalan sendirian.
''hei Aria!'' Al menghampiri Aria.
''apa, Al?''
''emmm.. Soal yang tadi.. Maaf ya tadi di kelas agak kasar..''
''ooh iya gapapa. Maaf juga rotinya ya. Lain kali nggak pakai saos deh hahahaha''.
''ya nggak usah repot-repot kali. Kok pulang jalan kaki deh?''
''iya emang udah biasa jalan kaki kok''
''emmm yaudah deh, aku duluan ya?''
''yaudah hati-hati, Al''.

Al kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Aria sendiri.

------------------------------------------------

Jumat, 27 Januari 2012

dibawah langit (last chapter)

Pagi hari..
Pukul 4.15.
me terbangun. Tidurnya tidak nyenyak karena memikirkan sesuatu.
Semua keluarga me sudah bangun. Mereka tampak rapih.

''Me? Kamu sudah menge-pack barang-barangmu?''. Tanya ibunda me dari ruang tengah.

''iya sudah!''.

''cepat mandi! Kita berangkat jam 6 nanti''. Perintah ibunya.

''iya''. Me masih duduk dikamarnya.
dia melihat kotak bingkisan yang diberikan you. dibukanya bingkisan itu.

''......... Ini...?''. Me terdiam melihat apa yang diberikan you. Dia teringat kejadian di tepi sungai, dan tempat-tempat yang pernah ia kunjungi bersama you.

''me! Cepat siap-siap''. Ibunya kembali mengingatkan.

''iya!''. Me pun segera bersiap-siap.

----------------------------------------------------------

You membuka bingkisan dari me.
Bingkisan itu berbentuk persegi panjang tipis.

''buku gambar me?''. You membuka lembaran-lembaran didalamnya.

halaman pertama..
''untuk teman dekatku, you''. Nama you tertulis dengan penuh hiasan di halaman depannya. Terpampang wajah you yang digambar me.

You tersenyum melihatnya. Dibuka halaman berikutnya..

''tgl 9 desember.. ini di rumahku...?''. Gambar itu menunjukkan saat pertama me pindah ke daerah itu dan pertama kalinya mereka berkenalan. Tergambar 2 orang sedang bersalaman disana.

Gambar-gambar berikutnya menceritakan kebersamaan mereka selama ini.

''19 juni... Perkemahan.. Ini gambar di sungai itu''.
you memperhatikan gambar yang pernah dilihatnya. Gambar itu kini berbeda, terlihat 2 orang sedang duduk di tepian sungai.

Halaman berikutnya masih ditanggal yang sama.
Gambar itu didominasi warna hitam dengan taburan titik-titik dan garis putih.

''malam bintang jatuh....''.
You terbawa kenangan yang ada di setiap gambar me. Dia teringat harapan yang dia ucapkan di malam itu. Terlihat me sedang duduk disebelah you di dalam gambar itu.

Halaman berikutnya..
sepasang tangan saling mengaitkan jari kelingkingnya. tentang janji pertukaran kado. Saat me menjenguk you di rumahnya.

Sebuah tulisan tangan tertera disitu

''you, terimakasih sudah menjadi temanku 3 tahun ini. Terimakasih atas semua yang kau lakukan. 3 tahun ini terasa berharga bersamamu. kamu ingat malam bintang jatuh itu? Aku harap kita bisa menyaksikannya lagi suatu saat nanti. Aku harap kita bisa sama-sama terus.
Buku ini akan menggambarkan kenangan kita. Aku, kamu, dan semua yang kita lalui.
you, aku menyayangimu..''.

You tersenyum bahagia membaca tulisan itu. akhirnya me mengungkapkan perasaannya ke dirinya.
''aku pun menyayangimu, me..''. Bisik you dalam hatinya dengan senyum bahagia.

Semua kenangan dan moment penting yang tergambar itu membawa suasana haru dalam hati you.

You berniat menutup buku gambar itu. You mengira kenangan-kenangan yang dia alami sudah tergambar dalam buku itu.
saat you ingin menutupnya, tanpa sengaja dia membuka satu halaman di berikutnya..

''30 juni... Hari ini....? bandara ini? Apa kita pernah kesana?''. You heran melihat gambar yang tidak pernah dialaminya itu. Dia memperhatikan 2 orang yang berpelukan di dalam gambar. You berusaha mengingat-ingat kembali apa dia pernah berada di bandara dengan me.

You membuka halaman belakang dari gambar itu. Terdapat tulisan dari me.
''you.. Maaf.. Aku harus pergi jauh. Aku dan keluargaku akan pindah keluar negeri. Maaf aku baru memberitaumu sekarang, you. Jangan bersedih. Kita masih akan bertemu lagi.. sampai jumpa you..''.

You tertegun membacanya. Badan you gemetar. Senyumnya perlahan pudar tergantikan air mata yang mengalir di pipinya. me akan pergi jauh darinya. You meraih handphonenya. Dia menghubungi me.
''me...? Me?! Kamu....dimana? Kamu nggak beneran pergi, kan?''. Ucap you sambil menangis.

''you.... maaf, aku harus pergi. Aku sudah di bandara''. Kata me lewat handphonenya.

''..........''. You hanya diam menangis mendengarnya.

''you? Kamu nggak apa-apa, kan?''.
Suara me agak khawatir.

''aku... Aku mau kesana, me... tunggu aku..''.

''you...?''. You sudah memutus teleponnya.

You bersiap-siap untuk menyusul me ke bandara.

----------------------------------------------------------

Belasan missed call dan sms memenuhi handphone me.
''tunggu aku''. Pesan-pesan itu dari you.
Me memperhatikan jam di dinding ruang tunggu bandara. Sebentar lagi waktu keberangkatannya.
Me mencemaskan you.

''panggilan untuk penumpang pesawat Garuda 763 jurusan australia, harap memasuki gate 1''. Pemberitahuan untuk segera memasuki pesawat sudah diumumkan.

''you.....''. Me masih menunggu. Me terus menerus memperhatikan sekitarnya kalau-kalau dia melihat you. Me kembali memperhatikan jam. You belum juga muncul.

''panggilan terakhir untuk penumpang pesawat Garuda 763 jurusan australia, harap memasuki gate 1''. Pengumuman itu kembali terdengar.

''maaf you...''. Dengan berat hati me melangkahkan kakinya menuju gate 1.

''hei! Me!!!''. Teriak seseorang dari belakang me.

''you........''. You berlari kearah me.

''me, jangan pergi.. Jangan jauh dariku.. kenapa kamu harus pergi...?''. You memeluk me dengan erat sambil menangis.

''you... daun yang terjatuh tidak pernah membenci angin.. Seperti hadiah yang kamu berikan. inilah takdir kita, you. Maaf aku harus pergi.. biarkan aku sebagai bintang yang selalu kamu tunggu di waktu malam dan kita akan tetap sama-sama''.

''tapi......''. You masih menangis dalam pelukan me.

''you.. Dengarlah..
'hujan yang turun ke bumi suatu saat akan kembali ke langit..
Genggamlah jemariku dan biarkan kita bersatu..
Genggamlah jemariku dan biarkan aku menjagamu..
Genggamlah jemariku dan biarkan kita tetap bersama..''.

You terdiam. Dia terkejut dengan apa yang me ucapkan. Me menatap you.
Air mata masih mengalir di pipi you.

''You... 'meski saat ini kita terpisah jauh, ingatlah bintang jatuh pada malam hari itu..
meski tiada harap yang terucap oleh ku saat ini, aku ingin kau bahagia..
meski suatu saat nanti aku tak ada disampingmu, kau tak akan sepenuhnya sendirian..
karena kita.. berada dibawah langit yang sama...'.''. Me mengucapkan puisi yang di tulis oleh you dalam hadiah yang you berikan.

''me............''. You terharu dengan ucapan me.

''you, aku menyukaimu, aku menyayangimu, kau spesial bagiku..''.
Me tersenyum menatap you.

''me... Terimakasih.. Aku sayang kamu..''. You memeluk me. Air matanya kembali mengalir.

Sesuai dalam buku yang di gambar oleh me.

''30 juni, bandara, perpisahan...''

You mengantarkan kepergian me dengan wajah bahagia meski penuh airmata.
Hari itu me pergi meninggalkan you untuk waktu yang lama. Meninggalkan buku kenangannya bersama you.

''suatu saat kita akan bertemu lagi.karena kita.. berada dibawah langit yang sama...''.

THE END

dibawah langit (chapter 4)

Kamis, 28 juni..
H-1 mendekati acara perpisahan yang akan diselenggarakan sekolah di gedung stelarium.

Suasana sekolah makin sepi karena setelah perpisahan, sekolah akan libur tahun ajaran baru.
Hanya sedikit murid-murid di sekolah yang masih sibuk mencari pasangan untuk datang ke acara itu.
beberapa dari mereka masih bingung siapa yang akan dijadikan pasangan atau bagaimana cara mengajak seseorang untuk jadi pasangan mereka.
Me beruntung telah mendapat pasangan untuk acara perpisahan.

Hari itu you tidak datang ke sekolah. Me sibuk menggambar di buku gambarnya.

''hei me, lo udah punya pasangan buat acara perpisahan?''. Tanya teman me.

''iya udah, gue nanti kesana sama you''. Jawab me masih sambil menggambar.

''you-nya sekarang lagi kemana? kok belom masuk?''.

''mungkin masih sakit. Dia jarang ngasih kabar sih''.

''ya tanyain dong kabarnya! gimana sih?''.

''yaudahlah gapapa kok. Lo sendiri udah punya pasangan belom?''.

''emmm belom sih.. cariin dong''. Pinta teman me.

''ya cari sendirilah! Kan masih banyak yang belom ada pasangannya''.

''ah elo mah enak udah deket sama you dari awal jadinya gampang. Lah gue?''.

''salah sendiri kenapa main sama cowok doang? Udah ah! Gue mau lanjut ngegambar''. Me menggoreskan pensilnya kembali.

''hm? Lo ngegambar apa sih?''. Teman me mendekatinya. teman me memperhatikan gambar itu.

''ada menara, gedung-gedung,pesawat... ini ceritanya bandara, ya?''.

Me hanya terdiam atas tebakan temannya. Me melanjutkan menggambar.

''kenapa ngegambar bandara?''.

''............... Ini buat you nanti''. Jawab me pelan.

''oh... Yaudahlah gue ke kelas lain dulu ya''. Teman me pun meninggalkan me yang masih sibuk menggambar.

---------------------------------------------------------

Keesokan harinya.
29 juni, pukul 6.05
Hari perpisahan yang ditunggu pun tiba.

Me terbangun dari tidurnya. Dia mengecek handphone genggam di meja sebelah tempat tidurnya.

''tidak ada pesan..?''. me dan you memang jarang berkomunikasi dengan handphone. Mereka lebih suka bertemu langsung.

me memutuskan untuk mengirim sms kepada you.

''selamat pagi you. Kamu sudah bangun?''.

Send! Me menunggu balasan sms dari you.
Pandangan me tertuju pada buku gambar di mejanya. Buku gambar inilah yang nantinya akan dijadikan hadiah pertukaran kado untuk you.
Ntah apa yang akan diberikan you.

Me membuka lembaran-lembaran buku gambarnya. Dia memperhatikan dengan seksama halaman demi halaman.
Sesekali me tersenyum melihat gambar buatannya.
Rumah, sungai, hutan dan semua gambar yang dibuatnya dia perhatikan.

tiba-tiba me terdiam. me merasa ada yang kurang dari gambar-gambarnya.
me mengambil beberapa alat tulis di kotak perlengkapannya.
Me merubah beberapa gambar di buku itu. Dia menggambar suatu objek disana.
Goresan goresan yang me gambarkan terlihat lancar.

Drrttt! Drrttt!
handphone me bergetar.
''1 text message. You..''.

''selamat pagi, me. Aku baru bangun. Tumben kamu sms''. Isi pesan itu.

Me membalas pesan dari you
''iya. kamu sudah sembuh?''.
Send!
Me kembali menunggu. Sejak me menjenguk you, memang tidak ada kabar lagi dari you. me jarang sekali menghubungi you lewat handphone.
Me melanjutkan gambarnya.
me menambahkan objek-objek baru di setiap gambarnya.

Drrrttt! Drrrttt!
Me membaca pesan singkat di handphonenya. Dari you.

''masih sakit tapi udah agak baikan kok. Acara nanti sore jadi?''. Isi pesan itu.

''iya, kamu bisa datang?''. Me membalasnya.

Drrrttt! Drrrtt!
you membalas pesan me dengan cepat.
''aku tidak tau apa aku bisa datang, me''.

''memangnya ada apa?''. me membalasnya lagi.
me menunggu balasan pesan dari you. Sambil menggambar, me sesekali mengecek handphonenya kalau-kalau ada pesan dari you.

Waktu terus berlalu. Sudah hampir 3 jam me tidak mendapat balasan pesan dari you. Me mulai khawatir.

''you? Kamu gapapa, kan?''.
Send! Me kembali mengirim pesan untuk memastikan keadaan you.
Me kembali menunggu. Tetapi tetap tidak ada balasan dari you.

Hari berganti sore..
Me masih mengkhawatirkan you yang akan menjadi pasangannya di acara perpisahan sekolah.

''you, kamu sudah siap berangkat?''.
me kembali mengirimkan pesan singkat. Tetap tidak ada jawaban dari you.
Keberadaan you seolah menghilang.
Akhirnya me bersiap untuk berangkat. Me membawa kado pertukaran yang sudah dibungkusnya dengan rapih untuk you.

Acara perpisahan itu baru mulai pukul 7 malam. Karena masih sore, me memustuskan untuk pergi ke rumah you. me berniat mengajaknya berangkat bersama.

Setibanya disana, me melihat rumah you gelap. seperti ditinggal penghuninya.
''sepertinya tidak ada orang..''.

Me mengucapkan salam berkali-kali.
tidak ada satupun yang menjawabnya. Rumah you kosong.
Me semakin khawatir karena you tidak memberi kabar yang jelas.
'you kenapa ya?' pikirnya.

Masih dalam kebimbangan, akhirnya me pergi sendiri ke acara perpisahan di Gedung Stelarium.

--------------------------------------------------------

pukul 19.43
Me tiba di gedung tempat acara perpisahan. Gedung itu terlihat ramai dengan teman-teman seangkatan me dan guru guru sekolahnya. Hiasan dan berbagai bentuk kata-kata perpisahan terpampang di sudut pintu masuk gedung.
Me melangkahkan kakinya memasuki gedung itu.
Me melihat teman-temannya dengan pasangan mereka.
Me masih memikirkan you.

''hai me! Kenapa lama sekali?''. Sapa teman-temannya.

''oh maaf. Ada masalah tadi?''.

''masalah apa?''.

''bukan apa-apa kok''.

''dimana you? kok lo gak sama dia?''.

''dia kayaknya nggak bisa datang''.

''loh? Emangnya kenapa?''.

''gak tau, dia nggak bilang''.

Me berkumpul dengan teman-temannya. setelah itu bersalam-salaman dengan para guru.
lalu acara dilanjutkan dengan mengenang tentang sekolah.
dan berikutnya pengumuman Best Couple angkatan me.

Me tidak menang dalam acara itu karena dia tidak bersama you.
me melihat ke langit-langit gedung yang dilapisi kaca tembus pandang. Me teringat dengan you.
Dalam lamunannya dia mengingat malam bintang jatuh saat perkemahan.

''hei? Kamu me, kan?''. Sapa seorang perempuan mengejutkan me dari lamunannya.

''iya, kamu siapa?''.

''aku them, temannya you. Ada yang nunggu kamu di balkon''.

''siapa?''. Me bingung.

''samperin aja kesana. Sudah ya''. Them meninggalkan me.
me hanya terdiam.

''di balkon ya...?''. Me segera pergi ke lantai teratas gedung itu.

--------------------------------------------------------
Me menaiki tangga. gelap. balkon di gedung itu gelap karena suasana malam.
Di kejauhan me melihat seseorang sedang duduk disana membelakangi me.

''siapa.....?''. Me menebak-nebak siapa seseorang yang duduk sendirian di balkon itu.
Me mendekatinya perlahan.
Me memperhatikan orang itu.
''you....?''.

''...... Hai me''. You tersenyum manis. you terlihat cantik dengan pakaian ungunya.

''You!!''. Me berlari dan memeluk you.

''kamu kemana? Kenapa nggak ada kabar dari tadi pagi? Kenapa rumahmu kosong?''. Me mengungkapkan kekhawatirannya.

''maaf me.. Maaf udah ngebuat kamu khawatir. Tadi aku ke dokter dulu. hahahaha''.

''kamu udah sembuh?''.

''udah kok. Makasih me''.

''baguslah. Kamu sedang apa sendirian disini?''.

''aku tau kamu akan kesini. Jadi aku nunggu kamu. Maaf me, kita jadi nggak bisa menang best couple''.

''iya gapapa kok''.

suara alunan musik dari band yang tampil di acara itu terdengar dari dalam gedung.

''me... Setelah ini kita akan sama-sama melanjutkan pendidikan ke universitas ya.. mungkin kita akan masuk ke universitas yang berbeda.. apa kita akan tetap sering ketemu?''. Tanya you. Suaranya memelan.

''.......... kamu mau kuliah dimana, you?''. Tanya me dengan raut wajah sedih.

''aku mau ngambil fakultas sastra bahasa indonesia di universitas ******. Kamu mau kuliah dimana?''.

''................ aku.... Ah mungkin kita akan jarang ketemu, you''.

''loh? Emang kamu mau kemana?''.

''..............''. Me hanya tertunduk diam.

''......... ohiya me, aku bawa kado pertukaran kita nih''. You mengeluarkan bingkisan warna-warni yang terbungkus rapih.

''ini untukmu, me''. you memberikan bingkisan itu untuk me.
''terimakasih you. Yang ini untukmu''. Me memberikan bingkisannya.

''apa isinya?''. Tanya you.

''jangan dibuka sekarang''.

''baiklah. Me.... kado ini akan jadi kenangan kita, akan mengingatkan aku padamu, terimakasih karena sudah jadi..... teman dekatku selama ini''. you tersenyum. Air matanya turun perlahan membasahi pipinya.

''kamu menangis?''.

''.............''

Me membasuh wajah you.
''tenanglah you... kita kan masih sama-sama''.
You menyenderkan kepalanya ke bahu me. Mereka mengenang saat-saat kebersamaan mereka.

aku takkan begini hanya karena menyukaimu..
Aku takkan begini hanya karena menyayangimu..
Aku takkan begini hanya karena kau teman dekatku..
Kini aku sadar.. Kau special bagiku..

----------------------------------------------------------

selepas acara itu, me mengantar you pulang ke rumahnya.

''you.... Setelah ini aku ingin bertemu denganmu... Sekali lagi..''.
Kesedihan terpampang diwajah me.

''memangnya kenapa?''. Tanya you heran.

''............ Sudah ya, aku pulang dulu. Terimakasih you''. Me pergi meninggalkan you.

dibawah langit (chapter 3)

3 hari berlalu sejak perkemahan itu.

hari senin..

hari-hari sekolah kini terasa lebih santai mendekati libur kenaikan kelas. hanya kegiatan classmeeting yang mengisi hari-hari sekolah. Suasana kelas tidak terlalu ramai karena kegiatan belajar mengajar pun sudah tidak ada.
Me berkumpul dengan beberapa temannya di kelas.

''wah gak terasa ya? Sebentar lagi kita lulus. 3 tahun di sekolah ini terasa cepat''.

''iya, untungnya ujian ujian juga udah selesai. Jadi sekarang bisa santai. Tinggal mikirin kuliah deh''.

''iya juga ya. Oiya, you kemana?''
Tanya me.

''lo ini.. Seharusnya pikirin tentang kuliah dulu! malah mikirin you''

''Sudahlah. Ini penting. You dimana?''

''dasar.. Katanya sih you sakit. udah dari 3 hari yang lalu''

''sakit?''

''iya, emangnya lo gak tau? Kan lo yang paling deket sama dia''

''dia gak ngasih tau apa-apa ke gue. Dia sakit apa?''

''gak tau. Coba aja jenguk kan rumah lo lumayan deket sama you''

''oh oke deh''
'3 hari yang lalu? berarti sejak perkemahan. Mungkin dia sakit karna tidak tidur disana' pikir me.

beberapa saat kemudian seorang guru masuk ke kelas me. Semua siswa mendadak diam menghentikan obrolannya.

''selamat pagi'' sapa guru itu.

''selamat pagi, bu!'' jawab seluruh siswa di kelas hampir serentak.

''seperti yang kita tau sebentar lagi kalian akan lulus dari sekolah ini. kalian akan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Dan pastinya akan ketemu teman-teman baru. Karena itu pihak sekolah akan mengadakan acara perpisahan sekaligus untuk mengenang masa-masa kalian di sekolah ini. acaranya rencananya tanggal 29 juni nanti.'' jelas guru itu.

''berarti satu minggu lagi ya, bu?''
Tanya salah seorang teman me.

''iya. Tempatnya di gedung utama Stelarium jam 5 sore''

''Wow! Gedung Stelarium?!''

''lo tau gedung itu?''

''tau, itu gedung yang lumayan megah. gedung stelarium itu atapnya terbuat dari kaca jadi bisa ngeliat langit dari dalam gedung!''

''benar. Karena itu sebaiknya kalian menyiapkan uang untuk acara ini. surat edarannya nanti saya bagikan. Oiya, kalian datangnya berpasangan ya perempuan dan laki-laki''
Guru itu tersenyum agak licik.

''hah? Kenapa begitu? Emang mau ada apa?''

''iya bu, mau ada apa?''
murid-murid dikelas itu protes.

''sudah pokoknya begitu. Nanti edarannya dibagikan. Kasih tau teman kalian yang tidak masuk'' guru itu pergi meninggalkan kelas.

''apaan sih ada acara datang berpasangan begitu?''. teman me masih protes.

''yaudahsih gak usah protes gitu.
me, lo mau dateng sama siapa?''.

''kalau me udah pasti sama you. Iya kan, me?''.

saat itu me hanya terdiam. dia mengabaikan semua omongan teman-temannya.

-----------------------------------------------------------------
Bel sekolah berbunyi. Mengakhiri jam sekolah di hari itu.
murid-murid yang masuk sekolah kini keluar. Hanya tersisa beberapa orang yang masih di sekolah untuk suatu urusan.
Me segera pulang ke rumahnya.
selepas ashar, me bersiap-siap untuk menjenguk you. Dia mengambil surat edaran yang dititipkan kepadanya.

Rumah you tidak terlalu jauh dari rumah me. Me memutuskan untuk membeli buah-buahan untuk you.

Sesampainya di rumah you

''assalamualaikum''. me memberi salam. tidak ada jawaban.

''assalamualaikum''. Me menunggu jawaban dari dalam.

''wa'alaikumsalam''. Seseorang menjawab salam. Ibunda you membukakan pintu.

''you-nya ada tante?''

''ada di dalam. Silahkan masuk'' ibunda you tersenyum ramah.

''iya makasih tante'' me mengikuti ibunda you ke dalam rumah. Rumah you cukup luas bertingkat. halamannya pun cukup luas dengan pepohonan yang rindang. Tempat inilah yang dijadikan tempat perkemahan 3 hari kemarin. rumah you juga dekat dengan sungai dan suasananya masih asri.

''you ada dikamarnya. Masuk aja'' ucap ibunda you.

''iya makasih tante'' me tersenyum ramah.

Me mengetuk pintu kamar you.

''masuk''. ucap seseorang dari dalam kamar.

''you..'' me melihat you yang masih terbaring di kasurnya.

''oh hai me. apa yang kamu lakukan?'' you langsung duduk.

''aku dengar kamu sakit. kamu sakit apa? Kenapa nggak ngasih tau?''

''cuma demam kok. Yah maaf udah ngebuat kamu khawatir, me''.

''karna kamu nggak tidur waktu perkemahan ya?''

''nggak kok. Gapapa hehehe''. you tersenyum. Disaat sakit pun senyumnya tak pernah pudar.

''ini buah-buahan buat kamu''. Me menyerahkan buah yang dibelinya tadi.

''terimakasih, me''. You kembali tersenyum.

''oh iya, you, tadi ada pengumuman di sekolah. Sekolah mau mengadakan acara perpisahan di gedung stellarium tanggal 29 juni nanti. Ini surat edarannya''. me memberikan surat edaran yang dititipkan padanya.

''tanggal 29? 1 minggu lagi ya.. Diharapkan datang berpasangan?''. You dan me saling bertatapan.
Mungkin saat ini mereka memikirkan hal yang sama.
Suasana di kamar you mendadak hening.
mereka saling menunggu siapa yang akan berkata lebih dulu diantara mereka.
''........ kamu mau jadi pasanganku?''. Dengan intonasi yang berbeda, mereka mengucapkan kalimat itu hampir bersamaan.

''kamu bilang apa?''. Lagi-lagi keduanya mengucapkan hal yang sama hampir bersamaan.
mereka terlihat salah tingkah dan saling menunggu.

''................ emmm... you, apa kamu mau jadi pasanganku di acara itu?''. me mengalah dan mengucapkannya lebih dulu.
wajah you memerah. you terdiam cukup lama. me menunggu jawaban you.

''.................... hmm.. Baiklah. Aku akan jadi pasanganmu di acara itu''. dengan senyumnya you menerima ajakan me.

''tapi sekarang kan aku sedang sakit. Ntah bagaimana 1 minggu lagi''. ucap you.

''karena itu istirahatlah. Cepat sembuh, you''.

''iya terimakasih, me. Oiya, karena itu akan jadi acara perpisahan, bagaimana kalau kita tukeran kado?''

''tukeran kado?''

''iya, kadonya bebas apa saja. jadi kita bisa saling mengenang, kan?''

''emmm.. baiklah''.

''janji, ya?''. you mengeluarkan jari kelingkingnya.

''....... Iya.. Janji''. me menyambut janji jari kelingking bersama you.

Tangan kita mungkin cukup kuat untuk melakukan berbagai hal sendirian. Tetapi mereka masih butuh tangan lain untuk menggenggamnya..
Maka rekatkan jarimu pada jemariku dan biarkan kita bersatu..
Rekatkan jarimu pada jemariku dan biarkan aku menjagamu..
Rekatkan jarimu pada jemariku dan biarkan kita tetap bersama..

----------------------------------------------------------

who am i?

Foto saya
i am capriciously semi-multitalented